cover
Contact Name
Ridwanta Manogu
Contact Email
ridwanta.manogu@uph.edu
Phone
021 5460901
Journal Mail Official
editor.diligentia@uph.edu
Editorial Address
Jl. MH Thamrin 1100 Lippo Karawaci, Tangerang 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education
ISSN : -     EISSN : 26863707     DOI : 26863707
Core Subject : Religion, Education,
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education is a scientific journal of theology, Christian worldview, Christian education, philosophy of Christian education, and integration of faith and learning. It is published by the Department of Christian Religion Education at Universitas Pelita Harapan triannually in September, January and May.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2023): September" : 6 Documents clear
Komunitas Belajar yang Membawa Pertumbuhan Spiritualitas Siswa dalam Meresponi Panggilan Tuhan sebagai Garam dan Terang [A Learning Community that Brings Spiritual Growth to Students in Responding to God's Call to be Salt and Light] Emmanuella, Theresia; Chrismastianto, Imanuel Adhitya Wulanata
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.6399

Abstract

Education has a role to teach knowledge as well as morals so that students are not only smart, but also have noble character. Juvenile delinquency occurs when moral values have not been internalized. Therefore, Christian education responds by stating that the purpose of Christian education is to bring students to spiritual growth, where moral values and Biblical values are components that must be realized in real action. This paper will focus on how Christian education relates to the learning community in the classroom and how to find a learning community that can bring about spiritual growth. Using a literature review, it is found that learning in a learning community must be done in conjunction with discipleship. Discipleship is the process of learning knowledge as well as instilling the value of biblical truth. The growth of spirituality is characterized by the awareness and desire to serve as salt and light or have a good impact on their environment (Matthew 4:13-14). Through anthropological studies, it is also found that humans have been created to live together. Teachers have a role to lead discipleship in the classroom and students also play a role. Therefore, teachers and students need to work together to achieve this spiritual growth through discipleship in the learning community.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Pendidikan memiliki peran untuk mengajarkan ilmu pengetahuan sekaligus moral sehingga murid tidak hanya cerdas, namun juga berakhlak mulia. Kenakalan remaja yang terjadi sampai saat ini menunjukkan bahwa ada nilai moral yang belum di aplikasikan oleh seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan Kristen menjawab hal ini dengan menyatakan bahwa tujuan pendidikan Kristen adalah membawa siswa sampai kepada pertumbuhan spiritualitas, yang mana nilai moral dan nilai Alkitabiah merupakan komponen pertumbuhan spiritualitas yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Pendidikan Kristen akan berhubungan dengan komunitas belajar di dalam kelas dan memikirkan bagaimana menemukan komunitas belajar yang dapat membawa pertumbuhan spiritualitas adalah hal yang akan dijawab melalui karya tulis ini. Dengan menggunakan kajian literatur, di temukan bahwa pembelajaran di dalam komunitas belajar harus dilakukan bersamaan dengan pemuridan. Pemuridan adalah proses pembelajaran ilmu pengetahuan sekaligus penanaman nilai kebenaran Alkitab. Pertumbuhan spiritualitas ditandai dengan adanya kesadaran dan keinginan untuk melayani sebagai garam dan terang atau memberikan dampak yang baik bagi lingkungannya (Matius 4:13-14). Melalui kajian antropologi, juga ditemukan bahwa manusia memang sudah diciptakan untuk hidup bersama. Guru memiliki peran untuk memimpin pemuridan di kelas dan siswa juga berperan. Oleh sebab itu, guru dan siswa perlu bekerja sama untuk mencapai pertumbuhan spiritualitas tersebut melalui pemuridan dalam komunitas belajar.
Teologi Perjamuan Kudus menurut Kaum Anabaptis, Zwingli, dan Calvin: dalam Sejarah Reformasi [Theology of Holy Communion According to the Anabaptists, Zwingli, and Calvin: In the History of the Reformation] Rope, Denny
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.6850

Abstract

The 5th century was a bleak time for the development of the church. The Bishop of Rome showed his supremacy over all churches and teachings, which led to the Reformation and the concept of Holy Communion. Holy Communion or Eucharist is interpreted as a form of Jesus' sacrifice accepted by His people through the fellowship of food and drink, namely the body (bread) and blood (wine). This raises the question of whether there is the presence of Christ Jesus in the food and drink or is it just a symbol. This research is to look at the views of reformer theologians Ulrich Zwingli, John Calvin and the Anabaptists on Holy Communion. The results of this study show that there are differences in understanding of Holy Communion. The Anabaptists understood the Supper in almost the same context as Zwingli, namely as a memorial without the presence of Christ. While John Calvin thought that Christ was present in the revelation of His Spirit to awaken His people to the work of salvation. The thing that makes their views on Eucharist theology the same is the excavation carried out based on the Word of God. The renewed understanding of Holy Communion is inseparable from the teaching of the Roman Catholic Church at that time which seemed to show its superiority where the Eucharist was considered the way for humans to get forgiveness of sins. The focus of Holy Communion can be understood as God's action to reveal the concept of Jesus' sacrifice as the powerful Christ, ruling through His Spirit and working in His members.  And the specific meaning for His people today is to remember, repent, and have faith in Jesus as Lord and Savior.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Abad ke 5 merupakan masa suram bagi perkembangan gereja. Uskup Roma menunjukkan supremasinya atas seluruh gereja dan pengajaran sehingga menggerakkan Reformasi dan salah satunya terhadap konsep Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus atau Ekaristi dimaknai sebagai bentuk pengorbanan Yesus yang diterima oleh umatNya melalui persekutuan makanan dan minuman yaitu tubuh (roti) dan darah (anggur). Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah terdapat kehadiran Kristus Yesus dalam makanan dan minuman atau hanya merupakan simbol saja. Penelitian ini untuk melihat pandangan dari para teolog reformator Ulrich Zwingli, John Calvin dan Kaum Anabaptis terhadap Perjamuan Kudus. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan pemahaman tentang Perjamuan Kudus. Bagi kaum Anabaptis memahami Perjamuan dalam konteks yang hampir sama dengan Zwingli yakni sebagai peringatan tanpa kehadiran Kristus. Sementara John Calvin beranggapan bahwa Kristus ada dalam penyataan RohNya untuk menyadarkan umatNya tentang karya keselamatan. Hal yang menjadikan pandangan mereka pada Ekaristi teologi sama adalah penggalian yang dilakukan berdasarkan Firman Allah. Pembaharuan pemahaman terhadap Perjamuan Kudus tidak terlepas dari pengajaran Gereja Katolik Roma pada masa itu yang nampaknya menunjukkan superioritasnya dimana Ekaristi dianggap sebagai jalan manusia mendapatkan pengampunan dosa. Fokus dari Perjamuan Kudus dapat dipahami sebagai tindakan Tuhan untuk menyatakan konsep pengorbanan Yesus sebagai Kristus yang berkuasa, memerintah melalui Roh-Nya dan bekerja dalam anggota-anggotaNya.  Dan makna khusus bagi umatNya saat ini adalah mengingat, bertobat, dan memiliki iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Konsep Paradoks: Kedaulatan Allah dan Kebebasan Manusia Menurut Perspektif Teologi Reformed [A Paradoxical Concept: God's Sovereignty and Human Freedom According to a Reformed Theological Perspective] Zega, Sri Susianti
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7335

Abstract

Humans can only understand salvation through God's revelation in the Bible. The Bible teaches that the matter of salvation is both God's sovereignty and man's inseparable responsibility, which is understood as a paradoxical concept. But in reality, 6 out of 11 Christian students do not understand the paradoxical truth about salvation taught by the Bible according to a randomly distributed survey. Christian students who have accepted theological doctrines should understand the paradoxical truth about salvation. An important aim of writing this essay is to show the understanding of Reformed theology (represented by John Calvin, Louis Berkhof, Anthony Hoekema, and J.I. Packer) regarding salvation as God's sovereignty and human responsibility using literary sources. Reformed theologians (Calvin, Berkhof, Hoekema, and Packer) accepted the paradoxical concept and believed that humans contribute to the regeneration of identity through God's grace. God's grace is the main reason humans can obey this. Therefore, understanding the concept of paradoxical truth must be accompanied by love and humility before God.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Manusia hanya dapat memahami keselamatan melalui wahyu Allah melalui Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa mengusahakan keselamatan adalah kedaulatan Tuhan dan tanggung jawab manusia yang tidak terpisahkan, yang dipahami sebagai konsep paradoks. Namun pada kenyataannya, 6 dari 11 mahasiswa Kristen tidak memahami kebenaran paradoksal tentang keselamatan yang diajarkan oleh Alkitab, berdasarkan survei yang disebarkan secara acak. Mahasiswa Kristen yang telah menerima doktrin teologi seharusnya memahami kebenaran paradoksal tentang mengerjakan keselamatan. Tujuan penting dari penulisan esai ini adalah untuk menunjukkan pemahaman teologi Reformed (yang diwakili oleh John Calvin, Louis Berkhof, Anthony Hoekema, dan Packer) mengenai keselamatan sebagai kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia atas keselamatan dengan menggunakan sumber-sumber literatur. Konsep paradoksal dalam mengerjakan keselamatan sebagai kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Kebenaran yang diajarkan oleh Alkitab, para teolog Reformed (Calvin, Berkhof, Hoekema, dan Packer) menerima konsep paradoksal dan percaya bahwa manusia berkontribusi dalam regenerasi identitas melalui kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah sebagai penyebab utama manusia dapat taat mengerjakan keselamatan. Oleh karena itu, memahami konsep kebenaran paradoksal harus disertai dengan kasih dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Implications of a Biblical Christian Worldview: A Case Study of Sociology, Language, Art, and Pedagogy Lecturers’ Teaching Practices [Implikasi dari Pandangan Dunia Kristen yang Alkitabiah: Studi Kasus Praktik Pengajaran Dosen Sosiologi, Bahasa, Seni, dan Pedagogi] Siahaan, Meri Fuji
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7339

Abstract

The purpose of this research was to describe lecturers’ practices of integrating a biblical Christian worldview in teaching courses in sociology, Indonesian language, art, and pedagogy (assessment and teaching and learning theories). The participants were the lecturers in one of the education faculties in Tangerang.  The data were derived from interviews with five faculty members and collecting their course syllabus. Descriptive qualitative research with a case study approach was employed. The data were described and analyzed in the light of the current literature. The findings showed that those five faculty members have been implementing a biblical Christian worldview in their teaching with a pedagogy of transferring new information. This paper suggests faculty not use a biblical Christian worldview as just intellectual information with a goal of increasing head knowledge but rather use it to reorient students' hearts.
Kajian Natur Siswa sebagai Gambar dan Rupa Allah dalam Pendidikan Kristen yang Holistik [The Study of Students' Nature as the Image and Likeness of God in Holistic Christian Education] Hombing, Chindy Mutiara Br; Yanti, Yanti
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7344

Abstract

The philosophy of Christian education is based on the foundation of restoration of man as the image and likeness of God who fell into sin to be reconciled and redeemed to God. Christian education aims to transform students towards the likeness of God's character. Unfortunately, the practice of Christian education pays less attention to the development of the whole aspects of a student and instead only focuses on particular aspects, so that many students only obtain knowledge, but are lacking character and spiritual life shown in their life. This gap awakens the needs for a holistic approach, namely focusing on all aspects of human life. Therefore, the purpose of this article is to explain the implications of holistic Christian education practices based on the importance of students' natures in achieving the goals of Christian education. The method used here is literature study based on several focus studies, namely philosophical views, students as the image and likeness of God and holistic Christian education. As a result, the existence of holistic students is directed to learning that comes from God's truth through holistic Christian education. The practice of Christian education is recommended to provide teachings that touch the heart to bring humans to recovery towards the right way of life before God. Educational institutions present an integrated curriculum of spiritual aspects to realize a positive response and responsibility of students towards others and nature.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Filsafat pendidikan Kristen mendasari pada pemulihan manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang jatuh ke dalam dosa untuk direkonsiliasi, ditebus dan didamaikan dengan Allah. Pendidikan Kristen bertujuan mentransformasi individu secara utuh untuk menuju keserupaan karakter Allah. Faktanya, praktik pendidikan Kristen kurang memperhatikan pengembangan semua aspek dan tidak jarang hanya terfokus pada satu aspek saja, sehingga banyak siswa yang hanya berpengetahuan baik namun karakter dan kehidupan spiritual yang ditunjukkan malah kurang atau buruk. Kesenjangan ini menyadarkan perlunya pendekatan holistik yaitu memberi perhatian kepada seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh sebab itu, tujuan penulisan ini yaitu memaparkan implikasi praktik pendidikan Kristen yang holistik berdasarkan pertimbangan pentingnya natur siswa dalam mewujudkan tujuan pendidikan Kristen. Metode yang dipakai adalah studi literatur berdasarkan beberapa fokus kajian yakni tinjauan filosofis, siswa sebagai gambar dan rupa Allah dan pendidikan Kristen yang holistik. Hasilnya, keberadaan siswa yang holistik diarahkan kepada pembelajaran yang bersumber dari kebenaran Allah melalui pendidikan holistik. Praktik pendidikan Kristen disarankan memberikan pengajaran yang sampai menyentuh hati untuk membawa manusia kepada pemulihan menuju cara hidup yang benar di hadapan Allah. Institusi pendidikan menghadirkan kurikulum terintegrasi aspek spiritual untuk mewujudkan respons positif dan tanggung jawab siswa terhadap sesama dan alam.
Gereja sebagai Keluarga Allah Bagi Para Mantan Narapidana [The Church as God's Family for Ex-Prisoners] Lase, Yolanda; Lindawati, Lindawati
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol. 5 No. 3 (2023): September
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/dil.v5i3.7409

Abstract

The church, as a representation of God's family, should actively provide support and guidance to individuals who have been released from prison and are capable of reintegration into society. Unfortunately, in reality, many churches fail to demonstrate acceptance towards former inmates, which leads to their isolation and drives them to seek support in less positive environments. This study utilizes a literature review approach, involving the search, selection, and evaluation of published materials like books, academic journals, articles, theses, and prior research reports relevant to the subject. The findings from this method reveal that the church's role as God's family remains largely unfulfilled, especially concerning those individuals labeled as 'ex-convicts.' Hence, it is imperative for the church to rekindle its commitment to embracing, loving, and guiding former prisoners through spiritual and social assistance, recovery and rehabilitation programs, community empowerment initiatives, and by offering hope and forgiveness to those seeking redemptionBAHASA INDONESIA ABSTRACT: Gereja sebagai keluarga Allah harus berperan dalam memberikan dukungan dan bimbingan kepada para mantan narapidana yang sehat setelah mereka dibebaskan dari penjara. Namun, pada kenyataannya, banyak gereja yang tidak menerima kunjungan mantan narapidana, sehingga kehadiran gereja justru mengucilkan mereka dan mendorong mereka untuk mencari dukungan dan bimbingan di lingkungan yang kurang positif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka. Metode ini melibatkan pencarian, pemilihan, dan evaluasi literatur yang telah dipublikasikan, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, tesis, dan laporan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Berdasarkan metode ini, diperoleh hasil bahwa peran gereja sebagai keluarga Allah belum sepenuhnya terlaksana, terutama bagi mereka yang dikenal sebagai ekses. Oleh karena itu, gereja perlu menyadarkan kembali bahwa hal tersebut termasuk menerima, mengasihi dan membimbing para mantan melalui pendampingan rohani, pendampingan sosial, pemulihan dan rehabilitasi, pemberdayaan masyarakat, serta memberikan pengharapan dan pengampunan kepada para mantan penyandang disabilitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 6