cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009" : 6 Documents clear
PENYIMPANAN IN VITRO TANAMAN PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) MELALUI APLIKASI PENGENCERAN MEDIA DAN PACLOBUTRAZOL I. ROOSTIKA; R. PURNAMANINGSIH; I. DARWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n2.2009.84-90

Abstract

ABSTRAKPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) adalah tanaman obatlangka asli Indonesia yang dikategorikan hampir punah. Konservasi in situtidak dapat diandalkan karena rusaknya habitat alami (hutan konservasi),sedangkan konservasi ex situ di lapang menghadapi kendala karenapurwoceng sulit dibudidayakan di luar habitat aslinya. Dengan demikian,konservasi in vitro merupakan alternatif yang dapat diterapkan untukmenghindari kepunahan tanaman purwoceng. Tujuan penelitian untukmengetahui efek dari kombinasi perlakuan pengenceran media dankonsentrasi paclobutrazol terhadap pertumbuhan kultur purwoceng, dayaregenerasi dan stabilitas genetik pasca penyimpanan. Penelitian dilakukanpada tahun 2004 di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian danPengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogorselama 9 bulan. Bahan tanaman yang digunakan bersumber dari koleksitanaman purwoceng di Kebun Percobaan Gunung Putri, Balai PenelitianTanaman Rempah dan Obat. Kegiatan penelitian mencakup: (1)Perbanyakan tunas in vitro purwoceng sebagai sumber eksplan denganmenggunakan regenerasi, yaitu media DKW + BA 1 ppm + Thidiazuron0,2 ppm + arginin 100 ppm, (2) Penyimpanan in vitro tunas purwocengdalam media DKW (1, ½, dan ¼ dosis) + paclobutrazol (0, 1, 3, dan 5ppm), (3) Regenerasi kultur purwoceng pasca penyimpanan in vitro padamedia regenerasi, dan (4) Evaluasi karakter sitologi kultur yang telahdisimpan melalui penghitungan jumlah kloroplas sel penjaga stomata.Rancangan percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan acaklengkap dengan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanyainteraksi yang nyata antara pengenceran media dan konsentrasipaclobutrazol. Periode simpan kultur tidak dapat diperpanjang lebih dari 4bulan karena paclobutrazol mempunyai pengaruh penghambatan pertum-buhan yang sangat kuat sehingga sebagian besar kultur purwoceng mati.Efek residu paclobutrazol masih tampak pada jangka waktu lebih dari 4bulan pada tahap pemulihan, ditandai dengan adanya penampilan roset.Pengamatan ciri sitologi melalui penghitungan jumlah kloroplas selpenjaga stomata menunjukkan bahwa penggunaan paclobutrazol tidakmenyebabkan perubahan tingkat ploidi. Disimpulkan bahwa paclobutrazoltidak sesuai digunakan untuk penyimpanan in vitro purwoceng karenamenyebabkan pertumbuhan yang abnormal (roset) sekalipun pada tahapregenerasi pasca penyimpanan. Selanjutnya disarankan untuk mengguna-kan regulator osmotik, yang mampu meningkatkan potensi osmotik dalammedia dan memperlambat penyerapan nutrisi sehingga masa simpankemungkinan dapat diperpanjang tanpa menyebabkan pertumbuhan yangabnormal pada tahap regenerasi pasca penyimpanan.Kata kunci : Pimpinella pruatjan Molk., penyimpanan in vitro, pengen-ceran media, dan paclobutrazolABSTRACTPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.) is an Indonesian medicinalplant categorized as endangered plant. In situ conservation is quiteimpossible since conservation forest has been damaged whereas ex situconservation in the field is difficult because the plant needs specificagronomical condition. In vitro conservation is therefore the only choice tobe applied. The objectives of the study were to find out the effects ofcombined  treatment  between  media  dilution  and  paclobutrazolconcentration to the growth of pruatjan cultures, the genetic regenerationand stability after preservation. The research was conducted at the TissueCulture Laboratory, the Indonesian Center for Agricultural Biotechnologyand Genetic Resources Research and Development for 9 months. The plantmaterials were taken from Gunung Putri. The activities included: (1)Propagation of in vitro shoots as explants source in DKW media + 1 ppmBA + 0.2 ppm Thidiazuron + 100 ppm arginin, (2) Preservation of in vitroshoots of pruatjan on DKW (full, half, and quarter strength) +paclobutrazol (0, 1, 3, and 5 ppm), (3) Regeneration of the cultures after invitro preservation, and (4) Evaluation of cytological character of preservedcultures through chloroplast guard cells counting. The experiment wasarranged factorially in Completely Randomized Design with 6replications. The result revealed that there was no interaction betweenmedia dilution and paclobutrazol concentration. Preservation period couldnot be prolonged more than 4 months because this compound stronglyinhibited the growth so that almost none of them could survive longer. Theresidual effect of paclobutrazol was still appeared more than 4 months inregeneration phase assigned by rossette performances. Observation ofcytological character through chloroplast guard cells counting revealedthat paclobutrazol could not change ploidy level of preserved pruatjancultures. It was concluded that paclobutrazol is not suitable for in vitropreservation of pruatjan since it causes abnormal growth on regenerationstep after preservation. Thus, it was suggested to use osmotic regulatorwhich can increase osmoticum potential in media and decrease nutritionabsorption so that preservation period may be prolonged without abnormaleffect on regeneration step after preservation.Key words: Pimpinella pruatjan Molk., in vitro preservation, mediadilution, and paclobutrazol
PERBAIKAN VARIETAS UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN MUTU SERAT KAPAS EMY SULISTYOWATI; SIWI SUMARTINI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN; SRI RUSTINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n2.2009.66-76

Abstract

ABSTRAKPersilangan kapas yang dilakukan pada tahun 1999 denganmelibatkan 11 varietas kapas sebagai tetua betina dan lima varietas kapassebagai tetua jantan telah menghasilkan 22 set persilangan kapas. Adapuntujuan persilangan tersebut adalah untuk meningkatkan produktivitas danmutu serat varietas kapas nasional Indonesia. Program perbaikan varietasini menggunakan pendekatan seleksi pedigree pada F3, dan dilanjutkandengan seleksi galur pada generasi F5 dan selanjutnya. Pada kegiatanseleksi galur tahun 2004-2005 di Kebun Percobaan Asembagus, dari 22genotipe generasi F4 yang diseleksi dengan kriteria seleksi produktivitas >3 ton kapas berbiji/ha telah dihasilkan 23 galur harapan. Pada generasi F6dilakukan uji daya hasil dari 23 galur tersebut. Dari pengujian daya hasilgalur-galur tersebut pada tahun 2006, telah dihasilkan enam galur harapanyang memiliki tingkat produktivitas secara statistika tidak berbeda denganatau lebih tinggi dari Kanesia 8 dengan panjang serat > 1,16 inch, kekuatanserat > 30,77 g/tex, dan kehalusan serat antara 3,5 – 4,5 mic, yaitu99004/5, 99005/9, 99013/5, 99023/5, 99023/7, dan 99023/8. Galur-galurtersebut selanjutnya akan diuji secara multilokasi untuk menilai stabilitasekspresi genetiknya di beberapa wilayah pengembangan kapas.Kata kunci : Gossypium hirsutum, kapas, produktivitas, mutu seratABSTRACTVarietal Improvement for Increase of Productivity andQuality of Cotton Fiber Cotton breeding conducted since 1999 involving 11 varieties asfemale parent, and five varieties as male parents has resulted in 22crossing sets. The aim was to improve productivity level as well as fiberquality of national cotton varieties of Indonesia. The breeding approachwas accomplished by pedigree selection on F3 generation, which was thencontinued with line selection from F5 generation. From the line selectionactivity carried out at Asembagus Experimental Station during 2004-2005,out of 22 genotypes selected at the F4 generation based on productivitylevel of > 3 ton seed cotton/ha as selection criteria, 23 promising lines hadbeen selected which were then tested in a yield potential test. From theyield potential test conducted in 2006, six promising lines had beenselected whose productivity levels were statistically not different from orhigher than Kanesia 8 with fiber length of >1.16 inch, fiber strength>30.77 g/tex, and fiber fineness 3.5-4.5 mic. Those promising lines wouldthen be tested in multilocation trials to evaluate the stability of theirgenetic expression in several cotton development areas.Key words : Gossypium hirsutum, cotton, productivity, fiber properties
DAMPAK EKONOMI DAN KEBERLANJUTAN PENERAPAN PENGELOLAAN KELAPA TERPADU DI KABUPATEN MINAHASA UTARA RONALD T.P. HUTAPEA; ELSJE T. TENDA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n2.2009.91-99

Abstract

ABSTRAKAkselerasi adopsi teknologi pengelolaan kelapa terpadu merupakankegiatan yang dilakukan untuk mempercepat diseminasi teknologi danmengevaluasi model yang telah dikembangkan oleh Balitka di DesaKaleosan,  Kabupaten  Minahasa  Utara  pada  tahun  2004-2006.Pengumpulan data menggunakan metode survei dan dilaksanakan padabulan November 2006. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristikpetani, tingkat penerapan teknologi, serta usahatani. Penelitian inibertujuan untuk memperoleh informasi (1) tingkat adopsi dan difusiteknologi anjuran, (2) dampak teknologi terhadap pendapatan petani, dan(3) keberlanjutan organisasi kelompok tani. Hasil penelitian menunjukkanbahwa tingkat adopsi dan difusi teknologi pembibitan kelapa dan tanamansela jagung direspon cukup baik, dengan kisaran tingkat adopsi dan difusiteknologi sebesar 57,33-70,33. Kegiatan integrasi kelapa dengan ternakbabi serta pengolahan VCO tidak terjadi proses difusi, walaupun tingkatadopsi pada kelompok tani cukup tinggi dengan kisaran 60,00 – 85,33.Dampak ekonomi dari penerapan teknologi anjuran tanaman sela danpengaruhnya terhadap produktivitas kelapa menunjukkan dampak yangpositif, dengan nilai kelayakan finansial BCR dan MBCR >1. Dampakkeberlanjutan organisasi kedua kelompok tani berada pada kelompokberkembang.Kata kunci : Kelapa, sistem usahatani, adopsi teknologi, percepatanABSTRACTAcceleration of management technology adoption ofintegrated coconut in North Minahasa regionIntegrated coconut management technology is a disseminationmodel to accelerate technology adoption in Kaleosan Village, NorthMinahasa in year 2004 – 2006. The research used survey method and wasconducted in November 2006. The data collected included farmers’characteristic, level of technology implementation, and farming systemanalysis. The purpose of this research was to gather information about (1)adoption and diffusion level of recommended technology, (2) impact oftechnology toward farmers’ income, (3) and the continuation of farmers’organization. The research result showed that the adoption stage ofcoconut seedling technology and corn intercropping was responded fairlywith the adoption stage and technologi diffusion of 57.33 – 70.33. Thediffusion process did not happen in the activity of coconut integration withpig cattle and VCO processing, eventhough the adoption stage of farmersgroup was relatively high, about 60.00 – 85.33. Economic impact ofrecommended intercropping technology application and the effect oncoconut productivity showed a positive result, with the BCR and MBCRvalues of > 1. The continuity of both farmers groups has been still indeveloping level.Key words : Coconut, farming system, technology adoption, integration
VARIASI KETAHANAN GENOTIPE KENAF (Hibiscus cannabinus L.) TERHADAP NEMATODA PURU AKAR (Meloidogyne incognita) UNTUNG SETYO-BUDI; SUDJINDRO SUDJINDRO; R. D. PURWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n2.2009.60-65

Abstract

ABSTRAKNematoda puru akar (Meloidogyne sp.) merupakan penyakit yangtergolong penting dan banyak menyerang pertanaman kenaf di lahanpengembangan maupun pembenihan, sehingga banyak menimbulkankerugian bagi petani karena terjadi penurunan produktivitasnya. Tanamankenaf (H. cannabinus) umumnya tidak tahan nematoda, namun kerabatdekat kenaf dari jenis liar seperti H. radiatus (radiatus) diketahuimengandung gen ketahanan terhadap nematoda. Persilangan inter spesifikantara kenaf dan radiatus yang beda spesies, diharapkan akan dapatmentransfer gen ketahanan dari radiatus ke kenaf, sehingga diperolehvarietas unggul kenaf yang tahan nematoda. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui variabilitas genetik sifat ketahanan tanaman kenafterhadap serangan M. incognita pada F1 dibandingkan dengan keduatetuanya. Kegiatan persilangan interspesifik antara kenaf (H. cannabinus)dan radiatus (H. radiatus) dilakukan di KP. Karangploso Malang padaTahun 2002, sedangkan uji ketahanan nematoda puru akar (M. incognita)terhadap keturunan dan kedua tetuanya dilaksanakan di Desa Kendalrejo,Kabupaten Blitar pada bulan Februari s/d Agustus 2003. Pengujianketahanan di lapang dilakukan menggunakan metode baris tanpa ulanganpada jarak tanam 20 x 20 cm, dengan perlakuan terdiri dari lima set hasilpersilangan dan kedua tetuanya yakni 20 populasi F1, 20 populasi P1 dan20 populasi P2, dengan masing-masing populasi 20 tanaman. Hasil ujitanah di laboratorium menunjukkan bahwa rata-rata kandungan larva M.incognita (sebagai populasi awal) adalah sebesar 96 ekor/100 ml tanahdan dikategorikan sangat tinggi. Sedangkan hasil identifikasi sidik pantat(berdasarkan perenial patternnya) terhadap larva betina dewasa diketahuibahwa jenis nematoda di lokasi penelitian adalah dari spesies Meloidogyneincognita. Pengamatan dan perhitungan larva M. incognita dilakukan diLaboratarium Hama dan Penyakit Balittas, Malang. Pengamatan dilakukanterhadap jumlah puru akar per tanaman, kerusakan akar tanaman, danpopulasi larva M. incognita dalam tanah sebagai faktor R (R = reproduksilarva). Untuk menggolong-golongkan tingkat ketahanan terhadap M.incognita digunakan metode Zeck melalui indeks kerusakan akar. Darihasil penelitian menunjukkan bahwa, semua keturunan F1 dari 5persilangan interspesifik antara KR 6 x Kal II, KR 11 x Kal II, KR 12 xKal II, Hc G-1 x Kal II, dan Hc G-51 x Kal II tidak ada yang tahanterhadap serangan M. incognita. Nilai ketahanan genotipe F1 terletak diantara tetua jantan (Kal II/ radiatus) yang tahan dan tetua betina (kenaf)yang sangat rentan.Kata kunci : Hibiscus cannabinus L., interspesifik, variabilitas genetik,ketahanan, Meloidogyne incognitaABSTRACTResistance variability of kenaf (Hibiscus cannabinus L.)genotypes to root-knot nematode (Meloidogyne incognitaL.)Root Knot Nematode (Meloidogyne incognita) is an importantdisease on kenaf plantation in the development area and its nursery. Thiscondition generates reduce of productivity and loss of farmers’ income.Kenaf plants are generally not resistant to nematode infestation, so theyneed resistant gene from other species (H. radiatus) to be transfered to H.cannabinus by interspecific hybridization. The objective of this researchwas to obtain genetic variability of kenaf resistance to Meloidogyneincognita attact. Interspecific hybridization between H. cannabinus and H.radiatus was conducted at KP Karangploso, Malang in 2002. Meanwhile,evaluation of F1 lines and their parents to M. incognita resistance wasconducted at Kendalrejo, Blitar on February to August 2003. In this area,the type of soil is medium fertile-light-sandy soil containing high densitiesof root-knot nematode larvae. Five sets of F1 resulted from hybridizationbetween H. canabinus and H. radiatus and their parents were planted in arow method without replication. Subsequently, these seeds were used asthe materials in this study. The observation and evaluation of these larvaewas performed at the Phytopathology Laboratory of the IndonesianTobacco and Fiber Crops Research Institute, Malang. The preliminaryresult showed that the average of the initial population was 96 larvae per100 ml of soil, which is categorized as a very high larvae content.Furthermore, the identification to the adult female larvae (perennial patternmethod) showed that the root-knot nematode found in the location ischaracterized as M. incognita. Parameters observed were total number ofgall per plant, degree of root damage, and populations of M. incognitalarvae in the soil as a R-factor (R = larvae reproduction). The degree ofresistance to M. incognita are analyzed according to Zeck method usingroot damage index. Results of this research are : all F1 from fiveinterspesific hybridization between KR 6 x Kal II, KR 11 x Kal II, KR 12x Kal II, Hc G-1 x Kal II, and Hc G-51 x Kal II are still more sucseptiblecompared to their male parent (Kal II) which is resistant to root-knotnematode.Key words : Hibiscus cannabinus L., interspecific, genetic variability,resistance, Meloidogyne incognita
DAYA HASIL GALUR-GALUR KENAF DI LAHAN PODSOLIK MERAH KUNING MARJANI MARJANI; SUDJINDRO SUDJINDRO; R. D. PURWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n2.2009.53-59

Abstract

ABSTRAKSerangkaian penelitian yang bertujuan untuk memperoleh galur-galur kenaf yang mampu beradaptasi dan menghasilkan serat yang tinggidi lahan Podsolik Merah Kuning (PMK) telah dilaksanakan mulai tahun2003 sampai dengan 2005. Sebanyak 13 galur kenaf dan 2 varietaspembanding diuji dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan yangdilaksanakan di 4 lokasi di Propinsi Kalimantan Timur, yaitu di Lempake(Kota Samarinda), Samboja (Kab. Kutai Kartanegara), Makroman (KotaSamarinda), dan Empas (Kab. Kutai Barat). Pemeliharaan dilakukan sesuaistandar pada masing-masing lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwadari 13 galur kenaf yang diuji diperoleh 2 galur yang memiliki daya hasilserat tinggi dan beradaptasi luas di lahan PMK, yaitu galur 85-9-66-2 dan85-9-66-1 BB. Kedua galur tersebut mampu menghasilkan serat keringlebih tinggi dibanding varietas pembanding (KR 4 dan KR 11). Galur 85-9-66-2 memiliki rata-rata hasil serat 1,48 t/ha (meningkat 29,17% terhadapKR 4 dan 20,11% terhadap KR 11); dan galur 85-9-66-1 BB memilikirata-rata hasil serat 1,405 t/ha (meningkat 26,62% terhadap KR 4 dan17,73% terhadap KR 11).Kata kunci : Hibiscus cannabinus L., stabilitas, adaptasi, podsolik merahkuningABSTRACTStability and adaptation of kenaf lines in yellow red podsolic soilA series of research to obtain some kenaf lines adaptable and highin fiber yield was conducted on yellow red podsolic soil from 2003 to2005. The 13 kenaf lines and 2 check varieties were tested in fourlocations of East Kalimantan Province, i.e. Lempake (Samarinda District),Samboja (Kutai Kartanegara District), Makroman (Samarinda District),and Empas (Kutai Barat District). The field experiment was arranged inrandomized complete block design with three replications. The resultsshowed that there were 2 kenaf lines that are high in fiber yield and widelyadapted on red yellow podsolic area, i.e. line 85-9-66-2 and 85-9-66-1 BB.Both lines are capable to produce higher fiber yield compared to checkvarieties (KR 4 and KR 11). The line 85-9-66-2 has average of fiber yield1.48 t/ha (increases 29,17% to KR 4 and 20,11% to KR 11); and line 85-9-66-1 BB has average of fiber yield 1,405 t/ha (increases 26,62% to KR4 and 17,73% to KR 11).Key words : Hibiscus cannabinus L., stability, adaptation, yellow redpodsolic
KETAHANAN BEBERAPA LADA HASIL PERSILANGAN TERHADAP Phytophthora capsici ASAL LADA WAHYUNO, DONO; MANOHARA, DYAH; T. SETIYONO, RUDI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n2.2009.77-83

Abstract

ABSTRAKBusuk pangkal batang (BPB) lada yang disebabkan oleh cendawanPhytophthora capsici merupakan masalah utama pada budidaya lada diIndonesia. Penyakit ini telah ditemukan di semua areal produksi lada diIndonesia. Sampai saat ini, saran pengendalian yang dianjurkan adalahpengendalian secara terpadu untuk mengurangi kerugian ekonomi akibatpenyakit ini. Akhir-akhir ini usaha untuk mendapatkan jenis lada yangtahan dilakukan melalui persilangan. Tujuan penelitian ini adalahmengevaluasi ketahanan F1 yang diperoleh dari persilangan beberapatetua. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca, BalaiPenelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, dari Januari sampaiDesember 2005. Dari 400 aksesi hasil persilangan yang ada, dipilih 15aksesi yang menunjukkan hasil yang menjanjikan pada uji pendahuluan.Tiga isolat Phytophthora yang menunjukkan virulensi yang berbedadigunakan sebagai isolat uji. Di laboratorium, helaian daun ke-3 dan 4diambil dari tiap aksesi dan diletakkan dalam kotak yang telah diberi tissuebasah untuk menjaga kelembapannya. Inokulasi secara buatan dilakukandengan meletakkan potongan koloni masing-masing isolat Phytophthorapada permukaan bawah daun. Luas nekrosa yang terbentuk pada masing-masing aksesi diukur dengan leaf area meter setelah diinkubasi selama 72jam. Percobaan di rumah kaca dilakukan dengan cara menyiramkansuspensi zoospora sebanyak 50 ml pada bibit lada dari masing-masingaksesi yang telah berumur 4 bulan. Jumlah tanaman yang mati dihitungsetelah diinkubasi selama 1 bulan. Data hasil pengukuran luas serangandianalisis dengan rancangan faktorial dengan dua faktor untuk duakegiatan di atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksiyang nyata antara aksesi dengan isolat Phytophthora yang digunakan, baikpengujian in vitro maupun rumah kaca. Sembilan aksesi menunjukkankerusakan kurang dari 20% saat di laboratorium maupun di rumah kaca,dan aksesi 27-1, 36-31, dan 4-5L menunjukkan kerusakan kurang dari10%. Persilangan lebih lanjut perlu dilakukan pada aksesi-aksesi tersebutuntuk mendapatkan keturunan yang mempunyai ketahanan lebih baik danstabil.Kata kunci : Piper nigrum L., Phytophthora, ketahanan, persilanganABSTRACTResistance of Black Pepper Accessions to Phytophthora capsiciFoot rot disease of black pepper caused by Phytophthora capsici ismain constraint in black pepper cultivation in Indonesia. The diseasespread widely over all pepper producing areas in Indonesia. Integratedpest managements are suggested to reduce the economic loss due to thedisease. Recently, breeding program has been developed in Indonesiathrough hybridization to find out promising accessions resistant to foot rotdisease. The objective of the present study was to evaluate the resistanceof F1 progenies obtained from polination of various parents to foot rotdisease. Among 400 accessions of black pepper obtained from breedingprogram, 15 accessions were selected based on previous evaluation. ThreePhytophthora isolates were used as tester in the study. The research wascarried out in laboratory and glass house of Indonesian Spice andMedicinal Crops Research Institute, from January to December 2005. Invitro screening was carried out by inoculating detached third and fourthleaves of each accession. The leaves were set in boxes abaxial surfacefacing up, while wet tissue papers were used to retain air humidity in thebox. The lower leaf surface of each pepper accession was inoculated witha piece of Phytophthora colony then incubated in room temperature. Thewidth of necrotic areas was measured with leaf area meter after the leaveswere incubated for 72 hours. Each treatment was replicated 5 times. Ingreen house experiment, 4 month seedlings of each accession wereinoculated with 50 ml of zoospore suspension (10 5  zoospore/ml), replicated3 times, and each replication consisted of 5 seedlings. The number ofinoculated seedlings was counted after one month of incubation. Bothexperiments were arranged using factorial design with two factors: pepperaccession and Phytophthora isolate. There was no significant interactionbetween black pepper accession and the Phytophthora isolates, neither invitro nor green house. Nine accessions showed disease severity less than20%, and accession number 27-1, 36-31, and 4-5L showed disease severitybelow 10% in both experiments. To obtain better progeny resistant to stemrot disease and more stable, it is suggested to continue this pollinationprogram by using those promising accessions.Key words: Piper nigrum L., Phytophthora, resistance, pollination

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue