cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005" : 6 Documents clear
PENGARUH KERAPATAN TANAM GALUR HARAPAN KAPAS TERHADAP SISTEM TUMPANGSARI DENGAN JAGUNG PRIMA DIARINI RIAJAYA; FITRININGDYAH FITRININGDYAH; TRI KADARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.073 KB) | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.67-72

Abstract

ABSTRAKPengaturan kerapatan tanam pada galur harapan kapas perludilakukan agar penggunaan sumberdaya lebih efisien dan tidakmengganggu tanaman palawija yang ditumpangsarikan. Pengaturantanaman dilakukan sedemikian rupa untuk memberikan ruang tumbuhyang lebih baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.Penelitian kerapatan tanam galur harapan kapas pada sistem tumpangsaridengan jagung dilakukan di lahan petani di Desa Pendem, KecamatanNgaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada lahan kering/tadahhujan dari bulan Desember 2002 hingga Mei 2003. Tujuan penelitianuntuk mendapatkan kerapatan tanam yang sesuai pada galur harapan kapaspada sistem tumpangsari dengan jagung. Percobaan disusun dalamrancangan petak terbagi dengan varietas sebagai petak utama dankerapatan tanaman sebagai anak petak yang diulang 3 kali dan 2 ulanganmonokultur kapas dan jagung. Sebagai petak utama adalah 3 varietas/galurkapas: 88003/16/2, 92016/6, dan Kanesia 7; dan anak petak terdiri daritiga kerapatan tanam : 2 : 2 (2 baris kapas dan 2 baris jagung); 2 : 3 (2baris kapas dan 3 baris jagung); dan 3 : 2 (3 baris kapas dan 2 barisjagung). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tanam yangsesuai pada galur/varietas harapan kapas adalah kerapatan tanam 3 : 2 (3baris kapas dan dua baris jagung) dengan produksi kapas 1.563,9 kg/hadan jagung 3.840,7 kg/ha. Pada kerapatan tanam tersebut, populasi kapasadalah 32.566 tanaman/ha (81% dari populasi monokultur) dan jagung38.000 tanaman/ha (72% dari monokultur). Produktivitas kapas galur92016/6 mencapai 1.583,9 kg/ha dan nyata lebih tinggi dibanding galur88003/16/2 dan Kanesia 7 pada berbagai kerapatan tanam.Kata kunci :  Gossypium  hirsutum,  Zeamays,  kerapatan  tanaman,tumpangsariABSTRACTArrangement of crop densities for new cotton lines underintercropping system with maizeThe arrangement of crop densities for cotton new varieties/lines isneeded to improve the use of natural resources under intercropping systemwith maize. The field trial on different crop densities for new cotton linesunder intercropping system with maize was conducted in Grobogan,Central Java in rainy season 2002/2003. The purpose of the study was toinvestigate the optimum population for new cotton lines underintercropping with maize. The field experiment was arranged in a SplitPlot Design with three replications. Three new cotton lines/varieties wereallocated to main plots: 88003/16/2, 92016/6, and Kanesia 7. Three croparrangements were allocated to sub-plots: 2 : 2 [2 cotton rows and 2 rowsof maize]; 2 : 3 [ 2 cotton rows and 3 rows of maize] and 3:2 [ 3 cottonrows and 2 rows of maize]. Results showed that the crop arrangement forcotton and maize under intercropping system is 3 cotton rows and 2 rowsof maize, with cotton yield 1,563.9 kg/ha and maize 3,840.7 kg/ha. Cottonyield of 92016/6 is higher than those of 88003/16/2 and Kanesia 7 underthe all crop arrangement tested.Key words: Gossypium hirsutum, Zea mays, crop density, intercropping
EFEKTIVITAS NEMATODA ENTOMOPATOGEN Steinernema sp. PADA HAMA UTAMA BEBERAPA TANAMAN PERKEBUNAN DAN HORTIKULTURA I G.A.A. INDRAYANI; A. A. AGRA GOTHAMA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.60-66

Abstract

ABSTRAKNematoda  entomopatogen  Steinernema  sp.  telah  banyakdimanfaatkan sebagai agens hayati untuk mengendalikan serangga hama diluar negeri, namun di Indonesia masih terbatas. Tujuan penelitian adalahmengevaluasi efektivitas 3 strain Steinernema sp. lokal terhadap beberapahama utama tanaman perkebunan dan hortikultura. Penelitian ini dilakukandi Laboratorium Entomologi dan Kebun Percobaan, Balai PenelitianTanaman Tembakau dan Serat Malang, Jawa Timur, mulai April 2001sampai Mei 2002. Tiga strain nematoda lokal, yaitu BT02, ML07, danAB05 diuji masing-masing pada konsentrasi 50; 100; 200; 400; dan 800Juvenil infektif (JI)/ml dan satu kontrol (tanpa JI). Sembilan spesiesserangga hama yang diuji yaitu Helicoverpa armigera, dan Pectinophoragossypiella (hama kapas), H. assulta dan Myzus persicae (tembakau),Plutella xylostella, dan Crocidolomia binotalis (kubis), Spodoptera exigua(bawang merah), Liriomyza sp. dan S. litura (bunga krisan). Setiap spesiesserangga mewakili satu unit pengujian. Setiap perlakuan dalam unitdisusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat ulangan.Aplikasi perlakuan dilakukan dengan metode vial, kultur sel, dan sumuran,tergantung perilaku serangga uji dan menggunakan spray chamber. Dilaboratorium, parameter yang diamati adalah sublethal (LC 25 ) dan lethalconcentration (LC 50 ), sublethal and lethal time (LT), dan produksi JI. Dilapang, hanya satu perlakuan tunggal yang digunakan yaitu LC 50 darisetiap strain nematoda. Sebanyak masing-masing 20 inang seranggadipajankan daun atau bagian tanaman yang telah disemprot dengansuspensi nematoda di lapang, kemudian serangga uji diamati dilaboratorium hingga mati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketigastrain nematoda menunjukkan efektif membunuh C. binotalis (BT02), P.xylostella, M. persicae (ML07), dan P. gossypiella (AB05), tetapi kurangefektif terhadap H. armigera (AB05), S. exigua dan S. litura (ML07), danLiriomyza sp. (BT02). Waktu efektif yang diperlukan nematoda untukmembunuh inang (Lethal Time) pada ketiga strain berkisar antara 1-4 hari.Selain efektif membunuh stadia larva, Steinernema sp. juga efektifterhadap prepupa dan pupa.Kata kunci : Tanaman  perkebunan,  hortikultura,  Steinernema  sp.,Helicoverpa armigera, Pectinophora gossypiella, H.assulta, Myzus persicae, Plutella xylostella, Crocidolomiabinotalis, Spodoptera exigua, S. litura, Liriomyza sp., juvenilinfektif, mortalitasABSTRACTEffectiveness of entomopathogenic nematode Steiner-nema sp. against major insect pests of plantation andhorticultureEntomopathogenic nematode of family Steinernematidae is aprospective agent for biological control of insect pests. It has been knownthat many species of insects can be infected by nematode and sometimesshowed different levels of infection. Laboratory and field study on theeffectiveness of Steinernema sp. against major insect pests of plantationand horticulture was carried out in Laboratory of Entomology andExperimental Station of Indonesian Tobacco and Fiber Crops ResearchInstitute (IToFCRI), Malang, East Java. The objective was to find out theeffectiveness of three local strains of Steinernema sp. to any differentmajor of insect pests of plantation and horticulture. Three local strains ofnematode tested as BT02, ML07, and AB05 which each consist of fivelevel concentrations of IJ, viz. 50, 100, 200, 400 and 800 IJ/ml and oneuntreated with IJ as control were tested against nine species of insect, viz.H. armigera, P. gossypiella (cotton), H. assulta and M. persicae (tobacco),P. xylostella and C. binotalis (cabbage), S. exigua (red onion), Liriomyzasp. and S. litura (chrysanthemum). Each species of insect was tested asone unit of test and treated with the same level of concentration. Eachtreatment in every unit of test was arranged in randomized completedesign with four replications. Application method of treatment used werevial, cell culture plate, and well, depends on insect behaviour. Nematodesuspension was applied by using spray chamber. Parameters observedwere sublethal and lethal concentration, sublethal and lethal time and IJproduction. In field study, only one single treatment LC 50 was used toobserve the insect mortality. In this study, twenty of insect hosts were fedon treated-sample leaves collected from the field and observed till death.The result showed that all strains of Steinernema sp. were morepathogenic and effective against C. binotallis (BT02), P. xylostella and M.persicae (ML07), and P. gossypiella (AB05), but less pathogenic againstH. armigera (AB05), S. exigua and S. litura (ML07), and Liriomyza sp.(BT02). Time needed (LT) to kill the insect host was ranged from one tofour days. Strains of nematode tested were not only effective against larvaebut also effective to kill prepupae and pupae of insect host.Key words : Estate crops, horticulture, Steinernema sp., H. armigera, P.gossypiella, H. assulta, M. persicae, P. xylostella, C.binotalis, S. exigua, Liriomyza sp, S. litura, infectivejuvenile, mortality
KINERJA PASAR PANDAN SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI ANYAMAN DI KABUPATEN TASIKMALAYA B. SUDJARMOKO; D. LISTYATI; M. HERMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.73-77

Abstract

ABSTRAKTanaman pandan di Indonesia pada umumnya digunakan sebagaibahan baku untuk industri anyaman yang merupakan komoditas ekspor.Introduksi atau pengembangan tanaman pandan menjadi salah satualternatif pada daerah-daerah yang dominan mengguna-kan bahan bakupandan untuk kebutuhan industri, terutama industri anyaman danhandicraft. Untuk mengetahui kinerja pemasaran pandan maka pada bulanJuli-Agustus 2004 telah dilakukan penelitian di Kabupaten Tasikmalaya,Jawa Barat, sebagai sentra penghasil dan industri anyaman pandan diIndonesia. Petani responden dipilih secara acak, demikian pula pedagangpengumpul I, pedagang pengumpul II, dan produsen anyaman pandan.Data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan sekunder berupa dataharga deret waktu (time series) dari berbagai sumber. Pendekatan yangdigunakan adalah model Structure - Conduct - Performance, denganpangsa petani dan transmisi harga sebagai indikator kinerja pasar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menggunakansaluran pemasaran I (89,25%) dan hanya 10,75% yang menggunakansaluran pemasaran II. Bagian harga yang diterima petani hanya 31,25%pada saluran I dan 37,50% pada saluran pemasaran II. Nilai elastisitastransmisi harga sebesar 0,5148 mengindikasikan bahwa perubahan hargapandan tidak seluruhnya ditransmisikan ke petani produsen. Kinerja pasaryang kurang baik ini terjadi karena struktur pasar yang kurang bersaingdan perilaku pasar yang menjadikan posisi tawar petani lemah berhadapandengan pedagang pengumpul.Kata kunci: Pandanus sp, struktur, perilaku, kinerja pasar, pangsapetani, elastisitas transmisi hargaABSTRACTMarket performance of pandanus as raw material ofhandicraft industry in TasikmalayaPandanus (Pandanus sp.) is the essential raw material of handicraftand potential export commodities. The research was carried out to study ofpandanus performance market. The study was conducted at Tasikmalaya,West Java, as main pandanus handicraft producer, on July-August 2004used survey method. Data collected consisted of primary and secondarydata (time series). The sampling method used was simple randomsampling for farmers, traders I, traders II, and pandanus handicraftproduct. Data analyzed was designed with Structure - Conduct –Performance or SCP model. Farmer share and price transmissionelasticity as main indicator and criteria of analysis. The results showedthat 89,25% farmers used marketing channel I, only 10,75% usedmarketing channel II. Farmers share were only 31,25% on marketingchannel I and 37,50% on marketing channel II. Price transmissionelasticity was 0,5148 indicated that pandanus market had asymmetricprices information. The bad pandanus performance market caused byimperfect market and market conduct while powerless bargaining positionof pandanus farmers.Key words: Pandanus sp., structure, conduct, performance, market,farmers share, prices transmission elasticity
PENAMPILAN HASIL PERSILANGAN NOMOR-NOMOR HARAPAN JAMBU METE (Anacardium occidentale L.) NURLIANI BERMAWIE; SRI WAHYUNI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.43-51

Abstract

ABSTRAKJambu mete merupakan tanaman introduksi yang telah beradaptasidan berkembang dengan baik di Indonesia, namun sampai saat iniproduktivitas dan mutunya masih rendah. Untuk meningkatkan produk-tivitas dan mutu gelondong telah dilakukan persilangan dari tahun 1994sampai 1995 antara nomor harapan dengan produksi tinggi namun berberatgelondong kecil (C-Wonogiri, F-Jepara, M-Madura dan A-Tegineneng)dengan nomor yang memiliki berat gelondong besar (S-Segayung).Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Pati, Jawa Tengah.Sebanyak sepuluh kombinasi hasil persilangan tetua betina dengan tetuajantan yaitu CxF, CxM, CxA, CxS, FxM, FxA, FxS, MxA, MxS, AxS, dantetuanya ditanam pada tahun 1996 menggunakan rancangan acakkelompok, dengan jarak tanam 6 x 6 meter, diulang tiga kali denganjumlah tanaman per unit 6 tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap tinggitanaman, lingkar batang, lebar kanopi, produksi dan berat gelondong.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada empat tahun pertama,pertumbuhan tanaman yaitu tinggi dan lebar tajuk sangat pesat. Memasukimasa produksi pertumbuhan agak melambat. Pada awal pertumbuhan,tinggi dan lebar tajuk antar kombinasi persilangan bervariasi, namunsetelah memasuki usia produksi tinggi dan lebar tajuk tanaman relatif sama,kecuali pada kombinasi FxM dan MxS tanamannya lebih pendek sertaCxF dan MxS memiliki tajuk sempit. Pada awal produksi kombinasi CxAdan FxS memiliki produksi tertinggi, namun pada tahun ke-6 setelahtanam produksi tertinggi adalah FxS dan CxS. Kombinasi persilangandengan tetua jantan S menghasilkan tanaman yang memiliki buah semudan berat gelondong yang lebih besar yaitu 7,10 – 8,41 g per butir denganberat kernel 2,03 – 2,33 g/butir, berat gelondong tetua lokal (3-4 g/butir).Persilangan dengan S dapat memperbaiki sifat berat gelondong sebesar77,5 – 112% dari tetua lokal, sekalipun demikian berat gelondong tersebutmasih di bawah berat gelondong tetua S (11 – 13 g/butir). Tetua S cocokdigunakan sebagai tetua untuk meningkatkan mutu gelondong (berat) padatanaman jambu mete.Kata kunci : Jambu mete, Anacardium occidentale L., persilangan,hibrida, hasil, mutu, Jawa TengahABSTRACTGrowth, yield and quality performances of cashew(Anacardium occidentale L.) resulted from hybridization Cashew is not an Indonesian native plant. Although it has been welladapted and widely cultivated in Indonesia, its productivity and nut qualityis still low. To improve productivity and nut quality, ten crossingcombinations were made among and between high yielding lines withsmall nut size (C-Wonogiri, F-Jepara, M-Madura and A-Tegineneng) anda line with big nut size (S-Segayung). The crosses were made from 1994 to1995 at Muktihardjo Experimental Garden, Pati, Central Java. Ten hybridcombinations, i.e. CxF, CxM, CxA, CxS, FxM, FxA, FxS, MxA, MxS,AxS, and its parents were planted in 1996 in a randomized block designwith three replications, plant spacing 6 x 6 m and 6 plants per unit.Parameters observed were growth rates indicated by plant height, canopysize and trunk circumference and yield and nut weight. The hybrid plantsshowed fast vegetative growth indicated by increase in plant height, trunkcircumference and canopy diameter with more than 1.5 m per year at thefirst four years, then decline when entered the reproductive stage.Growth rate at the vegetative stage varied among crossing combinations,then tend to be similar at the reproductive stage, except for FxM and MxS,the plants were smaller that the others. At the first few bearing years,CxA and FxS produced high yield, but at 6 years after planting, the highestyield was obtained from FxS and CxS combinations. Crossingcombination with S as the male parent showed variation in fruit and nutweight, 7,10 – 8,41 g per nut with kernel weight 2.03 – 2.33 g, bigger thanthe nut weight of the local varieties (3-4 g). Crossing with S as the maleparent improved nut weight of the local varieties by 77,5 – 112%, but theweight was still below the nut weight of the S parent (11 – 13 g/nut). TheS parent is suitable as the male parent for improving nut quality in cashew.Key words: Cashew, Anacardium accidentale L., intervariety crossing,hybrid, yield, quality, Central Java
USE OF ANTIOXIDANT TO INHIBIT BROWNING ON WHITE PEPPER DECORTICATING PROCESS NURDJANNAH, NANAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.78-84

Abstract

ABSTRACTWhite pepper is an important export commodity for Indonesia, until2003 about 70 percent of word demand of white pepper was supplied byIndonesia, but it dropped to about 40 percent in 2004. White pepperprocessing is still done at farm level using a very modest method. Theprocess consists of soaking the berries for seven to twelve days, followedby pepper skin separation and drying the pepper corn for three to five days.The product is often contaminated by undesirable microorganism, and alsounpleasant odor which is caused by improper method and limited cleanwater for soaking process. Researh Institute for Spice and Medicinal Cropsunder Agriculture Department has designed and constructed the pepperthresher and decorticating machine to improve the product quality andprocess efficiency. Those machines could produce the hygienic whitepepper with high essential oil content, however it has brownish white colorcaused by browning process during decorticating process. The consumerused to white pepper with creamy white in color. The antioxidants, malicand tartaric acids were applied to prevent the browning process. Thetreatment consisted of three factors, i.e.: kind of antioxidant (malic andtartaric acid), antioxidant consentration (1.5, 2,0 and 2,5 percent) andsoaking period (1, 2 and 3 hrs). The experiment was arranged inCompletely Randomized Design with two replications. The result showedthat both acids could be used as antioxidant to inhibit browning in peppermechanical decorticating process. The colour of white pepper produce wascreamy white similar to the one produced by traditional method. Theoptimum treatment was malic acid with 2.5 percent concentration and 2hours soaking period.Key words : Pepper, Piper nigrum L., processing, traditional, mechanical,antioxidan, white pepperABSTRAKPenggunaan antioksidan untuk mencegah proses pen-cokelatan pada proses pengupasan kulit ladaLada putih adalah salah satu komoditas ekspor penting bagiIndonesia, dimana sampai tahun 2003 kurang lebih 70 persen kebutuhandunia dipenuhi oleh Indonesia. Namun pada tahun 2004 jumlah tersebutturun drastis menjadi kurang lebih 40 persen. Pengolahan lada putih masihdilakukan di tingkat petani dengan peralatan yang sangat sederhana yangprosesnya terdiri dari perendaman selama tujuh sampai duabelas hari,diikuti dengan pemisahan kulit dan pengeringan biji lada selama tigasampai lima hari. Lada putih yang dihasilkan sering terkontaminasi olehmikroorganisme yang tidak diinginkan dan juga mempunyai bau busukakibat dari metode yang kurang baik dan keterbatasan air bersih. BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat telah berhasil merancang bangunalat perontok dan pengupas lada untuk meningkatkan mutu lada danefisiensi prosesnya. Dengan mesin tersebut dapat diproduksi lada putihhigienis dengan kadar minyak atsiri yang tinggi, namun warnanyakecokelatan yang disebabkan karena proses pencokelatan yang terjadiselama proses pengupasan kulit. Sedangkan konsumen biasa dengan warnayang putih kekuningan. Penggunaan antioksidan (asam malat dan tartrat)untuk mencegah proses pencokelatan tersebut telah dicobakan. Perlakuanterdiri dari : jenis antioksidan (asam malat dan tartrat), konsentrasiantioksidan ( 1,5; 2,0 dan 2,5 persen) serta lama perendaman (1, 2 dan 3jam). Percobaan dirancang secara acak lengkap dengan ulangan dua kali.Hasil percobaan menunjukkan bahwa asam malat dan asam tartrat dapatdigunakan untuk mencegah proses pencokelatan pada proses pengupasankulit lada dengan mesin. Warna dari lada putih yang dihasilkan putihkekuningan sama dengan yang dihasilkan dengan cara tradisional(perendaman). Perlakuan terbaik adalah penggunaan asam malat padakonsentrasi 2,5 persen dengan waktu perendaman dua jam.Kata kunci : Lada, Piper nigrum L., prosesing, tradisional, mekanik,antioksidan, lada putih
WAKTU TANAM KAPAS DI JAWA TENGAH RIAJAYA, PRIMA DIARINI; SHOLEH, MOCH.; KADARWATI, F.T.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n2.2005.52-59

Abstract

ABSTRAKCurah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang sangatberpengaruh terhadap produksi kapas. Variasi hujan di lahan tadah hujanJawa Tengah sangat tinggi sehingga diperlukan penetapan waktu tanam.Waktu tanam ditetapkan berdasarkan analisis hujan lebih dari 20 tahundari 31 stasiun hujan yang tersebar di Kabupaten Grobogan, Wonogiri,Blora, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Data dianalisis menggunakan metodepeluang Markov Order Pertama dan perhitungan peluang selang keringberturut-turut. Peluang hujan yang dianalisis berupa peluang hujanmingguan lebih dari 10, 20, 30, 40, dan 50 mm. Besar peluang hujanmingguan lebih dari 60% untuk mendapatkan hujan lebih dari 20 mm dan30 mm dipakai dalam penentuan minggu tanam, selanjutnya disesuaikandengan peluang kering berturut-turut. Minggu tanam paling lambat (MPL)di Kabupaten Grobogan dan Wonogiri berkisar minggu I Desember sampaiminggu I Januari. MPL di Kabupaten Blora, Pemalang, Tegal, dan Brebesadalah minggu I-IV Januari. Sebagian besar lahan yang digunakan untukkapas bertekstur liat dengan kandungan liat di atas 60%. Ketersediaan airdari hujan cukup untuk memenuhi kebutuhan air kapas dan didukung olehkemampuan tanah menyimpan air yang tinggi.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, waktu tanam, periode kering,masa tanam, Jawa TengahABSTRACTCotton planting times in Central JavaClimatic elements particularly rainfall strongly influences successfulprediction of rainfed cotton yield. Rainfall variability varies amongst theseasons. Longterm rainfall data were required for rainfall analysis to getreliable probabilities. The rainfall analysis was done using Markov ChainFirst Order Probability and dryspell probability methods. Initial andconditional probabilities of rainfall for selected amounts (10, 20, 30, 40and 50 mm/week) were analysed. Rainfall probabilities over 60% to have20-30 mm rainfall per week were used to identify cotton planting times.The rainfall data were collected from 31 rainfall stations in Central Java(Grobogan, Wonogiri, Blora, Pemalang, Tegal, and Brebes). The plantingtimes varied from the first week of December to the first week of Januaryfor Grobogan and Wonogiri. The planting times in Blora, Pemalang,Tegal, and Brebes ranged from early to late January. The majority of landused for cotton has high clay content with high water holding capacitywhich is sufficient to meet the cotton water requirement.Key words : Cotton, Gossypium hirsutum, planting time, dryspell,seasonal pattern, Central Java

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue