cover
Contact Name
Muhammad Awal
Contact Email
daengngerang@gmail.com
Phone
+62085242770947
Journal Mail Official
mediafisio@poltekkes-mks.ac.id
Editorial Address
Jl. Paccerakkang No. 77 Makassar - Sulawesi Selatan
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar
ISSN : 20865937     EISSN : 27157288     DOI : https://doi.org/10.32382/mf.v12i1
Core Subject : Health, Science,
Ruang lingkup media fisioterapi adalah jurnal kesehatan yang mengelola artikel kesehatan dalam rumpun ilmu fisioterapi : 1. Fisioterapi Muskuloskeletal 2. Fisioterapi Neuromuskular 3. Fisioterapi Kardiovaskular dan Respirasi 4. Fisioterapi Geriatrik 5. Fisioterapi Pediatrik 6. Fisioterapi Ergonomi dan Kesehatan Kerja 7. Fisioterapi Olahraga, dan 8. Fisioterapi Kesehatan Masyarakat
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2020)" : 5 Documents clear
BEDA PENGARUH PEMBERIAN CONTRAX RELAX DAN HOLD RELAX TERHADAP PENURUNAN NYER AKIBAT SYNDROME PIRIFORMIS DI RSUD ARIFIN NU’MANG SIDENRENG RAPPANG Muh Ihsan; Anshar Anshar
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.691 KB) | DOI: 10.32382/mf.v12i1.1590

Abstract

Latar Belakang. Syndrome piriformis merupakan sekumpulan gejala-gejala termasuk nyeri pinggang atau nyeri bokong yang menyebar ke tungkai. Masih ada perbedaan pendapat dari para ahli, apakah  merupakan kondisi yang jelas ada dan menyebabkan nyeri myofacial dari paha, hypertrofi dan nyeri tekan pada otot piriformis, atau apakah  merupakan kondisi kompresi dari saraf sciatic yang menyebabakan nyeri neuropatik.Metode : Penelitian ini termasuk penelitian quasi eksperimen yaitu penelitian percobaan semu yang melibatkan variabel perlakuan yaitu Contrax relax dan hold relax, sedangkan variabel respons adalah nyeri akibat Syndrome Piriformis. Penelitian adalah Quasy experiment dengan desain pretest-post test two group design. Populasi target adalah semua pasien Syndrome Piriformis selama penelitian sejumlah 20 orang, dengan menggunakan total sampling.Sampel dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, kelompok perlakuan dengan Contrax relax yang berjumlah 10 orang dan kelompok perlakuan dengan hold relax yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini menggunakan Oswetry Disability Index (ODI) untuk mengukur nyeri sebelum dan sesudah pemberian pemberian perlakuan..Hasil. Pemberian intervensi Contrax relax memberikan pengaruh dan perubahan nyeri pada penderita Syndrome Piriformis dengan rata-rata perubahan sebesar 36,40 dari 60,40 menjadi 24,00. Pemberian intervensi hold relax  memberikan pengaruh dan perubahan nyeri pada penderita Syndrome Piriformis dengan rata-rata perubahan sebesar 33,20 dari 58,80  menjadi 25,60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contrax relax maupun hold relax memiliki pengaruh yang bermakna terhadap penurunan nyeri pada penderita Syndrome Piriformis.  Kesimpulan. Uji t independen untuk pengujian hipotesis, mulai dari nilai post ODI diperoleh nilai p= 1,000 >0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa bahwa tidak ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pemberian contrax relax dengan pemberian hold relax. Sebaiknya fisioterapis menerapkan contrax relax atau hold relax untuk mengurangi nyeri pada penderita Syndrome Piriformis. Kata Kunci : Contrax Relax, Hold Relax, Nyeri, Syndrome Piriformis.1 Jurusan Fisioterapi Poltekkes kemenkes Makassar
PENGARUH PEMBERIAN INTERFERENSI DENGAN ULTRASOUND PADA PENERAPAN HOLD RELAX TERHADAP PERUBAHAN NYERI DAN JARAK GERAK SENDI LUTUT PASIEN OSTEOARTHRITIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SALEWANGANG MAROS Hendrik Hendrik; Suharto Suharto; Hasbiah Hasbiah
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.661 KB) | DOI: 10.32382/mf.v11i1.819

Abstract

Osteoarthritis merupakan penyakit gangguan musculoskeletal yang degeneratif, dimana jumlah kejadiannya cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia harapan hidup penduduk. Fisioterapi merupakan salah satu faktor terpenting dalam penanganan osteoarthritis secara komprehensif.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode yang lebih efektif antara interferensi dan hold relax dengan ultrasound dan hold relax terhadap perubahan  nyeri penambahan jarak gerak sendi akibat osteoarthritis sendi lutut. Penelitian ini adalah quasy eksperimen menggunakan pretest-posttest two group design. Populasi penelitian adalah semua pasien osteoarthritis yang berkunjung di Poliklinik Fisioterapi RSUD Salewangan Maros  dari bulan Juni sampai dengan September 2013 yang berjumlah 31 orang. Sampel penelitian diperoleh dengan teknik purposive sampling sehingga jumlah sampel 20 orang yang dibagi atas dua kelompok.Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian interferensi dan hold relax dengan selisih rata-rata nilai aktualitas nyeri 1.94 + 0.72 cm dan ROM sebesar 16.500 + 5.800 dengan hasil uji wilcoxon p=0.005 < α= 0.05. Sedangkan pada intervensi ultrasound dan hold relax diperoleh selisih rata-rata nilai aktualitas nyeri 1.41 + 0.21 cm dan ROM sebesar 10.80 + 3.150 dengan hasil uji wilcoxon p= 0.005 < α= 0.05. Pada uji Mann-Whitney diperoleh adanya perbedaan yang signifikan diantara kedua perlakuan, pada nilai rata-rata VAS dengan p= 0.029 < α= 0.05. Sedangkan pada luas gerak sendi tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok terhadap nilai  ROM dengan p= 0.74 > p= 0.05.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perubahan aktualitas nyeri dan jarak gerak sendi (ROM) sebelum dan sesudah pemberian interferensi dan hold relax serta ultrasound dan hold relax pada pasien osteoarthritis sendi lutut. Tidak ada perbedaan perubahan jarak gerak sendi (ROM) diantara kedua kelompok perlakuan. Kata Kunci : Interferensi, Ultrasound, hold relax,  Nyeri dan Jarak Gerak Sendi Lutut  Pasien                       Osteoarthritis
BEDA PENGARUH PEMBERIAN MICROWAVE DIATHERMY DENGAN ULTRASOUND PADA PENERAPAN TRAKSI TRANSLASI TERHADAP PERUBAHAN LUAS GERAK ABDUKSI SENDI BAHU AKIBAT FROZEN SHOULDER DI RUMAH SAKIT UMUM HIKMAH MAKASSAR Tiar Erawan; Arpandjaman Arpandjaman
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.261 KB) | DOI: 10.32382/mf.v11i1.822

Abstract

Gangguan pada sendi bahu seperti capsulitis adhesive yang terlambat penanganannya akan menimbulkan kondisi yang lebih berat yang ditandai dengan keterbatasan gerakan baik aktif maupun pasif pada seluruh gerakan sendi bahu.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh pemberian microwave diathermy dengan ultrasound pada penerapan traksi translasi  terhadap perubahan luas gerak abduksi sendi bahu akibat frozen shoulder. Penelitian ini adalah quasy eksperimen menggunakan pretest-posttest two group design. Populasi penelitian adalah semua pasien yang mengalami gangguan gerak abduksi bahu akibat frozen shoulder yang berkunjung di Poliklinik Fisioterapi Rumah Sakit Umum Hikmah Makassar selama penelitian.. Sampel penelitian Pasien frozen shoulder  yang berkunjung di Poliklinik Fisioterapi Rumah Sakit Umum Hikmah Makassar selama penelitian  yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan oleh peneliti.Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian MWD dan traksi-translasi dengan selisih rata-rata nilai ROM abduksi sendi bahu sebesar 13.800 + 1.460 dengan hasil uji wilcoxon p=0.005 < α= 0.05. Sedangkan pada intervensi ultrasound dan traksi-translasi diperoleh selisih rata-rata nilai ROM sebesar 10.800 + 3.150 dengan hasil uji wilcoxon p= 0.005 < α= 0.05. Pada uji Mann-Whitney tidak diperoleh adanya perbedaan yang signifikan ROM abduksi sendi bahu diantara kedua perlakuan, dengan p= 0.684 > α= 0.05.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perubahan jarak gerak sendi (ROM) abduksi sendi bahu sebelum dan sesudah pemberian MWD dan traksi-translasi  serta ultrasound dan traksi-translasi pada pasien gangguan gerak abduksi bahu akibat frozen shoulder. Tidak ada perbedaan perubahan jarak gerak sendi (ROM) abduksi sendi bahu diantara kedua kelompok perlakuan.
HUBUNGAN ANTARA FUNCTIONAL ANKLE INSTABILITY DENGAN KEMAMPUAN BIOMOTOR PADA ATLET PENCAK SILAT Feraya Melinda Farza; andi rahmaniar
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.691 KB) | DOI: 10.32382/mf.v12i1.1589

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang. Dalam pencak silat dibutuhkan kemampuan biomotor yang baik dalam rangka meningkatkan performa, salah satunya adalah komponen daya ledak dan kelincahan yang sangat menentukan keberhasilan dalam melancarkan serangan dan melibatkan gerakan-gerakan eksplosif. Cedera muskuloskeletal dapat menyebabkan menurunnya kemampuan biomotor pada atlet, salah satunya adalah functional ankle instability (FAI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara FAI dengan kemampuan biomotor daya ledak dan kelincahan pada atlet pencak silat. Metode : . Metode yang digunakan adalah metode penelitian korelatif dengan menggunakan teknik purposive sampling untuk menentukan sampel dengan jumlah sampel 20 orang atlet (16 orang atlet dengan FAI dan 4 orang atlet tidak dengan FAI). Variabel independen yang diukur adalah FAI melalui kuesioner Cumberland Ankle Instability Tool. Variabel dependen yang diukur adalah kemampuan biomotor daya ledak dan kelincahan melalui tes vertical jump dan tes side step Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara FAI dengan kemampuan biomotor daya ledak dengan nilai signifikansi yaitu 0,483 (p>0,005). Kemudian hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara FAI dengan kemampuan biomotor kelincahan dengan nilai signifikansi yaitu 0,764.  Kesimpulan. Tidak ada hubungan yang bermakna antara FAI dengan kemampuan biomotor daya ledak dan kelincahan pada atlet pencak silat.Disarankan atlet yang mengalami FAI sebaiknya melakukan latihan-latihan seperti latihan proprioseptif, strengthening, koordinasi untuk meningkatkan kestabilan ankle, dapat digunakan peralatan berupa wobble boards, ankle disks, atau peralatan serupa lainnya. Kata kunci: Functional Ankle Instability, Kemampuan Biomotor, Pencak Silat1Jurusan Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin2Dosen Fisioterapi Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin
PENGARUH LATIHAN BRIDGING DAN STRENGTHENING TERHADAP KESEIMBANGAN DUDUK PASIEN PASCA STROKE NON HEMORAGIK DI KLINIK FISIOTERAPI POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR Muhammad Awal; Sri SadiyahL; Andi Halimah; Siti Nurul Fajriah
Media Fisioterapi Politeknik Kesehatan Makassar Vol 12, No 1 (2020)
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.084 KB) | DOI: 10.32382/mf.v10i2.815

Abstract

Gangguan keseimbangan terjadi sebagai akibat adanya kelemahan pada otot-otot yang berperan dalam memelihara keseimbangan terutama keseimbangan duduk, seperti otot trunk dan pelvic. Latihan bridging dan strengthening adalah dua teknik latihan yang dapat meningkatkan kekuatan otot pada trunk maupun pelvic.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan pengaruh pemberian latihan Bridging dan strengthening terhadap Keseimbangan Duduk pada Penderita Pasca Stroke Non-Haemoragik. Penelitian ini adalah quasy eksperimen menggunakan pretest-posttest two group design. Populasi penelitian adalah semua pasien pasca stroke yang berkunjung di Klinik Politeknik Kesehatan  Makassar jurusan Fisioterapi selama penelitian berlangsung. Sampel penelitian penderita pasca stroke non haemorragik yang berkunjung di Klinik Politeknik Kesehatan  Makassar Jurusan Fisioterapi selama penelitian berlangsung.Hasil penelitian diperoleh adanya perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian bridging exercise dengan selisih rata-rata nilai keseimbangan duduk 1.40 + 0.52 menit dengan hasil uji wilcoxon p=0.004 < α= 0.05. Sedangkan pada intervensi strengthening exercise diperoleh selisih rata-rata keseimbangan duduk 1.00 + 0.67 menit engan hasil uji wilcoxon p= 0.008< α= 0.05. Pada uji Mann-Whitney diperoleh perbedaan yang tidak signifikan diantara kedua perlakuan, pada nilai rata-rata keseimbangan duduk dengan p= 0.247> α= 0.05.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perubahan keseimbangan duduk sebelum dan sesudah pemberian bridging exercise dan strengthening exercise pada penderita pasca stroke non haemorragik. Tidak ada perbedaan perubahan keseimbangan duduk diantara kedua kelompok perlakuan. Kata Kunci : Bridging exercise, strengthening exercise, stroke non-haemoragik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5