cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 3 (2013): September 2013" : 6 Documents clear
OPTIMASI DAN EVALUASI METODE KRIOPRESERVASI PURWOCENG ROOSTIKA, IKA; DARWATI, IRENG; MEGIA, RITA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.258 KB) | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.147-157

Abstract

ABSTRAKOptimasi dan evaluasi metode kriopreservasi perlu dilakukan dalammenentukan protokol standar untuk penyimpanan jangka panjang biakanpurwoceng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasiperlakuan pratumbuh, prakultur, dan formulasi media pemulih terhadapdaya tumbuh dan daya regenerasi tunas in vitro dan kalus embriogenikserta untuk mengevaluasi metode kriopreservasi melalui observasimorfologi, anatomi, dan sitologi. Penelitian dilakukan di LaboratoriumKultur Jaringan Kelompok Peneliti Biologi Sel dan Jaringan BB LitbangBiogen pada tahun 2008-2009. Teknik kriopreservasi yang digunakanadalah vitrifikasi (untuk apeks) dan enkapsulasi-vitrifikasi (untuk kalusembriogenik). Pada teknik vitrifikasi, tunas pucuk diberi perlakuanpratumbuh dengan sukrosa (3, 4, 5, dan 6%) selama 1 dan 2 minggu,perlakuan prakultur dilakukan pada media yang mengandung sukrosa 0,3M selama 1 dan 3 hari, perlakuan dehidrasi dengan PVS2 diberikan selama15 dan 30 menit, dan media pemulih yang diujikan adalah media dasar MSatau DKW dengan dan tanpa penambahan adenin sulfat 20 ppm. Padateknik enkapsulasi-vitrifikasi, kalus embriogenik dienkapsulasi terlebihdahulu dengan Na-alginat 3%, perlakuan dehidrasi dengan PVS2 diberikanselama 0, 30, dan 60 menit. Evaluasi metode teknik kriopreservasidilakukan melalui pengamatan morfologi secara visual, anatomi meristemdengan scanning electron microscope (SEM), pengujian viabilitas denganfluorescein diacetate (FDA), dan analisis ploidi secara flowcytometry.Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik enkapsulasi-vitrifikasi lebihbaik daripada teknik vitrifikasi untuk kriopreservasi purwoceng. Walaupunpersentase keberhasilan kriopreservasi rendah (10%), kalus embriogenikpurwoceng mampu berproliferasi dan beregenerasi menjadi ribuan embriosomatik dewasa. Evaluasi metode kriopreservasi dengan SEM dan FDAdapat diterapkan untuk memperkirakan keberhasilan teknik kriopreservasisecara dini sedangkan analisis flowcytometry dapat diterapkan untukmenguji stabilitas genetik bahan tanaman pasca-kriopreservasi.Kata kunci: Pimpinella pruatjan Molk., kriopreservasi, SEM, FDA,flowcytometryABSTRACTOptimization and evaluation of cryopreservation methods should beconducted to obtain standard protocol for long term conservation ofpruatjan. The objective of this study was to evaluate the effect ofcombined treatments of pregrowth, preculture, and recovery media to thesurvival and regeneration rate of in vitro shoots and embryogenic calli andto evaluate the cryopreservation methods by observing the morphological,anatomical, and cytological characters. The techniques of vitrification (forapex) and encapsulation-vitrification (for embryogenic calli) were appliedin this study. On vitrification technique, the apical shoots were pregrownon media containing of 3, 4, 5, and 6% sucrose for 1 and 2 weeks,precultured on media containing of 0,3 M sucrose for 1 and 3 days,dehydrated by PVS2 solution for 15 and 30 minutes, and planted onrecovery media (MS or DKW basal media supplemented with 20 ppmadenine sulphate). On encapsulation-vitrification technique, embryogeniccalli were encapsulated by 3% Na-alginate, dehydrated by PVS2 solutionfor 0, 30, and 60 minutes. The evaluation of cryopreservation methods wasdone through visual observation, SEM analysis, viability test, andflowcytometry determination. The result showed that encapsulation-vitrification was better than vitrification technique for cryopreservation ofpruatjan. The successful rate of this method was low (10%) but theembryogenic calli could proliferate and regenerate into thousands maturesomatic embryos. The evaluation by SEM and FDA can be applied asearly detection to estimate the successful of cryopreservation, whereasflowcytometry  analysis  may  determine  the  genetic  stability  ofcryopreserved materials.Key words: Pimpinella pruatjan Molk., cryopreservation, SEM, FDA,flowcytometry
PENGARUH CEKAMAN KURANG AIR TERHADAP BEBERAPA KARAKTER FISIOLOGIS TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) SETIAWAN SETIAWAN; TOHARI TOHARI; DJA’FAR SHIDDIEQ
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.108-116

Abstract

ABSTRAKNilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanamanpenghasil minyak atsiri yang dikenal dengan minyak nilam (patchouli oil).Salah satu kendala dalam pengembangan tanaman nilam adalah pekaterhadap kekurangan air. Perubahan iklim cenderung menyebabkan lebihsering terjadi kekeringan di sejumlah wilayah termasuk Indonesia sehinggadalam pengembangan tanaman nilam diperlukan varietas toleran terhadapcekaman kurang air. Terdapat tiga varietas unggul nilam (Tapaktuan,Sidikalang, dan Lhokseumawe) dengan produksi minyak (290-375 kg/ha)dengan kadar patchouli alkohol 32–33%. Penelitian bertujuan untukmengevaluasi respon fisiologis 4 varietas/aksesi tanaman nilam terhadapcekaman kurang air. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca di Bogor padatahun 2012. Penelitian menggunakan RAK faktorial dengan tiga ulangan.Faktor  pertama  4  varietas/aksesi  nilam  (V)  yaitu  Sidikalang,Lhokseumawe, Tapaktuan, dan Bio-4. Faktor kedua empat intervalpenyiraman (W) yaitu 1, 3, 6, dan 9 hari sekali. Evaluasi pengaruhcekaman kurang air dilakukan terhadap beberapa karakter fisiologitanaman nilam. Pengamatan dilakukan antara lain terhadap peubah kadarlengas tanah, konduktivitas stomata (Gs), laju transpirasi (Tr), kandunganair nisbi (KAN), potensial air daun (PAD) dan kandungan prolin daun.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lengas tanah,konduktivitas stomata, laju transpirasi, dan KAN pada semua varietas,sedangkan PAD dan kadar prolin meningkat seiring dengan semakinlamanya interval penyiraman. Kadar prolin tertinggi pada interval 9 harisekali pada varietas Sidikalang. Tidak terdapat perbedaan responvarietas/aksesi nilam yang diuji.Kata kunci: Pogostemon cablin Benth, cekaman kurang air, karakterfisiologis.ABSTRACTPatchouli (Pogostemon cablin Benth) is one of plant that producespatchouli oil call patchouli oil. However, patchouli is susceptible todrought. The effect of global warming which changes rainfall patterncaused droughts in several regions including Indonesia. Therefore, it isimportant to find patchouli variety which is relatively tolerant to drought.Tapaktuan, Sidikalang, dan Lhokseumawe are three varieties of patchouliwhich produce high essential oil (290-375 kg/ha) with high patchoulialcohol content (32–33%). The objective of this research was to evaluatethe physiological responses of four varieties/clone of patchouli to drought.The experiment was conducted at greenhouse at Cimanggu, Bogor fromFebruary to July 2012. The research was designed in randomized factorialblock design (RBD) with three replications. The first factor was fourvarieties/clone of patchouli (V) Sidikalang, Lhokseumawe, Tapaktuan, andBio-4. The second factor was four watering intervals (W) every 1, 3, 6and 9 days of watering. Parameters evaluated were physiologicalcharacteristics, soil moisture content, stomatal conductance, transpirationrate (Tr), leaf water potential, relative water content, and proline content ofleaf. The results showed that soil moisture content, stomatal conductivity,transpiration rate and relative water content decreased, while leaf waterpotential and proline levels increased along with the increase of wateringintervals. The highest proline level was at interval of nine days wateringtreatment on Sidikalang varieties. However, all varieties/clone have notdifferent responses to water deficit.Key words: Pogostemon  cablin  Benth,water  deficit,  physiologicalcharacteristics
DETEKSI SECARA SEROLOGI DAN MOLEKULER BEBERAPA JENIS VIRUS YANG BERASOSIASI DENGAN PENYAKIT MOSAIK TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) MIFTAKHUROHMAH MIFTAKHUROHMAH; GEDE SUASTIKA; TRI ASMIRA DAMAYANTI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.130-138

Abstract

ABSTRAKPenyakit mosaik pada tanaman nilam disebabkan oleh beberapajenis virus, yaitu Potyvirus, Potexvirus, Cucumber mosaic virus (CMV),dan Broad bean wilt virus 2 (BBWV2). Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi secara serologi dan molekuler virus-virus yangberasosiasi dengan gejala mosaik pada nilam di KP. Manoko, KP. Cicurugdan lahan petani di Cijeruk. Sampel daun nilam baik yang menunjukkangejala mosaik atau pun tidak diambil dari setiap lokasi penanamanmasing–masing sebanyak 30 sampel. Kejadian penyakit ditentukan melaluideteksi serologi dengan Direct-ELISA dan Indirect-ELISA terhadap sampelmenggunakan empat antiserum, yaitu CMV, Cymbidium mosaic virus(CymMV), Potyvirus, dan BBWV2. Deteksi molekuler dengan RT-PCRdilakukan untuk mengonfirmasi virus baru yang ditemukan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa gejala infeksi virus yang ditemukan padanilam bervariasi, yaitu mosaik lemah, mosaik kuning hijau, mosaik denganpenebalan, mosaik dengan malformasi daun, dan bintik kuning. Secaraserologi, kejadian virus pada setiap kebun bervariasi. Di KP Manoko,Potyvirus dan BBWV2 lebih dominan (100%) dibandingkan CymMV. DiKP Cicurug, kejadian Potyvirus dan CMV terlihat lebih dominan (83,3 dan80%) dibandingkan BBWV2 dan CymMV, sedangkan di Cijeruk, BBWV2lebih dominan (90%) dari Potyvirus (50%) dan CMV (13,3%). Hasil RT-PCR dengan primer degenerate BBWV, diidentifikasi BBWV2 padasampel daun nilam dari Manoko, Cicurug, dan Cijeruk, sedangkan denganprimer general Potexvirus, diidentifikasi CymMV hanya dari sampel daunnilam dari asal Manoko. Hasil penelitian ini merupakan laporan pertamatentang BBWV2 dan CymMV pada tanaman nilam di Jawa Barat yangmengindikasikan bahwa virus merupakan kendala utama pada perbenihannilam yang harus segera diatasi.Kata kunci: BBWV2, CymMV, mosaik, Pogostemon cablin Benth, PCRABSTRACTMosaic symptoms on patchouli plant are associated with severalviruses, i.e. Potyvirus, Potexvirus, CMV, and BBWV2. The objective ofthe study was to detect virus(es) associated with mosaic symptoms onpatchouli at the the patchouli seed nurseries, in Manoko, Cicurug, andCijeruk. Thirty leaf samples either showing typical symptomatic mosaic orasymptomatic were taken from each location. Serological testing byDirect-ELISA and Indirect-ELISA using four antisera namely CMV,Cymbidium mosaic virus (CymMV), Potyvirus, and BBWV2 was carriedout to test the incidence of each virus. Molecular detection by RT-PCR wasperformed to confirm the new virus(es). The results showed that symptomsof virus infection were found vary, i.e. weak mosaic, green yellow mosaic,mosaic with thickening, mosaic with leaf malformations, and yellow spot.Based on the serological detection, virus(es) incidence varied at each seednurseries. In Manoko, Potyvirus, and BBWV2 were more dominant(100%) compared with CymMV. In Cicurug, Potyvirus and CMV weremore dominat (83.3 and 80%) compared with BBWV2 and CymMV.While in Cijeruk, BBWV2 was the most dominant (90%) than Potyvirus(50%) and CMV(13.3%). Result of RT-PCR with degenerate primers pairof BBWV was succesfully identified BBWV2 from Manoko, Cicurug, andCijeruk samples, whereas by using Potexvirus general primary, CymMVwas identified only from Manoko samples. BBWV2 and CymMV werefirst reported to infect patchouli in West Java. The result indicate thatvirus(es) are the major constraint on patchouli seed that should bemanaged immediately.Key words: BBWV2, CymMV, mosaic, Pogostemon cablin Benth, PCR
PEWARISAN SIFAT HERMAPRODIT DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP DAYA HASIL PADA JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) RR. SRI HARTATI; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.117-129

Abstract

ABSTRAKKontribusi sifat hermaprodit terhadap daya hasil tanaman jarakpagar belum banyak diketahui. Tujuan penelitian adalah mengetahui peranbunga hermaprodit terhadap daya hasil dan mekanisme pewarisannya.Penelitian dilakukan terhadap 60 genotipe jarak pagar di Kebun PercobaanBalittri Sukabumi. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2007 sampaidengan Juli 2010. Jarak tanam 2 m x 2 m, menggunakan 2,5 kg pupukkandang + 20 g Urea + 20 g SP 36 + 10 g KCl per tanaman. Penelitianterdiri dari (1) evaluasi tipe bunga jarak pagar dan (2) pewarisan sifathermaprodit dan kontribusinya terhadap daya hasil. Hasil evaluasimenunjukkan bahwa delapan dari 60 genotipe jarak pagar yang dievaluasimerupakan tanaman tri-monoecious yang menghasilkan bunga jantan,bunga betina, dan bunga hermaprodit, 52 lainnya merupakan tanamanmonoecious yang hanya menghasilkan bunga jantan dan bunga betina.Karakter yang dimiliki oleh delapan genotipe tri-monoecious yangdievaluasi adalah lebih lambat berbunga (mulai berbunga pada umur 120-274 hari) dan berdaya hasil rendah sampai sedang (jumlah buah 23-228per tanaman pada tahun pertama). Kemunculan bunga hermaprodit tidakterjadi sepanjang tahun, tetapi lebih dominan pada tanaman berumur enambulan. Persentase bunga hermaprodit berkisar 6,25-53% dari total bungayang dihasilkan. Persentase fruitset pada tandan bunga hermaprodit lebihtinggi dibanding tandan bunga non-hermaprodit, dengan tingkatkeberhasilan rata-rata 80% (kisaran 56-100%). Pada tandan bunga yangtidak menghasilkan bunga hermaprodit, buah jadi rata-rata sebesar 50%(kisaran 11-100%). Daya hasil tanaman jarak pagar ditentukan olehgenetik tetua. Bunga hermaprodit diwariskan oleh tetua betina maupuntetua jantan. Gen pengendali sifat hermaprodit diduga adalah gensederhana yang bersifat dominan.Kata kunci: Jatropha  curcas,  monoecious,  tri-monoecious,  bungahermaprodit, fruit setABSTRACTHermaphrodite character has been reported in physic nut, its roleand contribution to production process especially to the yield has not beeninvestigated. The objectives of this research were to evaluatehermaphrodite flowers contribution on yield and their mechanisminheritance. The evaluation was conducted at the Experimental Station ofBalittri Sukabumi from May 2007 to July 2010. The spacing was 2 m x 2m with 2,5 kg manure + 20 g Urea + 20 g SP 36 + 10 g KCl/plant. Theexperiment consisted of (1) evaluation of flower type of physic nut and(2) hermaphrodite inheritance and their contribution on yield. Results ofthe experiment indicated eight from 60 physic nut genotypes were tri-monoecious which were capable on producing male, female, andhermaphrodite flowers while as the rest (52 genotypes) were monoeciouswhich produced only male and female flowers. The tri-monoecious weregenerally late flowering (120-274 days after planting) and low to mediumyield (producing 23-228 fruits per plant in the first year). Hermaphroditeflowers generally occurred six months after planting at the amount rangedfrom 6,25-53% of total flowers. Fruit set of inflorescences havinghermaphrodite flowers was higher, average of 80% (ranged from 56-100%) than those with female and male flowers, average of 50% (rangedfrom 11-100%). Yield of physic nut was affected by the genetic potentialof their parents rather than hermaphrodite character. Hermaphrodite flowercharacter was inherited by both female and male parents and might becontrolled by simple-dominant gene.Key words: Jatropha curcas, monoecious, tri-monoecious, hermaphroditeflower, fruit set
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POTENSI PRODUKSI DAN KOMPONEN UTAMA RIMPANG SEMBILAN NOMOR LEMPUYANG WANGI SRI WAHYUNI; NURLIANI BERMAWIE; NATALINI NOVA KRISTINA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.99-107

Abstract

ABSTRAKLempuyang  merupakan family  Zingiberaceae,  dan  banyakdigunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina,antikanker dan obat antiinfeksi. Balittro memiliki koleksi plasma nutfahlempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Potensi sifat tanamanperlu dievaluasi untuk mengetahui karakter potensial dan keunggulannya.Karakterisasi sembilan aksesi lempuyang wangi dilakukan di KP. Cicurug– Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 hingga tahun 2010. Benih ditanamdengan jarak tanam 60 x 40 cm, jumlah tanaman per plot 20 tanaman dandiulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman terhadapsifat morfologi tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa morfologi dan pertumbuhan tanamanlempuyang bervariasi. Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan,jumlah daun panjang dan lebar daun, serta diameter batang antar aksesibervariasi. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15ton/ha, rimpang mempunyai banyak akar. Mutu simplisia rimpang adalahkisaran kadar minyak atsiri 1,34–4,61%, kadar sari larut dalam air 16,22–23,5%, kadar sari larut etanol 7,9–13,8%, kadar serat 5,47– 8,87% dankadar pati 40-50%. Hasil analisis ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS menunjukkan bahwa sekitar 50 komponen terdeteksi. Zerumbonemerupakan komponen utama lempuyang dengan nilai sebesar 36–49%.Komponen utama zerumbone dan acetic acid terdapat di semua aksesi.Komponen utama lainnya di antaranya adalah alpha humulene, humuleneoxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, caryophileneoxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, dan 3-octyne 5-methyl.Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aromawangi yang ditimbulkan pada lempuyang. Sebanyak tujuh nomor aksesiyang mempunyai keunggulan produksi lebih dari 15 t/ha, mutu minyakatsiri lebih dari 1% dan zerumbone 40%.Kata kunci: Zingiber aromaticum, produksi, komponen utama rimpangABSTRACTWild ginger is one of Zingiberaceae family. Plant use as a medicinefor stamina improvement, anticancer and antiinfection. Balittro hadcollected wild ginger from several area and potential characters should beevaluated. Characterization was conducted at Cicurug experimental garden– West Java on 2009-2010. Seed rhizome of nine accession was plantedwith 60 x 40 cm space, twenty numbers of plant each plot and threereplication. Observation was carried out for morphological characters,growth, yield, and rhizome quality. Result showed that there werevariations in morphology and growth of wild ginger. Plant height, numbersof tillers, numbers of leaves, leaves length, leaves width, and stemdiameter among acessions were variate. Rhizome yield was generally morethan 15 ton/ha, rhizome having plenty of roots. Rhizome quality analysisshowed that among accessions have essential oil content range from 1.34-4.61%, extract soluble water 16.22 – 23.5%, extract soluble ethanol 7.9-13.88%, fiber content 5.47 – 8.87%, and carbohydrat content 40-50%.GS-MS of wild ginger rhizome extract revealed totally around 50constituent was detected. The highest constituent detected is zerumbone(36-49%). Moreover, acetic acid also detected in all accession with valuerange from 4.64 – 14.36%. Other major constituent are alpha humulene,humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo,caryophilene oxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, and 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers isdifferent and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome.Seven collection numbers are having yield potential more than 15 ton/ha,essential oil content more than 1% dan zerumbone content 40%.Key word: Zingiber aromaticum, rhizome yield, rhizome constituent
SKRINING GALUR KAPAS (Gossypium hirsutum L.) TOLERAN TERHADAP KEKERINGAN DENGAN PEG-6000 PADA FASE KECAMBAH SIWI SUMARTINI; EMY SULISTYOWATI; SRI MULYANI; ABDURRAKHMAN ABDURRAKHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.139-146

Abstract

ABSTRAKDaerah pengembangan kapas di Indonesia umumnya lahan keringdengan keterbatasan air. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kapas toleran kekeringan menggunakan PEG-6000 pada fasekecambah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Benih BalaiPenelitian Tanaman Pemanis dan Serat, mulai bulan April sampai Juni2012. Perlakuan disusun dalam rancangan Petak Terbagi dan diulang duakali. Petak utama adalah perlakuan PEG-6000 (-3 bar) dan tanpa PEG-6000 (air), sedangkan anak petak adalah 13 galur kapas dan varietasKanesia 14. Setiap perlakuan terdiri dari lima pot masing-masing ditanamsepuluh biji. Benih kapas dicampur dengan fungisida Mancozeb 80% 2g/kg benih sebelum ditanam. Parameter pengamatan meliputi dayaberkecambah, panjang kecambah dan akar, bobot kecambah dan akar,rasio  panjang  akar/kecambah,  serta  indeks  kerentanan  terhadapkekeringan. Kecambah dihitung sebagai kecambah normal jika panjanglebih dari 0,5 cm. Perlakuan PEG-6000 berpengaruh sangat nyata terhadappenurunan daya berkecambah, panjang kecambah dan akar, serta bobotkecambah dan akar. Sebaliknya, rasio panjang akar/kecambah lebih tinggipada perlakuan PEG-6000 dibandingkan dengan perlakuan tanpa PEG-6000. Respon ketahanan galur kapas yang dihitung dengan indekskerentanan kekeringan berbeda pada masing-masing parameter yangdiamati. Dari nilai rata-rata indeks kerentanan kekeringan semuaparameter, tidak ada galur yang tahan terhadap kekeringan (S<0,50).Terdapat delapan galur yang agak tahan kekeringan (0,50<S<1,0) danlebih tahan dibandingkan dengan Kanesia 14, yaitu 03002/12, 03006/1,03008/7, 03008/24, 03012/17, 03014/12, 03017/13, dan 03017/15.Kata kunci: Gossypium hirsutum L., tahan kekeringan, PEG-6000,perkecambahan, galurABSTRACTCotton production areas in Indonesia are arable land with lack of wateravailability. The aim of this study was to obtain cotton lines tolerant todrought using PEG-6000 at germination stage. The experiment wasconducted at the Seed Testing Laboratory in Indonesian Sweetener andFiber Crops Research Institute, from April to June 2012. Treatments werearranged in a Split Plots design with two replications. The main plot wasPEG-6000 (-3 bar) and without PEG-6000 (water), while the subplot was13 cotton lines and Kanesia 14 variety. Seed cotton was treated with 80%Mancozeb fungicide dose of 2g/kg seed before sowing. Parametersobserved were germination percentage, shoot and root length, shoot androot weight, ratio of root/shoot length, and drought susceptibility index.Seedling was counted as normal if its length more than 0.5 cm. PEG-6000treatment gives very significant effect on the decline on seed germination,shoot and root length, shoot and root weight. Otherwise, ratio of root/shootlength was higher in the PEG-6000 than without PEG-6000 treatment.Response of cotton lines to drought which calculated with a droughtsusceptibility index were different among parameter observed. Meandrought susceptibility index of all parameters showed that none of cottonline tolerant to drought (S < 0,50) was achieved from the study. Therewere eight moderately drought-resistant lines (0, 50 < S < 1,0) achievednamely 03002/12, 03006/1, 03008/7, 03008/24, 03012/17, 03014/12,03017/13, and 03017/15 which more resistance than Kanesia 14.Key words: Gossypium hirsutum L., drought tolerant, PEG-6000,germination, lines

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue