cover
Contact Name
Kudrat Abdillah
Contact Email
fasya@iainmadura.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alhuquq@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah IAIN Madura Email: alhuquq@iainmadura.ac.id
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Al Huquq : Journal of Indonesian Islamic Economic Law
ISSN : 2715003     EISSN : 27145514     DOI : DOI 10.19105/al huquq.v1i2.3072
Focus and scope Jurnal (Hukum Ekonomi Syariah) yaitu: hukum ekonomi syariah, hukum Islam, dan ekonomi syariah.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2023)" : 6 Documents clear
Analysis on Underlying Cryptocurrency Assets as Investment Instruments (A Case Study of Bitcoin, Ethereum, Tether and USDC) Faizin, Mu'adil
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v5i2.8588

Abstract

Cryptocurrencies experienced a huge surge whose value reached more than US $ 191 million or Rp. 2.7 trillion. Interestingly, almost all types of cryptocurrencies do not have an underlying asset as a common underlying asset in ordinary investments. Bitcoin and Ethereum claims that its underlying asset is the coin miner charges from the amount of hardware and electricity used in the transaction. Tether and USDC claim that their underlying assets are in US dollars. This article examines Islamic law regarding the underlying assets in the form of coin mining fees and US Dollars. The questions that arise are, how is the study of Islamic law regarding the underlying asset in the form of coin mining fees and US Dollars? Furthermore, the ideal pattern of a cryptocurrency scheme that includes assets in the form of tangible goods refers to manafiul a’yan? This research uses the gate of legal philosophy approach, looks at the business scheme in terms of values and principles and then provides legal conclusions based on that assessment. From the research conducted, first, the underlying asset of coin mining costs cannot be said to be an underlying asset that is truly economically useful for coin owners, except for the technology access costs which are clearly experienced by all technologies. Second, the underlying asset in the form of US Dollars has clearer benefits, but this is contrary to Islamic law. Third, for the underlying asset in the form of tangible goods, ownership must always be included in every coin purchased.
Penerapan Model Hybrid Contract pada Akad Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah dalam Produk Pembiayaan Muhtadi, Ridan; Safik, Moh; Suyudi, Moh; Fudholi , Moh
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v5i2.8816

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model hybrid contract pada akad Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah dalam produk pembiayaan di BMT. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada BMT Mawaddah. Data diperoleh melalui wawancara dengan pengurus dan anggota BMT serta analisis dokumen terkait akad Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model hybrid contract pada akad Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah dapat meningkatkan efektivitas pembiayaan dan meminimalkan risiko bagi BMT. Hybrid contract ini menggabungkan prinsip-prinsip dari dua jenis kontrak, yaitu Bai' al-wafa' dan Ijarah, sehingga dapat memperluas ruang lingkup pembiayaan yang ditawarkan oleh BMT. Selain itu, hybrid contract ini juga dapat mengurangi risiko default dan kerugian bagi BMT, karena terdapat jaminan dari pihak pengguna barang atau jasa yang disewakan. Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa kendala dalam penerapan hybrid contract pada akad Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah di BMT Mawaddah, seperti kurangnya pemahaman dan kesadaran anggota BMT tentang hybrid contract, serta kendala dalam pelaksanaan akad tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan perlunya peningkatan pemahaman dan sosialisasi tentang hybrid contract pada akad Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah kepada anggota BMT yang akan melakukan pembiayaan, serta perlu adanya bimbingan dalam pelaksanaan akad tersebut. (This research aims to analyze the application of the hybrid contract model on the Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah contract in financing products at BMT. The research method used is qualitative with a case study approach on BMT Mawaddah. Data were obtained through interviews with BMT officials and members, as well as the analysis of documents related to the Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah contract. The results of the study indicate that the application of the hybrid contract model on the Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah contract can improve financing effectiveness and minimize risks for BMT. This hybrid contract combines principles from two types of contracts, Bai' Al-Wafa' and Ijarah, thus expanding the scope of financing offered by BMT. Additionally, the hybrid contract can also reduce default and loss risks for BMT since there are guarantees from the lessee of the goods or services leased. However, this research also found some challenges in the implementation of the hybrid contract on the Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah contract at BMT, such as a lack of understanding and awareness of the hybrid contract among BMT members, and difficulties in executing the contract. Therefore, this study recommends the need for increased understanding and socialization of the hybrid contract on the Bai’ Al-Wafa’ Ma’al Ijarah contract among BMT members, as well as the need for guidance and training in executing the contract.)
Akibat Hukum Endorsement yang Dilakukan oleh Anak di Bawah Umur Perspektif Hukum Islam Moh Anis; Rudi Hermawan
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v5i2.10144

Abstract

Perkembangan teknologi informasi saat ini telah mengubah strategi pemasaran dari metode tradisonal menjadi pemasaran online (endorsement). Endorsement yang berkembang belakangan ini telah banyak yang melibatkan anak di bawah umur yang dijadikan alat untuk mempromosikan produk tertentu. Tulisan ini bertjunan untuk mengetahui aspek hukum endorsement yang melibatkan anak dibawah umur sebagai modelnya yang dilibatkan oleh selebriti atau public figure. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu penggadilan data pada akun-akun Instagram para artis yang melibatkan anaknya dalam kegiatan endorsement dan peraturan perundang-undangan sebagai bahan hukum primer. Adapun bahan hukum sekundernya adalah buku-buku dan jurnal hasil penelitian yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis regulasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek hukum endorsement yang melibatkan anak dibawah umur sebagai modelnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akibat hukum terhadap endorsment yang dilakukan oleh anak dibawah anak dibawah umur dalam perspektif hukum islam adalah tidak sah, namun apabila mengajukan permohonan kepada pengadilan atas persetujuan pengampunya untuk melakukan perbuatan hukum dengan adanya putusan hakim yang menyatakan perjanjian kontrak anak dibawah umur dengan syarat subjek hukum terpenuhi maka perjanjian tersebut sah demi hukum. (The development of information technology today has changed marketing strategies from traditional methods to online marketing (endorsement). Many endorsements that have developed recently have involved minors who are used as tools to promote certain products. This paper aims to find out the legal aspects of endorsements involving minors as models who are involved by celebrities or public figures. This research is a normative legal research with conceptual approach and statutory approach. The type of data used is secondary data, namely data mining on Instagram accounts of artists who involve their children in endorsement activities and legislation as primary legal material. The secondary legal materials are books and journals of research results that have relevance to this research. The data collected is then analysed using regulatory analysis techniques. The purpose of this research is to find out the legal aspects of endorsements involving minors as models. The results of this study indicate that the legal consequences of endorsements carried out by minors in the perspective of Islamic law are invalid, but if submitting an application to the court with the consent of the guardian to carry out legal acts with a judge's decision stating the contract agreement of minors with the condition that the contract is valid.)
Lembaga Penghimpun Zakat Secara Online: Kajian Yuridis dan Hukum Islam Habibullah; Asyhari
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v5i2.10526

Abstract

Lembaga penghimpunan zakat secara online merupakan fenomena baru dalam pelaksanaan ibadah zakat di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian yuridis dan hukum Islam terhadap lembaga penghimpunan zakat secara online. Metode deskriptif-analitik dengan pendekatan normatif diadopsi dalam penelitian ini. Informasi yang digunakan adalah informasi sekunder yang terdiri dari hukum dan peraturan, literatur, dan studi kepustakaan terkait dengan zakat online dan praktek penghimpunan zakat secara online. Menurut temuan penelitian, organisasi penghimpun zakat secara online memiliki dasar hukum dalam Islam yang mengatur tentang pelaksanaan ibadah zakat. Prinsip-prinsip yang terkait dengan zakat, seperti kewajiban, jumlah zakat yang harus dikeluarkan, dan penerima zakat, tetap berlaku dalam konteks penghimpunan zakat secara online. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa isu hukum yang perlu diperhatikan dalam penghimpunan zakat secara online. Isu-isu tersebut meliputi Bagaimana kajian yuridis dan hukum Islam lembaga penghimpun zakat secara Online, Bagaimana analisis terhadap faktor-faktor Muzakki tidak membayar ZIS Melalui BAZNAS. Penelitian ini memberikan rekomendasi kepada lembaga penghimpunan zakat secara online untuk mematuhi ketentuan hukum Islam dalam penghimpunan dan pengelolaan zakat. Selain itu, lembaga penghimpunan zakat secara online juga perlu menjaga keamanan data pribadi donatur, melaksanakan audit internal secara berkala, dan meningkatkan transparansi dalam penggunaan dana zakat. (Online zakat collection institutions are a new phenomenon in the implementation of zakat worship in the digital era. This research aims to conduct a juridical and Islamic law study of online zakat collection institutions. The descriptive-analytic method with a normative approach was adopted in this research. The information used is secondary information consisting of laws and regulations, literature, and literature studies related to online zakat and online zakat collection practices. According to research findings, online zakat collection organizations have a legal basis in Islam which regulates the implementation of zakat worship. Principles related to zakat, such as obligations, the amount of zakat to be issued, and recipients of zakat, still apply in the context of online zakat collection. However, this research also found several legal issues that need to be considered when collecting zakat online. These issues include how to study juridical and Islamic law online zakat collection institutions, how to analyze the factors of Muzakki not paying ZIS through BAZNAS. This study provides recommendations for online zakat collection institutions to comply with the provisions of Islamic law in the collection and management of zakat. In addition, online zakat collection institutions also need to maintain the security of donors' personal data, carry out regular internal audits, and increase transparency in the use of zakat funds)
Konsistensi Mahkamah Agung dalam Memastikan Kepastian Hukum pada Kasus Wanprestasi Tanah dan Onvoldoende Gemotiveerd Lusiana Indriawati; Arifah, Risma Nur
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v5i2.11985

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada fakta normatif pengabulan onvoldoende gemotiveerd pada permohonan kasasi atas kasus wanprestasi tanah. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar hukum hakim dalam mengabulkan onvoldoende gemotiveerd sebagai alasan permohonan kasasi dan untuk menganalisis putusan kasus wanprestasi atas tanah (putusan Mahkamah Agung Nomor 2637 K/Pdt/2015) berdasarkan asas kepastian hukum dan hukum Islam. Penelitian hukum normatif ini bertumpu pada sumber data sekunder yang dihasilkan dari studi dokumen dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar hukum bagi hakim dalam mengabulkan onvoldoende gemotiveerd sebagai alasan permohonan kasasi ialah karena terdapat pertimbangan bahwa gugatan Penggugat/Terbanding dinyatakan kabur (obscuur libel) dan tidak dapat diterima, padahal gugatan Penggugat sudah jelas dan memenuhi syarat formil gugatan, mempertimbangkan jual beli tanah sengketa berdasarkan hukum adat dengan mengenyampingkan KUH Perdata, hukum adat memiliki kedudukan yang sah, namun apabila tidak menghiraukan ketentuan dalam KUH Perdata maka kedudukan pembuktiannya tidak kuat. Majelis hakim pengadilan negeri dan Mahkamah Agung dalam putusannya sudah menerapkan asas kepastian hukum, akan tetapi majelis hakim tinggi tidak menerapkan asas kepastian hukum dalam putusannya karena menyatakan gugatan Penggugat kabur (obscuur libel) dan tidak dapat diterima. Dalam Islam apabila seseorang melakukan wanprestasi atau terdapat unsur lalai, maka dikenakan sanksi kepadanya berupa ganti rugi atau penahanan yang menjadi miliknya sebagai suatu jaminan sejumlah yang telah dijanjikan. (This research is based on the normative fact of granting onvoldoende gemotiveerd in cassation application on land default case. Specifically, this research aims to analyze the legal basis of the judge in granting onvoldoende gemotiveerd as a reason for the cassation application and to analyze the decision of the default case on land (Supreme Court Decision Number 2637 K/Pdt/2015) based on the principles of legal certainty and Islamic law. This normative legal research relies on secondary data sources generated from document studies with a statutory approach and a case approach. The results showed that the legal basis for the judge in granting onvoldoende gemotiveerd as a reason for the cassation application was because there was consideration that the Plaintiff's / Appellant's claim was declared vague (obscuur libel) and could not be accepted, even though the Plaintiff's claim was clear and met the formal requirements of the lawsuit, considering the sale and purchase of the disputed land based on customary law by ignoring the Civil Code, customary law has a valid position, but if it ignores the provisions in the Civil Code, its evidentiary position is not strong. The judges of the district court and the Supreme Court in their decisions have applied the principle of legal certainty, but the panel of high judges did not apply the principle of legal certainty in their decisions because they stated that the plaintiff's claim was vague (obscuur libel) and could not be accepted. In Islam, if someone does.)
Rekayasa Legalitas Akad Mukhabarah dalam Sistem Paroan Perspektif Fiqih Muamalah di Desa Karangnangka Kabupaten Sumenep Madura Andi Ardiyan Mustakim; Abdul Khoir
Al-Huquq: Journal of Indonesian Islamic Economic Law Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/alhuquq.v5i2.12389

Abstract

Tradisi paroan yang berlangsung pada masyarakat desa Karangnangka kabupaten Sumenep Madura telah berjalan bertahun-tahun. Tradisi paroan yaitu kerjasama antara pemilik tanah dan pengelola tanah untuk mengolah tanah dengan bercocok tanam yang semuanya ditanggung oleh pengelola tanah dan hasilnya dibagi berdasarkan kesepakatan. Permasalahan muncul ketika tidak ada kesepakatan bagi hasil diawal transaksi. Pada akhirnya ketika pembagian hasil panen, pemilik lahan merasa tidak puas sebab bagiannya sedikit. Penelitian ini berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif normatif analisis. Teori yang digunakan adalah teori akad mukhabarah dan rekayasa legalitas (hilah) sebagai jawaban atas permasalahan. Hasil penelitian adalah Pertama, akad mukhabarah yang digunakan tidak sah sebab adanya ketidakpastian dan ketidakjelasan pembagian hasil panen (garar). Kedua, akad mukhabarah yang batal beralih status menjadi akad ijarah berdasarkan rekayasa legalitas (hilah). Ketiga, hasil panen sepenuhnya milik pengelola tanah dan bagi pemilik tanah upah standar. Maka transaksi tersebut walaupun batal tapi pemilik tanah dapat mengajukan negoisasi bagi hasil panen dan bagi pengelola tanah harus memberikan bagian pemilik tanah sesuai kesepakatan. Jika tidak terjadi kesepakatan maka pemilik tanah dapat mengajukan tuntutan ke pengadilan. (The paroan tradition that has taken place in the Karangnangka village community, Sumenep Madura Regency, has been going on for years. The paroan tradition is a collaboration between the land owner and the land manager to cultivate the land with cultivation, all of which are borne by the land manager and the results are shared based on an agreement. Problems arise when there is no profit sharing agreement at the beginning of the transaction. In the end, when dividing the harvest, the land owner was dissatisfied because his share was small. This study attempts to answer these problems with a qualitative method that is descriptive normative analysis. The theory used is the theory of mukhabarah contracts and legality engineering (hilah) as an answer to problems. The results of the study are First, the mukhabarah contract used is invalid because of pressure and unclear distribution of harvest (garar). Second, the mukhabarah contract which was canceled changed its status to an ijarah contract based on engineering legality (hilah). Third, the harvest fully belongs to the land manager and the standard wage for the land owner. So, even though the transaction is canceled, the land owner can submit a negotiation for harvest sharing and the land manager must give the land owner's share according to the agreement. If there is no agreement, the land owner can file a lawsuit in court.)

Page 1 of 1 | Total Record : 6