cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2019)" : 10 Documents clear
PERAN TEORI MAQASID ASY-SYARI’AH KONTEMPORER DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PENAFSIRAN AL-QUR’AN Pratomo, Hilmy
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.659 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5744

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran Jasser Auda terkait reformasi maqasid asy-syari’ah tradisional. Karakteristik maqasid tradisional cenderung pada nuansa protection (perlindungan) dan preservation (pelestarian). Auda menawarkan konsep maqasid kontemporer yang lebih bernuansa development (pengembangan). Auda juga menawarkan enam fitur pendekatan sistem, yaitu: nature cognitive, interrelated hierarchy, wholeness, openness, multidimentionality dan purposefulness. Peran dan relevansi pemikiran Auda terhadap pengembangan sistem penafsiran Al-Qur’an terangkum dalam tiga poin: (1) Signifikansi fitur kognitif (al-idrakiyyah)dalam pendekatan sistem menekankan bahwa tafsir adalah produk pemahaman manusia (muntaj al-fikr) yang dinamis. Implikasi dari cognitive nature maka nilai universal Al-Qur’an akan salihh likulli zaman wa makan. (2) Penafsiran bercorak maqaSidi di mana “maqasid asy-syari’ah menjadi titik awalnya. (3) Reorientasi an-nasikh mansukh dengan pandangan maqasidimultidimentional sebagai solusi pertentangan dalil atau ayat Al-Qur’an.
PERIWAYATAN HADIS DENGAN MAKNA MENURUT MUHADDITSIN Abd. Gani, Burhanuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.429 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5739

Abstract

Perawi hadis adalah salah satu dari manusia yang tidak terlepas dari rasa lupa dana tau kekurangan lainnya. Maka diantara perawi dalam menyampaikan hadis kepada rang lain adalah dengan lafadh aslinya tanpa menggantikan atau dan menambahkan teks-teks kalimat hadis sebagaimana ia mendengarkannya dari Rasulullah Saw. adakalanya meriwayatkan sesuatu hadis kepada orang lain dengan maknanya. Asal tidak menyimpang dari pengertian sesuatu hadis disebabkan penambahan dan atau menggantikan sebahagian kalimat dari sesuatu hadis dengan kalimat yang lain. Para ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan makna. Sebahagian ulama hadis, ahli fiqh dan ulama ushul mengatakan bahwa para perawi wajib meriwayatkannya dengan lafadh sebagaimana ia mendengarnya dari Nabi Saw.  Ketegasan yang senada juga pernah dikemukakan oleh Abu Bakar Ibn al ‘Arabi, Muhammad Ibn Suri, Qasim Ibn Muhammad dan Abu Bakar al-Razi.
KEMATIAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI QUR’ANI Miskahuddin, Miskahuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.445 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5743

Abstract

Kematian adalah keniscayaan yang tidak terelakkan, bisa dirasakan oleh manusia kapan saja di sepanjang kehidupannya. Kematian merupakan sesuayang penuh misteri sehingga banyak tinjauannya apabila dilihat dari pendekatailmiah, salah satu kajiannya adalah melalui tinjauan psikologi qur’ani. Sebagsuatu ilmu pengetahuan empiris psikologi terikat pada pengalaman duniawi, justjika dikaitkan dengan ilmu agama berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits maka ilmu pengetahuan itu menjadi bermakna atau bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Dalam pendekatan psikologi qur’ani, kematian dipandang sebagai peristiwa yang ghaib dialami oleh setiap insan yang hidup pasmengalami kematian ataupun wajib merasakan peristiwa kematian. Psikologqur’ani dapat mempelajari bagaimana sikap dan pandangan manusia terhadamasalah kematian, bagaimana psikis manusia disaat-saat menjelang peristiwkematian (sakratul maut). Kepercayaan manusia terhadap kematian merupakasalah satu motivasi manusia beragama. Boleh dikatakan bahwa adanya kematiaatau mengingat mati merupakan dasar manusia untuk beragama.
STUDI FIQH PRIORITAS DALAM SUNNAH NABI A. Latif, Husni Mubarrak
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.801 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5738

Abstract

Fiqh Prioritas merupakan bagian dari studi fiqh Islam yang selayaknya diterapkan dalam kehidupan sosial Muslim masa sekarang ini. Fiqh prioritas ini dapat dicapai dengan menerapkan standar ataupun tolak ukur syariat dengan cara mengetahui dan menemukan maksud dan tujuan sebenar daripada hukum syariat. Pada dasarnya, fiqh prioritas ini berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah. Karenanya, artikel ini berupaya untuk mengeksplorasi lebih jauh warisan Sunnah Nabi yang kuat sekali menekankan urgensi dan pentingnya penerapan fiqh prioritas dalam kehidupan Muslim, khususnya, dan kehidupan manusia pada umumnya.
HIDAYAH DALAM PANDANGAN AL-QUR'AN Suhemi, Emi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.818 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5742

Abstract

Menyangkut kebutuhan manusia terhadap hidayah, al-Qur’an memberikan perhatian yang serius, salah satu bentuk perhatian dan tuntunannya terhadap konsep hidayah adalah perintah untuk membacanya  dalam setiap rakaat shalat, hidayah secara makna adalah bimbingan dari Allah swt. Dalam menjalani hidup, hidayah adanya memang  diberi dan ada pula keharusan untuk mencari serta dipelihara di dalam diri setiap muslim. Hal ini penting, karena satu kemustahilan seseorang selamat sampai ke tujuan apabila tanpa hidayah. Karenanya seseorang harus tahu cara-cara untuk mendapatkan hidayah. Dan seseorang juga harus mengetahui bagaimana cara melestarikan hidayah dalam dirinya.
ANALISIS ISI KITAB AL-QURAN AL-KARIM WA BIHAMIȿIHI TURJUMAN AL-MUSTAFID Muhammad, Ismail
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.623 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5737

Abstract

Syekh abdur Rauf al-Singkili menulis kitab tafsir al-Quran al-Karim wa Bihamiȿihi Turjuman al-Mustafid, yang merupakan kitab terjemahan al-Quran pertama yang ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini menggunakan sistematika mushafi, dengan corak ijmali. Kutipan utama dari kitab ini adalah kitab Anwar AlTanzil wa Asrar Al-Ta’wil, karya ‘Abd Allah bin ‘Umar bin Muhammad bin ‘Aliy Al-Baidhawi al-Syafi’i Al-Syirazi. Selain itu juga mengutip dari Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al- Tanzil yang ditulis oleh Alauddn Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar bin Khalil al-Syaihi al-Baghdadi.
PERBEDAAN KENABIAN DENGAN KERAJAAN DALAM Al-QUR’AN Muhammad, Muhammad Thaib
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.291 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5741

Abstract

Alquran merupakan kalammullah Swt  yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umatnya, yang di dalamnya mengandung semua aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya tentang kenabian dan kerajaan. Dalam tulisan ini penulis menulis tentang “Perbedaan Kenabian Dengan Kerajaan dalam Al Qur’an”. Al Qur’an menjelaskan perbedaan yang sangat jauh antara nabi dan raja. Nabi merupakan manusia pilihan Allah Swt, Yang diperintahkan untuk menjalankan dakwahnya di permukaan bumi inimdan menjadi suri teladan yang baik di tengah-tengah masyarakat dengan mendapatkan pertolongan dari Allah Swt. Sedangkan raja adalah dipilih dan diangkat oleh suatu komunitas masyarakat dengan menjalankan kerajaannya menurut kehendak rajanya atau aturan yang dibuat oleh raja dan pembantupembantunya. Nabi ada juga dijadikan sebagai raja, tapi kalangan raja tidak ada yang dipilih oleh Allah Swt sebagai nabi. Nabi dalam menjalankan dakwahnya diilhami dengan 4 sifat: yaitu, shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah. Para nabi semuanya laki-laki, sedangkan para raja  dari laki-laki dan perempuan dan bersifat hirarki heraditi (bersifat keturunan). Nabi, dalam menjalankan dakwahnya mendapat tantangan berat dari umatnya. Sedangkan  raja ada yang menekan rakyatnya.
HUKUMAN RAJAM DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH: SUATU IKHTIAR PEMBACAAN ULANG A. Latif, Hamdiah
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.944 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5736

Abstract

Bagi sebagian kalangan sarjana dan ilmuwan, hukuman rajam bagi penzina yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dianggap sebagai justifikasi bagi pendapat mereka bahwasannya hukuman tersebut tidak memiliki dasar dan alasan hukum yang kuat untuk bisa diterapkan dalam masyarakat Muslim. Pada faktanya, kita dapat menemukan dasar implementasi hukuman rajam tersebut dengan menggali hadits Nabi Saw. di mana beliau pernah mempraktikkan dan menerapkan hukuman tersebut. Karenanya, artikel ini berupaya untuk menemukan kembali dan memperteguh pandangan mainstream di kalangan Ulama Muslim bahwasannya hukuman rajam berlaku bagi penzina yang telah menikah (muhshan). Dalam hukum fiqh Islam, hukuman rajam termasuk ke dalam bahasan hukuman hudud di mana sanksi dan muatan hukumnya menjadi priveles hak Allah sepenuhnya, ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah.
KONSEP ANAK ANGKAT DALAM PRAKTEK MASYARAKAT KLUET (Analisis Perspektif al-Qur’an) Novi Heryanti, Nuraini
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.638 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5745

Abstract

The practice carried out by the Kluet community regarding adoption of children is generally good, in which it is worth Sadaqah, maintaining silaturrahmi, aiming to help fellow Muslims, and maintaining a strong brotherhood among fellow Muslims both adopted children because of child leaves, tribal children, senamo, call children, according with Islamic teachings. But with regard to adoption of children due to the couple not having children, then living with foster siblings, there are some things that are not appropriate with the teachings of Islam, which is related to the issue of the status or status of the adopted child. In practice, a part of the Kluet community that adopts their status is like their own biological children, this can be seen from the Family Card and school report cards by using the name of their adopted parents in the child's identity. In relationships mahrampun socially sometimes less attention to the limitations of relationships and genitalia in the family. This is because they consider their adopted children like biological children. Likewise in the matter of marriage, in the adopted family the Kluet community still attaches great importance to emotional ties so that if anyone gets married they will feel ashamed. 
PEMAKAIAN CADAR DALAM PERSPEKTIF MUFASSIRIN DAN FUQAHA’ Syekh, A. Karim
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 16, No 1 (2019)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.398 KB) | DOI: 10.22373/jim.v16i1.5740

Abstract

Pemakaian cadar bagi wanita muslimah dalam dasarwarsa terakhir ini telah menjadi pembicaraan hangat di media massa. Terjadi pro-kontra dalam menyikapi wanita  bercadar di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagian masyarakat muslim menganggap aneh dan berlebihan terhadap wanita bercadar karena dianggap melanggar tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Ada pula cendekiawan muslim yang mengklaim cadar sebagai hasil budaya Arab Jahiliyah yang masih dilestarikan oleh sebagian wanita muslimah sampai sekarang.  Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis ingin mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan, bagaimana pandangan para mufassirin (para ahli tafsir) terhadap pemakaian cadar bagi wanita muslimah ?  Dan bagaimana hukum  pemakaian cadar  bagi wanita muslimah  yang telah di-istinbath-kan oleh para fuqaha’ ? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pembahasan difokuskan pada pengkajian pemakaian cadar dalam perspektif para mufasisirin dan fuqaha’. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan holistik peneliti gunakan metode mawdhu’i (tematik) yang disajikan secara deskriptif kualitatif.  Setelah diadakan penelitian dapat disimpulkan bahwa pemakaian cadar bagi kaum wanita telah ada pada sebagian masyarakat Arab dan negeri-negeri lain di luar Arab sebelum agama Islam. Cadar yang berfungsi sebagai penutup muka, termasuk hidung dan mulut, ternyata diperselisihkan hukumnya oleh para ulama, baik para ulama ahli tafsir maupun para ulama ahli fiqh antara yang menghukum wajib dan yang tidak wajib (mandub dan mubah). Terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang cadar disebabkan oleh karena perbedaan penafsiran terhadap ayat ayat al-Qur’an dan penilaian terhadap hadits yang ada kaitannya dengan batasan aurat wanita muslimah.

Page 1 of 1 | Total Record : 10