cover
Contact Name
Widia Ardias
Contact Email
wee2d.ardias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltajdid@uinib.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid
ISSN : 14102617     EISSN : 2685466X     DOI : -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, sebagai media informasi dan forum pembahasan kajian tentang ilmu ushuluddin yang terkait dalam empat aspek bidang keilmuan yakni, Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-quran dan Tafsir (Tafsir Hadis), Psikologi Islam. Majalah ini berisi kumpulan tulisan ringkas hasil penelitian, hipotesa, survey dan karya akademik lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
MEMBANGUN IDENTITAS KEISLAMAN DENGAN BAHASA ARAB, MENGEMBANGKAN BAHASA ARAB DENGAN IDENTITAS KEISLAMAN Isral Naska
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.173

Abstract

Tulisan ini memberikan gambaran antara identitas religius, dalam hal ini adalah identitas ke-Islam-an, dengan Bahasa Arab terdapat relasi yang kuat dan saling membutuhkan. Bahwa identitas ke-Islam-an dapat diperkuat dengan mempelajari Bahasa Arab, dan sebaliknya upaya mempelajari Bahasa Arab dapat mencapai tingkat yang lebih serius dan bermakna jika dilakukan dengan motivasi dan sikap yang dibentuk oleh identitas ke-Islam-an.Menurut Peek (2005) identitas religius seorang Muslim di Amerika secara umum terbagi menjadi tiga: ascribed identity, chosen identity, dan declared identity.Ascribed Identity adalah sebuah fase dimana seorang Muslim tidak menyadari identitas sebagai seorang Muslim. Choosen Identity adalah fase berikutnya, dimana seorang Muslim mulai memperoleh pemahaman tentang identitasnya dan melakukan upaya untuk memahami Islam, terutama lewat belajar dalam komunitas. Biasanya fase ini berawal dari ketika seorang Muslim memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Declared Identity adalah fase dimana seorang Muslim sangat menyadari identitas dirinya, merasa bangga dan terlibat aktif dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat luas serta menunjukkan upaya dalam membersihkan citra Islam yang tercoreng oleh berbagai aksi terorisme. Namun, seperti yang dituliskan oleh Peek tentang relativitas teorinya, tingkat pendidikan tidaklah memberikan jaminan untuk berpindahnya seorang Muslim dari satu fase identitas ke fase identitas lainnya.
DINAMIKA PERKEMBANGAN TASAWWUF DALAM DUNIA ISLAM Tasman, Alfadhli
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.157

Abstract

Anggapan mayoritas orang mengatakan bahwa tasawuf yang diajarkan para sufi menggiring umat Islam menjadi umat yang pasif, nihil kreatifitas dan hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Namun demikian para sufi membuktikan bahwa spiritualitas Islam merupakan energi luar biasa yang dimiliki umat Islam, yang dapat membebaskan diri dari segala keterkungkungan untuk kemudian dapat beraktifitas dengan bebas dalam menggapai ridho illahi
TINJAUAN TERHADAP HADIS-HADIS ISRA’ SEBELUM KENABIAN Andi, Nofri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.174

Abstract

Makalah akan membahas tentang pemahaman ulama terhadap hadis isrâ’ sebelum wahyu dan isrâ’ setelah wahyu dan perbedaan pendapat ulama dalam memahami hadis tersebut, dan sudut pandang historis dari peristiwa isrâ’ tersebut.Dalam pembahasan makalah ini, penulis menggunakan metode maudhû’iy Muqâranah, yaitu penelitian dengan mengumpulkan hadis-hadis dalam satu tema, mengemukakan pendapat ulama, lalu memperbandingkan pendapat mana yang paling rajîh.Dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa para ahli memahami hadis tentang isrâ’ sebelum wahyu adalah : pertama isrâ’ terjadi satu kali dan setelah kenabian, kedua isrâ’ terjadi dua kali dan menetapkan sebelum kenabian dan pendapat yang ketiga mencoba memadukan antara kedua pendapat yaitu isrâ’ terjadi sebelum kenabian dan setelah kenabian walaupun pada kali pertama dalam mimpi dan belum menjadi Nabi hal ini belum bisa dikatakan sebagai peristiwa isrâ’.
Beban Kerja dan Burnout Pada Tenaga Kerja : Suatu Tinjauan Winbaktianur Winbaktianur
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.170

Abstract

Banyak kajian yang membahas mengenai beban kerja dan burnout. Pada tulisan ini mengulas beban kerja dan burnout sebagai suatu kajian keilmuwan yang bayak dikaji dalam psikologi Industri dan Organisasi serta dalam Manajemen Sumber Daya Manusia.Beban kerja merupakan sekumpulan tugas atau pekerjaan yang ditanggung oleh pekerja yang harus diselesaikan pada rentang waktu tertentu. Sedangkan burnout adalah adalah sindrom psikologis yang disebabkan adanya rasa kelelahan yang luar biasa baik secara fisik, mental maupun emosional, yang menyebabkan seseorang terganggu dan terjadi penuntutan pencapaian prestasi pribadi.
DIALOG FILSAFAT ILMU DAN PSIKOLOGI SEBAGAI DASAR DAN ARAH PENGEMBANGAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PARA SARJANANYA Nur Aisyiah Yusri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.171

Abstract

Tulisan ini mencoba membuat suatu gambaran bagaimana filsafat ilmu di satu sisi, dan psikologi di sisi yang lain, sebagai ilmu dalam rentang perjalanan keimuannya, kemudian membuat suatu kerangka pemikiran sedemikian rupa sehingga antara filsafat ilmu dan psikologi dapat berjalan bergandengan tangan dalam rangka mempersiapkan “diri” dan sarjananya menghadapi persoalan-persoalan yang ada dengan menampilkan beberapa persoalan yang ada dan solusi-solusi yang kira-kira dapat diberikan.Tulisan ini memperlihatkan bahwa guna meningkatkan kualitas para sarjana psikologi, menjadikan filsafat ilmu sebagai dasar dan arah pengembangan ilmu adalah tepat. Sebab filsafat ilmu adalah implisit dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi, dan implisit dalam paradigma manusia seutuhnya yang di dalam penalarannya pertama-tama dan terutama harus mampu dan sanggup melakukan terobosan ke kawasan yang paling mendasar, ke kawasan untuk memahami hakikat ilmu sampai batas ultimate. Dan tentu yang tidak kalah pentingnya adalah menghasilkan sarjana-sarjana yang mampu menggali dan mengembangkan keilmuannya dapat mengamalkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dan dapat menjadikan ilmunya aplikatif dalam segala situasi dan kondisi.
JIHAD DALAM PERSFEKTIF TAFSIR FI ZILAL AL-QU’RAN Muslim Muslim
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 19, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v19i2.172

Abstract

Alquran adalah kalam Allah yang mempunyai banyak tema. Di antara temanya adalah tentang jihad. Jihad merupakan isu sentral yang digunakan oleh sebagian kelompok sebagai pembenaran atas tindakan mereka dalam beragama. Kesalahpahaman sering terjadi dengan adanya terjemah yang kurang tepat terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang jihad dengan anfus dan harta benda. Kata anfus sering diterjemahkan dengan jiwa. Kata anfus dalam Alquran memiliki beberapa arti, antara lain: nyawa, hati, jenis, dan dapat pula diartikan dengan totalitas manusia. Alquran mempersonifikasikan wujud seseorang dihadapan Allah dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Jadi, dalam konteks ini jihad dapat dipahami sebagai totalitas manusia, sehingga kata nafs meliputi nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga, pikiran, bahkan waktu dan tempat yang berkaitan dengannya. Dalam tulisan ini, penulis akan memberikan perspektif utuh yang diberikan oleh Sayyid Quthb mengenai apa dan bagaimana eksistensi jihad dalam tafsirnya Fi Zilal Alquran

Page 1 of 1 | Total Record : 6