Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is an open access, a peer-reviewed journal published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. We publish original research papers, review articles and case studies on the latest research and developments in the field of : oral tradition; manuscript; customs; rite; traditional knowledge; traditional technology; art; language; folk games; traditional sports; and history. Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya is published twice a year and uses double-blind peer review. All submitted articles should report original, previously unpublished research results, experimental or theoretical that are not published and under consideration for publication elsewhere. The publication of submitted manuscripts is subject to peer review, and both general and technical aspects of the submitted paper are reviewed before publication. Manuscripts should follow the style of the journal and are subject to both review and editing. Submissions should be made online via Pangadereng journal submission site. Accepted papers will be available on line and will not be charged a publication fee. This journal is published by Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan Direktorat jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan Dan Pendidikan.
Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 1 (2016)"
:
18 Documents
clear
FUNGSI DAN MAKNA TRADISI UPACARA MONAHU NDAU’U PADA KEGIATAN PERTANIAN OLEH MASYARAKAT TOLAKI DI DESA BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Asis, Abdul
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.93
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fungsi dan makna upacara tradisi Monahu Ndau’u di Desa Benua. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Tolaki di Desa Benua masih melakukan sistem perladangan berpindah-pindah. Pengolahan lahan secara tradisional ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: pemilihan lahan, pembukaan lahan, penanaman, perawatan, dan panen. Sebelum masa tanam, masyarakat melakukan upacara Monahu Ndau’u. Upacara ini merupakan tradisi budaya masyarakat Tolaki di Desa Benua yang dilakukan ketika menjelang musim tanam. Pelaksanaannya mengandung banyak makna dan fungsi. Tradisi ini diawali dengan kegiatan Kanda atau Lulo Ngganda yangbermakna kegembiraan karena sudah tiba musim tanam. Upacara tersebut melibatkan seluruh masyarakat untuk menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Tolak Bala berfungsi untuk mengusir penyakit tanamanyang dapat menyebabkan gagal panen; menghindarkan konflik dan kesalahpahaman di kalangan warga; dan menari bersama selama tiga malam sebagai media hiburan, berturut-turut pada bulan ke 14, 15, dan 16 dengan menggunakan api unggun.
PERJUANGAN SULTAN ALAUDDIN RAJA GOWA KE-14 (1593-1639)
Kila, Syahrir
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.84
Artikel ini bertujuan mengungkap dan menjelaskan sejarah perjuangan Sultan Alauddin selaku Raja Gowa ke-14 di Kerajaan Gowa. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja secara sistematis, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Raja Tallo sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo yang pertama kali menerima agama Islam adalah I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka dan dinamai Sultan Abdullah Awwalul Islam setelah memeluk agama Islam. Sementara itu, Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam adalah Sultan Alauddin yang bernama I Mangngarangi Daeng Manrabbia. Mereka menyebarkan agama Islam kepada kerajaan-kerajaan sekutunya. Dalam menyebarkan agama Islam, banyak kerajaan lokal menolaknya, terutama yang berada di wilayah Bugis, karena diduga bahwa hal tersebut dilakukan untuk memperluas wilayah kekuasaan semata dengan berlindung pada penyebaran agama Islam. Penolakan tersebut menimbulkan perang yang lazim disebut Perang Pengislaman (musu selleng).
PERANAN WANITA DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KEHIDUPAN MASYARAKAT NELAYAN DI CAMBAYA KOTA MAKASSAR
Hasmah, Hasmah
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.98
Penelitian ini mengkaji eksistensi wanita dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan di Kecamatan Cambaya, Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi yang kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif analisis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa tingkat pendapatan nelayan di Kecamatan Cambaya relatif rendah karena usaha yang masih dipengaruhi oleh musim tangkap. Agar dapat bertahan pada musim paceklik, istri nelayan memiliki peranan yang cukup besar. Peranan istri nelayan di Cambayya dalam meningkatkan ekonomi terkonsentrasi pada sektor informal. Dalam wujud partisipasi, istri nelayan memegang tiga peranan, yaitu dalam rumah tangga, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Istri nelayan juga bertanggungjawab untuk mengelola pendapatan keluarga sesuai dengan peranannya sebagai pengelola dan pengatur rumah tangga.Suami hanya bertanggungajawab untuk mencari nafkah dan istri yang mengatur penggunaannya.
BOLANGO: KERAJAAN TRADISIONAL DI GORONTALO
Hasanuddin, Hasanuddin
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.89
Bolango merupakan kelompok pengembara yang membentuk koloni dan tersebar di beberapa tempat di Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo. Di Gorontalo, suku Bolango membentuk sebuah kerajaan baru. Masuknya Bolango dalam persekutuan Limo Lo Pohalaa menimbulkan hubungan interaksi yang dinamis. VOC dengan Pemerintahan Hindia-Belanda menciptakan hubungan perkawinan dan diplomasi. Perkembangan pusat kekuasaan dalam perjalanan sejarah sosial secara jelas menunjukkan kecenderungan ke arah integrasi progresif yang mengalami pasang surut. Kewajiban menyetor emas setiap tahun dan kewajiban kerja mengakibatkan melemahnya kekuasaan raja. Pada tahun 1862, raja dan pembesar kerajaan melakukan migrasi dari Tapa sampai ke Bolaang Uki. Peristiwa tersebut menyebabkan Bolango keluar dari persekutuan Limo Lo Pohalaa, sehingga kedudukannya digantikan oleh Boalemo. Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka dan menggunakan metode deskripsi analitik, yaitu menguraikan suatu peristiwa ke dalam bagian-bagian dalam rangka memahami perubahan sosial politik Bolango.
POLA PERMUKIMAN NELAYAN UNTIA DI KOTA MAKASSAR
Suryaningsi, Tini
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.94
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pola permukiman masyarakat nelayan yang berada di Kota Makassar. Nelayan Untia merupakan nelayan yang berasal dari Pulau Laelae yang direlokasi ke daerah Untiadi Kecamatan Biringkanaya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara, pengamatan langsung, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola permukiman nelayan untia berbentuk kelompok perumahan yang terpisahkan oleh jalan kecil dan kanal. Kanal berfungsi sebagai arus mobilitas nelayan dari atau ke laut. Model perumahan saat ini sudah banyak mengalami perubahan terutama dengan adanya penambahan dinding di bagian kolong rumah karena aktivitas rumah tangga lebih banyak dilakukan di area bawah dan sebagai sarana interaksi dan sosialisasi dengan masyarakat sekitar. Kendala yang dihadapi nelayan Untia yaitu jalan menuju ke pantai berlumpur sehingga menyulitkan bagi nelayan untuk mendorong perahu mereka. Masyarakat Untia beradaptasi dengan lingkungan baru mereka dengan cara memanfaatkan lingkungan darat dengan alternatif pekerjaan yang bisa menambah ekonomi keluarga.
ANDI IDJO KARAENG LALOLANG: PERGUMULAN DALAM KEMELUT PERJUANGAN BANGSA DI SULAWESI SELATAN 1945-1950
Amir, Muhammad
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.85
Kajian ini bertujuan mengungkap dan menjelaskan peranan Andi Idjo Karaeng Lalolang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, memperjuangkan pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT), dan menata swapraja atau kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang menjelaskan persoalan berdasakan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Andi Idjo bukan hanya sebagai seorang raja (sombaya) Gowa, melainkan juga seorang pemimpin yang sejak proklamasi kemerdekaan mendukung dan berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Namun dalam perkembangannya, ia juga mendukung gagasan pembentukan negara federal sesuai Persetujuan Linggarjati. Hal tersebut menyebabkan Andi Idjo menerima pembentukan Negara Indonesia Timur, kemudian diangkat menjadi Wakil Ketua Hadat Tinggi Sulawesi Selatan. Setelah pengakuan kedaulatan, ia kembali kepada sikapnya semula yang mendukung Republik Indonesia seiring dengan maraknya tuntutan agar NIT dan RIS dibubarkan.
PERSEPSI MASYARAKAT SOPPENG TERHADAP MAKAM PENYIAR ISLAM DI KABUPATEN SOPPENG
P, Fatmawati
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.99
Penelitian ini dilakukan di dua lokasi makam penyiar Islam yang ada di kabupaten Soppeng. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat Soppeng terhadap makam Syekh Abdul Madjid dan makam PettaJangko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui tehnik pengunpulan data, berupa : studi pustaka, observasi, dan wawancara. Wawancara dilakukan terhadap beberapa tokoh masyarakat, para peziarah, dan juru kunci makam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kedua makam tersebut, merupakan salah satu jalan untuk memperoleh keberkahan, yaitu kesehatan, rezeki, jodoh, keselamatan lahir dan bathin. Pandangan masyarakat ini termanifestasi dalam bentuk ziarah ke makam secara rutin dan aktivitas ritual disekitar makam. Hal ini kemudian berimplikasi dengan munculnya aktivitas ekonomi masyarakat setempat yang menyediakan kebutuhan kepada peziarah. Munculnya mekanisme pasar disekitar makam membuktikan bahwa terdapat simbioisme yang saling menguntungkan antara kehadiran peziarah dengan masyarakat di sekitar makam.
MANGARU SEBAGAI SENI TRADISI DI LUWU
Iriani, Iriani
Walasuji : Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36869/wjsb.v7i1.90
Penelitian ini bertujuan menjelaskan makna dan nilai dari tari tradisional Mangaru di Luwu. Proses pengumpulan data menggunakan metode kualitatif, yakni wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari mangaru yang ditarikan oleh masyarakat subetnis Rongkong di Luwumenggambarkan keperkasaan pasukan prajurit Kerajaan Luwu pada masa dahulu. Tari Mangaru masih eksis hingga sekarang dan dipentaskan pada acara-acara resmi dan pernikahan. Keberadaan Mangaru secara tidak langsung menggambarkan adanya hubungan antara Kerajaan Luwu dengan subetnis Rongkong. Gerakan dankostum yang digunakan oleh penari Mangaru mengandung makna yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat sebagai tempat tumbuhnya tarian tersebut. Namun, kandungan yang paling kental adalah makna integrasi antarsubetnis yang ada di Luwu.