cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 Juni 2015" : 12 Documents clear
Produksi Biogas dari Limbah Kelapa Sawit Menggunakan Bioreaktor Up-Flow Anaerobik Sludge Blanket (UASB) Hermanto Hermanto; Arba Susanty
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7656.894 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1704

Abstract

Palm oil mills produce wastewater containing organic matter that has the potential to produce biogas as an energy source. Up-Flow Anaerobic Sludge Blanket (UASB) bioreactor is a wastewater treatment technology that has a high organic content, with using microbiology to degrade the content of contaminants. The purpose of this study was to determine the amount of impairment of biogas production from wastewater COD and TSS POM using UASB bioreactor (Up Flow Anaerobic Sludge Blanket). This research method is done by designing asidogenik and methanogenic reactor, reactor assembling and testing reactor apparatus.The result from this research show UASB reactor that use to process the waste water from palm oil plant  has the potential to produce biogas  22.8 to 26.4 liters with a daily production ranges from 0.3 to 3.3 liters. This biogas containing methane gas (CH4) ranged 36.92 - 48.08%. Optimal feeding time 10-12 days of incubation. The results of first experiment show the decrease level of COD of 983 mg / L or a decline of 98% and in the second trial is 972 mg / l or 97% .ABSTAKPabrik kelapa sawit menghasilkan limbah cair yang mengandung bahan organik  yang berpotensi menghasilkan biogas sebagai sumber energi. Teknologi bioreaktor Up-Flow Anaerobik Sludge Blanket (UASB) adalah teknologi pengolahan limbah cair yang memiliki kandungan organik tinggi, dengan pemanfaatan mikrobiologi untuk mendegradasi kandungan kontaminan dalam limbah.  Selain dapat mengurangi dampak negatif lingkungan, bioreactor UASB dapat menghasilkan energi berupa biogas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah produksi biogas, penurunan nilai COD dan TSS  dari limbah cair PMKS dengan menggunakan bioreaktor UASB . Metode penelitian ini dilakukan dengan merancang disain reaktor asidogenik dan metanogenik,  merangkai reaktor  dan menguji coba rangkaian alat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa air limbah dari proses pengolahan pabrik minyak kelapa sawit berpotensi menghasilkan biogas  sebesar  22,8 – 26,4 liter  dengan produksi harian berkisar antara 0,3 – 3,3 liter.  Waktu feeding optimal 10 – 12 hari inkubasi. Hasil penurunan percobaan 1 kadar COD  sebesar  983 mg/l atau terjadi penurunan 98%  dan pada percobaan 2 sebesar 972 mg/l atau terjadi  penurunan  97 %.  Kata kunci : UASB, limbah cair kelapa sawit, biogas.
Pengaruh Penambahan Rosella (Hibiscus sabdariffa L ) terhadap Sifat Fiskokimia Permen Jelly Rumput Laut Eucheuma cottonii Arba Susanty
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11066.143 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1699

Abstract

Seaweed Eucheuma cottonii can be used as raw material for making jelly candy.  Jelly candy has a soft chewy texture and elastic. Rosella flower have a pharmacological effect. This effect due to the active substance content such as gossypetin, anthocyanins and glucosidehibiscin. Anthocyanins are natural pigments that give the red color and have a function as antioxidants.. The purpose of this study was to determine the effect of adding the extract of roselle (Hibiscus sabdarfifa L) of the physicochemical properties of jelly candy Eucheuma cottonii. This study will be carried out through several stages of making of roselle extract, making seaweed filtrate, determining the concentration of rosella, and making of jelly candy Eucheuma cottonii Rosella.The results of this study showed that the addition of roselle extract effect on vitamin C and total anthocyanins, gel strength, tensile strength and elongation of jelly candy Eucheuma cottonii. The addition of rosella extract give the physicochemical properties of Eucheuma cottonii Jelly candy such as gel strength 27.8642 to 64.9602 N, elongation 160.02 to 246.34%, the water content 8.26 to 9.92%, ash content 0.13 -0.21%,  Vitamin C 3,86-4,36mg / 100g and total anthocyanins 1.36 - 3,15mg / 100g. The parameter of organoleptic test such as flavour, odour and tekxture have no affect on panelist perception except color parameter of jelly candy Eucheuma cottonii rosella.ABSTRAKRumput laut Eucheuma cottonii dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan permen jelly. Permen jelly merupakan produk olahan bertesktur lunak dan elastis. Kelopak bunga rosella memiliki efek farmakologis karena kandungan zat aktif gossypetin, antosianin dan glucosidehibiscin. Antosianin merupakan pigmen alami yang memberi warna merah pada seduhan kelopak bunga rosella dan bersifat sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan ekstrak rosella (Hibiscus sabdarfifa L) terhadap sifat fisikokimia permen jelly rumput laut Eucheuma cottonii sehingga dihasilkan permen jelly berkualitas baik yang dapat berfungsi sebagai pangan fungsional. Penelitian ini akan dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu pembuatan ekstrak rosella, pembuatan filtrat rumput laut, penentuan konsentrasi rosella, dan pembuatan permen jelly Eucheuma cottonii rosella. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak rosella berpengaruh terhadap nilai vitamin C dan total antosianin, gel strength, tensile strength dan elongasi permen jelly rumput laut Eucheuma cottonii rosella. Penambahan ekstrak rosella pada permen jelly rumput laut Eucheuma cottonii menghasilkan permen jelly dengan kekuatan gel 27,8642-64,9602 N, elongasi 160,02–246,34%, kadar air 8,26–9,92%, kadar abu 0,13-0,21%, Vitamin C 3,86-4,36mg/100g dan total antosianin 1,36–3,15 mg/100g. Berdasarkan hasil uji organoleptik, penambahan ekstrak rosella tidak mempengaruhi kesukaan panelis terhadap aroma, rasa dan tekstur permen jelly Eucheuma cottonii rosella kecuali untuk warna. Kata kunci : Eucheuma cottonii, rosella, antosianin, sifat fisikokimia
Karakterisasi Komponen Aktif Asap Cair Cangkang Sawit Hasil Pemurnian Fauziati Fauziati; Eldha Sampepana
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8151.309 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1705

Abstract

Palm shell liquid smoke obtained by pyrolysis and redestilasi still produce a pungent smoke flavor and color of yellow to brownish yellow so that the necessary research purification of smoke that can be used as ingredients other than preservatives, such as antiseptic hand wash. The research objective is to reduce the stinging liquid smoke aroma, color is tawny and to identify the characterization of the active components of liquid smoke shell oil refining results in Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS). The purification process of liquid smoke with redistilled at a temperature of 2000C and by adding 4.5% zeolite adsorbent made three (3) times the resulting liquid smoke of distillate and residue. Liquid smoke produced from distillate and residue are added activated charcoal as much as 9%, 10.5% and 12%, then stirred with a shaker subsequently allowed to stand for 6 days and 10 days The results of the study showed that liquid smoke purification results of the residue by the addition of activated charcoal as 12% and the time saved for 10 days (A2B2C3) gives flavor and color by 1.94 of 1.84 is odorless, yellowish white color and clarity. While the characteristics of the active components of purification results are predominantly acetic acid and phenol compounds of residues that serve as preservatives, antibacterial and antioxidant compounds while PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon), namely tar, benzoperen, gualakol and siringoll (aroma causes) undetectedABSTRAKAsap cair cangkang sawit yang diperoleh melalui proses pirolisis dan redestilasi masih menghasilkan aroma asap menyengat dan warna kuning hingga kuning kecoklatan sehingga diperlukan penelitian pemurnian asap yang dapat digunakan sebagai bahan lain selain pengawet, seperti antiseptik pencuci tangan. Tujuan penelitian adalah  untuk mengurangi aroma asap cair yang menyengat, warna yang masih kuning kecoklatan dan untuk  mengidentifikasi karakterisasi komponen aktif asap cair cangkang sawit hasil pemurnian secara Kromatografi Gas Spektrometri Massa (GC-MS). Proses  pemurnian asap cair dengan  redistilasi pada suhu 2000C dan dengan menambahkan adsorben zeolit 4,5% yang dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali  dihasilkan asap cair dari Destilat dan Residu . Asap cair  yang dihasilkan dari destilat dan residu ditambahkan arang aktif sebanyak 9%,10,5% dan 12%  kemudian diaduk dengan shaker selanjutnya didiamkan selama 6 hari dan 10 hari .Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair hasil pemurnian dari residu dengan penambahan arang aktif sebanyak 12% dan waktu simpan selama 10 hari ( A2B2C3 ) memberikan aroma sebesar 1,94 dan warna sebesar 1,84 adalah tidak berbau ,  warna putih kekuningan dan jernih . Sedangkan  karakteristik  komponen aktif hasil pemurnian yang paling dominan  adalah  senyawa acetic acid dan phenol  dari residu yang berfungsi sebagai bahan pengawet, antibakteri dan antioksidan sedangkan senyawa PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon) yaitu tar, benzoperen,  gualakol  dan siringoll ( penyebab aroma ) tidak terdeteksi . Kata kunci : asap cair, cangkang sawit, komponen aktif, pemurnian, redestilasi 
Potensi Sludge dari Industri Kertas Sebagai Bahan Baku Chipboard Henggar Hardiani; Rina Masriani
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11710.349 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1635

Abstract

From the regulatory perspectives, pulp and paper mill sludge management as a environmental issue is significant. The restricted of imported recycle paper is a problem for the pulp and paper industry. Therefore a research was conducted to determine utilization potential of the WWTP sludge from paper industry in Indonesia as raw material for chipboard based on the characteristics of the sludge. The environmental aspects evaluation also has been cundected TCLP test and toxicology LD50 to determine whether the sludge waste category B3. The test results showed that the levels of alpha cellulose sludge is high (45-84%). Primary Sludge from virgin pulp contains high alpha cellulose (76-84%), ash content (3-14%), and the fines are quite low (30-34%). Potential of primary and final sludge to be used as raw material for chipboard. However, the primary sludge is generally recycled so that the final sludge are more preferable to be utilized. The results of FT-IR spectra analysis showed that the dominant chemical components in the sludge are cellulose. Fiber and fines content in line with the observation using SEM. Based on the results of the TCLP test and LD50, it is known that the sludge contains heavy metals, inorganic and organic are stable, so it is safe for the environment and can be utilized. Thus sludge has potential as a raw material for chipboard.ABSTRAKPengelolaan limbah sebagai isu lingkungan penting untuk dilakukan, terutama dari perspektif regulasi.  Adanya larangan impor kertas daur ulang, merupakan masalah bagi industri pulp dan kertas.  Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk meneliti potensi pemanfaatan sludge IPAL dari industri kertas di Indonesia sebagai bahan baku pembuatan chipboard berdasarkan karakteristik sludge. Evaluasi terhadap aspek lingkungan berdasarkan uji karakteristik beracun TCLP dan uji toksikologi LD50 untuk mengetahui apakah sludge termasuk kategori limbah B3 juga dilakukan. Hasil uji menunjukkan bahwa  kadar alfa selulosa sludge relatif cukup tinggi (45-84%). Sludge primer pulp virgin mengandung kadar alfa selulosa yang tinggi (76-84 %), kadar abu (3-14 %), dan kadar fines yang cukup rendah (30-34 %). Sludge primer maupun sludge  final berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan chipboard. Akan tetapi sludge primer pada umumnya didaur ulang sehingga sludge final lebih berpotensi untuk dimanfaatkan. Hasil analisa spektra FT-IR sludge menunjukkan bahwa komponen kimia yang dominan dalam sludge adalah selulosa. Data kandungan serat dan kandungan fines sejalan dengan pengamatan menggunakan SEM. Berdasarkan hasil uji TCLP dan LD50, diketahui bahwa sludge mengandung logam berat, inorganik dan organik yang bersifat stabil, sehingga aman terhadap lingkungan dan dapat dimanfaatkan. Dengan demikian sludge mempunyai potensi sebagai bahan baku pada industri karton chipboard. Kata kunci : Chipboard, industri kertas, LD50, sludge IPAL, TCLP
Penelitian Proses Pembuatan Konsentrat dan Ingot Tembaga dari Batuan Mineral Cu sebagai Substitusi Impor Adid A Hermansyah; Kosasih Kosasih; Hafid Hafid
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11541.801 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1700

Abstract

Research on the manufacturing process of concentrates and ingots of copper from Cu mineralized rocks as import substitution has been done. The aim is to produce import substitute products from raw materials from copper alloys in domestic. The research method was taken, consist of: (1) the manufacturing concentrates process, namely Cu smoothing stone (crusher), soaking in sulfuric acid (H2SO4) and dilution with Zn powder, (2) ingot-making process, that is burned on non-ferrous furnace (melting process) and liquid non-ferrous metals in print according to the desired size. Based on the results of the experimentaltrial the composition of concentrates and ingots of copper is dominated by Cu-Pb (98.7% -1.05%), the hardness of copper ingots is 62.28 Hv (hardness exceeds the standards of pure copper: Hv 20-40). The results of SEM and EDS showed the presence of a layer of copper matrix is quite tight and together, where the elements of Pb slip the matrix Cu. We hope that the products manufacturing process technology of copper alloys can be produced by SMEs mining in Indonesia to developing the added value of local mineral alloy.ABSTRAKPenelitian proses pembuatan konsentrat dan ingot tembaga dari batuan mineral Cu sebagai substitusi impor dengan tujuan untuk menghasilkan produk substitusi impor dari bahan baku paduan tembaga yang berasal dari dalam negeri. Metode penelitian yang dilakukan adalah: (1) proses pembuatan konsentrat, yaitu; penghalusan batu Cu (crusher), perendaman dengan asam sulfat (H2SO4) dan pelarutan dengan serbuk Zn, (2) proses pembuatan ingot, yaitu; dibakar pada tungku non ferro (proses peleburan) dan cairan logam non ferro di cetak sesuai ukuran yang dikehendaki. Berdasarkan hasil percobaan diketahui bahwa komposisi konsentrat maupun ingot tembaga didominasi oleh Cu-Pb (98,7%-1,05%), kekerasan yang dimiliki ingot tembaga adalah 62,28Hv (melebihi kekerasan pada standar tembaga murni: 20-40 Hv). Hasil pengujian SEM dan EDS menunjukkan adanya lapisan matrix tembaga yang cukup rapat dan menyatu, dimana unsur Pb menyelip pada matrix Cu. Diharapkan teknologi proses pembuatan produk dari paduan tembaga dapat diproduksi oleh Industri Kecil dan Menengah (IKM) penambangan di Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah mineral paduan lokal. Kata kunci : konsentrat, ingot tembaga, tungku non ferro.
Mikrokapsul Ekstrak Bawang Tiwai sebagai Pengawet Pangan Suroto Hadi Saputra; Paluphy Eka Yustini
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6877.593 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1706

Abstract

Applications bawang tiwaiextractin the form ofpastaI have everdone in thefoodpreservativehaving troubleamong othersinsolubleandmixedwell withthe doughingredientsof food. One alternativeto overcome these problemsismicroencapsulated bawang tiwai extract.In this study, bulb bawangtiwaiextractedwithethanol 98%. Researchusinga completely randomized designfactorial3x2was repeated3times. The firstfactorcomposition ofthe coating materialwith 3 levels, the secondfactorwith 2degreetemperature.  Analysisof variance and dunken multiplerangetestfurthertestat5% confidence levelusing thesoftwareSPSSversion20. Results oftreatment ofthe coating materialcompositionandtemperatureas well as theinteractionsignificantly affected thephenol content, water content, solubilityin water, particle size andconcentration of ethanol. The results of analysisduncanmultiplerank testof showdifferentlevels ofphenol, water content, solubilityin water, particle size andconcentration of ethanol. The results showedthe highest valuein treatment(s1p1) phenolcontent of1.50%, (s2p1) lowwater content15.27%, (s1p1) watersoluble extracthighestlevel of87.45% (s2p1) 216.77smallestparticlesizeand(s2p1) lowethanollevels15, 17ppmABSTRAKAplikasi ekstrak bawang tiwai dalam bentuk pasta yang pernah dilakukan dalam pengawet pangan mengalami kesulitan antara lain tidak mudah larut dan tercampur secara baik dengan bahan adonan pangan. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah mikroenkapsulasi ekstrak bawang tiwai.  Dalam penelitian ini, umbi bawang tiwai diekstrak dengan etanol 98%. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3 x 2 diulang 3 kali. Faktor pertama komposisi bahan penyalut dengan 3 taraf, faktor kedua suhu dengan 2 taraf. Hasil analisis sidik ragam dan uji lanjut dunken multiple range test pada tingkat kepercayaan 5% menggunakan soft ware SPSS versi 20. Analisa parameter pada penelitian ini antara lain kadar fenol, kadar air, kadar sari larut air dan ukuran partikel. Hasil perlakuan komposisi bahan penyalut dan suhu serta interaksi berpengaruh nyata terhadap kadar fenol, kadar air, kelarutan dalam air, ukuran partikel dan kadar etanol. Hasil analisisduncan multiple rank test (DMRT) menunjukkan berbeda nyata terhadap kadar fenol, kadar air, kelarutan dalam air, ukuran partikel dan kadar etanol. Hasil penelitian menunjukkan nilai tertinggi pada perlakuan (s1p1) kadar fenol 1,50 %, (s2p1) kadar air terendah 15,27%, (s1p1) kadar sari larut air tertinggi 87,45%(s2p1) ukuran partikel terkecil 216,77 dan (s2p1) kadar etanol terendah 15, 17 ppm. Kata kunci : bawang tiwa,  mikroenkapsulasi, maltodekstrin, na-kaseinat, pengawet pangan.
Pengaruh Penambahan Perekat Tepung Sagu dan Bentonit Terhadap Briket Limbah Arang Tempurung Kelapa Petrus Patandung
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7046.886 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1637

Abstract

The effect of the addition of corn starch adhesive and bentonite to waste coconut shell charcoal briquettes research are purposed to determine the effect of corn starch adhesive and bentonite waste coconut shell charcoal briquette with the variation of the concentration of corn starch and bentonite so it can produce briquettes that qualify as fuel. Design research method using the addition of corn starch and bentonite 3:2; 2,5:2,5 and 2:3 (w /w) g by using coconut shell charcoal waste 5kg with descriptive data analysis, while treatment has 5 (five) times repetation. The results showed that the range: 4.20 to 4.40% moisture content, ash 9.24 to 9.80%, from 0.63 to 0.68 density type g/m³, the missing part on the heating temperature of 950 °C 13,77 to 13.92% and the calorific value of 6728.15 to 6729.61 cal/g. Briquettes obtained can be used as an alternative fuel, using 700 g briquettes can cooked 5 (five) liters water, and it’s takes 45-56 minutes. The analysis showed that the best treatment is using corn starch and bentonite is 3:2, which produces a high enough caloric value is equal to 6729.61 cal/g.ABSTRAKPenelitian pengaruh penambahan perekat tepung sagu dan bentonit terhadap briket limbah arang tempurung kelapa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perekat tepung sagu dan bentonit briket limbah arang tempurung kelapa dengan variasi konsentrasi tepung sagu dan bentonit sehingga dihasilkan briket yang memenuhi syarat sebagai bahan bakar. Metode rancangan penelitian adalah penambahan tepung sagu dan bentonit 3:2; 2,5:2,5 dan 2:3 (b/b) gram  dengan menggunakan limbah arang tempurung kelapa sebanyak 5 kg dengan data dianalisis secara deskriptif, sedangkan ulangan dilakukan sebanyak 5 (lima) kali. Hasil penelitian menunjukkan kisaran: kadar air 4,20-4,40%, abu 9,24-9,80%, kerapatan jenis 0,63-0,68 g/m³, bagian yang hilang pada pemanasan suhu 950°C 13,77-13,92% dan  nilai kalori 6728,15-6729,61 kal/g.  Briket yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, dengan menggunakan 700 gr briket pemasakan air 5 (lima) liter  memerlukan waktu 45-56 menit. Perlakuan terbaik diperoleh dengan perbandingan tepung sagu dan bentonit yaitu 3:2 yang menghasilkan nilai kalori yang cukup tinggi adalah sebesar 6729,61 kal/g. Kata kunci : Tempurung kelapa,limbah arang, tepung sagu, bentonit, briket
Desain dan Uji Teknis Alat Cetak Kerupuk Rengginang dalam Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Mengefisiensikan Waktu Pencetakan Jantri Sirait
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9833.921 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1701

Abstract

Has done the design and technical test printing equipment rengginang crackers. The goal is to increase production capacity and efficiency crackers rengginang printing time. The process of making crackers rengginang include; manufacture of seasoning, steaming/ cooking, printing, drying, frying, and packaging. Crackers rengginang first mold consisting of 1 hole mold with aluminum with a height of 20 mm with Ø 70 mm and of a PVC material with Ø 40 mm. The design of display devices designed rengginang crackers from teplon material with a length, width and height (350 x 230 x 9) mm diameter hole is Ø 40 mm and the number of holes 24 holes mold. Time crackers rengginang printing process using the mold 1 hole takes an average time of 8.2 seconds for the first mold rengginang. To print crackers 144 rengginang molds or a baking dish drying takes 19.68 minutes using 2 workers. By using a molding tool engineered takes 2.37 minutes to 24 prints rengginang. And to score as many as 144 prints crackers rengginang takes 14.22 minutes using labor 1.ABSTRAKTelah dilakukan desain dan uji teknis alat cetak kerupuk rengginang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas produksi kerupuk rengginang dan mengefisiensikan waktu pencetakan. Proses pembuatan kerupuk rengginang meliputi tahapan – tahapan yaitu pembuatan bumbu, pengukusan/pemasakan, pencetakan, pengeringan, penggorengan, dan kemasan. Cetakan kerupuk rengginang yang pertama terdiri dari 1 lubang cetakan dengan bahan alumunium dengan ukuran tinggi 20 mm dengan Ø 70 mm dan dari bahan paralon dengan Ø 40 mm. Rancangan alat pencetak kerupuk rengginang yang didesain dari bahan teplon dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi (350 x 230 x 9) mm dengan diameter lubang adalah Ø 40 mm dan jumlah lubang cetakan sebayak 24 lubang. Waktu proses pencetakan kerupuk rengginang dengan menggunakan cetakan 1 lubang dibutuhkan waktu rata-rata 8,2 detik untuk 1 cetakan rengginang. Untuk mencetak kerupuk rengginang sebayak 144 cetakan atau satu loyang pengeringan dibutuhkan waktu 19,68 menit dengan menggunakan 2 orang tenaga kerja. Dengan menggunakan alat cetak yang direkayasa dibutuhkan waktu 2,37 menit untuk 24 cetakan rengginang. Dan untuk mencetak kerupuk rengginang sebanyak 144 cetakan dibutuhkan waktu 14,22 menit dengan menggunakan tenaga kerja 1 orang. Ukuran loyang pengeringan kerupuk rengginang adalah panjang, lebar dan tinggi (78, 76, 25) cm dengan kapasitas 144 cetakan kerupuk rengginang basah. Kata kunci : Alat cetak, kerupuk rengginang, efisiensi waktu cetak, kapasitas produksi
Teknologi Esktrasi dan Cara Pemisahannya untuk Mendapatkan Kembali Karotenoid dari Minyak Sawit : Suatu Tinjauan Agus Sudibyo; Sardjono Sardjono
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14797.165 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1707

Abstract

Crude palm oil (CPO)is the richest natural plant source of carotenoids in terms of retinol (pro-vitamin A) equivalent, whereas palm oil mill effluent (POME) is generated from palm oil industry that contains oil and carotenes that used to be treated before discharge. Carotenoids are importance in animals and humans for the purpose of the enhancement of immune response, conversion of vitamin A and scavenging of oxygen radicals. This component has different nutritional  functions and benefits to humaan health. The growing interest in the other natural sources of beta-carotene and growing awareness to prevent pollution has stimulated the industrial use of CPO and POME as a raw material for carotenoids extraction. Various technologies of extraction and separation have been developed in order to recover of carotenoids.This article reports on various technologies that have been developed in order to recover of carotenoids from being destroyed in commercial refining of palm oil and effects of some various treatments on the extraction end separation for carotenoid from palm oil and carotenoids concentration. Principally, there are different technologies, and there is one some future which is the use of solvent. Solvent plays important role  in the most technologiest, however the problem of solvents which are used is that they posses potentiaal fire health and environmental hazards. Hence selection of the  most safe, environmentally friendly and cost effective solvent is important to design of alternative extraction methods.Chemical molecular product design is one of the methods that are becoming more popular nowadays for finding solvent with the desired properties prior to experimental testing.ABSTRAKMinyak sawit kasar merupakan sumber karotenoid terkaya yang berasal dari tanaman sawit sebagai senyawa yang sama dengan retinol atau pro-vitamin A; sedangkan limbah pengolahan minyak sawit dihasilkan dari industri pengolahan minyak sawit yang berisi minyak dan karotene yang perlu diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum dibuang. Karotenoid merupakan bahan penting yang diperlukan pada hewan dan manusia guna memperkuat tanggapan terhadap kekebalan, konversi ke vitamin A dan penangkapan gugus oksigen radikal. Dengan berkembangnya ketertarikan dalam mencari beta-karotene yang bersumber dari alam lain dan meningkatnya kesadaran untuk mencegah adanya pencemaran lingkungan, maka mendorong suatu industri untuk menggunakan CPO dan POME sebagai bahan baku untuk diekstrak karotenoidnya. Berbagai macam teknologi guna mengekstrak dan memisahkan karotenoid telah dikembangkan untuk mendapatkan kembali karotenoidnya. Makalah ini melaporkan dan membahas berbagai jenis teknologi yang telah dikembangkan guna mendapatkan kembali senyawa karotenoid dari kerusakan di dalam proses pemurnian minyak sawit secara komersial dan pengaruh beberapa perlakuan terhadap ekstrasi dan pemisahan karotenoid dari minyak sawit dan konsentrasi karotenoidnya. Pada prinsipnya, berbagai teknologi yang digunakan untuk mengekstrak dan memisahkan karotenoid terdapat perbedaan, dan terdapat salah satu teknologi yang digunakan untuk esktrasi dan pemisahan karotenoid adalah menggunakan bahan pelarut. Pelarut yang digunakan mempunyai peranan yang penting dalam teknologi ekstrasi; namun pelarut yang digunakan untuk mengekstrak tersebut mempunyai persoalan karena berpotensi mengganggu kesehatan dan membahayakan cemaran lingkungan. Oleh karena itu, pemilihan jenis teknologi yang aman, ramah terhadap lingkungan dan biaya yang efektif untuk penggunaan pelarut merupakan hal penting sebelum dilakukan desain metode/teknologi alternatif untuk esktrasi karotenoid. Pola produk molekuler kimia merupakan salah satu metode yang saat ini menjadi lebih populer untuk mencari pelarut dengan sifat-sifat yang dikehendaki sebelum diujicobakan. Kata kunci :    karotenoid, ekstrasi, pemisahan, teknologi, minyak sawit kasar, limbah industri pengolahan sawit.
Potensi Sludge dari Industri Kertas Sebagai Bahan Baku Chipboard Henggar Hardiani; Rina Masriani
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 9 No 1 Juni 2015
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11710.349 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v9i1.1695

Abstract

From the regulatory perspectives, pulp and paper mill sludge management as a environmental issue is significant. The restricted of imported recycle paper is a problem for the pulp and paper industry. Therefore a research was conducted to determine utilization potential of the WWTP sludge from paper industry in Indonesia as raw material for chipboard based on the characteristics of the sludge. The environmental aspects evaluation also has been cundected TCLP test and toxicology LD50 to determine whether the sludge waste category B3. The test results showed that the levels of alpha cellulose sludge is high (45-84%). Primary Sludge from virgin pulp contains high alpha cellulose (76-84%), ash content (3-14%), and the fines are quite low (30-34%). Potential of primary and final sludge to be used as raw material for chipboard. However, the primary sludge is generally recycled so that the final sludge are more preferable to be utilized. The results of FT-IR spectra analysis showed that the dominant chemical components in the sludge are cellulose. Fiber and fines content in line with the observation using SEM. Based on the results of the TCLP test and LD50, it is known that the sludge contains heavy metals, inorganic and organic are stable, so it is safe for the environment and can be utilized. Thus sludge has potential as a raw material for chipboard.ABSTRAKPengelolaan limbah sebagai isu lingkungan penting untuk dilakukan, terutama dari perspektif regulasi.  Adanya larangan impor kertas daur ulang, merupakan masalah bagi industri pulp dan kertas.  Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk meneliti potensi pemanfaatan sludge IPAL dari industri kertas di Indonesia sebagai bahan baku pembuatan chipboard berdasarkan karakteristik sludge. Evaluasi terhadap aspek lingkungan berdasarkan uji karakteristik beracun TCLP dan uji toksikologi LD50 untuk mengetahui apakah sludge termasuk kategori limbah B3 juga dilakukan. Hasil uji menunjukkan bahwa  kadar alfa selulosa sludge relatif cukup tinggi (45-84%). Sludge primer pulp virgin mengandung kadar alfa selulosa yang tinggi (76-84 %), kadar abu (3-14 %), dan kadar fines yang cukup rendah (30-34 %). Sludge primer maupun sludge  final berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan chipboard. Akan tetapi sludge primer pada umumnya didaur ulang sehingga sludge final lebih berpotensi untuk dimanfaatkan. Hasil analisa spektra FT-IR sludge menunjukkan bahwa komponen kimia yang dominan dalam sludge adalah selulosa. Data kandungan serat dan kandungan fines sejalan dengan pengamatan menggunakan SEM. Berdasarkan hasil uji TCLP dan LD50, diketahui bahwa sludge mengandung logam berat, inorganik dan organik yang bersifat stabil, sehingga aman terhadap lingkungan dan dapat dimanfaatkan. Dengan demikian sludge mempunyai potensi sebagai bahan baku pada industri karton chipboard. Kata kunci : Chipboard, industri kertas, LD50, sludge IPAL, TCLP

Page 1 of 2 | Total Record : 12