cover
Contact Name
Erna Ikawati
Contact Email
-
Phone
+6281331656879
Journal Mail Official
jurnalkajiangender@gmail.com
Editorial Address
Jl. T. Rizal Nurdin Km. 4,5 Sihitang Padangsidimpuan, 22733
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kajian Gender dan Anak
ISSN : 25496344     EISSN : 25496352     DOI : https://doi.org/10.24952
Jurnal Kajian Gender dan Anak is published by the Center for Gender and Child Studies (Pusat Studi Gender dan Anak) LPPM, IAIN Padangsidimpuan, North Sumatera. Launched in 2017, the journal has been issued two times a year every June and December. Jurnal Kajian Gender dan Anak is an peer-reviewed journal dedicated to interchange for the results of high quality research in all aspect of gender and child. The journal publishes state-of-art papers in fundamental theory, experiments and simulation, as well as applications, with a systematic proposed method, sufficient review on previous works, expanded discussion and concise conclusion. As our commitment to the advancement of science and technology, the Jurnal Kajian Gender dan Anak follows the open access policy that allows the published articles freely available online without any subscription
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
Metode Pelaksanaan Kegiatan Madrasah Diniyyah Latifa Annum Dalimunthe
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3339

Abstract

Madrasah diniyah merupakan salah satu jenis pendidikan non formal menjadi pendamping untuk menambah wawasan anak-anak tentang ilmu agama. Dasar yuridisnya dasar-dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari peraturan perundang-undangan secara langsung ataupun tidak langsung. Program pengajaran madrasah diniyah ada beberapa bidang yang diajarkan seperti: Al-Qur’an hadits, aqidah akhlak, fiqih, sejarah kebudayaan Islam, bahasa Arab, praktek ibadah. Kegiatan madrasah diniyah terdiri dari kegiatan kurikuler, ekstrakurikuler. Metode pembelajaran madrasah diniyah adalah metode sorogan, wetonan atau bandongan, musyawarah, dan ceramah.AbstractMadrasah Diniyah is one type of non-formal education that serves as a companion to broaden children's knowledge about religious knowledge. The juridical basis is the basics of the implementation of religious education that comes directly or indirectly from statutory regulations. The teaching program at Madrasah Diniyah teaches several areas, such as: Al-Qur'an hadith, aqidah morals, fiqh, Islamic cultural history, Arabic, religious practices. The learning methods at Madrasah Diniyah are the sorogan, wetonan or bandongan methods, deliberation, and lectures.
Peran Perempuan Sebagai Anak, Istri, Dan Ibu Raisah Surbakti
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3341

Abstract

Sosok perempuan sangat kompleks untuk menjalankan semua fungsi sekaligus, yakni sebagai anak dari orangtuanya, istri dari suaminya serta sebagai ibu dari anak-anaknya. Saat perempuan telah menikah kewajibannya terhadap orang tua sebagai anak adalah berbakti terhadap orang tua, membantu kehidupan orang tua, dan melayani orang tua di masa renta.  Saat perempuan menjadi istri, ia berperan sebagai pendamping, sebagai sahabat, sebagai motivator, sebagai inspirator bagi suaminya. Selain itu kewajiban istri taat pada suami dan menjaga harta, rumah, dan kehormatan suami. Di saat perempuan menjadi ibu, mampu menjalankan peran secara professional, sebagai ibu rumah tangga. Senantiasa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Memberikan pendidikan pada anak-anaknya sehingga mereka mengenal baik dan buruk serta memahami etika dalam kehidupan. Memberikan dan mengenalkan nilai-nilai islam kepada anaknya. Di balik semua tugas mulia diemban perempuan sebagai ibu, istri dan anak, terdapat pintu dan peluang untuk mendapatkan pahala berlimpah dari Tuhan Yang Maha Esa sebagai hamba Allah. Peran perempuan dapat tersinergi dengan baik dan teraktualisasi maksimal jika dasar aturannya sesuai pedoman islam.AbstractThe female figure is very complex to carry out all functions at once, namely as the child of her parents, the wife of her husband and the mother of her children. When a woman is married, her obligation to the parents as a child is to serve the parents, help the parents' life, and serve the parents in their old age. When a woman becomes a wife, she acts as a companion, as a friend, as a motivator, as an inspiration for her husband. Apart from that, the wife's obligation to obey her husband and protect her husband's property, house and honor. When a woman becomes a mother, she must be able to carry out her role professionally, as a housewife. Always give the best for their children. Providing education to their children so that they know the good and the bad and understand ethics in life. Give and introduce Islamic values to their children. Behind all the noble duties that women carry as mothers, wives and children, there are doors and opportunities to get abundant rewards from God Almighty as servants of Allah. The role of women can be well synergized and maximally actualized if the basic rules are in accordance with Islamic guidelines.
Ujaran Kebencian Di Media Sosial Berbasis Gender: Tinjauan Sosiologi Hukum Darania Anisa; Erna Ikawati
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3342

Abstract

Sosiologi hukum memfokuskan perhatian sekaligus menganalisis hubungan interaksi antarmanusia dalam suatu masyarakat dan konteks hukum, yaitu bagaimana mereka berkomunikasi, bekerja sama, dan berupaya mengatasi berbagai masalah sosial. Ketika struktur sosial dan budaya masyarakat masih sederhana, maka tata cara mereka berinteraksi satu sama lain juga masih sederhana, dalam kondisi itu tidak terjadi kendala yang ditemukan dalam hubungan sosial. Ketika terjadi perkembangan yang pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang komunikasi dan informasi, maka tata cara dalam interaksi juga mengalami perubahan. Didukung hal tersebut, dewasa ini banyak sekali pemberitaan mengenai ujaran kebencian yang dilakukan di media sosial. Hal ini salah satu bentuk dari percepatan kemajuan teknologi sehingga penyebarluasan informasi dan hal lainnya tidak dapat dibendung dan terkontrol. Penelitian ini bentuk analisa bagaimana sosiologi hukum dalam teori konflik terhadap ujaran kebencian, serta pengaruh masyarakat yang menimbulkan ujaran kebencian, dan bagaimana keterkaitan media sosial terhadap ujaran kebencian serta penanggulangan/mengatasi penyebaran ujaran kebencian.AbstractSociology of law focuses attention as well as analyzes the relationship of interactions between people in a society and the legal context, namely how they communicate, cooperate, and try to overcome various social problems. When the social and cultural structure of society is still simple, the way they interact with each other is still simple, in that condition there are no obstacles to be found in social relations. When there is rapid development in science and technology, especially in the field of communication and information, the procedures for interaction also change. Supported by this, nowadays a lot of news about hate speech is carried out on social media. This is a form of accelerated technological progress so that the dissemination of information and other matters cannot be restrained and controlled. This research is a form of analysis of how the sociology of law in conflict theory on hate speech, as well as the influence of society that causes hate speech, and how social media is connected to hate speech and how to overcome / overcome the spread of hate speech.
Implementasi Pendidikan Karakter Di Lingkungan Sekolah Hamidah Hamidah
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3337

Abstract

Mendidik karakter peserta didik merupakan tanggung jawab bersama. Mesti ada kerjasama yang erat antara para pelaku pendidikan di lingkungan keluarga (orangtua), sekolah (kepala sekolah, guru, pembimbing, organisasi kemasyarakatan), dan pemerintah. Semua pihak memikul tanggung jawab melaksanakan pendidikan karakter. Khusus di sekolah, maka peran kepala sekolah, para guru, pembimbing dan karyawan sangatlah penting, karena perannya memposisikan sebagai: 1) Konservator (pemeliharaan), 2), Inovator (pengembangan), 3) Transmit (penerus), 4) Transformator (penerjemaah), 5), Organisator (penyelenggara) untuk membantu peserta didik agar menjadi atau memiliki sifat peduli, berpendirian dan bertanggung jawab.AbstractEducating the character of students is a shared responsibility. There must be close collaboration between education actors in the family environment (parents), schools (principals, teachers, mentors, community organizations), and the government. All parties bear the responsibility of carrying out character education. Especially in schools, the role of the principal, teachers, supervisors and employees is very urgent, because their roles are positioned as: 1) Conservator (maintenance), 2), Innovator (development), 3) Transmit (successor), 4) Transformer (interpreter) ), 5), the organizer (organizer) to help students to become or have a caring, opinionated and responsible character. 
Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak (Kajian Menurut Hadis) Tatta Herawati Daulae
Jurnal Kajian Gender dan Anak Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/gender.v4i2.3338

Abstract

Orang tua memiliki kewajiban terhadap anak-anaknya, mengasuh, memelihara dan mendidiknya agar tumbuh generasi yang sehat dan kuat fisiknya, generasi yang cerdas dan jujur, generasi yang bersih hatinya serta ikhlas, generasi yang beriman dan beramal sholeh dan berbakti kepada kedua orang tua. Setiap orang tua memiliki keinginan agar keturunannya menjadi anak-anak yang baik mendapat keselamatan dunia akhirat, maka untuk memperoleh keinginan tersebut orang tua dituntut melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas dan jujur. Diantara kewajiban tersebut dijelaskan dalam hadis rasulullah SAW, bahwa sejak anak lahir dimulai dengan mengazankannya, mengiqomatkan, menyusui anak, menyembelih aqiqah, mencukur rambutnya, memberikan nama yang baik, melakukan penyunatan, mendidik anak dengan baik, memberikan makanan yang halal dan menikahkan anak. Dalam mendidik anak orang tua berkewajiban memberikan pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, akhlak, social, intelektual, fisik, psikis, seksual dan pendidikan keterampilan.AbstractParents have an obligation to their children, nurture and educate them in order to grow  healthy and physically strong generation, smart and honest generation, generation that is clean in heart and sincere, generation that believe and ds good deeds and is devoted to both parents. Every parent has a desire that their offspring become good children to receive the salvation of the hereafter, so to get this desire parents are required to carry out their obligations sincerely and honestly. Among these obligations, it is explained in the hadith of the Prophet Muhammad, that from the time a child is born, it starts with reading azan, iqomah, breastfeeding children, slaughter aqiqah, shaving his hair, giving a good name, performing circumcision, educating children properly, providing halal food and marrying children. In educating children, parents are obliged to provide aqidah education, worship education, morals, social, intellectual, physical, psychological, sexual and skills education.

Page 1 of 1 | Total Record : 5