cover
Contact Name
Sani Ega Priani, M.Si., Apt.
Contact Email
-
Phone
jurnal.farmasyifa@gmail.c
Journal Mail Official
jurnal.farmasyifa@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi - Universitas Islam Bandung Jalan Rangga Gading No. 8, Kota Bandung, Jawa Barat
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa
ISSN : 25990047     EISSN : 25986376     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa (JIFF) merupakan Jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian di ruang lingkup Farmasi meliputi Farmakologi dan Toksikologi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Biologi Farmasi, Farmasetika, Farmasi Mikrobiologi dan Bioteknologi, dan Farmakokimia. Disamping penelitian, jurnal ilmiah Farmasyifa juga memuat artikel hasil review terkait perkembangan ilmu kefarmasian di Indonesia berbasis penelitian.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2019)" : 6 Documents clear
FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera Lamk) Patihul Husni; Alika Nuansa Pratiwi; Ardian Baitariza
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4796

Abstract

Salah satu tanaman berkhasiat antiinflamasi adalah tanaman kelor (Moringa oleifera Lamk) sehingga berpotensi dibuat sediaan krim. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula terbaik krim ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera Lamk). Penelitian dilakukan dengan membuat sediaan krim dengan tiga formula berbeda (F1, F2 dan F3) yang mengandung ekstrak daun kelor 10% b/b. Evaluasi sediaan krim dilakukan selama 4 minggu penyimpanan meliputi uji organoleptik (warna, aroma dan bentuk), homogenitas, pH, viskositas, daya tercuci, tipe krim, dan uji iritasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula (F1, F2 dan F3) memenuhi syarat krim yang baik dan tidak mengiritasi. Formula krim yang paling baik berdasarkan uji penyimpanan selama 4 minggu adalah F3 dengan komposisi formula berupa ekstrak daun kelor 10%, asam stearat 10%, paraffin cair 2%, setil alkohol 2%, span 80 1,5%, tween 80 3,5%, gliserin 7,5%, titan dioksida 0,7%, oleum rosae 15 tetes, nipagin 0,18%, nipasol 0,02%, aquadest add 50% b/b.
KARAKTERISASI DAN FORMULASI CANGKANG KAPSUL DARI TEPUNG PEKTIN KULIT BUAH COKELAT (Theobroma cacao L) Anan Suparman
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4646

Abstract

Kapsul adalah sediaan yang mengandung satu macam bahan obat atau lebih yang dimasukkan ke dalam cangkang atau wadah kecil yang umumnya dibuat dari gelatin. Struktur pektin yang berupa polimer sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengganti gelatin. Kulit buah cokelat (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu bahan tanaman yang dapat dijadikan bahan dasar cangkang kapsul karena mengandung pektin. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kemungkinan pemanfaatan pektin dalam kulit buah cokelat dengan memformulasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan cangkang kapsul keras. Hasil optimasi formula yang baik yaitu formula F3 dengan konsentrasi pektin 0,78%, karagenan 5,00% dan aquades 94,22%. Hasil evaluasi cangkang kapsul menunjukkan spesifikasi cangkang kapsul memenuhi syarat industri kapsul dan waktu hancur cangkang kapsul memenuhi syarat yang ditetapkan Farmakope Indonesia edisi V tahun 2014 yaitu 15 menit atau kurang dari 30 menit.
KUALITAS HIDUP PENDERITA KANKER SERVIKS BERDASARKAN JUMLAH KOMORBID, KOMPLIKASI PENYAKIT DAN EFEK SAMPING KEMOTERAPI Suwendar Suwendar
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4538

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker dengan tingkat prevalensi yang tinggi.  Kualitas hidup pasien kanker serviks akan menurun disebabkan penyakitnya maupun terapi yang diberikan. Adanya komorbid, komplikasi penyakit dan efek samping dari kemoterapi yang menyertai akan mempengaruhi kualitas hidup pasien.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah komorbid, komplikasi dan efek samping kemoterapi terhadap kualitas hidup pasien kanker serviks. Metode Penelitian: Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional prospektif.  Subyek penelitian adalah pasien kanker serviks rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi.  Data yang diambil adalah kualitas hidup pasien kanker berdasarkan jumlah komorbid, komplikasi dan efek samping kemoterapi yang diderita. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner EQ-5D-3L.  Data dianalisis dengan uji statistik ANOVA dengan uji lanjut LSD (p < 0,05).  Hasil : Pada pasien tanpa komorbid, dengan satu komorbid dan dua komorbid : rata-rata nilai utility masing-masing adalah 0,67±0,13, 0,55±0,15 dan 0,46 ±0,16; rata-rata nilai EQ-5D VAS masing-masing adalah 57,50±24,75;  45,45±9,34 dan 40,00±8,16. Komplikasi yang paling sering dijumpai adalah anemia.  Anemia berat cenderung lebih menurunkan kualitas hidup dibandingkan anemia ringan meskipun tidak signifikan. Untuk pasien dengan anemia ringan dan berat, nilai utility masing-masing adalah : 0,64±0,14 dan 0,48±0,15, sedangkan nilai EQ-5D VAS masing-masing adalah : 46,67±14,15 dan 42,50±15,12.  Efek samping kemoterapi yang paling sering dialami adalah emesis dan trombositopenia.  Kualitas hidup penderita dengan trombositopenia cenderung lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang hanya mengalami emesis, meskipun tidak signifikan.  Pada pasien yang mengalami emesis, rata-rata nilai utility adalah 0,65±4,28 dan nilai EQ-5D VAS adalah 49,54±15,43.  Pada pasien dengan trombositopenia, rata-rata nilai utility adalah 0,43±0,38 dan nilai EQ-5D VAS adalah 35,00±13,23. Kesimpulan : Jika jumlah komorbid yang diderita pasien kanker serviks semakin banyak serta  komplikasi penyakit dan efek samping kemoterapi makin berat maka kualitas hidup pasien akan semakin menurun. Kata kunci : kanker serviks, kualitas hidup, EQ-5D-3L ABSTRACT Background: Cervical cancer is one type of cancer with a high prevalence. The quality of life of patients with cervical cancer will decrease due to the disease or the therapy given. The presence of comorbidities, complications of disease and side effects of chemotherapy that accompany will affect the quality of life of patients. Aims: This study aimed to determine the effect of comorbid amount, complications and side effects of chemotherapy on the quality of life of patients with cervical cancer. Methods: The study was conducted in a prospective cross-sectional design. The subjects of the study were hospitalized cervical cancer patients who met  the inclusion criteria. The data taken were the quality of life of cancer patients based on the number of comorbidities, complications and side effects of chemotherapy suffered. Data collection was carried out using the EQ-5D-3L questionnaire. Data were analyzed by ANOVA statistical test with LSD (p <0.05). Results: In patients without comorbidities, with one comorbid and two comorbid: the average utility value was 0.67 ± 0.13, 0.55 ± 0.15 and 0.46 ± 0.16; the average EQ-5D VAS values were 57.50 ± 24.75; 45.45 ± 9.34 and 40.00 ± 8.16 respectively. The most common complication was anemia. Severe anemia tended to further reduce quality of life compared to mild anemia, although not significant. For patients with mild and severe anemia, the utility values were: 0.64 ± 0.14 and 0.48 ± 0.15, while the EQ-5D VAS values were: 46.67 ± 14.15 and 42.50 ± 15.12 respectively. The most common side effects of chemotherapy were emesis and thrombocytopenia. The quality of life of patients with thrombocytopenia tended to be lower compared to patients who only experience emesis, although not significantly. In patients who experience emesis, the average utility value was 0.65 ± 4.28 and the EQ-5D VAS value was 49.54 ± 15.43. In patients with thrombocytopenia, the average utility value was 0.43 ± 0.38 and the EQ-5D VAS value was 35.00 ± 13.23. Conclusion: If the number of comorbidities suffered by patients with cervical cancer is increasing, the complications of the disease and the side effects of chemotherapy are getting heavier than the patient's quality of life will decrease.Keyword: cervical cancer, quality of life, EQ-5D-3L
AKTIVITAS FRAKSI ETIL ASETAT Artocarpus altilis (Parkinson Ex F.A.Zorn) Fosberg TERHADAP KADAR ASAM URAT DARAH MENCIT PUTIH JANTAN HIPERURISEMIA Novia Sinata
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4795

Abstract

ABSTRAK Hiperurisemia suatu kondisi terjadi peningkatan kadar asam urat dalam darah. Penimbunan kristal asam urat pada persendiaan menimbulkan rasa sakit dan nyeri yang dikenal sebagai penyakit gout. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk pengobatan asam urat adalah daun sukun (Artocarpus altilis (Parkinson Ex F.A.Zorn) Fosberg). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antihiperurisemia fraksi etil asetat dari daun sukun terhadap kadar asam urat darah mencit putih jantan hiperurisemia. Metode penelitian ini dilakukan dengan penginduksian hiperurisemia menggunakan Makanan Diet Purin Tinggi (MDPT ) jus hati sapi segar 0,6 mL/20gBB selama 28 hari menggunakan mencit galur swiss webster yang dikelompokkan menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kontrol negatif,  kontrol positif (allopurinol 13 mg/kgBB), dosis 100 mg/kgBB, kelompok dosis 200 mg/kgBB dan  dosis 400 mg/kgBB. Pemberian bahan uji dilakukan selama 14 hari dimulai pada hari ke 15 sampai ke 28. Pengukuran kadar asam urat dilakukan pada hari ke-0, 15, 22 dan 29 menggunakan alat digital Easy Touch® GCU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun sukun (Artocarpus altilis (Parkinson Ex F.A.Zorn) Fosberg) dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB dapat menurunkan kadar asam urat dan memberikan efek menurunkan kadar asam urat  yang hampir sama dengan allopurinol dosis 13 mg/kgBB. Kesimpulan nya fraksi etil asetat dari daun sukun memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar asam urat dan dosis yang paling efektif yaitu dosis 100 mg/kgBB.Keywords: Antihiperurisemia, sukun, fraksi etil asetat, MDPT ABSTRACT Hyperuricemia is a condition when there is an increase in uric acid levels in blood. Hyperuricemia can cause accumulation of urate crystal in joints, causing pain dan pain known as gout. One of the plants that can be used as a traditional medicine gout is breadfruit leaves (Artocarpus altilis (Parkinson Ex F.A.Zorn) Fosberg. This study aimed to evaluate the antihyperuricemia activity of ethyl acetate fraction of breadfruit leaves. The research was conducted by inducing hyperuricemia using a High Purine Diet Food (MDPT) of  0.6 ml / 20gBW juice of  fresh beef liver for 28 days by using swiss webster mice devided into 6 groups normal control, negative control, positive control (allopurinol 13 mg/KgBW), dose 100 mg/ KgBW, dose 200 mg/KgBW, dose 400mg / KgBW. Treatment was performed for 14 days starting on days 15 to 28. Uric acid levels was measured on the 0, 15,22, and 29 th days  using a digital tool Easy Touch® GCU. The results showed that ethyl acetate fraction of breadfruit leaves (Artocarpus altilis (Parkinson Ex F.A.Zorn) Fosberg) dose 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB and 400 mg/kgBB might decrease uric acid levels almost the same as allopurinol 13 mg/kgBB and the effective dose in 100 mg/kgBBKeywords: Antihyperuricemia, sukun, ethyl acetate fraction, MDPT
NANOENKAPSULASI MINYAK BIJI KELOR Muhammad Dzakwan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4660

Abstract

Minyak biji kelor merupakan golongan edible oil berasal dari biji tanaman kelor yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antiaging, emolient, perawatan rambut dan pencerah kulit. Nanoenkapsulasi adalah proses melapisi suatu zat sebagai bahan inti dalam suatu membran polimer yang berukuran 1-1000 nm. Penelitian ini bertujuan  mengembangkan nanokapsul minyak biji kelor dan mendapatkan formula terbaik berdasarkan derajat ukuran partikel dan stabilitas sistem nanokapsul. Nanoenkapsulasi minyak biji kelor dilakukan dengan metode emulsifikasi-evaporasi menggunakan polimer polivinil alkohol (PVA), asam polilaktat (PLA) dan Na alginat dan surfaktan polisorbat 80. Karakterisasi nanokapsul meliputi kejernihan, ukuran partikel, zeta potensial, morfologi partikel dan stabilitas nanokapsul. Selanjutnya dipilih formula dengan ukuran partikel nanometer dan yang paling stabil. Formula I dengan polimer PVA-polisorbat 80 merupakan  formula terpilih dengan ukuran partikel 187 nm ± 13,05, polidispersitas indeks 0,210 ± 0.11 dan zeta potensial -36,7 ± 4,99 mV, homogen dan stabil secara fisik. Minyak biji kelor berhasil dikembangkan menjadi nanokapsul dengan metode emulsi- evaporasi. Nanokapsul minyak biji kelor dengan jenis polimer PVA dan surfaktan 80 menghasilkan sistem nanokapsul paling stabil selama penyimpanan pada suhu kamar selama 8 minggu.
UJI ANTIOKSIDAN TEH DAUN SIRSAK DENGAN TAMBAHAN DAUN PANDAN SEBAGAI PERISA ALAMI Aptika Oktaviana Trisna Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4389

Abstract

Indonesia dengan kekayaan tanaman obat yang sangat beragam berpotensi untuk dikembangkan sebagai sediaan tanaman obat dalam bentuk teh sehingga mudah untuk dikonsumsi. Salah satu tanaman obat yang dapat dikembangkan adalah daun sirsak. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi antioksidan pada teh daun sirsak. Formula yang diuji dibuat dengan komposisi teh hijau, daun sirsak dan daun pandan. Variasi dilakukan pada komposisi daun sirsak dan daun pandan masing-masing 30% : 50% (F1) ; 40% : 40% (F2) dan 50% : 30% (F3). Pengujian yang akan dilakukan adalah uji organoleptis dan uji antioksidan menggunakan DPPH. Hasil penelitian menujukkan secara organoleptis terlihat bahwa pengaruh penambahan jumlah daun sirsak akan menimbulkan rasa yang lebih pahit atau getir seperti jamu. Sedangkan penambahan daun pandan tidak menimbulkan perubahan signifikan pada rasa, namun dapat menimbulkan aroma pandan yang cukup kuat. Pengujian aktivitas antioksidan ditunjukkan melalui persentase hambat terhadap senyawa radikal DPPH. Hasilnya menunjukkan untuk F1 menghambat 51%, F2 menghambat 63%, F3 menghambat 61%, masing-masing pada konsentrasi seduhan teh 100 ppm.   Kata kunci : teh, daun sirsak, daun pandan, antioksidan

Page 1 of 1 | Total Record : 6