cover
Contact Name
jurnalloakaltim
Contact Email
jurnalloakaltim@yahoo.com
Phone
+62541-250256
Journal Mail Official
jurnalloakaltim@yahoo.com
Editorial Address
Kantor Bahasa Kalimantan Timur Jalan Batu Cermin 25, Sempaja Utara Samarinda
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan
ISSN : 1907073X     EISSN : 27148653     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Jurnal LOA adalah jurnal yang memublikasikan berbagai hasil penelitian dan kajian bidang bahasa dan sastra, baik bahasa/sastra Indonesia, bahasa/sastra daerah, bahasa/sastra asing, maupun pengajaran bahasa/sastra Indonesia. Setiap artikel yang diterbitkan di Loa akan melalui proses penelaahan oleh mitra bebestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Jurnal LOA diterbitkan oleh Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Jurnal LOA terbit secara berkala dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2015): LOA" : 10 Documents clear
LOA COVER DEPAN LOA: Volume 10, Nomor 2, Desember 2015
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2437.421 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2056

Abstract

GAMBARAN FOKLOR MASYARAKAT KUTAI KARTANEGARA DALAM NOVEL "ERAU KOTA RAJA" Dwi Hariyanto
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.92 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2050

Abstract

                                                             AbstrakKarya novel yang mengangkat folklor masyarakat Kalimantan Timur sangat jarang ditemukan. Selain minimnya pengarang yang menulis karya sastra bergenre novel di Kalimantan Timur, tematema yang mengangkat keberadaan folklor sangat minim sampai saat ini. Salah satu novel yang mengangkat tema foklor adalah novel Erau Kota Raja. Meskipun bukan ditulis oleh pengarang Kalimantan Timur, novel Erau Kota Raja mengajak kita untuk lebih peduli terhadap seni folklor masyarakat Kalimantan Timur, khususnya Tenggarong, Kutai Kartanegara. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan masalah penggambaran folklor masyarakat Kutai Kartanegara dan upaya pemertahanan folklor di Kutai Kartanegara. Analisis yang digunakan untuk mengkaji novel Erau Kota Raja adalah sosiologi sastra. Namun, sebelumnya analisis struktural digunakan sebagai pijakan awal untuk mengetahui unsur-unsur struktur karya sastra yang terdapat dalam novel Erau Kota Raja. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Data yang didapatkan dari studi pustaka dianalisis dengan pendekatan sosiologis dan hasilnya dijabarkan secara deskriptif. Folklor yang diangkat menjadi latar budaya dalam novel Erau Kota Raja adalah pesta erau, tari jepen, seni tingkilan, prosesi beluluh sultan, dan mitos kepuhunan. Kekayaan folklor masyarakat Kutai akan memudar apabila tidak ada kepedulian dari masyarakat untuk melestarikannya, terutama oleh generasi mudanya.Kata kunci: foklor, novel, budaya                                                           AbstractIt is rare to find novels about folklore of East Kalimantan society because there is only few folklore themes and few authors writing such novels. One of the novels about folklore is Erau Kota Raja. It leads us to care more about folklore of East Kalimantan society, especially Tenggarong Kutai Kartanegara, even though the author is not from East Kalimantan. This study aims to uncover the description problems of Kutai Kartanegara society folklore and the efforts to preserve the folklore in Kutai Kartanegara. It uses the structural analysis to get the structure elements of the literary works in the novel. It also applies qualitative method and also the sociology of literature. The data from the library research is analyzed using sociology approach. The result is descriptive. It shows that the novel’s cultural settings are Erau feast, Jepen dance, Tingkilan, Beluluh Sultan, and Kepuhunan myth. The folklore richness of Kutai society are beginning to fade if the society, especially the youngpeople, is ignorant to preserve it.Keyword: folklore, novel, cultural  
Daftar Isi, Pengantar Redaksi, Abstrak LOA: Volume 10, Nomor 2, Desember 2015
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.424 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2057

Abstract

DI ANTARA TIGA BAHASA: SIKAP BAHASA MASYARAKAT PERBATASAN INDONESIA--MALAYSIA Dian Palupi
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.368 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2045

Abstract

                                                            AbstrakWilayah perbatasan yang dikepung oleh tiga bahasa, yaitu bahasa daerah, nasional, dan negara tetangga menggambarkan kemultibahasaan masyarakat di wilayah tersebut. Pemilihan suatu bahasa oleh masyarakat perbatasan dapat mencerminkan sikap atau pandangan masyarakat terhadap bahasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemilihan bahasa dan sikap masyarakat perbatasan Long Apari terhadap tiga bahasa yang ada di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Long Apari memiliki sikap positif terhadap bahasa daerah dan Indonesia. Sikap positif tersebut ditunjukkan dengan dominasi penggunaan bahasa daerah pada ranah-ranah keluarga dan masyarakat. Sementara itu, penggunaan bahasa Indonesia tercermin dalam ranah-ranah pekerjaan, pendidikan, pemerintahan, dan keagamaan. Hal berbeda ditunjukkan pada bahasa negara tetangga yang disikapi oleh masyarakat Long Apari dengan sangat tidak positif. Penggunaan bahasa negara tetangga didominasi pada ranah-ranah tertentu, seperti ranah perdagangan, jual beli, dan transaksi.Kata Kunci: sikap bahasa, wilayah perbatasan, Long Apari                                                          AbstractA border area portrays multilingual people surrounded by three languages (local, national, and foreign languages). The language selection of multilingual border residents can reflect the language attitude. The aim of this study is to determine the language attitude and the language selection of Long Apari people on those three languages. The study uses quantitative descriptive approach. The result shows that Long Apari people have a positive language attitude on a local language (Aoheng) and the national language (Bahasa Indonesia). The local language is dominant in family and community domains. Bahasa Indonesia is used in work, education, government, and religion domains. On the contrary, Long Apari people have a negative language attitude on the foreign language (Melayu Malaysia). They use it for trading and transaction domains.Keywords: language attitude, border area, Long Apari
ANALISIS BENTUK SAPAAN TERHADAP ANAK PEREMPUAN DALAM BAHASA BATAK TOBA PADA LIRIK LAGU "BORU PANGGOARAN, BORU BUHA BAJU DAN SUPIR PANJANG" Merry Debby Aritonang
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.8 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2051

Abstract

                                                 AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk sapaan anak perempuan dan faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan bentuk sapaan tersebut dalam bahasa Batak Toba pada lirik lagu Boru Panggoaran, Boru Buha Baju, dan Supir Panjang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-deskriptif dengan teknik simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan metode padan dan agih. Objek penelitian adalah seluruh kata sapaan yang digunakan untuk menyapa anak perempuan dalam lirik lagu Boru Panggoaran, Boru Buha Baju dan Supir Panjang.Hasil penelitian ini menunjukkan bentuksapaan yang digunakan terhadap anak perempuan dalam bahasa Batak Toba pada lirik lagu Boru Panggoaran, Boru Buha Baju dan Supir Panjang, antara lain: (1) kata sapaan berdasarkan hubungan kekerabatan meliputi boru dan inang, kata sapaan berdasarkan urutan kelahiran meliputi boru panggoaran dan boru buha baju, kata sapaan berdasarkan panggilan kesayangan meliputi boru hasian dan kata sapaan berdasarkan gelar meliputi boru ni raja. Bentuk kata sapaan tersebut dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, situasi, dan status sosial.Kata Kunci: lirik lagu, bahasa Batak Toba, bentuk sapaan anak perempuan                                                  AbstractThis study aims to describe the terms of address of a daughter and the factors affecting to it in Batak Toba language on the lyrics of “Boru Panggoaran, Boru Buha Bajuand Supir Panjang”. It uses sociolinguistics approach. It applies qualitative-descriptive method with scrutinize and note taking techniques. The data analysis uses quality and distributional methods. The object of the researh is the address terms of a daughter in the lyrics of “Boru Panggoaran, Boru Buha Baju dan SupirPanjang”. The result shows that the address terms of daughter on those lyrics are based on the kinship terms such as “boruand inang”, the birth order such as “boru panggoaran and boru buha baju”, terms of endearment such as “boru hasian”, and titles such “asboru ni raja”. Also, it reveals that age, sex, situation and social status affect the terms of address chosen.Keywords: lyrics, batak toba language, address terms of daughter
PERMASALAHAN GENDER DALAM LITERATUR ANAK DALAM NOVEL THE FROG PRINCESS (SANG PUTRI KATAK) KARYA E.D. BAKER Diah Meutia Harum
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.645 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2046

Abstract

                                                           AbstrakNovel The Frog Princess karya E.D. Baker adalah dongeng yang diadaptasi dari dongeng karya Grimm bersaudara yang berjudul The Frog Prince. Tulisan ini mengupas novel The Frog Princess (TFP) tentang permasalahan gender dalam literatur anak dengan melihatnya melalui teori penokohan dan teori gender. Makalah ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk melihat fenomena yang terdapat dalam novel. Novel TFP berusaha melepaskan diri dari stereotip tentang perempuan, tetapi pengarang terjebak pada motif-motif dongeng tradisional pada umumnyasehingga tidak mencerminkan kesetaraan gender, seperti yang terdapat dalam judul novel.Kata kunci: literatur anak, gender, stereotip                                                            AbstractThe Frog Princess by E.D. Baker is a fairy tale adapted from the work of the Grimm brothers’ fairy tale “The Frog Prince.” This paper analyzes the novel based on gender issues in children literature using gender and characterization theories. It uses a descriptive qualitative method to find the phenomena in the novel. The novel tries to break away from the women stereotypes, but the author is stuck on the motives of traditional fairy tales in general, so it does not reflect gender equality as contained in the title of the novel.Keywords: children literature, gender, stereotypes
MENGGALI FENOMENA DUNIA MISTIK DALAM PROSA RAKYAT KALIMANTAN TIMUR Derri Ris Riana
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.375 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2053

Abstract

                                                    AbstrakPenelitian tradisi lisan sudah banyak dilakukan karena sangat penting untuk menggali kearifan lokal yang berguna untuk merekonstruksi masa lalu, membangun karakter generasi muda, dan menguatkan identitas bangsa, serta merevitalisasi prosa rakyat yang semakin lama tergilas oleh modernisasi. Akan tetapi, belum banyak penelitian yang menggali fenomena dunia mistik dalam prosa rakyat Kalimantan Timur. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran sosok dunia mistik dalam prosa rakyat Kalimantan Timur, menguraikan nilai-nilai kepercayaan masyarakat terhadap dunia mistik, dan menggambarkan sikap masyarakat modern terhadap dunia mistik yang terdapat dalam prosa rakyat Kalimantan Timur, yaitu “Puntianak”, “Pudoot Sang Pemburu”, dan “Sang Saudagar dan Hantu Saka”. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan didukung oleh pendekatan folklor.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosok gambaran dunia mistik yang muncul dalam ketiga prosa rakyat ini adalah keberadaan hantu dalam bentuk dan sifat yang berbeda-beda.Dunia mistik atau alam gaib ini merupakan bagian dari kepercayaan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan masyarakat.Masyarakat modern yang notabene telah dikelilingi oleh perkembangan informasi dan teknologi yang begitu pesat, serta dituntut untuk berpikir berdasarkan realita dan logika tetap mempercayai dan menyakini keberadaan dunia mistik.Kata Kunci: dunia mistik, kepercayaan, prosa rakyat                                                          AbstractMany oral tradition studies have been done because of its local genius that is very useful in reconstructing the past, building young generation’s character, strengthening nation’s identity, and revitalizing folklore that have been run over modernization. However, there aren’t many of them exposing mystical world phenomenon in East Kalimantan folklores. Therefore, the aims of this research are illustrating images, describing the values of community believes, and portraying modern community attitude in the mystical world on three East Kalimantan folklore, “Puntianak”, “Pudoot Sang Pemburu”, and “Sang Saudagar dan Hantu Saka”. Thisresearch is descriptive and applies folklore theories. The result shows that the mystical world images on those three folklore are ghosts in different forms and characteristics. This mystical world or mysterious nature is a part of community beliefs that cannot be separated from human life. Modern community surrounded by the rapid growth of information and technology expansion and the demand to think based on reality and logic still believes and is convinced of the existence of this mystical world.Keywords: mystical world, belief, folklore
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASI CERPEN PADA SISWA KELAS VII-C MELALUI MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD TOGETHER DAN TALKING STICK SERTA MEDIA FILM PENDEK DI SMP PATRA DHARMA 2 BALIKPAPAN TAHUN AJARAN 2014/2015 Rika Afriani
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.032 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2047

Abstract

                                                           AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalammengapresiasi cerpen dengan model pembelajaran Number Heads Together (NHT), Talking Stick, dan media pembelajaran berupa film pendek di SMP Patra Dharma 2 Balikpapan, khususnya pada kelas VII C tahun pelajaran 2014/2015. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitian yang digunakan berupa rubrik penilaian apresiasi cerpen, lembar observasi rencana pembelajaran, lembar observasipembelajaran, dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kompetensi pengetahuan siswa pada prasiklus penelitian adalah 68 yang menunjukkan belum tercapainya nilai ketuntatasan minimal pembelajaran mengapresiasi cerpen, yaitu 77. Dari 29 siswa, hanya 9siswa yang mampu mencapai nilai ketuntasan minimal. Pada siklus pertama setelah pemberian tindakan, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 81 dengan jumlah siswa yang mampu mencapainilai ketuntasan minimal sebanyak 22 siswa. Rata-rata nilai siswa pada siklus kedua sangat memuaskan. Persentase ketercapaian mencapai seratus persen dengan nilai rata-rata siswa ialah 92. Disamping itu, kompetensi sosial siswa seperti kesantunan, percaya diri, dan kerja sama meningkat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Number Heads Together, Talking Stick, dan media pembelajaran film pendek dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VII C SMP Patra Dharma 2 Balikpapan tahun ajaran 2014/2015 dalam mengapresiasicerita pendek.Kata Kunci : Model pembelajaran Number Heads Together dan Talking Stick, film pendek, mengapresiasi cerpen                                                              AbstractThe purpose of this research is to describe students’ increasing ability in appreciating short stories using Number Heads Together (NHT), Talking Stick Learning Model and short films as an instructional media in SMP Patra Dharma 2 Balikpapan, especially for VII-C grade in school year 2014/2015. It is classroom action research. The actions implemented in two cycles. The instruments used are short story’s assessment rubric appreciation, learning plan’s observation sheets, learning’s observation sheet, and questionnaires. The result shows that the average value of pre-cycle is 68. It means that it does not reach the minimum standard ofcompleteness criteria in appreciating short stories with its minimum score of 77. Nine of 29 students get the minimum score. In the first cycle after the action, twenty two students get the students’ average value, 81. The average value of the second cycle, 92, shows a very satisfactory result with 100% completeness percentage.Besides that, the competence of social attitudes such as politeness, confident, and cooperation has also increased.The conclusion is the implementation of Number Head Together and Talking Stick Learning Model, and short films can increase the ability of VII-C grade students of SMP Patra Dharma 2 Balikpapan school year 2014/2015 in appreciating short stories.Keywords: Number Head Together and Talking Stick Learning Model, Short film, Appreciating Short Story 
KEKHASAN GAYA PIDATO MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM KONGRES IV PDI PERJUANGAN DI BALI: TINJAUAN RETORIKA Ali Kusno
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.215 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2055

Abstract

                                                            AbstrakGaya bahasa sebagai bagian dari retorika memberikan jiwa dan kepribadian pemakai bahasa. Gaya bahasa sering digunakan dalam pidato. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa Megawati Soekarnoputri dalam pidato politik pada pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan di Bali. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen. Sumber data dokumen, yaitu rekaman pidato Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Kongres IV PDI Perjuangan yang diunggah di Youtube. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan gaya bahasa dalam pidato tersebut sebagai berikut: penggunaan gaya bahasa resmi, nadanya bersifat mulia dan serius, menggunakan istilah-istilah politik kalangan PDI Perjuangan, dan Istilah-istilah Asing; penggunaan gaya mulia dan bertenaga diperkuat dengan nada suara tinggi dan nada suara rendah; penggunaan kekhasan gaya struktur kalimat, terwujud dalam gaya bahasa klimaks, antiklimaks, dan repetisi (epizeuksis, anafora, anadikplosis; penggunaan gaya bahasa retoris, berupa gaya bahasa pertanyaan retoris dan gaya bahasa hiperbol; penggunaan gaya bahasa kiasan, berupa gaya bahasa simile, gaya bahasa metafora, dan gaya bahasa personifikas; dan penggunaan humor saat menyapa para tamu undangan.Kata Kunci: Retorika, gaya bahasa, dan pidato                                                              AbstractLanguage user as a part of rhetoric changes the user soul and personality. Language style is often used in the speech. This research has a purpose to describe the used of Megawati Soekarnoputri’s language style in politics speech at the opening of the fourth congress PDI Perjuangan in Bali. The method used is qualitative researchdescription. The data used in this research is documentary. The source of data is from Megawati Soekarnoputri’s speech recording at the opening of the fourth congress PDI Perjuangan which is uploaded in Youtube. The result of the analysis show that the use of language style in the speech as follows: the use of formal language style, have noble and serious tone, use politics term in the PDI Perjuangan’s circle, and foreign term. The use of noble style and powerful are reinforced by accent. The use of special characteristic style structure sentencehave attained in language style climaxes, anticlimaxes, and repetition (epizeuksis, anaphora, anadikplosis). The use of rhetorical style, such as rhetorical question and hyperbola style. The use of figure of speech style, such as simile style, metaphor style, and personification style. The use of humor to accost the invitee.Keywords: Rhetoric, language style, and speech
DEIKSIS SOSIAL DALAM GALUH: SAKIDIT KISDAP BANJAR Jahdiah Jahdiah
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 10, No 2 (2015): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.109 KB) | DOI: 10.26499/loa.v10i2.2048

Abstract

                                                            AbstrakTulisan ini membahas mengenai jenis dan fungsi deiksis sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen Galuh: Sakidit Kisdap Banjar. Cerpen dalam bahasa Banjar sering disebut dengan kisdap (kisah handap). Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengolahan data deskriptif. Teknik analisis data dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam Galuh: Sakidit Kisdap Banjar terdapat deikisi sosial jenis 1) panggilan kehormatan, 2) jabatan, 3) gelar, 4) profesi, dan 5) julukan. Fungsi deiksis sosial yang terdapat dalam Galuh: Sakidit KisdapBanjar, yaitu menjadi 1) pembeda tingkat sosial, 2) alat memperjelas kedudukan seseorang dalam masyarakat, 3) alat identitas sosial, 4) alat memperjelas kedekatan hubungan sosial atau kekerabatan, 5) alat untuk menjaga sopan santun.Kata Kunci : deiksis sosial, fungsi, bentuk                                                            AbstractThis paper discusses about the types of social deixis and its social functions in short story collection “Galuh”. Short stories in Banjar are called kisdap (kisah handap). It is a qualitative and descriptive study. The technique used in the data analysis is content analysis. The result shows that there are types of social deixis in “Galuh” Kisdap: call of 1) honor, 2) position, 3) title, 4) profession, and 5) nickname. The functions of social deiksis in “Galuh” short story are 1) to differentiate the social level, 2) to clarify one’s position in society, 3) to show social identity, 4) to clarify the social closeness or kinship, 5) to keep up good manners.Keyword: social deixis, function, form

Page 1 of 1 | Total Record : 10