cover
Contact Name
Kadek Hengki Primayana
Contact Email
hengkiprimayana@gmail.com
Phone
+6236221289
Journal Mail Official
hengkiprimayana@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kresna Gg III No 2B, Singaraja
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
Widyacarya : Jurnal Pendidikan, Agama, dan Budaya
ISSN : 25807544     EISSN : 27212394     DOI : -
Core Subject : Education,
WIDYACARYA: Jurnal Pendidikan, Agama, dan Budaya [ISSN: 2580-7544] dikelola oleh STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang dapat dijadikan referensi akademis maupun bahan memecahkan berbagai persoalan agama dan budaya yang dewasa ini semakin kompleks
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2023)" : 12 Documents clear
TELAAH ATAS PEMIKIRAN MARIA MONTESSORI TENTANG PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN DAN RELEVANSINYA BAGI PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA Gede Agus Siswadi
Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/widyacarya.v7i2.2731

Abstract

Pendidikan pada dasarnya merupakan upaya untuk memanusiakan manusia. Namun sebuah fakta yang tanpa disadari justru dalam pendidikan terdapat banyak praktik dishumanisasi yang sifatnya membelenggu utamanya yang terjadi pada siswa dan juga guru. Seorang guru terkadang harus terpaksa untuk mengabaikan esensi mendidik hanya karena sistem pendidikan yang demikian tidak memberikan kebebasan pada guru dalam melaksanakan pembelajaran. Demikian juga yang terjadi pada siswa yang semakin terbelenggu oleh sistem pendidikan yang menyebabkan tersembunyinya potensi yang dimiliki oleh anak didik karena kebutuhan pendidikannya belum terpenuhi. Sehingga diperlukan sebuah gagasan yang mampu mendobrak konsep-konsep pendidikan konvensional yang sangat membelenggu. Kajian ini berupaya untuk menelusuri pemikiran dari Maria Montessori tentang pendidikan yang memerdekakan. Dan berangkat dengan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik filosofis, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Maria Montessori menggagas konsep pendidikan yang memerdekakan untuk mengembalikan esensi pendidikan yang harus mengabdi pada anak didik. Peran seorang pendidik hanyalah sebagai penuntun anak didik untuk menemukan jati diri dari anak didik, serta mengantarkan anak didik untuk mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Montessori juga menghapus pemberian hukuman dan penghargaan kepada anak didik, karena hal ini justru yang akan melahirkan kelas-kelas anak didik serta melahirkan praktik dishumanisasi yang baru.
Penerapan Model Pembelajaran Make A Match Dalam Pembelajaran IPS Di Kelas IV SD Zahra Rizkiana; Muhamad Idris; David Budi Irawan
Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/widyacarya.v7i2.3302

Abstract

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah ilmu dari keseluruhan berbagai macam ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam dan humaniora yang sudah diolah melalui metode ilmiah dan pedagogis sesuai dengan kepentingan pembelajaran di sekolah.Model pembelajaran make a match adalah model pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa sehingga siswa antusias pada proses pembelajaran dengan mengajak siswa untuk menjawab pertanyaan dengan cara mencocokan kartu yang berisi soal dan jawaban. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran make a match dalam pembelajaran IPS kelas IV SD. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebelum terbiasanya siswa menggunakan model pembelajaran make a match nilai siswa mencapai 50%, kemudian setalah diterapkan model pembelajaran make a match dalam pembelajaran IPS nilai siswa mencapai 78,5% dalam kategori baik. Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran make a match mendapatkan respon cukup baik, karena siswa menjadi lebih antusias dan membuat siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran.

Page 2 of 2 | Total Record : 12