cover
Contact Name
Baiq Lily Handayani
Contact Email
baiq.fisip@unej.ac.id
Phone
+6281237134801
Journal Mail Official
Entitas@unej.ac.id
Editorial Address
Jl. Kalimantan 37 Kampus Tegalboto Jember 68121
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Entitas Sosiologi
Published by Universitas Jember
ISSN : 20888260     EISSN : 27213323     DOI : https://doi.org/10.19184/jes
Jurnal Entitas Sosiologi (JES) merupakan ruang bagi diseminasi gagasan dalam lingkup kajian Sosiologi. Jurnal ini juga memberi ruang pada berbagai perspektif dalam sosiologi khususnya dalam mengembangkan ide-ide yang dapat mendorong transformasi masyarakat menuju masyarakat yang manju dan berkelanjutan. Jurnal Entitas Sosiologi (JES) menerima artikel berupa hasil riset, kajian, dan review buku yang mendukung penyebaran gagasan dan pengkayaan pengetahuan berbasis sosiologi.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 01 (2021)" : 6 Documents clear
Rasionalitas Petani Ubi Jalar di Dusun Tlogosari Banyuwangi Anggara, Derry
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26957

Abstract

This study aims to determine and describe the rationality of farmers in improving the household economy by making sweet potato the main commodity in Tlogosari Banyuwangi Hamlet. This research uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques used was observation, in-depth interview, and literature study. Then, the determination of informants is using purposive sampling techniques. At the same time, the technique of testing the validity of the data uses source triangulation. The results showed that the rationality of farmers to switch to sweet potato commodities is its superiority compared to planting rice. These advantages are the ease of planting and maintaining, relatively short harvest time, making various products, and so forth. In addition, farmers cooperating with sauce factories in Sidoarjo and Bali as the last reason. The transition of farmers' commodities was initiated by one of the farmers, Mr. Ali, who succeeded in developing sweet potato farming while marketing its production. So that many farming communities follow Mr. Ali to plant sweet potatoes but not all farmers succeed. Such conditions are due to various factors namely the simultaneous harvest season, weather changes, and others. The conclusion in this research is that the various farmers' rationality is a strategy to increase the community's economy. Keywords : rationality, farmers, economy Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan rasionalitas petani dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga dengan menjadikan ubi jalar sebagai komoditi utama di Dusun Tlogosari Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Kemudian, penentuan informan mengunakan teknik purposive sampling. Sedangkan Teknik menguji keabsahan data mengunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasionalitas petani beralih ke komoditas ubijalar adalah keunggulannya dibanding menanam padi. Keunggulan tersebut adalah dari kemudahan menanam dan perawatannya, waktu panen yang relative singkat, dapat dibuat menjadi berbagai produk, dan lain sebagainya. Selain itu, juga disebabkan petani bekerjasama dengan pabrik saos di Sidoarjo dan Bali. Peralihan komoditas petani tersebut diprakarsai oleh salah satu petani yakni Pak Ali yang berhasil dalam mengembangkan pertanian ubi jalar sekaligus memasarkan hasil produksinya. Sehingga masyarakat petani banyak yang mengikuti pak Ali untuk menanam ubijalar. Akan tetapi tidak semua petani berhasil. Kondisi demikian disebabkan berbagai faktor yakni musim panen secara bersamaan, perubahan cuaca, dan lainnya. Kesimpulan dalam penelitian adalah berbagai rasionalitas petani merupakan strategi untuk meningkatkan perekonomiaan masyrakat. Kata kunci : rasionalitas, petani, ekonomi
Jaringan Distribusi dan Relasi Pasar Petani Kubis di Dataran Tinggi Ijen Zulfa, Qorina; Yuswadi, Hary
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26952

Abstract

The study entitled "Distribution Network and Market Relations of Cabbage Farmers in the Ijen Plateau" was motivated by Ijen farmers as the largest producer of cabbage vegetable commodity in the Horseshoe area (Jember, Lumajang, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso). Lack of market access, market information, and capital make it difficult for farmers to increase income. Access or distance from the city center or market also influences the difficulty of Ijen highland farmers to interact and relate with market actors. As a result, farmers are reluctant to connect and choose their marketing channel with the selling system to Traders who come before the harvest. It causes some farmers to experience dependence and passivity in attempting to maintain relations with market actors, even though in this felling system, as much as 40% of the farmers' harvest sales results become the property of Traders. The method used in this research is the descriptive qualitative method, using purposive informant retrieval techniques. Data collection techniques using observation, in-depth interviews, documentation, and literature study. Data validity test uses data triangulation. Overview of social capital theory from Puntu (1993) and rational choice theory from Jame S Coleman (1990). The results obtained from this study are that farmers can have a superior economic position if they have good marketing relations and are willing to sacrifice time and energy, and have sufficient funds for distribution. Hence, farmers have the opportunity to establish relationships with market actors so that they will get more profits. Keywords : Cabbage farmers, market relations, distribution Penelitian dengan judul “Jaringan Distribusi dan Relasi Pasar Petani Kubis di Dataran Tinggi Ijen” dilatarbelakangi oleh petani Ijen sebagai penghasil komoditi sayur kubis terbesar pada wilayah Tapal Kuda. Kurangnya akses pasar, informasi pasar dan modal membuat petani sulit meningkatkan penghasilan. Akses atau jarak tempuh yang jauh dari pusat kota atau pasar turut mempengaruhi kesulitan petani dataran tinggi Ijen untuk berinteraksi dan berelasi dengan aktor pasar. Akibatnya petani enggan berelasi dan memilih jalur pemasaran sendiri dengan sistem tebang jual kepada pedagang yang datang menjelang masa panen. Hal ini menyebabkan sebagian petani mengalami ketergantungan dan pasif dalam bersikap mengusahakan relasi dengan aktor pasar, padahal pada sistem tebang jual ini sebanyak 40% hasil penjualan panen petani menjadi hak milik pedagang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik pengambilan informan purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Uji keabsahan data menggunakan Triangulasi data. Tinjauan teori modal sosial dari Puntu (1993), dan teori pilihan rasional dari Jame S Coleman (1990) dijadikan acuan dalam penelitian ini. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah petani dapat memiliki posisi perekonomian yang unggul apabila memiliki relasi pemasaran yang baik serta bersedia untuk berkorban waktu dan tenaga, juga memiliki dana yang cukup untuk distribusi, maka petani memiliki peluang untuk dapat menjalin relasi dengan aktor pasar, sehingga keuntungan yang didapatkan akan lebih banyak. Kata kunci : Petani kubis, relasi pasar, distribusi.
Petani dan Politik: Perspektif Pemimpin Ideal bagi Masyarakat Petani di Desa Randuagung, Kabupaten Lumajang Firdaus, Rony Zamzam; Yuswadi, Hary
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26954

Abstract

This research focuses on the ideal leader for farmers in Randuagung Village, Lumajang Regency, East Java. With the background of the life of farmers with a relatively heavy burden of life financially or economically, it makes farmers seem unable to escape from matters relating to politics. The position of farmers suddenly became very influential in the efforts of political figures to find support to realize their interests. Seeing this, the responses of the farmers also varied. Some immediately believe in one of the figures and those who choose based on specific considerations. These considerations certainly include the influence of wealthy farmers, advice from religious leaders, namely the Kyai, and political figures in the presence of 'sangu.' Using Rational Choice theory from James S. Coleman explains the rational choice of farmers in choosing the ideal leader. The research method in this paper is qualitative. Keywords : Farmer, Rational, Leader, Ideal, Village. Penelitian ini berfokus pada sosok pemimpin ideal bagi para petani di desa Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Dilatarbelakangi oleh kehidupan petani dengan beban hidup yang lumayan berat secara finansial atau ekonominya, menjadikan petani seakan tidak bisa lepas dengan hal yang berkaitan dengan politik. Posisi petani mendadak menjadi sangat berpengaruh dalam upaya para tokoh politik untuk mencari dukungan demi mewujudkan kepentingan mereka. Melihat hal ini respon para petani pun bermacam-macam. Ada yang langsung percaya pada salah seorang tokoh dan adapula yang memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut tentu meliputi pengaruh dari petani kaya, saran dari tokoh agama yaitu Kyai, dan tokoh politik dengan adanya ‘sangu’. Dengan menggunakan teori Pilihan Rasional dari James S. Coleman yang menjelaskan tentang pilihan rasional petani dalam memilih sosok pemimpin yang ideal. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah metode penelitian kualitatif. Kata kunci: Petani, Rasional, Pemimpin, Ideal, Desa
Mobilitas Sosial Vertikal Petani Kopi di Desa Kebonrejo Kecamatan Kalibaru Banyuwangi Cahyono, Aprilian Dwi; Ganefo, Akhmad
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26955

Abstract

Social mobility is a movement from one social class to another, and there are two types of social mobility, namely vertical and horizontal. By defining the definition of social mobility, this article examines the vertical social mobility in coffee farmers. The problems farmers face today are still struggling with low welfare; here, farmers begin to mobilize themselves to achieve a higher status. This study uses a skin-active approach with a research location in Kebonrejo Village, Kalibaru Banyuwangi District. In this study, the researcher obtained data and information through participant observation, interviews, and documentation. The data and information obtained are then tested using data triangulation techniques. The results showed that the social life of the Kebonrejo Village community before becoming a coffee farmer was relatively low. Most of them worked only as laborers. After becoming coffee farmers, their welfare slowly began to rise. The status that was an inferior class of workers has now become an owner. Several factors are underlying the social mobility of coffee farmers. They see other villages succeeding with their coffee crops, and there is a desire from the community to become successful and advanced farmers. Keywords: Farmer, Social Mobility, Social Status Mobilitas sosial merupakan perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial yang lain, ada dua tipe mobilitas sosial yaitu vertikal dan horizontal. Dengan mendefinisikan pengertian mobilitas sosial, artikel ini mengkaji tentang mobilitas sosial vertikal yang terjadi pada petani kopi. Permasalahan yang dihadapi petani saat ini masih saja berkutat pada kesejahteraan yang rendah, disini petani mulai memobilisasi dirinya untuk mencapai status yang lebih tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kulitatif dengan lokasi penelitian di Desa Kebonrejo Kecamatan Kalibaru Banyuwangi. Dalam penelitian ini, data dan informasi diperoleh melalui observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Data dan informasi yang didapat kemudian diuji menggunakan teknik trianggulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Desa Kebonrejo sebelum menjadi petani kopi relatif rendah, kebanyakan mereka bekerja hanya sebagai buruh. Setelah menjadi petani kopi perlahan kesejahteraan mereka mulai terangkat. Status yang sebelumnya kelas rendahan buruh atau pekerja kini sudah menjadi petani pemilik. Ada bebrapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya mobilitas sosial petani kopi yaitu mereka melihat desa lain sukses dengan tanaman kopinya selain itu ada keinginan dari masyarakat untuk menjadi petani yang sukses dan maju. Kata Kunci : Petani, Mobilitas Sosial, Status Sosial
Konsekuensi Sosio Kultural dalam Konversi Komoditas Pertanian Tebu pada Pertanian Padi di Desa Asembagus Situbondo Kusuma, Hamid Ahmada; Handayani, Baiq Lily
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26956

Abstract

This research was conducted departing from a phenomenon of commodity conversion by rice farmers in Asembagus Situbondo, which began to occur in the early 1980s. This conversion practice is motivated by two factors: the factor of sulfur contamination and the optimization of the sugar industry launched by the New Order government. The contamination of irrigation that flowed through the farmers' fields was caused by the cracking of the sulfur retaining dam on the top of Mount Ijen. Sulfur water seepage then flows into the Banyupahit river which is a source of irrigation for farmers in Asembagus. And at almost the same time there was a government policy related to the sugar industry by issuing the sugar cane intensification (TRI) program. This study aims to analyze and describe the practice of the conversion of commodity farmers from rice farmers to sugar cane farmers. This study used descriptive qualitative method. The theory used in this research is Pierre Bourdieu's Practice Theory. The results of this study include changes in sociocultural farmers which include the loss of farmers' legitimacy of their land and commodities, the loss of grain function as saving, the loss of front actors, cooks, and tractor owners. In addition, there is dominance carried out by actors who have high capital over actors who have low capital. The practice then constructs a dominant discourse (Doxa) in the Asembagus farming community. Keywords : Farmers, Agricultural Commodities, Practices, Doxa Penelitian ini dilakukan berangkat dari sebuah fenomena yaitu fenomena konversi komoditas yang dilakukan petani padi di Asembagus Situbondo yang mulai terjadi di awal tahun 1980-an. Praktik konversi tersebut dilatarbelakangi oleh dua faktor, yakni faktor tercemarnya irigasi oleh belerang dan adanya optimalisasi industri gula yang dicanangkan oleh pemerintah Orba. Tercemarnya irigasi yang mengaliri sawah petani disebabkan oleh retaknya bendungan penahan belerang yang berada di puncak Gunung Ijen. Rembesan air belerang kemudian mengalir ke sungai Banyupahit yang merupakan sumber irigasi bagi petani di Asembagus. Dan disaat yang hampir bersamaan terdapat kebijakan pemerintah terkait industri gula dengan menerbitkan program tebu rakyat intensifikasi (TRI). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan terjadinya praktik konversi komoditas petani dari petani padi ke petani tebu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Kata Kunci: Petani, Komoditas Pertanian, Praktik, Doxa
Cerita Tiga Keluarga Petani Gurem: Dinamika Penguasaan Lahan dan Degenerasi Petani di Kelurahan Karangrejo Kabupaten Jember Sucipta, Ucha Jaya; Jannah, Raudlatul
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 10 No 01 (2021)
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v10i01.26951

Abstract

Farming families living in urban expansion areas are vulnerable to land conversion practices. It has consequences for the degeneration process of farmers in the sustainability of family farming businesses. It also can be seen through the lives of 3 families of gurem farmers in the Karangrejo Neighborhood. They practice land conversion for various reasons, which ultimately makes the farmer's children, as the next generation, lose interest in the agricultural sector. Ben White calls it the lost generation. This research aimed to find out the dynamics of land tenure and the process of degeneration of farmers in gurem farming families in Karangrejo Village. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach. The results showed that several aspects influence land conversion practices: market, cultural, structural, heritage-sharing cultures, and pragmatic needs. In addition, judging from land ownership rights, there is a decrease in interest in becoming farmers in intergenerational relationships in each family. The next generation of family farming businesses thinks that farmers are laborious, hot, and wasteful jobs. Land conversion practices conducted by farming families further alienate children's access to production factors. One way that allows farmers' children in narrow-minded farming families to access production factors is by renting land. Keywords : Farmer Degeneration, Farmer's Family, Land Conversion. Keluarga petani yang tinggal di daerah perluasan kota rentan terhadap praktik konversi lahan. Praktik ini tidak hanya berimplikasi terhadap penurunan jumlah lahan produktif dan jumlah usaha tani keluarga, namun juga berimplikasi pada proses degenerasi petani dalam keberlanjutan usaha pertanian keluarga. Hal ini dapat dilihat melalui kehidupan 3 keluarga petani gurem di Lingkungan Karangrejo yang melakukan praktik konversi lahan dengan berbagai alasan, yang pada akhirnya membuat anak petani sebagai generasi penerus kehilangan minat dan pandangan realistisnya terhadap sektor pertanian. Sebagaimana Ben White menyebutnya dengan istilah lost generation. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dinamika penguasaan lahan dan proses degenerasi petani pada keluarga petani gurem di Kelurahan Karangrejo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa aspek yang mempengaruhi praktik koversi lahan, yakni aspek pasar, aspek kultural, aspek struktural, budaya bagi-bagi warisan, dan perilaku pragmatis. Di samping itu, dilihat dari aspek hak kepemilikian lahan, terdapat penurunan minat menjadi petani dalam relasi antargenerasional dalam tiap-tiap keluarga. Generasi penerus dalam usaha pertanian keluarga beranggapan bahwa petani adalah pekerjaan yang melelahkan, panas-panasan dan buang-buang tenaga. Praktik konversi lahan yang dilakukan keluarga petani semakin menjauhkan akses anak pada faktor produksi. Salah satu cara yang memungkinkan anak petani untuk mengakses faktor produksi ialah dengan menyewa lahan. Kata Kunci: Degenerasi Petani, Keluarga Petani, Konversi Lahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6