cover
Contact Name
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik
Contact Email
jurnal.tbbt@b4t.go.id
Phone
+62-22-2504088
Journal Mail Official
jurnal.tbbt@b4t.go.id
Editorial Address
Jl. Sangkuriang no. 14, Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik
ISSN : 20894767     EISSN : 27159116     DOI : 10.37209/jtbbt
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik is a peer-reviewed and open access scientific journal. This journal is published by Center for Material and Technical Product (B4T) since 2011. Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik is published twice a year, in June and December. Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik publishes research results, conceptual ideas, and application of theory with a focus on technology of material and technical product. The scope of this journal are: Material Engineering, Energy Diversification, and Technology for Industry 4.0.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2014)" : 6 Documents clear
Analisa Kegagalan Keretakan Permukaan Luar Sudut antara Kepala dan Badan Komponen Yoke Rotor GF21 Toni Agung Priambodo; Kuntari Adi Suhardjo
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Center for Material and Technical Product

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.709 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v4i1.44

Abstract

To find the cause of equipment component failures to prevent the same failure happen in the future. Indentifying the cause of the failure so that to make early precautions and to improve the product. Failure analysis made on the Yoke Rotor GF21 component, which happen cracks on the outer layer corner between the head and the body. To use these following tests to identify the failure: Macroscopic, microscopic, chemical composition, hardness, SEM and EDS. The analysis result is based on material analysis and forming process, is caused by the defect on the forging process, especially on dies design. This coupled with the occurrence of decarburization and inclusion in the path of the crack so the crack spread easily. This analysis is supported by the result of stereography visible crack that unbranched crack and signifies that the crack occurred in the forging process. Terjadinya kegagalan komponen peralatan harus dicari penyebab kerusakan yang terjadi untuk mencegah kerusakan yang sama dimasa mendatang. Dengan mengetahui penyebab kerusakan tersebut maka dapat dilakukan pencegahan awal dan dapat dilakukan perbaikan dari produk yang dihasilkan. Analisa kegagalan ini dilakukan pada komponen Yoke Rotor GF21, yaitu kerusakan oleh terjadinya retakan pada permukaan luar sudut antara kepala dan badan. Pengujian yang dilakukan adalah Makroskopis, mikroskopis, komposisi kimia, kekerasan, SEM dan EDS. Berdasarkan hasil analisa kegagalan dari bahan baku dan proses pembentukan disebabkan oleh desain proses tempa yang kurang baik khususnya pada desain dies, terjadinya dekarburisasi dan adanya inklusi di jalur retak sehingga retakan dapat menjalar dengan lebih mudah. Analisa ini didukung oleh hasil streography retakan yang terlihat bahwa retakan tidak bercabang dan menandakan bahwa retakan ini terjadi ketika dilakukan proses pembentukan dengan forging.
Analisa Kegagalan Dongkrak Rel Kereta Api Kapasitas 10 Ton Surasno Surasno; Budi Tjahjohartoto
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Center for Material and Technical Product

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.264 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v4i1.45

Abstract

Maintenance rails on a railroad track aims to maintain the security and safety of rail travel when passing on the tracks. When the train passed over the rail is expected that the rail should be stable condition. To maintain high stability to the initial position, rail maintenance was performed to a jack rail by restoring the rail to starting point position. Mechanical power rail jack lifting cavacity 10 tons of high leverage50-10cm which is used by PTKAI have a relatively short life time and easily damaged. From the failure analysis of rail jack that does not function it reveals that jack rail damage or does not function due to broken (chipped) on the lifting rack-gear initiated by corrosion at inside parts of the frame, bushing, rack-gear lifter, pinion shaft, and the main spline. This component became thin, the contact area on the teeth become loose and receive dynamic cyclic load then fracture occurs. To prevent recurring damage it is recommended to maintenance with grease and to change the specification of material, especially for components that have contact area such as lifting rack-gear, shaft-gear, pinion shaft, the main spline, bushing and pedestal. Pemeliharaan rel di lintasan jalan kereta api bertujuan untuk keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api ketika melintas di atas rel. Untuk menjaga kestabilan tinggi muka rel terhadap posisi awal maka perawatan ketinggian permukaan dengan menggunakan dongkrak rel dengan cara mengembalikan posisi rel pada kedudukan titik awal. Dongkrak rel mekanik dengan daya angkat 10 ton dan tinggi ungkit 5 – 10 cm yang digunakan oleh PT KAI umur pakainya relatif pendek. Penelitian analisis kegagalan pada dongkrak rusak disebabkan oleh cacat gompal pada rack-gear pengangkat yang diawali oleh kerusakan korosi di bagian-bagian  rangka sisi sebelah muka dalam, bushing, rack-gear pengangkat, poros pinion, dan spline utama. Kerusakan komponen ini ditandai oleh penipisan bidang kontak antar gigi sehingga menjadi longgar dan ketika bidang ini menerima beban dinamik berulang terjadilah gompal dan patah. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadi kerusakan berulang kembali pada dongkrak rel disarankan bahan-bahan komponen yang bersentuhan dengan komponen lain seperti rack-gear pengangkat, roda gigi, poros pinion, spline utama, bushing dan bidang tumpuan dilakukan penggantian. Selain itu, pada bidang komponen yang bersentuhan dengan komponen lain dilakukan perawatan dengan cara pelumasan.
Pengembangan Formulasi Cat Tembok Emulsi Berbahan Acrylic untuk Meningkatkan Daya Saing IKM Deni Cahyadi; Daniel Fajar Puspita
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Center for Material and Technical Product

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.196 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v4i1.40

Abstract

Research on acrylic emulsion wall paint formulation has been done. This research was aimed  to produce wall paint with 2 (two) criteria, that are complying Indonesian National Standard (SNI) and can be applied at home industry or Small Medium Enterprises (SME). The wall paint is water-based paint and produced with acrylic as the binder and other raw materials such as titanium dioxide, calcium carbonate, kaolin, tipol, ethylene glycol, ecocide, nofoam, texanol and disloid. Paint was made by mixing certain amount of raw materials in a certain  sequence, and stirred with certain duration. Paint was tested according to SNI 3564:2009,”Cat Tembok Emulsi”. According to test result, wall paint produced has covering degree (Pfund) 10 m2/L , density 1.48 g/mL, fineness 38 micron, touch dryness 6 minutes, hard dryness 10 minutes, total solid 57.1 % weight, pH 8.13 , viscosity 106 KU,  pass the weather resistance test and does not contain heavy metals ion. Based on the  result obtained, it can be concluded that the wall paint produced comply to SNI product specification. Penelitian mengenai formulasi cat tembok emulsi berbahan acrylic telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan agar cat tembok yang dihasilkan dapat memenuhi 2 (dua) kriteria, yaitu memenuhi Standar Nasional Indonesia dan dapat diterapkan pada industri rumahan atau Industri Kecil Menengah (IKM). Pada penelitian ini cat tembok yang dihasilkan merupakan cat berbasis air dengan menggunakan bahan pengikat jenis acrylic dan bahan baku lain seperti titanium dioksida, kalsium karbonat, kaolin, tipol, ethylene glycol, ecocide, nofoam, texanol dan disloid. Pembuatan cat dilakukan dengan mencampurkan bahan baku dengan jumlah dan urutan tertentu sambil diaduk dengan waktu tertentu. Cat yang dihasilkan diuji terhadap parameter uji sesuai dengan persyaratan mutu pada SNI 3564:2009, “Cat Tembok Emulsi”. Berdasarkan hasil pengujian, cat tembok yang dihasilkan memiliki daya tutup (Pfund) 10 m2/L , berat jenis 1,48 g/mL, kehalusan 38 micron, kering sentuh 6 menit, kering keras 10 menit, padatan total 57,1 % berat, pH 8,13 , kekentalan 106 KU, lolos uji ketahanan cuaca dan tidak mengandung logam berat. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa cat yang dihasilkan memenuhi persyaratan SNI 3564:2009.
Pengaruh Rasio Jumlah Resin terhadap Air pada Adsorpsi Gas Karbon Dioksida Menggunakan Resin Komersial Anies Mutiari; Aswati Mindaryani
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Center for Material and Technical Product

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.265 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v4i1.41

Abstract

Biogas is one of the most promising source of alternative energy, but there is still a problem regarding the reduction of combustion heat due to the level of impurities, i.e. carbondioxide (CO2), which is around 25-45%. One of the most feasible way to reduce the concentration of carbondioxide is adsorption. In this research, adsorption was done using strong base anion exchanger resin, by using Purolite Resin and Dowex Marathon A Resin. Adsorption using this method was done by diluting CO2 in water, where the reaction of forming HCO3- will occur. These HCO3- ions will be adsorbed on the resin surface by means of ion exchange, and the solid-liquid equilibrium was approached by Langmuir method. To increase the solubility of CO2 in water, low temperature variations were used in this research. The amount of resin were also varied in order to understand the optimum composition, the variations of resin to water ratio were 1:3, 1:4 and 1:6. The result shows that the concentration of H2CO3 and HCO3- formed gradually increases over time, yet the concentration of CO2 did not show the same pattern; it decreases until a particular time, and then increases until it approaches its initial concentration due to the effects of system equilibrium. The reaction and adsorption time is also counted as the function of resin-water ratio. Biogas merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sangat menjanjikan, namun permasalahan yang sering muncul ialah berkurangnya panas pembakaran akibat kadar impurities berupa karbondioksida (CO2) yang masih cukup besar, yaitu sekitar 25-45%. Salah satu cara yang cukup baik dan ekonomis untuk mengurangi kadar karbondioksida yaitu dengan cara adsorpsi. Metode adsorpsi dalam penelitian ini menggunakan adsorben berupa Strong Base Anion Exchange Resin dengan jenis Resin komersial Purolite dan Dowex Marathon A. Metode adsorpsi ini menggunakan mekanisme pelarutan gas CO2kedalam air, sehingga akan terjadi reaksi pembentukan ion HCO3-. Ion HCO3-ini akan diserap pada permukaan  resin melalui mekanisme pertukaran ion dengan metode pendekatan kesetimbangan padat cair Langmuir. Untuk meningkatkan kelarutan CO2didalam air maka pada penelitian ini dilakukan variasi resin yang digunakan, yaitu 1:3, 1:4 dan 1:6 dengan tujuan untuk mencari komposisi dengan jumlah resin yang optimum dan ekonomis. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa pola H2CO3dan HCO3- yang terbentuk selalu meningkat setiap waktu, namun pola konsentrasi CO2 yang teramati menunjukkan penurunan sampai waktu tertentu dan meningkat lagi sampai konsentrasi awalnya akibat kesetimbangan sistem. Selain itu, laju reaksi dan adsorpsi di permukaan resin juga terhitung sebagai fungsi rasio resin terhadap air.
Pengaruh Konsentrasi Kitosan pada Sintesis Nanopartikel TiO2 untuk Aplikasi pada Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) Maya Komalasari; Teuku Fawzul Akbar; Bambang Sunendar
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Center for Material and Technical Product

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2220.559 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v4i1.42

Abstract

Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) is a type of solar cell belongs to the thin layer solar cells. Recently  DSSC is the main focus in research on solar cells. DSSC modified using dyes (dyes) as coating material that increases sensitivity of a semiconductor to light. Research on the improvement of DSSC performance was done with a variation photo electrode, looking for alternative dyes, replacing the electrolyte solution, or add other component. Photo electrode components most commonly used in DCCS is titaniumdioxide (TiO2). In this research, synthesis of TiO2nano particles by sol-gel method with solvent water. In the synthesis process chitosan with concentrations of 0%, 2.5%, 5%, and 10% v/v was added. TiO2synthesized was then characterized using SEM, XRD, and BET to determine the morphology, crystal structure, and pore characteristics of the nanoparticles. The  four variations of TiO2was applied as photo electrode DSSC. DSSC  characterization was  performed using AM 1.5 solar simulator until DSSC I–V characteristic was found. Characterization results showed  that the addition of chitosan at low concentrations (2.5% v/v) reduce the crystal TiO2anatase phase and tend to increase the size of crystallites.  Increased concentrations of chitosan gave the opposite results. DSSC best performance obtained in TiO2 at chitosan concentration of 2.5% while the synthesis, with Voc= 0.58V Jsc=0.74mA/cm2, and η=0.51%. Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) merupakan suatu jenis sel surya yang termasuk dalam kelompok sel surya lapisan tipis. DSSC kini menjadi fokus utama pada riset mengenai sel surya . DSSC dimodifikasi menggunakan bahan pewarna (dyes) sebagai material dapat meningkatkan sensitivitas suatu semikonduktor terhadap cahaya. Penelitian untuk meningkatkan kualitas DSSC banyak dilakukan dengan melakukan variasi fotoelektroda, mencari alternatif dyes, mengganti larutan elektrolit, atau menambah komponen lain. Komponen fotoelektroda yang paling umum digunakan pada DSSC ialah Titanium Dioksida (TiO2). Pada penelitian ini dilakukan sintesis nanopartikel TiO2 dengan menggunakan metode sol-gel dengan pelarut air. Pada proses sintesis ditambahkan kitosan dengan konsentrasi 0%, 2,5%, 5%, dan 10% v/v. TiO2 hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan menggunakan SEM, XRD, BET, dan UV-Vis untuk mengetahui morfologi, struktur kristal, karakteristik pori, dan absorbansi nanopartikel. Selain itu keempat variasi TiO2 diaplikasikan sebagai fotoelektroda DSSC. Karakterisasi DSSC dilakukan dengan menggunakan solar simulator AM 1,5 sehingga karakteristik I-V DSSC dapat diketahui. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa  kitosan pada konsentrasi rendah (2,5% v/v) menyebabkan pengurangan fasa anatase pada kristal TiO2 dan cenderung memperbesar ukuran kristalit. Penambahan kitosan melebihi 5% meningkatkan  fasa anatase dan memperkecil ukuran kristalit. Konsentrasi kitosan 2,5% memperkecil luas permukaan spesifik partikel dan volume total pori. Peningkatan konsentrasi kitosan memberi hasil sebaliknya. Pengolahan data karakterisasi UV-Vis menunjukkan band gap TiO2 untuk konsentrasi kitosan 2,5% lebih rendah dibandingkan 3 variasi lain diduga karena fasa rutile yang cukup signifikan (11.1%). Kualitas DSSC terbaik didapat pada TiO2 dengan konsentrasi kitosan 2.5% saat sintesis, dengan Voc = 0.58 V , Jsc = 0.74 mA/cm2 , dan
Pengaruh Parameter Las Proses SAW terhadap Peningkatan Kualitas Sambungan Las Tabung Baja LPG Surasno Surasno
Jurnal Teknologi Bahan dan Barang Teknik Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Center for Material and Technical Product

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.123 KB) | DOI: 10.37209/jtbbt.v4i1.43

Abstract

Weld defects in the form of porosity and lack of fusion in Submerged Arc Welding (SAW) process on flatrotating 3kg LPG cylinder steel has occurred. The defects are caused by improper welding parameters, such as:dirty and moist granular flux; the low of current, voltage, and welding speed; and the unsymmetric of cylinder steel on turn table. The steps of improvements on granular flux consist of heating at temperature of 200 C for 60-120 min. holding time, cleaning and filtering. Afterwards, the improvement in welding parameters were conducted  by adjusting current in range of 300-325 amp., voltage in the range of 29-30 volt, and welding speed of 126 cm/min. Quality improvement obtained from 3kg LPG cylinder steel welded are smooth ripple-weld, good penetration vertically and optimum weld bead height. Besides, the result of radiographic tests on the weld joint 3kg LPG steel cylinder meet the standard specifications according to SNI 05-3563-1994 indicated by no porosity and lack of fusion defects.Telah ditemukan cacat las berupa porositas dan lack of fusion hasil proses Submerged Arc Welding (SAW) pada tabung baja LPG 3 kg di posisi mendatar-berputar. Cacat-cacat las ini disebabkan oleh parameter pengelasan yang tidak sesuai, seperti: granular flux kotor dan lembab; arus, tegangan, dan welding speed rendah; dan tabung baja pada turn table kurang simetris. Langkah perbaikan yang diambil untuk granular flux adalah berupa pemanasan pada suhu 200oC dengan holding time 60 s.d 120 menit,   pembersihan, dan penyaringan.   Kemudian, perbaikan parameter las berupa: arus 300 s.d 325 amps, tegangan 29 s.d 30 volts, welding speed 126 cm/menit dan untuk tabung baja pada turn table dikondisikan simetris. Peningkatan kualitas yang diperoleh pada sambungan las tabung baja LPG 3 kg yaitu ripple-weld yang halus, penetrasi ke arah vertikal yang baik serta tinggi manik las (bead) yang optimal. Selain itu, hasil pemeriksaan radiografi test pada sambungan las circumferensial tabung baja LPG 3 kg memenuhi spesifikasi standar SNI 05-3563-1994 ditandai dengan tidak munculnya cacat porositas dan lack of fusion.

Page 1 of 1 | Total Record : 6