cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 3 (2010): September 2010" : 6 Documents clear
PENGARUH PUPUK UREA, SP36, DAN KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb) MONO RAHARDJO; EKWASITA RINI PRIBADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.98-105

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sukamulya sejakSeptember 2006 sampai Desember 2007. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui pengaruh pemberian pupuk urea, SP36, dan KCl terhadappertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang temulawak. Perlakuan disusundalam faktorial 3 x 3 yang dilaksanakan dalam rancangan acak kelompokdan diulang 3 kali. Ketiga faktor yang dicoba terdiri atas 3 jenis pupukurea, SP36, dan KCl dengan takaran masing-masing 100, 200, dan 300kg/ha. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 cm x 50 cm, denganpopulasi 40 tanaman/plot. Peubah yang diamati adalah, komponenpertumbuhan meliputi akumulasi biomas, produksi rimpang, mutusimplisia (minyak atsiri, bahan aktif kurkuminoid dan xanthorhizol), dankadar hara N, P dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukanurea sebanyak 300 kg/ha pada tanah dengan status hara N rendahberpengaruh nyata terhadap peningkatan komponen pertumbuhan tanamantemulawak, biomas, hasil rimpang segar, dan simplisia kering pertanaman.Namun perlakuan interaksi dari tiga faktor pupuk urea, SP36, dan KCldengan masing-masing dosis 100, 200, dan 300 kg/ha tidak berpengaruhnyata terhadap produksi rimpang segar. Mutu simplisia yang dihasilkansudah memenuhi standar MMI  ( DEPKES, RI, 1995. Produksi rimpangsegar berkisar antara 20,23 - 25,46 t/ha. Produksi rimpang segar 20,23 t/hadicapai perlakuan pemupukan urea, SP36, dan KCl masing-masing 100kg/ha, yang menyerap 37,41 kg/ha hara N, 15,30 kg/ha hara P, dan146,11 kg/ha hara K. Produksi rimpang segar 25,46 t/ha dicapai perlakuan300 kg/ha urea, 200 kg/ha SP36 dan 200 kg/ha KCl, yang menyerap193,44 kg/ha hara N, 21,05 kg/ha hara P, dan 221,34 kg/ha hara K.Kata kunci : Curcuma xanthorhiza Roxb, produksi, mutu, dan serapanharaABSTRACTEffect of urea, SP36, and KCl fertilizers on plant growthand production of java turmeric (Curcuma xanthorrhizaRoxb)The experiment was conducted in Sukamulya Experimental Stationfrom September 2006 until December 2007. The objective of the researchwas nitrogen, phosphate, potassium uptake to increase plant growth,production and to find out quality of java turmeric. The experiment wasarranged in factorial randomized block design with three replicates, andurea, SP36, and KCl fertilizer dosages were 100, 200, 300 kg/ha. The plantspacing was 75 cm x 50 cm, population was 40 plant/plot, and plot sizewas 3.75 m x 4 m. The first research was done in 2006 to obtain plantgrowth data and the second one was conducted in 2007 aiming to obtaindata on productivity and quality of rhizomes. Parameters observed wereaccumulation of biomass, rhizomes productivity and quality, absorption ofplant nutrition (N, P and K), active compounds (curcuminoid andxanthorhizol). The result showed that fertilizer application of 300 kg/haurea on the soil low in N content was able to increase growth componentof java turmeric, fresh rhizomes, and dry matter of rhizomes per/plant.Combination of the three application factors of urea, SP36, and KCl withdosages of 100, 200, and 300 kg/ha, respectively, did not affect onrhizomes productivity. The quality of rhizomes have fulfilled MMIstandard. The productivity of rhizome varied from 20.23 – 25.46 t/ha.Application of urea, SP36, and KCl with each dosage of 100 kg/haproduced 20.23 t/ha rhizome, which absorbed as much as 137.41 kg N,15.30 kg P, and 146.11 kg K per ha. Application of urea, SP36, and KCl of300, 200, and 200 kg/ha, respectively, produced 25.46 t/ha rhizome, whichabsorbed as much as 193.44 kg/ha N, 21.05 kg/ha P, and 221.34 kg/ha K.Key words : Curcuma xanthorrrhiza Roxb, productivity, quality andnutrien uptake
HASIL DAN STABILITAS HASIL DUA PULUH GENOTIPE JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) SELAMA SEMBILAN BELAS BULAN BERPRODUKSI EDI WARDIANA; DIBYO PRANOWO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.126-133

Abstract

ABSTRAKPengujian interaksi genotipe dengan lingkungan (GxE) serta analisisstabilitas hasil suatu genotipe merupakan hal yang penting dalam programpemuliaan tanaman. Penelitian dengan tujuan untuk menganalisis hasil danstabilitas hasil 20 genotipe tanaman jarak pagar telah dilakukan di KebunPercobaan Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, pada ketinggian tempat 450m dpl dengan jenis tanah Latosol dan tipe iklim B mulai bulan Mei 2008sampai Desember 2009. Rancangan yang digunakan adalah acak kelom-pok lengkap dengan 20 perlakuan genotipe tanaman dan tiga ulangan.Peubah yang dianalisis adalah jumlah buah panen selama 19 bulanberproduksi. Analisis ragam dilakukan secara gabungan antara 20 genotipedengan 19 lingkungan (umur tanaman) dan analisis stabilitas hasilmengikuti metode Eberhart dan Russel (1966). Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa berdasarkan pada hasil jumlah buah panen selama 19 bulanberproduksi terdapat enam genotipe jarak pagar yang dapat diklasifikasi-kan ke dalam genotipe yang berdaya hasil tinggi dan stabil, yaitu PT7,PT13, PT14, PT15, PT33, dan 3189. Sedangkan MT7 dan HS49diklasifikasikan ke dalam genotipe berdaya hasil tinggi tetapi tidak stabil.Kata kunci : Jatropha curcas L., interaksi GxE, hasil, stabilitas hasilABSTRACTYield and yield stability of twenty genotypes of physic nut(Jatropha curcas L.) during nineteen months ofproductionGenotype and environment interaction (GxE) and yield stabilityanalysis of the genotypes is more important in plant breeding program.This experiment was carried out from May 2008 until December 2009 atPakuwon Experimental Station, Sukabumi, West Java with altitude about450 m above sea level, Latosol soil type and B climate type. The objectiveof this experiment was to analyze the yield and yield stability of 20genotypes of physic nut. Randomized complete block design with 20treatments of physic nut genotype and three replications was used in thisstudy, and the variabel observed was number of fruit harvested per month.Data were analyzed by combined analysis of variance and stabilityanalysis using Eberhart and Russel (1966) methods. Result showed thatbased on number of fruit harvested during 19 months production the PT7,PT13, PT14, PT15, PT33 and 3189 were classified as high yielding andstable genotypes. While, MT7 and HS49 were classified as high yieldingand unstable genotypes.Key words : Jatropha curcas L., GxE interaction, yield, yield stability.
UJI PRODUKTIVITAS DAN MUTU TIGA VARIETAS TEMBAKAU ORIENTAL DI INDONESIA SUWARSO SUWARSO; SAMSURI TIRTOSASTRO; TITIEK YULIANTI; SUHARTO SUHARTO; SUSENO SUSENO; M. YASIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.112-118

Abstract

ABSTRAKUntuk memperoleh varietas yang sesuai di Indonesia telahdilakukan pengujian tiga varietas tembakau oriental, yaitu Zichna, XanthiYaka dan Izmir di Desa Rejuno, Dero (Kabupaten Ngawi) danMargomulyo (Kabupaten Bojonegoro). Tipe tanah ketiga desa tersebutberturut-turut adalah lempung, liat, dan lempung berdebu. Pengujiandilakukan pada tiga periode tanam tahun 2007 dan 2008. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tipe tanah berpengaruh terhadap hasil dan indekstanaman, yang terbaik adalah tanah lempung seperti di Desa Rejuno.Berdasarkan hasil, indeks tanaman dan penilaian organoleptik, varietasyang terbaik adalah Zichna, hasilnya rata-rata 2,213 t/ha dan indekstanaman 91,66. Varietas tersebut menghasilkan sensasi iritasi dan impakrendah dan aroma sangat baik. Pada urutan berikutnya adalah varietasXanthi Yaka, hasilnya 1,742 t/ha, indeks tanaman 78,27. Berdasarkan hasilpenelitian tersebut maka kedua varietas tembakau oriental tersebut jugasesuai untuk rokok kretek di Indonesia. Keduanya sesuai ditanam pada tipetanah lempung atau tanah yang banyak mengandung kapur dan pasir.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., tembakau oriental, varietas, IndonesiaABSTRACTProductivity and quality tests of three oriental tobacco varieties in IndonesiaThree oriental tobacco varieties were tested in villages of Rejuno,Dero (Ngawi regency), and Margomulyo (Bojonegoro regency) to find outsuitable variety to grow in Indonesia. Soil types of the three villages wereloam, clay, and silt loam, respectively. The tests were carried out for threeplanting series in 2007 and 2008. Research result showed that soil typesaffected several agronomic characters as well as yield and crop indices.The most suitable soil was silt loam as in Rejuno village. According toyield, crop index, and organoleptic evaluation, Zichna variety was the bestwith yield potential and crop index of 2.213 t/ha and 91.66.Organoleptically, the variety was low irritation and sensation impact andvery good in aroma. The second best variety was Xanthi Yaka with yieldpotential and crop index of 1.742 t/ha and 78.27. This research revealedthat Zichna and Xanthi Yaka varieties were suitable as raw material forclove cigarette. In addition, these two varieties were also well suited to begrown in Indonesia, especially on loamy and sandy soils with large amountof lime.Key words : Nicotiana tabacum L., oriental tobacco, variety, Indonesia
KEMAMPUAN PEMULIHAN AKSESI KAPAS SEBAGAI RESPON TERHADAP KERUSAKAN OLEH KOMPLEKS HAMA PENGGEREK BUAH SECARA SIMULASI IGAA. INDRAYANI; SUJAK SUJAK; DECIYANTO SOETOPO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.106-111

Abstract

ABSTRAKSebagai tanaman indeterminit, kapas (Gossypium hirsutum) mem-perlihatkan pola pertumbuhan yang memungkinkan bertahan darikehilangan sejumlah komponen produksi tanpa kehilangan hasil secaranyata. Dengan kata lain tanaman kapas mampu melakukan pemulihan(recovery) dan kompensasi setelah kerusakan akibat serangan hama.Penelitian tentang kemampuan pemulihan aksesi kapas sebagai responterhadap kerusakan oleh kompleks hama penggerek buah secara simulasiini dilakukan di KP Karangploso, Balai Penelitian Tanaman Tembakaudan Serat, Malang, mulai Januari hingga Desember 2009. Tujuannyaadalah untuk mengetahui kapasitas pemulihan aksesi kapas setelahserangan hama dan kemampuan melakukan kompensasi. Sepuluh aksesikapas, yaitu: (1) L57x1124-81-411, (2) M35-5-2, (3) 40727-2xNL-11-1-73-1, (4) HG10x1209-619-9-76, (5) NC-177-16-C2, (6) 731Nx1656-12-76-2, (7) Stoneville 825, (8) 619-998xLGS-10-77-3-1, (9) NMG 1222, dan(10) NMG-5-2 diuji dalam penelitian ini dengan menggunakan rancanganacak kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Setiap aksesi kapasditanam dalam kantong-kantong plastik berukuran 10 kg dengan duatanaman per kantong. Satu tanaman diperlakukan dengan cara meng-hilangkan seluruh kuncup bunga yang ada setelah tumbuh 9-13 daun padabatang utama yang dilakukan selama 21 hari dengan interval 3 hari.Sedangkan satu tanaman lainnya dibiarkan tumbuh normal (kontrol).Parameter yang diamati adalah: luas daun, bobot kering tanaman, indekspemulihan, jumlah node, tinggi tanaman, luas daun, jumlah kuncup bunga,hasil kapas, dan persentase kompensasi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa tanaman kapas tahan, moderat, dan rentan serangan hama mampumelakukan pemulihan (recovery) dari kerusakan. Berdasarkan luas daun(R L ) dan bobot kering (R B ), setiap aksesi mempunyai indeks pemulihanyang berbeda-beda dan diantaranya ada yang berbeda nyata. Beberapaaksesi dengan kapasitas pemulihan tinggi memiliki tinggi tanaman, jumlahkuncup bunga, dan hasil kapas lebih tinggi dibanding tanaman kontrol.Dampak dari pemulihan juga terlihat pada perbedaan persentasekompensasi. NMG-5-2, Stoneville 825, 731Nx1656-12-76-2, 619-998xLGS-10-77-3-1, 40727-2xNL-11-1-73-1, dan NMG 1222 merupakanaksesi yang dapat melakukan kompensasi melalui penambahan hasil kapas>15% dibanding kontrol, yaitu berturut-turut sebesar 36,6; 34,5; 31,3;26,6; 20,4; dan 19,2%.Kata kunci: Aksesi, indeks pemulihan, kompleks hama, simulasiABSTRACTRecovery ability of cotton accessions as response tosimulated damage by bollwormsAs an indeterminate crop cotton has demonstrated its ability torecover from pest damage over the growing season without significantyield loss. However, it was unclear to what extent can cotton toleratedamage before and after the onset of fruiting. This field study was carriedout at Karangploso Experimental Station of Indonesian Tobacco and FiberCrops Research Institute (ITOFCRI) Malang from January to December2009. The aim was to know the capacity of cotton accessions to recoverafter damage. Ten cotton accesssions as treatment were planted in polybagand were arranged in randomized block design with three replicate. Tenaccessions of cotton used as treatment were: (1) L57x1124-81-411, (2)M35-5-2, (3) 40727-2xNL-11-1-73-1, (4) HG10x1209-619-9-76, (5) NC-177-16-C2, (6) 731Nx1656-12-76-2, (7) Stoneville 825, (8) 619-998xLGS-10-77-3-1, (9) NMG 1222, and (10) NMG-5-2. Each accessionwas plantation in four polybags with two plants in each polybag. One plantin each polybag was damaged manually by removing all squares (100%)for 21 days at a three-day interval, while another plant was as anundamaged control. Parameters observed in this study were leaf area, dryweight of plant, indices of recovery ( R ), number of main-stem nodes, theaverage of plant height, number of square, and yield of cotton. Resultshowed that all accessions showed their ability to recover after damagedand the recovery indices based on leaf area (R L  ) and dry weight (R w )varied among the accessions tested. Accessions with high recovery abilityperformed better plant height, square formation, and cotton yield than thatof undamaged control. Effect of good recovery was resulting in higherpercentage of plant compensation. NMG-5-2, Stoneville 825, 731Nx1656-12-76-2, 619-998xLGS-10-77-3-1, 40727-2xNL-11-1-73-1, and NMG-1222 were accessions with average compensation percentage was greaterthan 15% : 36.6; 34.5; 31.3; 26.6; 20.4; and 19.2%, respectively whencompared with undamaged control.Key words: Accession, indices of recovery, insect complex, simulation
KESESUAIAN TELUR KEPIK KEDELAI UNTUK PEMBIAKAN MASSAL Anastatus dasyni FERR. (HYMENOPTERA: EUPELMIDAE), PARASITOID TELUR KEPIK LADA IWA .M. TRISAWA; A. RAUF; U. KARTOSUWONDO; N. MARYANA; A. NURMANSYAH
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.119-125

Abstract

ABSTRAKAnastatus dasyni Ferr. adalah parasitoid telur kepik lada, Dasynuspiperis China. Penelitian bertujuan mengkaji kesesuaian telur kepikkedelai Riptortus linearis dan Nezara viridula sebagai inang untukpembiakan massal parasitoid A. dasyni. Imago parasitoid A. dasyni yangberasal dari lapangan dipelihara secara terpisah pada telur dari kedua jeniskepik kedelai. Pengamatan dilakukan terhadap biologi A. dasyni yangmeliputi masa perkembangan pradewasa dan berbagai parameter kehi-dupan imago betina. Selain itu, dilakukan analisis neraca hayati denganmenggabungkan data perkembangan dan sintasan pradewasa, masa hidupimago dan reproduksi, serta nisbah kelamin. Hasil penelitian menunjukkanbahwa masa perkembangan larva dan pupa A dasyni pada telur N. viridulalebih singkat serta laju peneluran lebih tinggi dibandingkan pada telur R.linearis. Imago betina A. dasyni yang keluar dari telur N. viridula hanya1,81%, sedangkan dari telur R. linearis sebanyak 70,20%. Oleh karena itu,parameter neraca hayati hanya dapat dihitung dari parasitoid yangdipelihara pada telur R. linearis. Laju pertambahan intrinsik parasitoidadalah (r) 0,1870, masa generasi (T) 27,51 hari, reproduksi bersih (Ro)84,29, laju pertambahan terbatas (λ) 1,21, dan nilai reproduksi (RVx)402,51. Proporsi persebaran usia stabil (px) adalah 17,06% telur, 50,41%larva, 26,53% pupa, dan 6,02% imago. Telur kepik kedelai R. linearisdapat digunakan untuk pembiakan massal A. dasyni.Kata kunci : Anastatus dasyni, Dasynus piperis, Riptortus linearis,Nezara viridula, parasitoid, pembiakan massalABSTRACTSuitability of soybean bug eggs for mass rearing ofAnastatus dasyni Ferr. (Hymenoptera: Eupelmidae), anegg parasitoid of pepper bugAnastatus dasyni Ferr. is an important egg parasitoid of pepper bug,Dasynus piperis China. Research was conducted with the objectives tostudy the suitability of eggs of soybean bugs Riptortus linearis and Nezaraviridula for mass rearing of A. dasyni. Adults of A. dasyni collected fromthe field were inoculated separately on eggs of two species of soybeanbugs. Biological parameters such as immature development and adultlongevity were observed daily. Lifetable parameters were calculated on thebasis of development and survival of immature, reproduction, and sexratio. Our studies revealed that parasitoid developing on Nezara viridulaeggs had shorter larval and pupal development and higher in ovipositionrate than those on Riptortus linearis eggs. However, parasitoids emergedfrom N. viridula eggs only 1.81% were females, while from R. lineariseggs were 70.20%. Therefore, lifetable parameters can only be generatedfrom parasitoid reared on R. linearis eggs. The intrinsic rate of increase (r)mean generation time (T) 0.1870, 27.51 days, 84.29, 1.21, and 402.51respectively net reproductive rate (Ro), finite rate of increase (λ), andreproductive value (RVx). The stable stage distribution (px) were 17,06%eggs, 50,41% larvae, 26,53% pupae, and 6,02% adults. Eggs of soybeanbug R. linearis can be used for mass rearing of parasitoid A. dasyni.Key words : Anastatus dasyni, Dasynus piperis, Riptortus linearis,Nezara viridula, parasitoid, mass rearing
KETAHANAN Pogostemon cablin DAN Pogostemon heyneanus TERHADAP Synchytrium pogostemonis WAHYUNO, DONO; SUKAMTO, SUKAMTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.91-97

Abstract

ABSTRAKSynchytrium pogostemonis merupakan jamur penyebab penyakitbudok pada tanaman nilam (Pogostemon cablin) di Indonesia. Synchytriummempunyai kekhususan inang yang tinggi, sehingga penggunaan varietasyang tahan merupakan komponen pengendalian yang efektif. Di Indonesiaterdapat nilam Aceh (Pogostemon cablin) dan nilam Jawa (Pogostemonheyneanus). Nilam Aceh relatif peka terhadap gangguan penyakit. NilamAceh telah dibudidayakan secara luas di Indonesia karena kandunganminyak nilamnya sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahuiketahanan nilam Aceh dan nilam Jawa terhadap serangan S. pogostemonis.Uji ketahanan dilakukan terhadap nilam Aceh terdiri dari tiga varietasLhokseumawe, Sidikalang dan Tapaktuan, sedangkan nilam Jawa hanyasatu varietas yaitu Girilaya. Inokulasi dilakukan dengan menggunakanpotongan bagian tanaman yang telah terinfeksi sebagai sumber inokulum,yang diletakkan di antara tanaman nilam yang diuji. Pengujian dilakukandi laboratorium dengan menggunakan media air, dan di rumah kacadengan menggunakan media tanah (tanah dan kompos perbandingan 1:1)yang telah disterilisasi. Nilam yang digunakan berupa setek pucuk 4 buku,yang ditanam dengan cara membenamkan buku ke-4 ke dalam media, danmeletakkan buku ke-3 di perbatasan antara media dengan udara, sedangbuku dua dan satu ada di permukaan media. Di laboratorium, untukmenahan agar setek tidak tenggelam ke dalam air, digunakan gabus yangtelah dilubangi sebagai penahan. Setek nilam dimasukkan ke dalam lubanggabus, yang selanjutnya diletakkan pada wadah plastik (berdiameter ± 7,5cm, ± 350 ml yang telah berisi air). Inokulum yang digunakan berupapotongan daun dan batang nilam yang terinfeksi S. pogostemonis seberat2 g per wadah yang diletakkan pada bagian tengah gabus di antara setekyang diuji. Satu wadah berisi tujuh setek dan diulang empat wadah untuksetiap varietas nilam yang diuji. Pada percobaan di rumah kaca, setekditanam dalam kotak (30 x 25 cm 2 ). Setek ditanam dalam baris denganjarak ± 5 antar baris dan ± 1 cm di dalam baris. Di dalam satu kotakterdapat 20 setek dan inokulum yang diaplikasikan sebanyak 40 g perkotak. Kotak yang telah berisi tanaman dan inokulum disungkup plastikselama satu bulan untuk menjaga kelembapannya, kemudian dipindahkanke polybag untuk diinkubasi dan diamati gejalanya. Pengamatan dilakukanpada minggu ke-6 setelah inokulasi untuk uji di laboratorium, dan 16minggu untuk uji di rumah kaca. Hasil pengujian menunjukkan, ketigavarietas nilam Aceh peka terhadap S. pogostemonis yang ditunjukkandengan adanya gejala kutil dengan spora berdinding tebal di dalamnyapada permukaan batang nilam Aceh baik pengujian di laboratoriummaupun rumah kaca. Pada nilam Jawa varietas Girilaya tidak ditemukankutil baik pada pengujian di laboratorium maupun di rumah kaca. Kutilberwarna jernih saat masih muda, berukuran kecil dan berubah berwarnagelap pada stadia lebih lanjut. Kutil banyak terlihat pada batang yangberbatasan dengan permukaan air dan tunas-tunas baru yang keluar daripermukaan tanah. Penelitian ini menunjukkan nilam Aceh peka terhadapS. pogostemonis, dan nilam Jawa tahan terhadap S. pogostemonis sehinggadapat digunakan sebagai sumber ketahanan.Kata kunci: Ketahanan, Pogostemon cablin, Pogostemon heyneanus,S. pogostemonisABSTRACTSynchytrium pogostemonis is an obligate soil borne plant pathogenicfungus and causes a disease named “budok” of patchouli in Indonesia.Synchytrium is well known as a genus of highly host specific plantpathogen, therefore developing a resistant variety is considered as aneffective control measure. In Indonesia, there are two types of patchouliplants, i.e. Pogostemon cablin locally known as Nilam Aceh andPogostemon heyneanus known as Nilam Java or wild Nilam. P. cablin iswidely cultivated because it contains highly patchouli alcohol. However, P.cablin is susceptible to the pathogen. The aim of the current research wasto evaluate the resistance of three released patchouli varieties of P. cablinand a wild species of P. heyneanus. The three patchouli varieties testedwere Lhokseumawe, Sidikalang, and Tapak Tuan of P. cablin; whereas thewild variety was Girilaya of P. heyneanus. The test was conducted inlaboratory and green house using infected stem and leaves of patchouli assource of inoculum. Four nodes healthy cuttings of patchouli plant weregrown in plastic pots and boxes containing water and sterilized soil asplanting media, respectively. In the laboratory experiment, the cuttingswere inserted into hollowed sponge then placed on the surface of water inpots (7.5 cm diameter, and ± 350 ml). The source of inoculum (2 g) wasplaced in center of the pots. In the green house experiment, the cuttingswere planted into sterilized soil (mix of soil and compost in 1:1 ratio) inboxes (30 x 25 cm 2 ). The space between two rows of cuttings was 5 cm,and 1 cm within the row. The source of inoculum was placed between tworows of tested cuttings. The tested plants were covered with plastic bag tomaintain its humidity for one month and then transferred into polybagscontaining sterilized soil. Disease symptom and microscopic examinationswere observed at 6 th and 16 th weeks after inoculation for the laboratory andgreen house experiments, respectively. Results indicated that wartscontaining resting spores of S. pogostemonis were found in all varieties ofinoculated P. cablin, but none in the Girilaya variety of P. heyneanus. Thewarts were minutes, hyaline at immature stage, and darker in advancestage developed on the infected plants surface. The warts were mostlyfound at the base stems close to the surface of media, and also on shootsthat emerge from bellow media surface, both at laboratory and green housetests for P. cablin. There were no warts young on young shoots of Girilayavariety of P. heyneanus. The study concluded that P. cablin is highlysusceptible, but P. heyneanus is resistant to the pathogen, therefore it canbe used as resistant gene source.Key words: Resistance, Pogostemon cablin, Pogostemon heyneanus, S.pogostemonis

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue