cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2017)" : 8 Documents clear
Hubungan Ketersediaan Sarana untuk Ketrampilan Mahasiswa dengan Kecemasan Menghadapi Ujian Skills Laboratorium Yulifah Salistia Budi; Shanti Wardaningsih
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.657 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.95

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pembelajaran laboratorium adalah bagian penting dari proses pendidikan yang kompleks untuk mempersiapkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan ketrampilan saat menghadapi ujian skills laboratorium. Masalah dalam pembelajaran laboratorium yaitu mahasiswa tidak melakukan redemonstrasi karena kurang motivasi dan meremehkan, kurang keberanian mahasiswa untuk mencoba, merasa sudah tahu, anggapan keterampilan yang dipelajari kurang menantang, waktu yang terbatas, serta keterbatasan alat praktek. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan skill mahasiswa saat ujian ketrampilan laboratorium yang nantinya akan memengaruhi psikologis mahasiswa. Tujuan penelitian: untuk mengetahui bagaimana hubungan ketersediaan sarana sebagai penunjang ketrampilan mahasiswa dengan kecemasan menghadapi ujian skills laboratorium. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian gabungan model sekuensial eksplanatori, yang melibatkan mahasiswa, dosen dan laboran. Data dianalisis dengan uji statistik Kruskal Wallis, dilanjutkan dengan analisis kualitatif secara manual dengan pengkategorian makna final kemudian disimpulkan dari kedua analisis tersebut. Hasil: Hasil penelitian secara kuantitatif dengan uji statistik Kruskal Wallis didapatkan hubungan yang tidak signifikan pada ketrampilan mahasiswa dengan kecemasan mahasiswa program studi (prodi) Diploma III Keperawatan dalam menghadapi ujian skills laboratorium. Hasil uji kualitatif didapatkan empat tema yaitu ketersediaan alat, efektifitas dalam praktek, kecukupan sumber dan metode untuk menurunkan kecemasan. Diskusi: meskipun keberadaan sarana atau alat sebagai sumber belajar dan keefektifan mahasiswa saat praktikum dipandang kurang mendukung ketrampilannya, tetapi mahasiswa mampu mengendalikan kecemasan yang mereka alami. Simpulan: kecemasan mahasiswa berada pada tingkat ringan, tidak terdapat hubungan antara ketersediaan sarana untuk ketrampilan mahasiswa dengan kecemasan dalam menghadapi ujian skills laboratorium.Kata kunci: cemas, mahasiswa keperawatan, ujian skills laboratorium, sarana laboratoriumRELATIONSHIP BETWEEN AVAILABILITY OF FACILITIES FOR STUDENT SKILLS WITH ANXIETY IN FACING LABORATORY SKILLS EXAMINATION: A MIXED METHODS STUDYABSTRACTBackground: Laboratory skills is an important part of a complex educational process order to ability of students in performing skills when facing a laboratory skills examination. A problem in laboratory learning is that students do not perform re-demonstration because they lack motivation and underestimate, are afraid to try, think they already know, think that skills are less challenging, have limited time, and equipment is limited. These conditions may affect the ability of student’s skills during the laboratory skills examination which will later affect their psychology. Objective: To identify the relationship between the availability of facilities to support student skills with anxiety in facing the laboratory skills examination. Methods: This research employed a mixed methods research of explanatory sequential models, involving students, lecturers and laboratory staff. Data were analyzed using Kruskal-Wallis statistical test, followed by using qualitative analysis manually by categorizing the final significance and concluded from both analyses. Results: The quantitative research results by using the Kruskal-Wallis statistical test indicated that there was no significant relationship of the student skills on the anxiety in students of Diploma Nursing program in facing the laboratory skills examination. The qualitative test results indicatedfour themes, namely availability of equipment, effectiveness in practice, and adequacy of resources and methods to decrease the anxiety. Discussion: Although the availability of facilities or equipment as a source of learning and effectiveness of students during practicum is considered not supporting their skills, students are able to control their anxiety. Conclusion: Students has mild anxiety; there is no significant relationship between the availability offacilities for student skills with anxiety in facing laboratory skills examination.Keywords: anxiety, nursing students, laboratory skills examination, facilities of laboratory
Hubungan Harga Diri dan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi Keperawatan Kristofora Erma Kurniawati; Totok Harjanto
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.665 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.91

Abstract

ABSTRAKTujuan Penelitian: Praktik klinik keperawatan memiliki stresor tinggi yang dapat mempengaruhi harga diri mahasiswa. Komunikasi terapeutik merupakan skill mendasar dan penting dalam mencegah kesalahan medis dan memberikan pelayanan optimal terhadap pasien. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan skor harga diri dan skor komunikasi terapeutik mahasiswa profesi di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan rancangan cross-sectional dengan subyek 60 mahasiswa profesi. Pengambilan data dilakukan selama 1 bulan. Harga diri diukur dengan Kuesioner State Self-Esteem Scale dan komunikasi terapeutik dengan checklist observasi. Hasil penelitian dianalisis dengan Uji Pearson. Hasil: Harga diri sebagian besar responen berada pada kategori rendah atau kurang dari rata-rata (53,4%). Komunikasi terapeutik sebagian besar responden berada pada kategori kurang (86,7%). Uji korelasi skor harga diri dan skor komunikasi terapeutik menghasilkan r=0,057 dan p=0,664. Diskusi: Sebagian responden memiliki harga diri rendah, hal ini disebabkan responden baru tiga minggu mengikuti pendidikan profesi sehingga dalam proses adaptasi dan proses menumbuhkan harga diri. Skor komunikasi terapeutik yang kurang pada sebagian besar responden disebabkan responden terfokus pada tindakan keperawatan untuk menghindari kesalahan. Hasil korelasi skor harga diri dan skor komunikasi terapeutik dalam penelitian ini tidak mendukung adanya hubungan antara skor harga diri dan skor komunikasi terapeutik. Hasil ini disebabkan komunikasi terapeutik tidak hanya ditentukan oleh faktor internal, namun juga faktor eksternal serta perbedaan jenis tindakan keperawatan yang memiliki kesulitan yang berbeda dan perbedaan ruang rawat inap. Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara harga diri dan komunikasi terapeutik.Kata Kunci: harga diri, komunikasi terapeutik, mahasiswa profesi keperawatan, pasienCORRELATION BETWEEN SELF-ESTEEM AND THERAPEUTIC COMMUNICATION OF STUDENTS OF PROFESSIONAL NURSING PROGRAM, FACULTY OF MEDICINE, UNIVERSITAS GADJAH MADA WITH PATIENTS AT RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTAABSTRACTObjective: Nursing clinical practice has high stressors that may affect student self-esteem. Therapeutic communication is a basic and important skill in preventing medical errors and providing optimum services to patients. This research aims to identify the correlation between self-esteem scores and therapeutic communication scores in students in Nursing Professional Program, Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Methods: This research is quantitative correlational using cross-sectional design with the subjects of 60 professional students. Data were collected for 1 month. Self-esteem was measured by using State Self-Esteem Scale Questionnaire and therapeutic communication was measured using an observation checklist. The data were analyzed using Pearson Test. Results: 53.4% of respondents had low self-esteem or less than the average. 86.7% of respondents had poor therapeutic communication. The score of correlational test of self-esteem and therapeutic communication score indicated r=0.057 and p=0.664. Discussion: Some respondents had low self-esteem because they had just been three weeks in professional education so that they were in the process of adaptation and the process of developing self-esteem. Low therapeutic communication scores on the majority of respondents were caused by respondents focus on nursing procedures in order to avoid errors. The results of the correlation between self-esteem scores and therapeutic communication scores in this research did not support the correlation between self-esteem scores and therapeutic communication scores. This was because therapeutic communication is not only determined by internal factors, but also external factors and differences in types of nursing actions which have different difficulties and different inpatient rooms. Conclusion: There is no correlation between self­esteem and therapeutic communication.Keywords: self-esteem, therapeutic communication, students of professional nursing program, patients
Lamanya Penggunaan Kateter dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih pada Pasien Terpasang Kateter Yosi Suryarinilsih; Defiroza -; Melsy Aulia
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.577 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.92

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi nasokomial yang dapat dialami pasien rawat di rumah sakit. Salah satu faktor penyebabnya bisa dari penggunaan kateter. Tujuan Penelitian: mengetahui lamanya penggunaan kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih. Metode: Jenis penelitiannya adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel 44 orang yang ditentukan dengan cara purposive sampling dengan kriteria responden adalah pasien rawat yang dipasang kateter saat baru masuk RS dengan diagnosis utama bukan infeksi saluran kemih. Izin etik panelitian diperoleh sebelum pengambilan data dilakukan. Pengumpulan data dilakukan dari 22 Juni-22 Juli 2015 dengan menggunakan lembar observasi dan pemeriksaan spesimen urin responden ke laboratorium. Data dianalisis secara univariat dan bivariate dengan uji chi square. Hasil: ditemukan 43,2% responden mengalami ISK, dari lamanya penggunaan kateter responden, 40,9% tidak sesuai aturan (lebih 7 hari) dan terdapat hubungan bermakna antara lamanya penggunaan kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih (p<0,001). Kesimpulan: Pengunaan kateter yang lama memiliki hubungan yang bermakna dengan terjadinya infeksi saluran kemih pada pasien. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi perawat ruangan dalam merencanakan intervensi pengawasan dan penggantian kateter secara periodik bagi pasien.Kata kunci: Kateter, infeksi saluran kemih, rumah sakit, urinalisisDURATION OF CATETER USE AND INCIDENCE OF URINARY TRACT INFECTION IN PATIENTS WITH INDWELLING CATHETERABSTRACTBackground: Urinary Tract Infection (UTI) is one of the nosocomial infections that can be experienced by hospitalized patients. One of the causes is the use of catheters. Objective: To identify the duration of catheter use and the incidence of urinary tract infections. Methods: The research is descriptive analytic with cross sectional study approach. The number of samples was 44 people whom were taken using purposive sampling. The criterion of respondent was patient with an indwelling catheter when they were newly admitted to the hospital with a primary diagnosis of not having urinary tract infection. Ethical approval for the research was obtained before data were collected. The data were collected from 22 June 2015 to 22 July 2015 by using observation sheets and examining respondents ’urine specimens in the laboratory. They were analyzed through univariate and bivariate using chi square test. Results: 43.2% of respondents had UTI, 40.9% did not comply with the rules (more than 7 days) in terms of the duration of catheter use, and there was a significant correlation between the duration of catheter use and incidence of urinary tract infection (p<0.001). Conclusion: Prolonged catheter use has a significant correlation with the incidence of urinary tract infection in patients. The results of this research can be used as a basis for ward nurses in planning periodic supervision and catheter replacement interventions for patients.Keywords: catheter, urinary tract infection, hospital, urinalysis
Penerapan Fungsi Manajemen Kepala Ruangan dalam Pengendalian Mutu Keperawatan Nurdiana -; Rr. Tutik Sri Hariyati; Siti Anisah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.064 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.93

Abstract

ABSTRAKTujuan: Mengidentifikasi masalah penerapan fungsi pengendalian mutu dan mengembangkan solusi pemecahan masalah di ruang rawat inap. Metode: Metode yang digunakan analisis hasil dan gap implementasi menggunakan kajian literatur. Permasalahan dianalisis menggunakan diagramfishbone. Penyelesaian masalah menggunakan tools Plan Do Study Action (PDSA). Data diambil melalui wawancara terstruktur, survei, dan observasi lapangan pada 11 responden kepala ruangan dan 88 staf perawat pada tanggal 19-27 Oktober 2017. Data dianalisis secara deskriptif dengan melihat distribusi frekuensi persepsi kepala ruangan dan staf tentang pengendalian mutu dan pelaksanaan fungsi manajemen dalam pengendalian mutu. Hasil: Fungsi pengendalian mutu keperawatan belum dilaksanakan optimal pada tahap perencanaan, pemantauan dan tindak lanjut masalah (45,45%). Implementasi penyelesaian dalam bentuk sosialisasi dan workshop yaitu panduan, prosedur, kamus dan instrumen pemantauan indikator mutu keperawatan. Hasil evaluasi menunjukkan 62% Kepala Ruangan meningkat pengetahuannya tentang pengendalian mutu dengan rata-rata skor pre-post test meningkat 1,33 poin dari 6,10 menjadi 7,43. Survei pasca implementasi menghasilkan persepsi yang baik dari 86,67% Kepala Ruangan mengenai pengendalian mutu keperawatan. Diskusi: Program pengendalian mutu merupakan salah satu fungsi utama kepala ruangan. Rumah sakit telah memiliki program pengendalian mutu yang dipersyaratkan standar akreditasi rumah sakit, namun kepatuhan penerapannya masih perlu dipertahankan. Rumah sakit dipersyaratkan untuk dapat mempertahankan kepatuhan dan kesinambungan pengendalian mutu guna mengevaluasi proses kerja secara berkelanjutan. Kesimpulan: Sosialisasi mengenai penerapan pengendalian mutu keperawatan cukup efektif meningkatkan pengetahuan kepala ruangan dan tentang program mutu yang dipersyaratkan akreditasi rumah sakit. Pimpinan rumah sakit perlu memberi pengakuan, dukungan, dan motivasi bagi kepala ruangan penerapan pengendalian mutu keperawatan di ruangan rawat.Kata Kunci: fungsi manajemen, mutu keperawatan, pengendalian mutu, perawat manajer.IMPLEMENTATION OF MANAGEMENT FUNCTION OF HEAD OF WARD IN NURSING QUALITY CONTROLABSTRACTObjective: To identify problems in implementing quality control functions and develop solutions to problems in the inpatient ward. Method: The research employed results analysis and implementation gap by using literature review. Problems were analyzed usingfishbone diagram. Problem were solved using Plan Do Study Action (PDSA) tools. Data were taken through structured interviews, surveys, andfield observations in 11 heads ofward and 88 nursing staff between 19 and 27 October 2017. Data were analyzed descriptively by identifying the frequency distribution of the perception of head nurse and staff regarding quality control and the implementation of management functions in quality control. Results: The function of nursing quality control was not optimally implemented at the stages of planning, monitoring and follow-up of the problem (45.45%). The solutions were implemented in the form of socialization and workshops, including guidelines, procedures, dictionaries and monitoring instruments for nursing quality indicators. The results of evaluation indicated that the average score of pre-posttest on knowledge about quality control increased by 1.33 points 6.10 to 7.43 in 62% of the Heads of Ward. The post-implementation survey produced a good perception in 86.67% of the Head of the Ward regarding the nursing quality control. Discussion: The quality control program is one of the primary functions of the head of ward. The hospital has had a quality control program that is required by hospital accreditation standards, but it should maintain the adherence of its application. Hospitals are required to maintain adherence and sustainability of quality control in order to evaluate the sustainable work process. Conclusion: The socialization of the application of nursing quality control is quite effective in increasing the knowledge ofthe head ofward. In regard to the program of quality required by the hospital accreditation, the board of hospital management should give recognition, support, and motivation for the heads of ward to implement nursing quality control in the nursing ward.Keywords: management function, nursing quality, quality control, nurse- manager.
Hubungan Harga Diri dengan Kualitas Hidup Wanita Menopause Ami Novianti Subagya; Wenny Artanty; Elsi Dwi Hapsari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.911 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.94

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Penurunan harga diri wanita menopause akan memengaruhi kualitas hidupnya. Namun demikian masih sedikit informasi yang menjelaskan hubungan harga diri dengan kualitas hidup wanita menopause. Tujuan: Mengetahui hubungan antara harga diri dengan kualitas hidup wanita menopause di Dusun Jogonalan Kidul Kasihan Bantul. Metode: Penelitian non eksperimen dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada Agustus-September 2011. Sebanyak 61 wanita menopause di Dusun Jogonalan Kidul Kasihan Bantul dipilih secara proporsional sampling. Semua wanita menopause yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian dimasukkan ke dalam sampel penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Menopause Rating Scale (MRS), Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) dan World Organization Quality of Live-Bref (WHOQOL-BREF). Ketiga kuesioner menggunakan versi Indonesia yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan Spearman Rank. Hasil: Lebih dari setengah responden (65,67%) memiliki harga diri tinggi. Keluhan yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah keluhan rasa tidak nyaman pada otot dan persendian (77,05%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa harga diri memiliki hubungan yang bermakna (p<0,05) dengan semua domain kualitas hidup yaitu hubungan positif yang kuat (r=0,839) untuk domain fisik, (r=0,826) untuk domain psikologi, (r=0,822) untuk domain hubungan sosial, (r=0,643) untuk domain lingkungan. Kesimpulan: Ada hubungan antara harga diri dengan kualitas hidup wanita menopause di Dusun Jogonalan Kidul Kasihan Bantul. Lebih dari setengah responden memiliki harga diri tinggi. Untuk itu, penyuluhan pada aspek psikologis tetap harus ditingkatkan dan perlu dukungan dari petugas kesehatan lain.Kata kunci: harga diri, kualitas hidup, wanita menopauseCORRELATION BETWEEN SELF-ESTEEM AND QUALITY OF LIFE IN MENOPAUSAL WOMENABSTRACTBackground: A decline in self-esteem of menopausal women will affect their life quality. However, there is only a little information that explains the correlation between self-esteem and quality of life in menopausal women. Objective: To identify the correlation between self-esteem and quality of life in menopausal women at Jogonalan Kidul Hamlet, Kasihan, Bantul. Methods: This research is non-experimental with cross sectional design. It was conducted in August-September 2011. 61 menopausal women in Jogonalan Kidul Hamlet, Poor Bantul were selected through proportional sampling. All menopausal women who met the inclusion and exclusion criteria were included in the research sample. Data were collected using Menopause Rating Scale (MRS) questionnaires, Rosenberg Self Esteem Scale (RSES) and Quality of Live- Breve World Organization (WHOQOL-BREF). The three questionnaires were in Indonesian version of which validity and reliability had been tested. Data were analyzed using Spearman’s Rank. Results: More than half of respondents (65.67%) had high self-esteem. Complaints that were felt by most respondents were complaints of discomfort in the muscles and joints (77.05 The results of statistical test show that self-esteem had a significant correlation (p<0.05) with all domains of quality of life that is a strong positive correlation (r=0.839) for physical domain, (r=0.826) for psychological domain, (r=0.822) for social relations domain, (r=0.643) for environmental domain. Conclusion: There is a correlation between self-esteem and quality of life in menopausal women at Jogonalan Kidul Hamlet, Kasihan, Bantul. More than half of the respondents have high self-esteem. Therefore, counseling for psychological aspects should still be improved and supported by other healthcare workers.Keywords: self-esteem, quality of life, menopausal women
Terapi Logo dan Suportif Kelompok Menurunkan Ansietas Remaja Binaan Rutan dan Lapas Efri Widianti; Mustikasari -; Agung Waluyo
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.441 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.90

Abstract

AbstrakLatar belakang: Remaja yang harus menjalani masa masa hukuman akibat tindak kriminal yang pernah dilakukannya sangat rentan mengalami ansietas. Ansietas sebagai salah satu masalah psikososial dapat diatasi dengan beberapa psikoterapi diantaranya terapi logo dan terapi suportif. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi logo dan terapi suportif terhadap ansietas remaja di rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan wilayah Jawa Barat. Metode: Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment pre-post test with control group dengan 78 responden yang merupakan hasil screening berdasarkan kriteria inklusi, terdiri dari 39 responden untuk kelompok intervensi dan 39 responden untuk kelompok kontrol. Terapi ini diberikan dalam 8 sesi yang terdiri dari terapi logo 4 sesi dan terapi suportif 4 sesi. Penelitian ini dilakukan selama 5 minggu. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah State Trait Anxiety Scale-Trait yang telah dilakukan uji validitas dengan nilai r=0,313-0,574 dan nilai reliabilitas=0,770 pada 30 orang remaja di lapas yang terdapat di Kabupaten Garut. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan uji independent t test, chi-square dan marginal homogenity. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh terapi logo dan terapi suportif terhadap penurunan tingkat ansietas remaja yang ditunjukkan dengan p Value=0.000 (a=0.05). Kesimpulan: Terapi logo dan suportif kelompok dapat menurunkan ansietas pada remaja. Rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada Kanwil Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat selaku pemegang kebijakan untuk memberikan perhatian terhadap permasalahan psikologis pada warga binaan dengan mengembangkan kegiatan kegiatan kelompok serta bekerja sama dengan pihak akademik dan layanan kesehatan jiwa dalam upaya untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan jiwa pada warga binaan.Kata kunci: ansietas remaja, terapi logo, terapi suportifGROUP LOGO AND SUPORTIVE THERAPIES REDUCE ANXIETY IN ADOLESCENTS AT STATE DETENSION HOUSE AND PRISONAbstractBackground: Adolescents who have to receive a sentence due to crimes they committed are very susceptible to anxiety. A psychosocial problem, anxiety can be overcome with several psychotherapies, including logo therapy and supportive therapy. Objective: This study aims to identify the effect of logo therapy and supportive therapy on anxiety in adolescents at state detention house and prison in West Java. Methods: This study used a quasi-experiment pre-posttest with control group design with 78 respondents who were screened based on the inclusion criteria, consisting of 39 respondents for the intervention group and 39 respondents for the control group. This therapy was given in 8 sessions, consisting of 4 sessions for logo therapy and 4 sessions for supportive therapy. This study was conductedfor 5 weeks. It used State Trait Anxiety Scale-Trait of which validity and reliability had been tested with r value=0.313-0.574 and reliability=0.770 in 30 adolescents at a prison in Garut Regency. The data obtained were analyzed using independent t test, chi-square test and marginal homogeneity. Results: The results showed the effect of logo therapy and supportive therapy on the reduction in the levels of anxiety in adolescents as shown by p value=0.000 (a=0.05). Conclusion: The group logo and supportive therapy can reduce anxiety in adolescents. This research recommends the Regional Office of Law and Human Rights of West Java Province as the policy maker give attention to psychological problems in prisoners by developing group activities andcollaborating with academics and mental health services to prevent and overcome mental health problems in prisoners.Keywords: anxiety in adolescents, logo therapy, supportive therapy
PENGUATAN FUNGSI MANAJEMEN KEPALA RUANGAN DALAM PENGENDALIAN MUTU KEPERAWATAN: MINI PROJECT DI RUMAH SAKIT MILITER DI JAKARTA Nurdiana Nurdiana; Rr. Tutik Sri Hariyati; Siti Anisah
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.54

Abstract

Tujuan: Mengidentifikasi masalah penerapan fungsi pengendalian mutu di ruang rawat inap dan mengembangkan solusi pemecahan masalah. Metode: Metode yang digunakan berupa mini project serta analisis hasil dan gap implementasi dengan pembahasan berdasarkan kajian literatur. Permasalahan dianalisis menggunakan diagram fishbone. Penyelesaian masalah menggunakan tools Plan Do Study Action (PDSA) dimulai dari Plan of Action (POA), implementasi, evaluasi, dan tindak lanjut. Data diambil melalui wawancara terstruktur, survei, dan observasi lapangan dengan responden 11 Kepala Ruangan dan 88 Staf Perawat. Hasil: Fungsi pengendalian mutu keperawatan belum dilaksanakan optimal pada tahap perencanaan, pemantauan dan tindak lanjut masalah (45,45%). Implementasi penyelesaian masalah berupa sosialisasi dan workshop penyusunan panduan, prosedur, kamus dan instrumen pemantauan indikator mutu keperawatan. Hasil evaluasi menunjukkan 62% Kepala Ruangan meningkat pengetahuannya tentang pengendalian mutu dengan rata-rata skor pre-post test meningkat 1,33 poin dari 6,10 menjadi 7,43. Survei pasca implementasi menghasilkan persepsi yang baik dari 86,67% Kepala Ruangan mengenai pengendalian mutu keperawatan. Diskusi: Pengendalian mutu merupakan salah satu fungsi utama Kepala Ruangan. Rumah sakit telah memiliki program pengendalian mutu yang dipersyaratkan oleh standar akreditasi rumah sakit, namun compliance penerapannya masih perlu dipertahankan. Rumah sakit dipersyaratkan secara mutlak untuk dapat mempertahankan kepatuhan dan kesinambungan pengendalian mutu untuk mengevaluasi proses kerja secara berkelanjutan. Kesimpulan: Sosialisasi, workshop, dan simulasi langkah-langkah dalam penerapan pengendalian kualitas keperawatan cukup efektif meningkatkan pengetahuan Kepala Ruangan dan membuka wawasan yang lebih luas tentang pemantauan mutu yang dipersyaratkan akreditasi rumah sakit. Persepsi yang baik dari Kepala Ruangan tentang pentingnya fungsi pengendalian mutu menjadi modal awal dalam menjalankan fungsinya dengan baik. Kata Kunci: management function, nurse manager, nursing quality, quality control.
PENGARUH KETRAMPILAN TERHADAP KECEMASAN MAHASISWA PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN MENGHADAPI UJIAN SKILL LABORATORIUM: STUDI MIXED METHOD yulifah salistia budi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v2i3.42

Abstract

Tujuan penelitian: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketrampilan mahasiswa terhadap kecemasan dan tingkat kecemasan mahasiswa prodi D III Keperawatan STIKES Banyuwangi dalam menghadapi ujian skill lab. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian gabungan model sekuensial eksplanatori, yang melibatkan mahasiswa, dosen dan laboran yang dilakukan pada 16-20 Januari 2017. Data yang didapat dianalisis dengan uji statistik Kruskal Wallis, dilanjutkan dengan analisis kualitatif secara manual dengan pengkategorian makna final kemudian disimpulkan dari kedua analisis tersebut. Hasil: Hasil penelitian secara kuantitatif  bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan, dengan uji statistik Kruskal Wallis didapatkan pengaruh yang tidak signifikan pada ketrampilan mahasiswa terhadap kecemasan mahasiswa prodi D III Keperawatan dalam menghadapi ujian skill lab. Hasil uji kualitatif di dapatkan empat tema yaitu ketersediaan alat, efektifitas dalam praktek, kecukupan sumber dan metode untuk menurunkan kecemasan. Diskusi: tingkat kecemasan mahasiswa pada penelitian berada pada level ringan karena penggunaan strategi koping dari mahasiswa sudah baik. Simpulan: kecemasan mahasiswa berada pada tingkat ringan, terdapat pengaruh faktor ketrampilan mahasiswa terhadap kecemasan mahasiswa dalam menghadapi ujian skill lab. Kata kunci : cemas, mahasiswa keperawatan, ujian skill lab

Page 1 of 1 | Total Record : 8