cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012" : 6 Documents clear
RESPON LIMA AKSESI JAHE PUTIH KECIL (Zingiber officinale var. Amarum) TERHADAP PEMUPUKAN MUCHAMAD YUSRON; CHEPPY SYUKUR; OCTIVIA TRISILAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.66-73

Abstract

ABSTRAKPenggunaan varietas jahe yang responsif terhadap pemupukan dosisrendah, diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan danmenekan pencemaran lingkungan. Penelitian dengan tujuan untukmengetahui respon lima aksesi jahe putih kecil terhadap pemupukan dosisrendah telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Cimanggu pada bulanAgustus 2009 sampai Mei 2010. Lima aksesi jahe putih kecil dari daerahmarginal ditanam dalam polibag dan disusun menggunakan rancanganacak kelompok yang diulang 3 kali. Setiap perlakuan terdiri atas 20tanaman. Dua perlakuan yang diuji secara faktorial adalah, faktor I adalah5 aksesi jahe putih kecil, yaitu (1) Ziof 0004, (2) Ziof 0007, (3) Ziof 0008,(4) Ziof 0013, dan (5) Ziof 0014, dan faktor II adalah dosis pupuk, yaitu(a) 50% dosis anjuran (200 kg/ha urea + 150 kg/ha SP-36 + 150 kg/haKCl), (b) 75% dosis anjuran (300 kg/ha urea + 225 kg/ha SP-36 + 225kg/ha KCl), dan (c) dosis anjuran (400 kg/ha urea + 300 kg/ha SP-36 +300 kg/ha KCl). Masing-masing perlakuan diberi pupuk kandang sebagaipupuk dasar dengan dosis 20 t/ha. Pengamatan dilakukan terhadapparameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan, diameter batang,dan jumlah daun), hasil dan serapan unsur hara N, P, dan K pada umur 4BST dan 9 BST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masingaksesi memberikan respon yang berbeda terhadap penurunan dosis pupuk,baik pada fase pertumbuhan maupun produksi tanaman jahe. Pengurangandosis pupuk sampai 25% tidak mengurangi produksi jahe, tetapi penurunandosis pupuk sampai 50% dari dosis rekomendasi menyebabkan penurunanproduksi jahe secara nyata. Komposisi unsur hara N, P, dan K yangdiserap berbeda pada setiap fase pertumbuhan tanaman.Kata kunci : Aksesi, Zingiber officinale, pemupukan, pertumbuhan,produksiABSTRACTResponse of five accessions of small white ginger tofertilizersThe use of ginger varieties responsive to low fertilization dosages,is expected to increase fertilizer use efficiency and reduce environmentalpollution. Research aimed at observing response of five small white gingeraccessions of low-dosage fertilization has been conducted in the CimangguExperimental Station in from August 2009 through May 2010. Five smallwhite ginger accessions from marginal areas were planted in polybags.The experiment was and arranged using a randomized block design wasrepeated with 3 times replications. Each treatment consisted of 20 plants.Two treatments were tested factorially, where factor I : 5 small whiteginger accessions, namely (1) Ziof 0004, (2) Ziof 0007, (3) Ziof 0008, (4)Ziof 0013, and (5) Ziof 0014, and factor II : 3 fertilization dosages isdosage of fertilizer, namely (a) 50% recommendation dosage (200 kg urea+ 150 kg SP-36 + 150 kg KCl per hectare), (b) 75% recommendationdosage (300 kg urea + 225 kg SP-36 + 225 kg KCl per hectare), and (c)recommendation dosage (400 kg Urea + 300 kg SP-36 + 300 kg KCl perhectare). Each treatment was given 20 t/ha of manure as basal fertilizer.The parameters observed were growth parameters (plant height, number oftillers, stem diameter, and number of leaves), yield and nutrient uptake ofN, P, and K at 4 and 9 months after planting (MAP). The results showedthat each of the accessions responded differently to the reduction offertilizer dosages, either in vegetative or generative growth phase of gingerplants. Reduction of fertilizer dosages to 25% did not significantly reducethe yield of ginger, however, fertilizer dosages reduction up to 50% of therecommended dosages led to significant decrease of ginger yield.Compositions of N, P, and K nutrients absorbed by plants were different inevery phase of plant growth.Keywords : Accessions, Zingiber officinale, fertilizer, growth, yield
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS, DAN KORELASI ANTAR KARAKTER 10 GENOTIPE TERPILIH JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.) R r. SRI HARTATI; ASEP SETIAWAN; BAMBANG HELIYANTO; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.74-80

Abstract

ABSTRAKUntuk menyusun program pemuliaan jarak pagar berdaya hasiltinggi, diperlukan populasi dasar yang memiliki keragaman genetik yangtinggi terutama pada karakter yang berkaitan dengan daya hasil tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik,heritabilitas, dan korelasi antar karakter genotipe terpilih. Sepuluhgenotipe dievaluasi di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanRempah dan Aneka Tanaman Industri Pakuwon, Sukabumi mulai bulanAgustus 2009 - Juli 2010. Rancangan lingkungan adalah acak kelompoklengkap dengan 3 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 5 tanamanyang ditanam dalam 1 baris dengan jarak antar baris 2 m dan jarak dalambaris 1 m. Evaluasi dilakukan terhadap karakter vegetatif (meliputi tinggitanaman, lingkar batang, lebar kanopi, dan jumlah cabang total), karaktergeneratif (meliputi jumlah cabang produktif, umur mulai berbunga, jumlahtandan bunga, jumah tandan buah, fruit set), serta komponen hasil yaitujumlah buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan 10 genotipe yangdievaluasi memiliki keragaman genetik yang luas pada karakter generatifumur mulai berbunga, jumlah tandan bunga, jumlah tandan buah, danjumlah buah per tanaman dengan nilai koefisien keragaman genetik(KKG) berturut-turut 21,89; 29,77; 32,08; dan 33,75. Karakter-karakter inimemiliki ragam genetik luas dan heritabilitas dalam arti luas yang tinggisehingga dapat dimanfaatkan sebagai kriteria seleksi. Karakter vegetatifjumlah cabang total memiliki keragaman genetik agak luas, heritabilitastinggi, dan berkorelasi positif dengan jumlah tandan bunga, jumlah tandanbuah, dan jumlah buah per tanaman sehingga dapat dipertimbangkansebagai kriteria seleksi.Kata kunci : Jatropha curcas, keragaman fenotipik, koefisien keragaman,ragam genetik, kriteria seleksiABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation amongcharacters of 10 selected genotypes of physic nut(Jatropha curcas L.)To arrange breeding programme of jatropha high yielding varieties,it is required population base having high genetic variabilities, especiallyin yield components. The objectives of this research were to evaluategenetic variability, heritability estimate, and analyze correlation amongcharacters of 10 physic nut genotypes. Ten Jatropha curcas genotypeswere evaluated at Pakuwon Experimental Station of Indonesian Spice andIndustrial Crops Research Institute, Sukabumi, from August 2009 - July2010. A randomized complete block design with 3 replicates was appliedin this experiment. Each experimental unit consisted of five plants grownin a row with 2 m spacing in line and 1 m in row. The observations weremade for vegetative characters (plant height, stem girth, canopy width, andnumber of total branches per plant), generative characters (days toflowering, number of productive branches, inflorescences, fruit bunchesper plant, and fruit set percentages), and yield component : number of fruitper plant. Results of the experiments indicated that the evaluatedgenotypes had wide genetic variability on several generative characters i.e.days to flowering, number of inflorescences, number of fruit bunches, andnumber of fruits per plant with genotypic variability coefficient (GVC)values of 21.89; 29.77; 32.08; and 33.75, respectively. Their geneticvariabilities were broad and high heritability. The total number of branchesas a vegetative character was fairly wide in genetic diversity, highheritability, and positively correlated with number of inflorescences,bunches, and fruits per plant. These characters can be considered asselection criteria.Key words : Jatropha curcas L., phenotypic variability, coefficient ofvariation, genetic variability, selection criterion
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN HAMA PENGISAP DAUN PADA KAPAS IGAA. INDRAYANI; HERI PRABOWO; SIWI SUMARTINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.47-53

Abstract

ABSTRAKRekomendasi cara pengendalian hama pengisap daun, Amrascabiguttula (ISHIDA) pada  tanaman  kapas masih  mengandalkanpenggunaan kombinasi varietas tahan dan perlakuan benih denganinsektisida kimia sistemik imidakloprid. Namun, tidak jarang petanimelakukan penyemprotan insektisida kimia pada kanopi tanaman yangjuga dapat membunuh serangga berguna, termasuk musuh alami. Tujuanpenelitian adalah untuk mengetahui keefektifan teknik pengendalian A.biguttula pada kapas menggunakan varietas dan insektisida. Penelitiandilakukan di KP Asembagus mulai Januari sampai dengan Nopember2010. Perlakuan petak utama, yaitu teknik pengendalian: (1) perlakuanbenih dengan imidakloprid (PB), (2) tanpa perlakuan benih maupunpenyemprotan kanopi tanaman atau kontrol (TPB), (3) perlakuan benih +penyemprotan kanopi (PBS), dan (4) penyemprotan kanopi (S). Perlakuananak petak adalah tiga galur/varietas kapas, yaitu: (1) galur 98050/9/2/4,(2) KI 645, dan (3) Kanesia 10. Pola tanam yang diterapkan adalahtumpangsari kapas dan kacang hijau yang ditanam di antara baris kapas.Setiap perlakuan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga kaliulangan. Ukuran anak petak adalah 10 m x 15 m. Pengamatan dilakukanterhadap (1) populasi nimfa A. biguttula dan predatornya, (2) frekuensipencapaian populasi ambang ekonomi, (3) skor kerusakan tanaman kapas,(4) hasil kapas berbiji dan kacang hijau, dan (5) analisis ekonomiperlakuan. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  setiap  teknikpengendalian yang diuji berpengaruh terhadap perkembangan populasi A.biguttula dan predatornya. Rata-rata pencapaian populasi ambangekonomi pada perlakuan benih (PB) dan kontrol lebih rendah (0,5–2 kali)dibandingkan dengan kombinasi perlakuan benih dan penyemprotankanopi (PBS) serta penyemprotan kanopi saja (S) yang mencapai 3–4 kali.Pada galur/varietas kapas yang diuji, pencapaian populasi ambangekonomi paling rendah terjadi pada galur 98050/9/2/4, diikuti oleh Kanesia10 dan KI 645. Perlakuan benih saja (PB) selain menurunkan populasi A.biguttula dan tidak menurunkan populasi predator, juga lebih efisiendibanding perlakuan lainnya dengan nilai marginal rate of return 1,38 danpeningkatan bersih 14,3%. Makna dari hasil yang diperoleh adalahpengendalian A. biguttula pada kapas dengan cara menyemprot kanopilebih baik dihindari apabila benih masih dapat diperlakukan, sedapatmungkin dikombinasikan dengan penggunaan varietas tahan/toleran.Kata kunci : Amrasca biguttula, imidakloprid, ambang ekonomi, galur/varietas, kapas, predator, marginal rate of return (MRR)ABSTRACTEffectiveness and Efficiency of Different ControlTechniques of Cotton Jassid, Amrasca biguttulaRecommendation for controlling jassid (A. biguttula) of cotton still relieson the use of combination of resistant variety and seed treatment(imidachloprid). Farmers, however, often spray chemical insecticides overplant canopy that also kill beneficial insects, including natural enemies.This study was conducted at Asembagus Experimental Station fromJanuary to November 2010. The objective of the study was to find out theeffectiveness and efficiency of control techniques against cotton jassid, A.biguttula. This field study consisted of two factors. First factor consistedof three different control techniques i.e. (1) seed treatment (PB), (2)without seed treatment and foliar application or control (TPB), (3)combination between seed treatment and foliar application (PBS), and (4)foliar application alone (S). Second factor consisted of three cottonvarieties, e.g. 98050/9/2/4, KI 645, and Kanesia 10. Treatments werearranged in a split plot design with three replicates. Cotton intercroppedwith mung bean planted in between cotton rows. Population of A. biguttulaand its predator, economic threshold achievement, score of plant injury,yields of cotton and mung bean were observed. Economic analysis of thetreatments was evaluated at the end of the experiment. Results showed thateach control techniques caused different effect on jassid and its predatordevelopment. The average of economic threshold achievement in seedtreatment application (PB) and control (TPB) were lower (0.5-2.0 times)compared to combination between seed treatment and foliar sprayed(PBS), also only foliar sprayed (3-4 times). Averaged of economicthreshold achievement on 98050/9/2/4 line was the lowest, followed byKanesia 10 and KI 645. Application of seed treatment (PB) not onlyreduced jassid population but also less effective on predator population. Itwas more efficient than other treatments with marginal rate 1.38 and didincrease net income by 14.3%. It means that foliar sprays to control A.biguttula on cotton should be ignored, if applying seed treatment andresistant/tolerant varieties.Key words: Amrasca biguttula, imidachloprid, economic threshold,cotton cultivar/variety, predator, marginal rate of return(MRR)
PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK TERHADAP PRODUKSI DAN VIABILITAS BENIH SETEK NILAM (Pogostemon cablin Benth) SUKARMAN SUKARMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.81-87

Abstract

ABSTRAKSampai saat ini informasi pengaruh jarak tanam dan dosis pupukterhadap produktivitas, dan viabilitas benih nilam (Pogostemon cablinBenth) masih terbatas. Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan tujuanmendapatkan jarak tanam dan dosis pupuk yang optimum untuk produksibenih/setek nilam. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP)Sukamulya, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Industri Lain (Balittri),Pakuwon, Parungkuda, Sukabumi, dari Januari sampai November 2010.Percobaan faktorial, dengan tiga faktor dan tiga ulangan, disusun dalamrancangan petak terbagi dua kali (RPPT). Petak utama adalah dua varietasnilam yaitu Sidikalang dan Lhokseumawe. Anak petak adalah tiga jaraktanam yaitu (1) 1 x 0,5 m; (2) 1 x 0,7 m; dan (3) 1 x 1 m. Anak-anak petakadalah dua dosis pemupukan yaitu : 1) 30 ton pupuk kandang, 300 kg urea,150 kg SP-36, dan 300 kg KCl/th, dan 2) 45 ton pupuk kandang, 450 kgurea, 225 kg SP-36, dan 450 kg KCl/th. Ukuran plot 8,4 x 5 m. Parameteryang diamati adalah pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlahcabang primer, sekunder, dan tersier), produksi benih pertanaman,diameter bagian pangkal, tengah, dan pucuk dari cabang primer dansekunder, kadar karbohidrat dan serat, dan viabilitas benih setek.Pengamatan dilakukan pada umur enam bulan setelah tanam (6 BST).Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) varietas Sidikalang dengandosis pemupukan 45 ton pupuk kandang, 450 kg urea, 225 kg SP-36, dan450 kg KCl/th, menghasilkan jumlah cabang primer paling tinggi yaitu14,29; (2) jarak tanam 1 x 0,5 m menghasilkan benih setek tertinggi(73.555 stek/1.000 m 2 ). Rata-rata diameter benih berasal dari pangkal ≥ 5mm, sedangkan rata-rata diameter benih berasal dari pucuk ≥ 4 mm; (3)Viabilitas benih pada 0 dan 4 hari setelah penyimpanan ≥ 80%. Jaraktanam 1 x 0,5 m dengan dosis pupuk kandang sebanyak 30 ton, 300 kgurea, 150 kg SP-36, dan 300 kg KCl pertahun merupakan dosis yangoptimal untuk produksi benih/setek nilam. Kombinasi perlakuanpemupukan 30 ton pupuk kandang, 300 kg urea, 150 kg SP-36, 300 kgKCl/th dengan jarak tanam 1 x 0,5 m menghasilkan keuntungan tertinggiyaitu: Rp 6.668.500 dengan nilai B/C 2,05.Kata kunci : Pogostemon cablin Benth, jarak tanam, pemupukan,produksi, kualitas benih/setekABSTRACTEffect of Spacing and Fertilizer Dosages on Productionand Viability of Patchouli Cutting SeedsInformation on the effect of plant density and fertilizer dosage onthe production and viability of patchouli seeds is still limited. Thisexperiment was aimed at finding out optimum plant spacing and fertilizerdosage for improving production and quality of patchouli cutting seeds.The experiment was conducted at Sukamulya experimental station ofIndonesian Spice and Industrial Crops Research Institute (ISICRI),Pakuwon, Sukabumi from January through November 2010. Thisexperiment was consisted of three factors and three replicates and wasarranged in a split-split-plot design. The main plots were two varieties ofpatchouli, i.e. V1 = Sidikalang and V2 = Lhokseumawe. The sub plotswere three plant spacing dimentions, i.e. S1 (1 x 0.5 m), S2 (1 x 0.7 m),and S3 (1 x 1 m). The sub-sub plots were two levels of fertilizer dosage,i.e. F1 (manure; urea, SP-36, and KCl of 30 t; 450, 225, and 450 kg/ha,respectively) and F2 (manure; urea, SP-36, and KCl of 45 t; 300, 150, and450 kg/year, respectively). Variables observed were plant growth (plantheight; number of primary, secondary, and tertiary branches), seedproductivity and viability, diameter of bottom, medium, and upper ofcutting seeds. The results of experiment indicated that Sidikalang variety,treated with 45 tons of manure, 450 kg urea, 225 kg SP-36, and 450 kgKCl per hectare produced the highest number of primary branchescompared to other treatments. Plant spacing of 1 x 0.5 m produced thehighest number of cutting seeds (73,555 stumps/1,000m 2 ). The averageddiameters of cutting seeds from basal were ≥ 5 mm while those from topwere ≥ 4 mm. Viability of the cutting seeds at 0 and 4 days after storagewas ≥ 80%. Plant spacing 1 x 0.5 m with dosage of fertilizer 30 ton dungmanure, 300 kg urea, 150 kg SP-36, and 300 kg KCl per year is the dosageoptimum for producing seed/cutting of patchouli. Combination of fertilizerdosages of 30 tons manure, 300 kg urea, 150 kg SP-36, and 300 kg KClper year and plant spacing of 1 x 0.5 m produced the highest profit asmuch as Rp 6,668,500 with B/C value of 2.05.Key words: Pogostemon cablin Benth, plant spacing, fertilizer,production, cutting seed quality
PENGARUH MINYAK BUNGKIL BIJI JARAK PAGAR TERHADAP MORTALITAS DAN PENELURAN Helicoverpa armigera Hũbner S.W. TUKIMIN; ELNA KARMAWATI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.54-59

Abstract

ABSTRAKJarak pagar (Jatropha curcas L.) menghasilkan limbah dari bijipada saat pemrosesan biji menjadi minyak kasar (JCO). Limbah ini berupabungkil yang dapat dimanfaatkan baik untuk pupuk organik maupununtuk bahan pestisida nabati. Bahan kimia yang bersifat toksik terhadapserangga dalam biji jarak pagar adalah phorbol ester dan curcin.Keduanya terikat dalam minyak ketika pemrosesan dan efektif untukmengendalikan beberapa hama tanaman perkebunan setelah diformulasi.Ternyata di dalam bungkil sebagai limbahnya masih tersisa kedua bahanaktif tersebut, oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihatefektivitas formula ekstrak bungkil jarak pagar terhadap hama utama kapasyaitu Helicoverpa armigera Hũbner. Penelitian dilaksanakan diLaboratorium Entomologi, Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat(Balittas Malang) pada bulan April sampai Desember 2010 menggunakanrancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan (4 perlakuan konsentrasidan 2 kontrol) dan 4 ulangan. Biji jarak pagar yang digunakan merupakanaksesi dari Sulawesi Selatan, Lampung, dan Jawa Timur. Bungkildimaserasi  menggunakan  pelarut  metanol,  kemudian  diformulasimenggunakan detergen dengan konsentrasi 5, 10, 20, dan 40 ml ditambahmasing-masing 1 g detergen dalam 1 liter larutan. Aplikasi dilakukan duamacam sebagai racun kontak dan racun pakan. Pengamatan dilakukanterhadap mortalitas, berat pupa, dan peneluran serangga pada 24, 48, 72,dan 120 jam setelah aplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa urutanefektivitas aksesi jarak pagar adalah Sulawesi Selatan, Lampung, dan JawaTimur yang ternyata berkorelasi positif dengan kandungan phorbol esteryaitu 9,39; 6,64; dan 4,39 µg/ml. Tidak satu butirpun telur yang diletakkanpada aplikasi 10 ml aksesi Sulsel + 1 g detergen/l larutan dan 20 ml aksesiJatim + 1 g detergen/l larutan.Kata kunci : Jatropha curcas L, curcin, phorbol ester, bungkil biji jarakpagar, Helicoverpa armigera Hũbner, mortalitas, peneluranABSTRACTEffect of Jatropha cake oil on mortality and fertility ofHelicoverpa armigera HũbnerPhysic nut (Jatropha curcas L.) produces waste from its seedsduring seed processing into JCO. This waste (cake) can be furtherprocessed into organic fertilizer and botanical pesticide. The toxicchemicals for insect inside the seeds are phorbol ester and curcin. Both areincluded in JCO during the process and those are effective to control estatecrops insect pests after being formulated. In fact same of those chemicalsstill remain in the seeds cake, therefore, the objective of the research is tofind out the effectiveness of its formulation on Helicoverpa armigeraHũbner, the main pest of cotton. The research was carried out at theIndonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang fromApril to December 2010, and the experiment was arranged usingRandomized Block Design with 6 treatments and 4 replicates. Thematerials used were three (3) accessions of jatropha from South Sulawesi,Lampung, and East Java origins. Methanol was used for extracting thechemicals, and then detergent was used for formulating 4 concentrationlevels of : 5, 10, 20, and 40 ml/l + 1 g detergent each. The methods usedwere contact and oral applications. The parameters observed weremortality, pupae weight and fertility. It was revealed that the effectivenesswas positively correlated with phorbol ester contents i.e. 9.39, 6.64, and4.39 µg/ml for South Sulawesi, Lampung, and East Java accessions,respectively. There was no egg laid by female of H. armigera fed withshoots and squares contaminated with bio-pesticides (10 and 20 ml/l ofSouth Sulawesi and East Java accessions).Key words : Jatropha curcas L, curcin, phorbol ester, Jatropha seed cakeoil, Helicoverpa armigera Hũbner, mortality, fertility
PENGARUH PENGGUNAAN SUMBER PUPUK KALIUM TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU MINYAK TANAMAN NILAM SYAKIR, M.; GUSMAINI, GUSMAINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.60-65

Abstract

ABSTRAKTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) sudah lama dibudi-dayakan, namun produktivitas dan mutu minyak yang dihasilkan masihrendah. Rendahnya produktivitas dan mutu minyak tersebut antara laindisebabkan teknologi budidaya yang masih sederhana, dan berkembangnyapenyakit, seperti penyakit layu bakteri dan budog, serta hama yangdisebabkan oleh nematoda. Penelitian ini bertujuan untuk memperolehsumber dan dosis kalium yang tepat dalam meningkatkan pertumbuhandan produksi tanaman nilam. Kegiatan ini merupakan penelitian lapangyang dilakukan di Kuningan, Jawa Barat, dari bulan Januari sampaiDesember 2009. Percobaan disusun menggunakan rancangan acakkelompok lengkap, 9 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas1) kontrol, 2) dosis KCl 60 kg/ha, 3) dosis KCl 120 kg/ha, 4) dosis KCl180 kg/ha, 5) dosis KCl 240 kg/ha, 6) dosis K 2 SO 4 60 kg/ha, 7) dosisK 2 SO 4 120 kg/ha, 8) dosis K 2 SO 4 180 kg/ha, 9) dosis K 2 SO 4 240 kg/ha.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber dan dosis kalium secaranyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi dibandingkan dengankontrol. Pertumbuhan tanaman, produksi terna kering, kadar dan produksiminyak nilam terbaik ditunjukkan oleh perlakuan KCl atau K 2 SO 4 dengandosis 60 kg/ha. Serapan hara N dan P yang tertinggi ditunjukkan olehperlakuan pemberian 60 kg K 2 SO 4 /ha dan serapan hara K tertinggi padaperlakuan 120 kg KCl/ha.Kata kunci : Pogostemon cablin Benth, kalium, sumber, dosis, produksi,patchouli alkoholABSTRACTEffect of potassium sources on application yield andquality of patchouliPatchouli (Pogostemon cablin Benth) is an aromatic plant that haslong been cultivated in Indonesia, however its productivity and quality arestill low due to simple cultivation technology, and the development ofdiseases, such as bacterial wilt disease, budog, and pests caused bynematodes. This study aimed at obtaining sources and dosage of potassiumfertilizers to increase plant growth and oil yield of patchouli. The researchwas conducted in Kuningan, West Java, from May to December 2009 andwas arranged using randomized block design, with 9 treatments and 3replicates. There were 9 treatments consisting of : 1) control, 2) 60 kgKCl/ha, 3) 120 kg KCl/ha, 4) 180 kg KCl/ha, 5) 240 kg KCl/ha, 6) 60 kgK 2 SO 4 /ha, 7) 120 kg K 2 SO 4 /ha, 8) 180 kg K 2 SO 4 /ha, and 9) 240 kgK 2 SO 4 /ha. The research results showed that the sources and dosage ofpotassium fertilizers significantly affected growth, fresh herbal yield andpatchouli oil. The best plant growth, dry herbage yield, content and yieldof patchouli oil were obtained from the treatment of 60 kg/ha of KCl orK 2 SO 4 . The highest N and P uptakes were shown by 60 kg K 2 SO 4 /hatreatment and the highest K nutrient uptake was shown by 120 kg KCl/ha.Key words : Pogostemon cablin Benth, potassium, source, dosage, yield,patchouli olcohol

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue