cover
Contact Name
Asri Hidayat
Contact Email
asri.hidayat@kemdikbud.go.id
Phone
+628114118474
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Sultan Alauddin km.7, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, 90221
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora
ISSN : 25024345     EISSN : 26864355     DOI : https://doi.org/10.36869
Core Subject : Social,
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2018)" : 17 Documents clear
PEMANFAATAN CANDI GUNUNG GANGSIR: UPAYA MENUMBUHKAN KESADARAN SEJARAH SISWA SMAN 1 PURWOSARI MELALUI METODE OUTDOOR LEARNING Akhmad Fajar Ma'rufin
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.573 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.81

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) sejarah Candi Gunung Gangsir (2) bentuk arsitektur Candi Gunung Gangsir, (3) Upaya menumbuhkan kesadaran sejarah siswa SMAN 1 Purwosari melalui metode outdoor learning dengan pemanfaatan cagar budaya Candi Gunung Gangsir. Metode penelitian ini adalah kualitatif. Cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan criterion selection. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung, wawancara dan pencatatan dokumen. Validasi data dilakukan dengantriangulasi.Analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif yaitu pengumpulan, reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) Candi Gunung Gangsir merupakan salah satu peninggalan cagar budaya dari Kerajaan Medang Kamulan kelanjutan dari Mataram Kuno. Candi tersebut terletak di Beji, Pasuruan, (2) Arsitektur candi maka dapat disimpulkan merupakan gabungan antara langgam Jawa Tengah dan Jawa Timur namun Candi Gunung Gangsir lebih condong pada gaya Mataram Kuno. Gaya Mataram Kuno dapat dilihat dari relief-relief pada dinding Candi Gunung Gangsir dan didukung adanya tulisan parama yang diperkirakan sezaman dengan tulisan pada masa Pu Sindok. Berdasarkan hasil analisis terhadap faktor-faktor yang menentukan fungsi candi maka dapat disimpulkan bahwa Candi Gunung Gangsir berfungsi sebagai kuil, yaitu tempat pemujaan terhadap dewa, (3) Kesadaran sejarah siswa SMAN 1 Purwosari mulai tumbuh melalui metode outdoor learningdengan pemanfaatan Candi Gunung Gangsir yang indikasinya yaitu tumbuh minat belajar sejarah pada siswa, serta siswa memahami akan arti penting sejarah khususnya sejarah Candi Gunung Gangsir, muncul pada diri siswa rasa kepedulian menjaga peninggalan cagar budaya bangsa.
BERLAYAR KE NEGERI SEBERANG: ORANG MANDAR DI TELUK TOMINI ABAD XVIII-XIX Abd. Karim
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.867 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.72

Abstract

Studi ini mengkaji tentang Orang Mandar di Kawasan Teluk Tomini pada Abad XVIII-XI dengan memfokuskan pada awal kedatangannya. Meski sebelumnya Orang Mandar telah melakukan kontak dengan Teluk Tomini melalui pelayaran dan perdagangan namun setelah ekspansinya ke Kaili maka jalur yang “aman” akhirnya tercipta.Studi ini mengeksplorasi lebih jauh tentang bagaimana pintu gerbang ke kawasan Teluk Tomini ini terbuka hingga mengkaji tentang pengaruh Orang Mandar yang sangat signifikan terhadap jalannya aktivitas pelayaran maupun perdagangan di Kawasan Teluk Tomini.Penulis melihat rangkaian peristiwa itu dari sisi politik ekonomi dengan menggunakan metodologi sejarah, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penulis berharap studi ini dapat melengkapi khasanah penulisan sejarah maritim dan menjadi referensi bagi penulis selanjutnya.
MAKNA SIMBOLIK PAKAIAN ADAT SUKU TAMBEE DI SULAWESI SELATAN Tini Suryaningsi
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.027 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.77

Abstract

Pakaian tradisional merupakan penanda ciri identitas sebuah kebudayaan dalam masyarakat. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang makna dari pakaian adat suku Tambee yang berada di Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, pengamatan, dan wawancara dengan informan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pakaian adat Suku Tambee memiliki beragam jenis tergantung pada kegiatan yang dilakukan. Motif pada pakaian adat memiliki makna yang melukiskan akan kondisi kehidupan mereka sebagai masyarakat agraris yaitu motif nenas, padi, dan daun sagu. Adapun warna dari setiap pakaian adat yang dikenakan oleh masyarakatnya mencerminkan suasana hati yang penuh sukacita, sakral, maupun dalam suasana kedukaan. Warna hitam bercorak emas merupakan warna dasar yang menunjukkan kekhasan dan kesejahteraan masyarakatnya. Pakaian adat Suku Tembee menunjukkan jati dirinya sebagai suku yang memiliki budaya yang patut untuk dilestarikan.
DARI PAKU SAMPAI SUREMANA: SEJARAH BATAS SELATAN DAN UTARA MANDAR Abd. Rahman Hamid
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.242 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.66

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang sejarah batas wilayah Mandar sejak masa kerajaan dan kolonial, menggunakan metode penelitian sejarah. Bahan utama yang digunakan ialah sumber lokal (lontar Mandar) dan sumber kolonial khususnya lembaran negara. Hasil penelitian menemukan bahwa fondasi politik Mandar bermula dari konfederasi empat belas kerajaan-kerajaan di pesisir dan pedalaman akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, yang digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda dalam penataan wilayah Mandar. Apabila pembentukan batas selatan Mandar terkait dengan kekuatan politik lain terutama Gowa dan Bone, maka batas utaranya dilakukan sendiri dengan menaklukkan Kaili. Batas selatan sampai Sungai Paku (dengan daerah Bugis) dan batas utara hingga Sungai Suremana (dengan daerah Kaili). Batas-batas itu juga digunakan oleh Provinsi Sulawesi Barat (terbentuk tahun 2004), sehingga dapat disimpulkan bahwa provinsi itu adalah nama baru dari Mandar.
NILAI PENDIDIKAN MORAL DALAM TEKS MÉONG MPALO BOLONGÉ Asdar Asdar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.869 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.82

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai pendidikan moral yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé. Data dalam penelitian ini adalah data tertulis berupa kutipan-kutipan yang menggambarkan nilai pendidikan moral yaitu kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé. Sumber data dalam penelitian ini adalah keseluruhan isi teks Méong Mpalo Bolongé halaman 120-197 transliterasi dan terjemahan Nurhayati Rahman tahun 2009 yang diterbitkan oleh La Galigo Press, Makassar. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik baca dan teknik catat. Berdasakan hasil penelitian dan analisis data menunjukkan bahwa nilai pendidikan moral yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé yaitu aspek kebaikan adalah kesabaran (masabbaraq), keteguhan (agettengeng), musyawarah (assipetangngareng), kejujuran (alempureng), kesopansantunan (mappakalebbiq), saling memanusiakan (sipakatau), kedermawanan (makacoa), dan menasihati (mappangajaq). Sedangkan aspek keburukan yang terdapat dalam teks Méong Mpalo Bolongé adalah kekikiran (masekkeq), kedendaman (nanniangi), kemubaziran (mapparinnaja), kesewenang-wenangan (makkabbo-aqbo), dan kemalasan (makuttu).
WOLIO, BUTON, ATAU BAUBAU SEBAGAI WACANA NAMA KOTA BAUBAU (IDENTITAS DAN TRANSFORMASI NILAI BUDAYA KESULTANAN BUTON) Tasrifin Tahara; Syamsul Bahri
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.125 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.73

Abstract

Artikel ini membahas tentang legitimasi identitas penamaan Kota Baubau. Penyematan nama Kota Baubau saat ini muncul dari wacana ketika menjadi sebagai sebuah daerah otonom baru. Ada tiga nama yang menjadi wacana, yakni Wolio, Baubau, dan Buton. Nama Wolio merupakan transformasi dari kelompok sub etnik yang menjadi penguasa masa Kesultanan Buton. Nama Buton sebagai entitas bangsa sebuah kesultanan yang wilayahnya berpusat di Kota Baubau saat ini. Sedangkan Baubau merupakan suatu wilayah baru di Wilayah Pusat Kesultanan Buton yang menjadi pusat perekonomian. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi, wawancara, dan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana penamaan Kota Baubau dari tiga pilihan Wolio, Baubau, dan Buton merupakan artikulasi sebuah atau transformasi dari masa Kesultanan Buton hingga saat ini sebagai identitas Kota Baubau berbasis etnik dan wilayah masa lalu.
Cover, Daftar Isi dan Kumpulan abstrak pangadereng pangadereng
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1423.643 KB) | DOI: 10.36869/pjhpish.v4i1.105

Abstract

Page 2 of 2 | Total Record : 17