cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009" : 7 Documents clear
NGENGAT PARASITOID (Lepidoptera : Epipyropidae) PADA WERENG PUCUK METE DI PERTANAMAN JAMBU METE DI PULAU LOMBOK BAMBANG SUPENO; DAMAYANTI BUCHORI; PUDJIANTO PUDJIANTO; UTOMO KARTOSUWONDO; CHRISTIAN H. SCHULZE
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.16-23

Abstract

ABSTRAKWereng pucuk mete, Sanurus indecora (Homoptera : Flatidae),merupakan hama utama tanaman jambu mete di pulau Lombok. Berbagaicara pengendalian telah dilakukan baik secara kimiawi maupun biologi.Pengendalian biologis yang telah banyak digunakan adalah pemanfaatandan eksplorasi musuh alami yang mencakup parasitoid, patogen danpredator. Salah satu musuh alami wereng daun (leafhoppers) dan werengpohon (planthoppers) yang masih belum diteliti di Indonesia dan baru 20spesies yang ada di di dunia adalah Epipyropidae. Ektoparasitoid familiEpipyropidae yang berasosiasi dengan imago S. indecora telah ditemukanpertama di Indonesia, khususnya di Pulau Lombok. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengetahui keberadaan ngengat parasitoid pada inang S.indecora pada pertanaman jambu mete di lahan kering Pulau Lombok.Penelitian ini difokuskan pada dua kegiatan utama, yaitu pengambilansampel di lapang dan pengamatan laboratorium. Lokasi penelitian beradadi tiga desa di wilayah Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Bayan.Penelitian dilakukan selama musim kemarau 2007 (Mei hingga Oktober2007) dan musim hujan (November 2007 hingga April 2008) di tiga kebunjambu mete milik petani yang ditanam secara monokultur. Dari penelitianini dapat diberikan beberapa kesimpulan, yaitu : wereng pucuk mete S.indecora berkembang baik pada musim kemarau (April hingga September)dan cenderung menurun pada saat musim hujan (Oktober hingga Maret),dengan populasi tinggi dicapai pada bulan Agustus hingga Oktober 2007.Larva ektoparasitoid Epypiropidae menyerang S. indecora jantan danbetina yang bersifat soliter dan atau gregarius. Laju parasitisasiEpipyropidae pada S. indecora jantan lebih kecil daripada betina, yaituberkisar 5,89 – 12,16% dan betina berkisar 15,23 – 19,23%. LarvaEpipyropidae tidak dapat menekan laju pertumbuhan populasi S. indecoradi pertanaman monokultur jambu mete di pulau Lombok. Denganperkataan lain bahwa semakin tinggi populasi S. indecora semakin rendahlaju parasitisasi yang ditemukan.Kata kunci : Anacardium occidentale, Sanurus indecora, ngengatparasitoid, EpipyropidaeABSTRACTParasitoid moth (Lepidoptera : Epipyropidae) on cashewplanthopper at cashew plantation in LombokSanurus indecora Jacobi is a serious pest attacking cashewplantation in Lombok Island. A number of natural enemies of flatids werefound on cashew plantation such as predator, pathogen, and parasitoid. Allmembers  of  Epipyropidae  (Lepidoptera)  are  ectoparasitoid  onplanthoppers and leafhoppers (Homoptera). The first report onEpipyropidae in Indonesia was documented, in Lombok whereEpipyropidae parasitized S. indecora. Study was conducted to determinethe prevalence of parasitoid moth on S. indecora at Lombok uplandcashew plantations. This experiment was conducted on May 2007 untilApril 2008 in three village areas of Gangga, Kayangan, and Bayandistricts. The results showed that population of Sanurus indecora increasesgradually from April until October (dry season) and decreases fromNovember until March (rainy season), with the highest population occursin August to October. Epipyropidae attacks both male and female of S.indecora J. Parasitation rate of male ranges from 0.38 – 46.00% with anaverage of 8.96%. Parasitation rate of female varies from 8.77 - 38.52%with an average of 17.45%. Epipyropidae is a solitary and or gregariousparasitoid. The parasitation rate was negatively correlated with S. indecorapopulation. The numbers of Epipyropidae larvae were correlated with thenumbers of S. indecora infected.Key words : Anacardium occidentale, Sanurus indecora, parasitoid moth,Epipyropidae
INDUKSI TUNAS TABAT BARITO (Ficus deltoidea JACK) SECARA IN VITRO MENGGUNAKAN BENZIL ADENIN (BA) DAN NAPHTHALENE ACETIC ACID (NAA) NATALINI NOVA KRISTINA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.33-39

Abstract

ABSTRAKTabat barito (Ficus deltoidea Jack), merupakan salah satu tanamanobat yang dikategorikan langka dan digunakan sebagai bahan afrodisiakwanita. Perbanyakan tanaman secara in vitro dilakukan untuk mendapatkanbahan tanaman dalam jumlah banyak. Penelitian bertujuan untukmendapatkan media terbaik tabat barito dan telah dilakukan di laboratoriumkultur jaringan Plasma Nutfah dan Pemuliaan Balittro, pada bulanJanuari sampai dengan Desember 2007. Penelitian ini dilakukan dalam tigatahap, yaitu : 1) respon tunas pada media perbanyakan, menguji mediamultiplikasi tunas dengan media sitokinin tunggal yaitu : MS + BenzilAdenin (BA) 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 mg/l; tahap 2) respon tunas pada mediakombinasi sitokinin dan auksin, yaitu : MS + BA 0,5 mg/l + NAA 0,1mg/l; MS + BA 0,5 mg/l + NAA 0,5 mg/l; MS + BA 1,0 mg/l + NAA 0,1mg/l dan MS + BA 1,0 mg/l + NAA 0,5 mg/l. Tahap 3) Daya multiplikasidan penampilan tunas setelah subkultur pada media yang sama. Masingmasingpercobaan disusun dengan rancangan acak lengkap, dan terdiri atas5 ulangan. Parameter pengamatan meliputi jumlah tunas, tinggi tunas danjumlah ruas serta penampilan visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwapada tahap pertama, penggunaan media MS + BA 0,5 menghasilkanjumlah tunas yang paling banyak dibandingkan yang lain, tetapi tidakberbeda nyata pada jumlah ruas dan tinggi eksplan. Sementara pada tahapdua, jumlah tunas terbaik didapat pada media dengan auksin rendah baikpada kombinasi sitokinin rendah dan tinggi. Sementara untuk jumlah ruasmedia terbaik adalah media dengan konsentrasi BA tinggi yangdikombinasi dengan NAA. Untuk tinggi tunas, media terbaik adalah MS +BA 1,0 mg/l + NAA 0,5 mg/l, tapi ditemukan eksplan yang menguning.Pada tahap ketiga, dari hasil subkultur kembali terlihat bahwa tunas yangbersumber dari pucuk pertumbuhannya baik sementara tunas yang berasaldari ruas ke-2 dan 3 sebagian menguning.Kata kunci : Ficus deltoidea Jack, tunas, induksi, in vitro, BA, NAAABSTRACTIn vitro shoot induction of Mistleteo fig (Ficus deltoideaJack) in Murashige & Skoog (MS) media with addition ofBA and NAAMistleteo fig (Ficus deltoidea) is one of endangered medicinalplants and used for female aphrodisiac. In vitro multiplication of the plantwas done to find a number of shoots. This experiment was conducted intissue culture laboratory of Germplasm and Breeding of IMACRI fromJanuary to December 2007, and aimed to find best media for shootmultiplication. This experiment was carried out in three steps: step 1)shoot respon in multiplication media using single cytokinin : MS + BA(0.5; 1.0; 1.5 and 2 mg/l); step 2) shoot respon in multiplication media ofcombined cytokinin and auxin : MS + BA 0.5 mg/l + NAA 0.1mg/l; MS+ BA 0.5 mg/l + NAA 0.5 mg/l; MS + BA 1.0 mg/l + NAA 0.1 mg/l andMS + BA 1.0 + NAA 0.5 mg/l; and step 3) viability and visualization ofthe shoots after subcultured in the same media. The experiment wasarranged using completely randomized design with 5 replicates. Theparameters observed were of shoots and nodes, shoot height andperformance. The results in the first step showed that MS + BA 0.5 mg/lmedia resulted in the highest number of shoots, but they were notsignificantly different in the number of nodes and shoots height. In thesecond step, highest number of shoots was found using low concentrationof auxin combined with low and high concentration of cytokinin. Bestmedium for number of nodes was MS with high concentration of BAcombined with NAA. For shoot height, the best medium was MS + BA0.1 mg/l + NAA 0.5 mg/l, but the shoots turned yellow. In the third step,after subcultured, the shoots originated from plant tips performed well,however, those taken from second and third inter nodes partially turnedyellow.Key words : Ficus deltoidea Jack, shoot, induction, in vitro, BA, NAA
PENGARUH JENIS DAN TARAF PUPUK ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU PURWOCENG MUHAMAD DJAZULI; JOKO PITONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.40-45

Abstract

ABSTRAKMemenuhi kebutuhan bahan baku simplisia purwoceng (Pimpinellapruatjan) untuk industri jamu, dan mengurangi dampak eksplorasi dihutan sekitar pegunungan Dieng, perlu areal pengembangan purwocengyang baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan taraf dan jenispupuk organik yang optimal untuk peningkatkan produksi dan mutusimplisia purwoceng di KP Gunung Putri, Cianjur yang tanahnya berpasirdengan ketinggian 1.500 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan acakkelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 12 kombinasi jenis dantaraf pupuk organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenispemupukan organik berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhandan produksi biomas tanaman. Pemberian pukan ayam menghasilkanbobot daun, akar, dan total paling baik dibandingkan dengan pukankambing, pukan sapi dan pupuk kompos. Aplikasi pukan ayam dengantaraf yang rendah sebesar 0,24 kg/tanaman atau setara dengan 20 ton/hamempunyai efisiensi pemupukan yang paling tinggi dan tidak berbedanyata dengan aplikasi pemupukan yang lebih tinggi. Kadar sitosterol didalam daun terlihat lebih tinggi dibanding di dalam jaringan akar.Sebaliknya, kadar stigmasterol di dalam akar terlihat lebih tinggidibandingkan di dalam daun. Aplikasi pukan ayam dan pukan sapimenghasilkan kadar sitosterol yang lebih tinggi dibanding aplikasi pukankambing dan pupuk kompos. Sebaliknya, pupuk kompos dan pukankambing menghasilkan kadar stigmasterol yang lebih tinggi dibandingpukan ayam dan pukan sapi. Kondisi agroklimat dataran tinggi GunungPutri, Cianjur cukup sesuai untuk pengembangan baru purwoceng.Kata kunci : Pimpinella pruatjan, pupuk organik, taraf pupuk, produksi,mutuABSTRACTEffect of type and dosage of organic fertilizer(fertilization) on production and quality of pruatjanIn order to fulfill the demands of pruatjan raw materials for jamuindustry, and to minimize negative impact of over exploration of naturalpruatjan plants in the forest surrounding Mount Dieng areas, it is importantto search new plantation areas for the development of such plant. Thisresearch aimed to find out optimal combination of type and dosage oforganic fertilizer for increasing production and quality of pruatjan rawmaterial. A field experiment was conducted at Gunung Putri experimentalstation, Cianjur. The experiment was arranged using randomized blockdesign with four replicates, and the treatment consisted of twelvecombinations of type and dosage of organic fertilizer. The results showedthat type of organic fertilizer significantly affected plant growth andbiomass production. Application of chicken dung produced leaf, root, andtotal fresh and dry weights higher than those of sheep and cow dung, andcompost. The highest fertilization efficiency was found on the applicationof chicken dung at low dosage with 0.24 kg/plant (or equivalent with 20t/ha), however, it was not significantly different with that of higher level offertilizer application. Sitosterol content was slightly higher in leaves thanin roots. On the contrary, stigmasterol and total steroid in pruatjan rootswere higher than those in leaves. Application of chicken and cow dungproduced higher sitosterol content than those of sheep dung and compost.However, application of compost and sheep dung produced higherstigmasterol content than those of chicken and cow dung. Agroclimaticcondition of Gunung Putri highland, Cianjur is well suited for thedevelopment of new pruatjan plantation area.Key words : Pimpinella pruatjan, organic fertilizer, fertilizer level,production, quality
KANESIA 10 - KANESIA 13: EMPAT VARIETAS KAPAS BARU BERPRODUKSI TINGGI EMY SULISTYOWATI; SIWI SUMARTINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.24-32

Abstract

ABSTRAKProgram perbaikan varietas kapas bertujuan meningkatkanproduktivitas dan mutu serat. Sembilan hasil persilangan kapas tahun 1997dan 1998 yang melibatkan dua tetua dari Amerika Serikat (DeltapineAcala 90 dan Deltapine 5690), tiga tetua dari India (LRA 5166, Pusa 1,dan SRT 1), dan satu tetua dari Asia Tengah (Tashkent 2) telah melaluitujuh pengujian di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan SulawesiSelatan untuk menilai potensi produksi, mutu serat, dan tingkat ketahananterhadap beberapa hama di lahan tadah hujan dengan atau tanpa diproteksidengan insektisida. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok(RAK) yang diulang tiga kali dalam kondisi diproteksi ataupun tanpadiproteksi dengan insektisida pada petak-petak percobaan berukuran 40-50m2 dengan jarak tanam (100 x 25) cm. Pengendalian hama pada ulanganulanganyang diproteksi dengan insektisida adalah penambahan insektisidabenih Imidachloprit 10 ml/kg benih dan pengendalian hama H. armigerasebanyak 5-6 kali menggunakan pestisida nabati Organeem (Azadirachtin1%). Hasil pengujian menunjukkan bahwa Kanesia 10 – Kanesia 13mampu berproduksi lebih tinggi apabila diproteksi dengan insektisidadengan potensi produksi berturut-turut 19,32, 21,75, 17,05, dan 21,7%lebih tinggi dari Kanesia 8, dan rata-rata produktivitas berturut-turutadalah 2.457,2, 2.507,3, 2.410,5, dan 2.506,8 kg kapas berbiji per hektar.Kanesia 10 dan Kanesia 11 memiliki kandungan serat berturut-turut 27,2%dan 8,11% lebih tinggi dibandingkan Kanesia 8. Pada rekayasa Kanesia10 - Kanesia 13 ini tidak diperoleh kemajuan genetik yang nyata padaparameter mutu serat, akan tetapi mutu serat dari empat galur tersebut diatas memenuhi kriteria industri tekstil yaitu dengan rata-rata karakteristikmutu serat yaitu panjang serat 26,92 – 29,34 mm, kekuatan 27,13 – 29,50g/tex, kehalusan 4,38-5,08 micronaire, dan keseragaman serat 83,3 –84,6%.Kata kunci : Gossypium hirsutum, kemajuan genetik, produktivitas, mutuseratABSTRACTKanesia 10- Kanesia 13: Four New High Yielding Cotton VarietiesThe cotton breeding program is focusing on the increase ofproductivity and fiber properties. The 1997 and 1998 crossing programinvolving two parents introduced from the United States of America(Deltapine Acala 90 and Deltapine 5690), three parents introduced fromIndia (LRA 5166, Pusa 1, and SRT 1), and one variety originated fromCentral Asia (Tashkent 2), have resulted in nine crosses which had beentested in seven locations at East Java, West Nusa Tenggara, and SouthSulawesi to evaluate their yield potentials, fiber properties, and resistancelevel to insect pests on rainfed areas with or without protection.Experiments were arranged in randomized block design (RBD) with threereplications either with or without insecticide spray on 40-50 m2 plots with(100 x 25) cm planting space. Insect controls were done by treating cottonseed with 10 ml Imidachloprit per kg seed and 5-6 applications ofbotanical pesticide Organeem (Azadirachtin 1%). Experimental resultsshowed that Kanesia 10-Kanesia 13 yield better when insects arecontrolled. Their yield potentials are 19.32, 21.75, 17.05, and 21.7%higher than Kanesia 8, respectively, and means of yield are 2,457.2,2,507.3, 2,410.5, and 2,506.8 kg seed cotton, respectively. Kanesia 10 andKanesia 11 have 27.2 and 8.11% higher gin turnout, respectively thanKanesia 8. On the engineering of Kanesia 10-Kanesia 13, there is noimprovement on the fiber properties, although they meet the textileindustries’ criteria i.e. staple length 26.92 – 29.34 mm, fiber strength 27.13– 29.50 g/tex, fiber fineness 4.38-5.08 micronaire, and uniformity ratio83.3 – 84.6%.Key words : Gossypium hirsutum, genetic improvement, productivity,fiber properties
KARAKTERISTIK FISIOLOGI ISOLAT Pleurotus spp. ACHMAD ACHMAD; ELIS NINA HERLIYANA; OSICA ASNO FERINA YURTI; ANANG PRANOTO HIDAYAT
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.46-51

Abstract

ABSTRAKStudi in vitro tentang karakteristik fungi isolat Pleurotus spp. telahdilaksanakan di Bogor dari bulan Juli sampai Agustus 2004. Penelitianmenggunakan rancangan faktorial dalam rancangan acak lengkap danbertujuan untuk mempelajari pengaruh media, temperatur inkubasi dan pHmedia terhadap 6 isolat Pleurotus sp. Karakter lain yang juga dipelajariadalah kemampuan untuk mengoksidasi asam tanat dan asam galat dalammedia agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pleurotus isolat sp.6dan sp.8 tumbuh baik pada media MPA, isolat Pleurotus sp.1, 3 dan 4pada media MEA dan isolate sp.2 pada media PDA. Kecuali isolat sp.8,isolat lainnya tidak dapat tumbuh pada temperatur 10 dan 35 o C. Pertum-buhan isolat sp.8 terbaik dibandingkan isolat lainnya pada semuatemperatur. Diameter koloni isolat lainnya hanya mencapai 0,2 – 2,33 cm.Pertumbuhan isolat sp.8 juga terbaik pada semua pH media diikuti isolatsp.6 kemudian isolat sp.4. Semua isolat menunjukkan reaksi oksidasipositif pada agar asam tanat dan asam galat yang ditunjukkan oleh warnacoklat pada media yang melingkari koloni.Kata kunci : Pleurotus spp, media, temperature, pH, oksidasi, asam tanat,asam galatABSTRACTPhysiological Characteristics of Pleurotus spp. IsolatesPhysiological characteristics of some Pleurotus sp. isolates werestudied in vitro, from July until August 2004 in Bogor. Experiments tostudy the effect of kind of media, temperature of incubation room, and pHof medium on six isolates of Pleurotus sp. were arranged in factorialrandomized complete design and replicated three times with colony in apetri dish as experimental units. Another physiological character studiedwas the ability to oxidize tannic and gallic acids in agar medium. Resultsshowed that isolates Pleurotus sp.6 and -8 grew better in MPA medium,Pleurotus sp.1, -3, and -4 in MEA, and Pleurotus sp.2 in PDA. ExceptPleurotus sp.8, other isolates could not grow in incubation roomtemperature of 10 and 35 o  C. The growth of Pleurotus sp.8 was the bestamong the isolates in all temperature levels. Other isolates grew poorly in20 and 29o C with diameter range was 0.2 – 2.33 cm. The growth ofPleurotus sp.8 was also the best in all pH medium levels, followed byPleurotus sp.6, and then Pleurotus sp.4. All isolates showed positiveoxidative reaction on tannic and gallic acid agar indicated by brown colorof the medium around the colony.Key words: Pleurotus spp., medium, temperature, pH, oxidation, tannicacid, gallic acid
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS DAN KORELASI ANTAR KARAKTER KUANTITATIF NILAM (Pogostemon sp.) HASIL FUSI PROTOPLAS BUDI MARTONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.9-15

Abstract

ABSTRAKFusi protoplas merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukanuntuk meningkatkan keragaman genetik pada tanaman nilam. Pendugaanparameter genetik nilam hasil fusi protoplas nilam Jawa (Girilaya) dengannilam Aceh (Sidikalang dan TT 75) adalah penting dalam programpemuliaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik,heritabilitas, korelasi fenotipik dan genotipik beberapa karakter kuantitatifhibrida somatik nilam hasil fusi protoplas. Penelitian dilakukan di KP.Cimanggu Balittro dari bulan Juli-Desember 2004. Rancangan percobaanyang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 33 genotipeyang terdiri dari 3 tetua dan 30 klon hibrida somatik sebagai perlakuan dandiulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabangprimer, jumlah daun per cabang primer dan tebal daun mempunyaikeragaman genetik yang sempit, sedangkan tinggi tanaman, panjangcabang primer, jumlah dan panjang cabang sekunder, panjang dan lebardaun, panjang tangkai daun, produksi terna basah dan kering keragamangenetiknya luas. Heritabilitas tinggi tanaman, panjang cabang primer,panjang cabang sekunder, panjang dan lebar daun, panjang tangkai daun,produksi terna basah dan kering bernilai tinggi. Sedangkan karakter jumlahcabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah daun per cabang primerdan tebal daun bernilai heritabilitas rendah sampai sedang. Sebagian besarkarakter yang diamati memiliki keragaman genetik luas dan heritabilitastinggi, kecuali jumlah cabang primer, jumlah daun per cabang primer dantebal daun. Korelasi fenotipik dan genotipik positif dan nyata terhadapproduksi terna kering ditunjukkan oleh karakter tinggi tanaman, jumlahcabang primer, panjang cabang sekunder, panjang dan lebar daun, panjangtangkai daun serta produksi terna basah.Kata kunci: Pogostemon sp., fusi protoplas, parameter genetikABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation among quantitativecharacters of patchouli (Pogostemon sp.) derived from protoplastfussionProtoplast fussion is one of the alternatives for increasing geneticvariability of patchouli. Study to estimate genetic parameters of somatichybrids of Pogostemon heyneaneus (cv. Girilaya) x P. cablin (cv.Sidikalang and TT 75) is important in breeding program. Study on geneticvariability, heritability, phenotypic and genetic correlation for somequantitative characters of somatic hybrids of patchouli derived fromprotoplast fussion was conducted in Cimanggu Experimental Garden fromJuly to December 2004. The experiment was arranged in a randomizedcomplete block design with two replications using 33 genotypes consistingof three parents and 30 somatic hybrids as treatments. Results of thisexperiment showed that number of primary branches, number of leaves onprimary branches, and thickness of leaves indicated narrow geneticvariability, while plant height, length of primary branches, number andlength of secondary branches, length and width of leaves, leaf petiolelength, fresh and dry leaves production indicated wide genetic variability.Plant height, length of primary branches, number and length of secondarybranches, length and width of leaves, leaf petioles length, fresh and dryleaves production showed high heritability values. Meanwhile, thecharacters of number of primary and secondary branches, number ofleaves on primary branches and thick of leaves showed moderate to lowheritability values. Most characters observed showed wide geneticvariability and high heritability, except for number of primary branches,number of leaves on primary branches, and thick of leaf. Phenotypic andgenotypic correlations between plant height, number of primary branches,length of secondary branches, length and width of leaves, leaf petiolelength and fresh leaves production with dry leaves production werepositive and significant.Key words: Pogostemon sp., protoplast fussion, genetic parameters
KORELASI DAN ANALISIS LINTASAN BEBERAPA KARAKTER PENTING KOLEKSI PLASMA NUTFAH PIRETRUM (Chrysanthemum cinerariaefolium Trev.) DI KEBUN PERCOBAAN GUNUNG PUTRI EDI WARDIANA; ENNY RANDRIANI; NUR KHOLILATUL IZZAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.1-8

Abstract

ABSTRAKMenganalisis banyak karakter sebagai variabel bebas secaraserempak, dalam analisis lintasan, sering ditemukan kurangnya informasimengenai pengaruh (hubungan) yang diharapkan, di samping adanya efekmultikolinieritas. Kendala seperti ini dapat dikurangi melalui teknikanalisis secara bertahap dan seleksi variabel bebas dengan metodestepwise. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakter-karakterpenting 83 klon tanaman piretrum dilakukan di KP. Gunung Putri, Cianjur,pada ketinggian tempat 1.400 m dpl dan jenis tanah Andosol, mulaiJanuari sampai Desember 2007. Penelitian dilakukan dengan caramengamati secara langsung 83 klon koleksi plasma nutfah piretrum di KP.Gunung Putri yang ditanam pada Januari 2007 dengan jarak tanam 30 cmx 40 cm. Contoh tanaman sebanyak 5 tanaman tiap klon ditentukan secaraacak sederhana, sehingga seluruhnya berjumlah 415 contoh. Analisislintasan  dilakukan  secara  bertahap  disesuaikan  dengan  siklusperkembangan tanaman, dan kemudian dilakukan konfirmasi modeldengan metode SEM (structural equation modelling). Variabel bebasdiseleksi dengan menggunakan metode stepwise. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa : (1) terdapat tiga karakter penting untuk seleksitanaman piretrum pada stadia dini yaitu : karakter jumlah anak daun/phn,jumlah anakan/phn, dan tinggi tanaman, sedangkan untuk seleksi padastadia lanjut dapat dilakukan terhadap karakter panjang bunga pita, dan (2)untuk tujuan hasil bunga segar yang tinggi, seleksi positif sebaiknyadilakukan terhadap karakter jumlah anak daun/phn dan jumlahanakan/phn, sedangkan seleksi negatif sebaiknya dilakukan terhadapkarakter tinggi pohon dan panjang bunga pita.Kata kunci : Chrysanthemum cinerariaefolium Trev., korelasi, analisislintasan, SEM.ABSTRACTCorrelation and path analysis of several important characters ofPyrethrum (Chrysanthemum cinerariaefolium Trev.) germplasmcollection in Gunung Putri Experimental StationIn path analysis simultaneously analyzing many characters asindependent variable often causes misinformation about expected effect(relation). Effect of multicollinearity often occurs. These constraints canbe decreased by using step by step path analysis and selection ofindependent variable with stepwise method of direct observation. Theexperiment was conducted on the pyrethrum population planted at KP.Gunung Putri, Cianjur, about 1400 m above sea level and Andosol of soiltype from January until December 2007. The research aimed toinvestigate several important characters of 83 clones of pyrethrumgermplasm collection planted in January 2007 with 30 cm x 40 cmplanting distance. The simple random sampling of 5 plants per clone(totally 415 samples), step by step path analysis based on plant growingcycle, confirmed model analyzed by Structure Equation Modelling (SEM),and selection of independent variable with stepwise method were used inthis study. Result showed that: (1) there are three important characters tobe used in selection program of pyrethrum at early stage i.e.: number ofleaflets/plant, number of tillers/plant, and height of plant. Length ofcorolla is important character for selection at late stage, and (2) for highyield of fresh flower, positive selection was made on number ofleaflets/plant and number of tillers/plant, and negative selection was doneon plant height and length of corolla.Key words : Chrysanthemum cinerariaefolium Trev., correlation, pathanalysis, SEM

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue