cover
Contact Name
Rusmin Abdul Rauf
Contact Email
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282344228117
Journal Mail Official
tahdis@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jl. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Gowa, Sulawesi Selatan Kampus II Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis
ISSN : 20867891     EISSN : 27162109     DOI : 10.24252/tahdis
Tahdis : Jurnal Kajian Ilmu Hadis adalah jurnal Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Alauddin Makassar yang berisi artikel ilmiah dan hasil penelitian berkaitan tentang Hadis dan Ilmu Hadis.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2018)" : 5 Documents clear
POSISI SURGA BAGI ORANG YANG BERAKHLAK (Kajian terhadap Hadis Riwayat Abu Umamah) Sitti Syakirah Abu Nawas
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.711 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.7524

Abstract

Kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas ibadah ritual formal yang ditujukan kepada Allah, melainkan juga dilihat pada perbuatan atau akhlaknya dalam pergaulan sosial. Tulisan ini menguji validitas dan otentisitas hadis yang berbicara mengenai posisi surga bagi orang yang berakhlak, apakah dapat dipertanggungjawabkan hingga ke Nabi Saw., dengan menggunakan teori yang selama ini dikembangkan ulama hadis. Hadis mengenai posisi surga bagi orang yang berakhlak dapat ditemukan di tiga, dari enam, kitab kanonik, yaitu: satu riwayat dari koleksi Abu Daud; satu riwayat dalam catatan al-Tirmidziy; serta satu riwayat lain ditemukan dalam Sunan Ibn Majah. Selebihnya, hadis ini terekam dalam kitab pasca kitab standard (post canonical collection). Berdasarkan teori yang dikembangkan ulama hadis, sanad hadis, dari dua sampel yang diteliti, Abu Daud dan al-Tirmidziy, yang sedang dibahas memiliki status yang beragam. Sanad Abu Daud berstatus shahih li dzatih sedang sanad al-Tirmidziy berkualitas hasan li ghairih. Berdasarkan hasil analisa matan, yang kemudian dibandingkan dengan hasil analisa sanad, dapat dinyatakan bahwa teks hadis yang kemugkinan besar paling dekat dengan teks yang disabdakan Nabi adalah teks yang direkam oleh Abu Daud dalam Sunannya.
Tekstualitas Hadis Nabi saw.: Telaah Kritis atas Pemikiran Kassim Ahmad Hendri Hendri
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.506 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.7522

Abstract

Hadis Nabi telah ada sejak awal perkembangan Islam adalah sebuah kenyataan yang tak dapat diragukan lagi. Memperlakukan hadis Nabi sebagai teks sejarah seperti yang dilakukan oleh banyak pemikir kontemporer maupun klasik sangatlah menarik. Tulisan ini mengkaji pemikiran Kassim Ahmad dalam kaitannya hadis sebagai teks sejarah, serta implikasinya. Bagi Kassim, hadis sebagai teks sejarah artinya ia berbeda dengan al-Qur‘an dan hadis berada pada posisi kedua setelah al-Qur’an, dalam istilah lain hadis tidak berbeda dengan buku-buku lainnya, yaitu tidak mutlak kebenarannya (bukan wahyu). Bagi Kassim, dengan menempatkan hadis sebagai teks sejarah, maka implikasi positif yang muncul adalah pentingnya sebuah kajian hermeneutika terhadap teks hadis tersebut. Dengan kajian ini, akan lebih mudah membongkar dan mendeteksi kepentingan-kepentingan tertentu yang menyelimuti hadis dalam bentuk teks tersebut. Karena, dalam hermeneutika hadis ada empat hal penting yang perlu direkonstruksi, yaitu pertama, dunia pengarang (the world of the outher), kedua, dunia teks (the world of the texs), ketiga, dunia rawi atau penyampai hadis (the world of transformator), dan keempat, dunia pembaca (the world of the reader). Masing-masing element ini menjalani suatu keterbukaan satu sama lain sehingga ada unsur saling memberi dan menerima yang kemudian memungkinkan bagi lahirnya mediator yang mengantarai masa lalu dan masa kini atau antara yang asing dan yang lazim sebagai bagian dalam usaha memahami.
WAWASAN HADIS TENTANG ETOS KERJA Muhammad Ali
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1158.969 KB) | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.7523

Abstract

Terdapat 6 hadis tentang etos kerja yaitu; 1) hadis tentang niat, 2) hadis tentang bekerja dengan mencari kayu bakar, 3) hadis tentang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawa, 4) hadis tentang do’a meminta perlindungan dari kefakiran, 5) hadis tentang makanan yang paling baik adalah hasil dari kerja keras dan 6) hadis tentang menanam pohon sekalipun hari kiamat telah terjadi. Hadis-hadis tentang etos kerja tersebut terbagi ke dalam 3 aspek; 1) etos kerja dari aspek akidah, 2) etos kerja dari aspek ibadah dan 3) etos kerja dari aspek akhlak. Selanjutnya aplikasi hadis-hadis etos kerja pada masa kini ialah orang mukmin dalam bekerja harus memiliki niat yang kuat, jujur, istiqamah, amanah, tekun, kemampuan bekerja kerasa dan bertanggungjawab.
Keistimewaan kucing; Kajian Tematik Hadis Andi Alda Khairul Ummah
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.12480

Abstract

Kucing merupakan salah satu hewan yang lucu dan menggemaskan, dia memiliki mata yang indah dan bulu yang lembut. Bahkan, kucing termasuk salah satu hewan yang di sebutkan dalam hadis Rasulullah saw. Tapi jika dilihat fenomena pada zaman sekarang ada orang yang begitu menyukai hewan tersebut dan ada juga yang sangat tidak manyukainya. Permasalahannya adalah sebagian orang yang tidak menyukai kucing dia tega menelantarkan dan menganiaya hewan tersebut. Sehingga, banyak kucing yang tinggal di jalanan atau pasar-pasar. Dalam hadis Rasulullah saw ada yang bercerita tentang orang yang masuk neraka akibat menganiaya hewan ini. Dalam mengkaji atau memahami hadis tersebut penulis menggunakan metode tahlili yang dimana menjelaskan kosa kata dan syarah hadis tersebut. Hasil dari pemahaman hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar adalah bahwa tidak boleh mengurung kucing dan tidak memberinya makan atau minum karena hal tersebut termasuk dalam menganiayanya. Karena mengurung kucing wanita itupun  masuk neraka sebagaimana yang telah di sebutkan diatas bahwa itu merupakan bentuk penganiayaan terhadap kucing. Sehingga kucing tersebut mati. Tidak hanya kucing hewan lain pun kita tidak boleh menganiaya meraka. Maka dari hasil pemahaman hadis tersebut sudah semestinya kita sebagai manusia sangat penting dalam memelihara kucung dan tidak boleh menganiaya hewan termasuk kucing karena kucing merupakan hewan yang istimewa dan kesayangan Rasulullah saw.
MANHAJ WAHIDUL ANAM DALAM MENULIS BUKU DEKONSTRUKSI KAIDAH ‘ADALAH AL-SHAHABAH IMPLIKASINYA TERHADAP STUDI ILMU HADIS Wiwin Sri Winda Sari
Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis Vol 9 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/tahdis.v9i1.12479

Abstract

Adanya konsep seluruh sahabat itu adil, memunculkan perdebatan yang panjang di kalangan para ulama, karena dalam praktek kajian studi ilmu hadis, menjadi salah satu syarat diterimanya suatu hadis apabila terpenuhinya kriteria keadilan seseorang yang berhak meriwayatkan suatu hadis. Dalam pandangan Islam, sebagian ulama menganggap bahwa sahabat adalah orang yang sangat terpuji yang tidak lagi diragukan keadilannya, sedangkan sebagian yang lain menganggp bahwa tidak semua sahabat itu adil karena pada hakikatnya mereka juga adalah manusia biasa yang tidak luput dari yang namanya kesalahan dan dosa. Sebelumnya telah banyak literatur yang membahas persoalan ini, namun diluar daripada itu, penting bagi kita untuk mengkaji kembali dengan merujuk pada pemikiran dan manhaj seorang tokoh kontemporer yakni Wahidul Anam dalam bukunya dekonstruksi kaidah ‘adalah al-shahabah implikasinya terhadap studi ilmu hadis. Tokoh ini termasuk orang yang karyanya banyak tertuang dalam kajian keislaman, dalam kajian ilmu hadis salah satunya. Metode yang digunakan Wahidul Anam dalam bukunya ialah metode deskriptif berdasarkan kajian yang menggunakan pendekatan historis dan pendekatan teologis normatif dengan memaparkan pendapat yang ada lalu kemudian menyimpulkannya. Melalui metode itu, dapat dipahami bahwa bagaimana manhaj Wahidul Anam dalam mengembalikan kaidah seluruh sahabat itu adil pada konstruksi awalnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5