cover
Contact Name
Laelatul Qodaryani
Contact Email
jtibbsdlp@gmail.com
Phone
+6285641147373
Journal Mail Official
jtibbsdlp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tanah dan Iklim
Core Subject : Agriculture,
Jurnal TANAH dan IKLIM memuat hasil-hasil penelitian bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik dari dalam maupun dari luar Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Jurnal ini juga dapat memuat informasi singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru ataupun hasil sementara penelitian tanah dan iklim.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 2 (2016)" : 9 Documents clear
KONVERSI LAHAN SAWAH INDONESIA SEBAGAI ANCAMAN TERHADAP KETAHANAN PANGAN Mulyani, Anny; Kuntjoro, Dwi; Nursyamsi, Dedi; Agus, Fahmuddin
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.121-133

Abstract

Abstrak. Konversi lahan sawah  terus berlangsung dan hal ini merupakan ancaman terhadap pencapaian target swasembada pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laju konversi lahan dengan membandingkan analisis spasial dengan resolusi sedang dan analisis dengan citra resolusi tinggi. Penelitian dilaksanakan dari tahun 2013 sampai 2015 di Sembilan provinsi sentra produksi padi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Gorontalo. Untuk tingkat provinsi digunakan data Landsat TM 7  tahun 2000 dibandingkan dengan data tahun 2013, sedangkan untuk analisis tingkat desa dan kecamatan (67 desa/kecamatan di 9 provinsi yang sama) digunakan data IKONOS, Quickbird, atau Worldview dengan beda waktu citra antara 8 dan 12 tahun yang tersaji dalam Google Earth. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan citra satelit Landsat TM 7 memberikan nilai konversi lahan lebih rendah (sekitar 12.347 ha/tahun untuk 9 provinsi) karena konversi lahan dengan luasan < 5 ha sulit dideteksi. Dengan penggunaan Google Earth, konversi lahan sawah diperkirakan 96.512 ha/tahun, dengan laju konversi bervariasi atas tinggi (> 4%/tahun), sedang (2-4%/tahun) dan rendah (<2%/tahun). Lahan sawah dengan laju konversi tinggi diperkirakan akan terkonversi habis pada tahun 2025. Lahan sawah dengan laju konversi sedang hanya akan tersisa sekitar 200.000 ha pada tahun 2045 dari luas sekitar 1,7 juta ha pada tahun 2014. Lahan sawah dengan tingkat kerawanan rendahpun akan berkurang dengan berjalannya waktu. Lahan sawah seluas 8,1 juta ha sekarang akan menciut menjadi hanya sekitar 6 juta ha menjelang tahun 2045. Jika tidak ada pengamanan terhadap lahan sawah yang ada sekarang dan bila tidak ada pencetakan sawah baru secara signifikan, akan terjadi ancaman terhadap ketahanan pangan Indonesia.  Abstract. Paddy field conversion is continuing and it is threatening food self-sufficiency target. This research was aimed at analyzing the rate of paddy field  conversion and comparing the spatial analytical methods using medium and high resolution images. The research was conducted from  2013 to 2015 in nine important rice producing provinces, namely West Java, East Java, Bali, West Nusa Tenggara, South Sulawesi, South Kalimantan, South Sumatra, North Sumatra, and Gorontalo. For the provincial level analysis, the 2000 Landsat TM was compared to that of 2013, whereas for the village and sub-district level analysis (67 villages/sub-districts) the images of IKONOS, Quickbird, and Worldview with 8 to 12 year image time differences as presented in the Google Earth, were used. The results shows that the use of Landsat TM 7 under-estimated the conversion (about 12,347 ha/year in the nine provinses), because conversion of <5 ha is undetectable. Using the Google Earth images the national conversion rate was estimate as high as 96,512 ha/year, with the rates vary from   rapid (> 4%/year), moderate (2-4%/year) and slow   (<2%/tahun). Paddy fields with rapid conversion rates are estimated to demise by 2025. Those with moderate conversion rates will become only about 200,000 ha in 2045 from 1.7 million ha in 2014. The area of paddy field with slow conversion rate will also decrease with time. The 8.1 million ha current paddy field will decrease to about  6 million ha by 2045, assuming the same conversion rate compared to the historical one. Without significant efforts of safeguarding the existing paddy field and without development of new paddy field, the Indonesian food security targets will go astray.   
PENGARUH ASAM HUMAT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (THEOBROMA CACAO) DAN POPULASI MIKROORGANISME DI DALAM TANAH HUMIC DYSTRUDEPT Santi, Laksmita Prima
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.87-94

Abstract

Abstrak: Asam humat merupakan bahan organik alam yang ketersediaannya cukup melimpah dan berpotensi dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman. Peran asam humat dalam meningkatkan kadar hara bagi bibit kakao dan perkembangbiakan bakteri serta sifat kimia Humic Dystrudept tekstur berpasir menjadi fokus utama dalam riset ini. Kegiatan riset ini dilaksanakan di Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia pada tahun 2014. Populasi Azotobacter beijerinckii dan Aspergillus niger di dalam tanah dievaluasi di laboratorium. Perlakuan dengan penambahan 0; 2,5; 5,0; 7,5; 10,0; and 12,5 mL asam humat ke dalam 10 kg tanah steril. Sementara itu pengujian di rumah kaca untuk mengetahui pengaruh asam humat terhadap pertumbuhan bibit kakao didesain dengan Rancangan Acak Lengkap dengan dua belas perlakuan dan tiga ulangan melalui penambahan 25; 50; 75; 100 % dosis pupuk NPK; 3,75; 7,5; 11,25; dan 15 mL asam humat; 100% NPK + 7,5 mL asam humat; 50% NPK + 7,5 mL asam humat; 25% NPK + 7,5 mL asam humat ke dalam 10 kg tanah; dan blanko (tanpa pupuk dan asam humat). Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa penambahan asam humat memiliki korelasi positif terhadap peningkatan populasi mikroorganisme tanah dan serapan hara. Kelimpahan terbesar dari populasi A. beijerinckii dan A. niger diperoleh pada penambahan 7,5-12,5 mL asam humat. Penambahan asam humat serta kombinasinya dengan pupuk NPK dapat meningkatkan kadar hara daun N (5,7%), P (21,4%), dan K (17,2%) serta 5,4 - 41,7% bobot kering bibit kakao. Abstract. Humic acid is a natural organic material relatively abundant and potentially be used to improve plant growth. The role of humic acid in improving nutrient content of cocoa seedlings and in improving the growth of soil bacteria and fungi, as well as improving chemical properties of sandy Humic Dystrudept were the main foci of this research. This research was carried out at Indonesian Research Institute for Biotechnology and Bioindustry in 2014. Population of Azotobacter beijerinckii and Aspergillus niger in the soil were evaluated in the laboratory. Treatments were the addition of 0; 2.5; 5.0; 7.5; 10.0; and 12.5 mL humic acid into 10 kg of sterile soil. The greenhouse experiment to determine the effects of humic acid on the growth of cocoa (Theobroma cacao) seedlings was arranged in a completely randomized design with three replications and twelve treatments: 25; 50; 75; 100 % dosages of NPK fertilizer; 3.75; 7.5; 11.25; and 15 mL humic acid; 100% NPK + 7.5 mL humic acid; 50% NPK + 7.5 mL humic acid; 25% NPK + 7.5 mL humic acid into 10 kg of soil; and blank (without fertilizer and humic acid). The results of these research showed that humic acid have a positive correlation in increasing soil microbial population and nutrient uptake. The most abundant population of A. beijerinckii and A. niger were under the addition of the 7.5-12.5 mL of humic acid. The addition of humic acid and its combination with NPK fertilizer increased N content 5.7%, P content 21.4%, and K contents 17.2% in cocoa seedling leaves and seedling dry weight 5.4 - 41.7%. 
Pengaruh Amelioran, Pupuk dan Sistem Pengelolaan Tanah Sulfat Masam terhadap Hasil Padi dan Emisi Metana Wahida Annisa; Dedi Nursyamsi
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.135-145

Abstract

Abstrak: Hasil yang tinggi dan emisi metana yang rendah merupakan tujuan pengelolaan lahan basah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh amelioran, pupuk, dan sistem pengelolaan terhadap hasil padi dan emisi metana. Penelitian dilaksanakan di lahan sulfat masam Kalimantan Selatan dengan rancangan split-split plot. Petak utama adalah tipe penggunaan lahan yaitu: S1= pengelolaan tradisional (alami), dan S2= pengelolaan intensif. Anak petak adalah pemupukan NPK yaitu: P1=NPK 100%, P2=NPK 75%. Dosis NPK 100% sesuai dengan rekomendasi yaitu (kg ha-1) 200 Urea; 100 SP 36; 100 KCl. Sedangkan anak-anak petak adalah perlakuan amelioran: B0=Tanpa bahan organik, B1= Pola petani, B2=Kompos (kombinasi kompos Jerami 30%+ Kompos Purun 30%+ Kompos Kotoran Sapi 40%), B3=Biochar sekam padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi metana tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan S2P1B1 yaitu sebesar 30,40 kg ha-1 musim-1 dengan nilai indeks produksi padi (rasio hasil per emisi metana) sebesar 82,8 dan hasil gabah sebesar 2,5 t ha-1. Hasil gabah tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan S2P2B2 yaitu sebesar 3,4 t ha-1 dengan nilai indeks produksi padi sebesar 438,9 dan emisi metana sebesar 7,75 kg ha-1 musim-1. Indeks produksi padi tertinggi terlihat pada perlakuan tanpa amelioran (kontrol) dengan pemupukan NPK 100% yaitu sebesar 788,6 namun hasil gabah hanya 1,95 t ha-1, walaupun emisi metana rendah (2,47 kg ha-1 musim-1). Penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan meningkatkan hasil padi masih belum sejalan dengan penurunan emisi metana sehingga yang disarankan adalah perlakuan S2P2B2 karena memberikan hasil tertinggi.Abstract. High yield and low methane emission are two goals in wetland management systems. The aim of this study was to evaluate the effects of biochar and compost on methane emission and yield of rice on acid sulphate soils. The research was conducted on acid sulfate soil in South Kalimantan using a split-split plot design. The main plot was two management regimes which were traditional (S1) and intensive (S2) managements. The sub plot was the NPK fertilization, namely: P1 = NPK 100%, and P2 = NPK 75% of the recommended rate of NPK. The recommendations rate of NPK fertilizers was (kg ha-1) 200 urea; 100 SP 36; and 100 KCl. Sub-sub plots were ameliorants: B0 = Without ameliorants, B1= Farmers’ practice, B2= Compost (a combination of ‘Straw’ Compost 30% + ‘Purun’ Compost 30% + ‘Cattle Manure’ Compost 40%), and B3 = Biochar of rice husk. The results showed that the highest methane emissions amounted to 30.40 kg ha-1 season-1 was resulted from S2P1B2 treatment, with the production index (yield/methane emission) of 82.8 and grain yield of 2.5 t ha-1. The highest grain yield of 3.4 t ha-1 was shown in the treatment S2P2B2 with the production index of 438.9 and methane emissions of 7.75 kg ha-1 season-1. The highest rice production index of 788.6 was obtained in the treatment without ameliorant and 100% NPK fertilization. This treatment gave grain yield of only 1.95 t ha-1 and the methane emissions of 2.47 kg ha-1 season-1. This research concluded that the objective of high yield is not synchronized with low methane emission and thus treatment S2P2B2 with the highest yield is remommended.
Soil Strength and Water Infiltration Under Reduced and Conventional Tillage in a Typic Haplustepts of Lamongan District Achmad Rachman
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.95-101

Abstract

Abstract. The ability of upland non-irrigated soil to absorb and store water is critical to to provide sufficient moisture for crop grown in dry season. The objective of this study was to evaluate the effects of tillage, reduced (RT) and conventional tillage (CT), on infiltration rate and soil penetration resistance (soil strength) in soil with ustic moisture regime planted with corn. The experiment was conducted on a site, which had been continuously planted with corn twice a year. The predominant soil was Typic Haplusteps. Six positions, 15 meters a part, were chosen within each treatment to measure infiltration rate and soil strength. The mean infiltration rate values were higher under CT (91.87 ± 18.99 mm h-1) than under RT (64.36 ± 30.97 mm h-1). The amount of water infiltrated in CT is 1.4 times higher than in RT. The RT induced the formation of near surface compacted layer with a soil strength of 850 kPa, 2 times higher than under CT at the same depth. The compacted layer is expected to be responsible for lowering infiltration rate under RT. The highest correlation (R2 = 0.83) between qs and Ksat under RT was found at the second depth (8 to 12-cm) and third depth (16 to 20-cm) for CT (R2 = 0.73) indicating that soil layer with the highest soil strength was responsible to control water infiltration. The infiltration models tested (Parlange, the Green and Ampt, and Kostiakov) fit well with the measured data (r2 = 0.99–1.00). It is recommended to conduct deep tillage (20 – 25 cm) once a year to maintain favorable soil structure for water infiltration and root growth.Abstrak: Kemampuan lahan tadah hujan untuk menyerap dan menyimpan air sangat penting dalam kaitannya dengan penyediaan kelembaban tanah yang optimum untuk pertumbuhan tanaman pada musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pengolahan tanah terbatas (RT) dan konvensional (CT) terhadap laju infiltrasi dan ketahanan penetrasi (kekuatan) tanah pada tanah dengan regim kelembaban ustic yang ditanami jagung. Penelitian dilaksanakan pada tanah Typic Haplusteps yang ditanami jagung 2 kali dalam setahun. Pengukuran infiltrasi dan kekuatan tanah dilakukan di enam titik, masing-masing berjarak 15 meter, pada tiap perlakuan. Rata-rata laju infiltrasi pada perlakuan CT adalah 91.87 ± 18.99 mm jam-1 lebih tinggi dibanding pada RT yaitu 64.36 ± 30.97 mm jam-1. Volume air yang terinfiltrasi pada perlakuan CT adalah 1,4 kali lebih banyak dibanding pada perlakuan RT. Perlakuan RT menyebabkan terbentuknya lapisan padat dibawah permukaan tanah dengan kekuatan tanah sebesar 850 kPa, 2 kali lebih besar dibanding perlakuan CT pada kedalaman yang sama. Lapisan padat pada perlakuan RT diduga sebagai penyebab rendahnya laju infiltrasi pada perlakuan tersebut. Korelasi tertinggi (R2 = 0.83) antara qs dan Ksat diperoleh pada kedalaman kedua (8-12 cm) untuk perlakuan RT dan pada kedalaman ketiga (16-20 cm) untuk perlakuan CT (R2 = 0.73) menunjukkan bahwa lapisan tanah yang paling padat mengontrol laju infiltrasi. Ketiga model penduga infiltrasi yang diuji (Parlange, Green and Ampt dan Kostiakov) berkesesuaian sangat baik dengan infiltrasi hasil pengukuran (r2 = 0.99–1.00). Berdasarkan hasil penelitian ini, direkomendasikan untuk melakukan olah tanah dalam (20 – 25 cm) sekali dalam setahun untuk menjaga agar tanah tetap gembur sehingga memperbaiki laju infiltrasi dan pertumbuhan akar. 
PENGARUH PERLAKUAN JERAMI DAN VARIETAS PADI INBRIDA TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA DI LAHAN SAWAH IRIGASI Sutrisna, Nana; Surdianto, Y.; Marbun, O.
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.79-85

Abstract

AbstrakSistem budidaya padi yang intensif dapat meningkatkan produktivitas, namun juga dapat memberikan dampak negatif terhadap peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) ti troposfer dalam bentuk gas metan (CH4) dan dinitrogen oksida (N2O). Indonesia adalah penyumbang emisi gas rumah kaca urutan ke-18 dunia. Atas dasar itu, pemerintah Republik Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 26% sampai tahun 2020. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perlakuan jerami padi pada beberapa varietas unggul baru terhadap penurunan GRK. Penelitian mengunakan rancangan petak terpisah (split plot design).  Petak utama adalah VUB, terdiri atas (1) Inpari 4 (V1), (2) Inpari 14 (V2), dan (3) Mekongga (V3). Anak petak adalah teknik pemanfaatan jerami terdiri atas: (1) jerami dikomposan (J1), (2) jerami digelebeg (J2), dan (3) tanpa jerami (J0). Jumlah ulangan sebanyak 5. Data yang dikumpulkan terdiri atas: emisi GRK (CH4 dan N2O), pertumbuhan padi, komponen hasil, dan hasil padi. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis statistik dengan analisis keragaman (Analysis of Varians) yang dilanjutkan dengan uji nilai tengah Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas dan perlakuan jerami padi terhadap emisi CH4 baik pada umur 21, 42, dan 87 hst. Pada umur 42 hst perlakuan jerami padi berpengaruh nyata terhadap emisi CH4. Pada umur 87 hst varietas dan perlakuan jerami masing-masing berpengaruh nyata terhadap emisi CH4. Pada umur 110 hst justru varietas berpengaruh nyata terhadap emisi CH4. Terjadi interaksi antara varietas dan perlakuan jerami padi terhadap emisi gas N2O pada umur 21 hst.
Dampak El Nino 2015 terhadap Performa Tanaman Kelapa Sawit di Bagian Selatan Sumatera (Effect of El Nino 2015 on Oil Palm Performance in Southeastern Part of Sumatera) Nuzul Hijri Darlan; Iput Pradiko; Hasril H. Siregar
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.113-120

Abstract

El Nino 2015 telah menyebabkan kekeringan panjang di wilayah selatan khatulistiwa Indonesia. Kekeringan tersebut juga memicu bencana kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan gangguan asap. Defisit air akibat kemarau panjang dan reduksi radiasi matahari akibat gangguan asap dapat mempengaruhi performa tanaman kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak El Nino 2015 terhadap kondisi defisit air lahan, deret hari terpanjang tidak hujan (dry spell), dan gangguan asap serta pengaruhnya terhadap performa tanaman kelapa sawit. Penelitian dilakukan menggunakan data curah hujan harian, data lama penyinaran dan visibilitas Januari-Desember 2015 serta data observasi performa tanaman di beberapa kebun kelapa sawit di Sumatera bagian selatan meliputi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Nilai defisit air dan dry spell pada wilayah kajian berturut-turut berkisar antara 0-624 mm dan 7-133 hari. Disisi lain, gangguan asap yang terjadi selama Juli-Oktober 2015 menyebabkan penurunan lama penyinaran dan visibilitas hingga 70%. Hasil observasi menunjukkan bahwa tanaman mengalami stress akibat kekeringan ditandai munculnya daun tombak, banyak muncul bunga jantan, malformasi tandan, pelepah segar mengalami sengkleh, serta cadangan buah dan bunga yang kurang. Sementara itu, respon tanaman terhadap gangguan asap masih belum diketahu secara jelas, meskipun ada tendensi penurunan rendemen minyak hingga 2% akibat gangguan asap. Upaya teknis yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak kekeringan dan gangguan asap adalah melalui penerapan kultur teknis, pemupukan, serta pembuatan sistem konservasi tanah dan air.    Kata kunci : kelapa sawit, El Nino, kekeringan, asap, Sumatera
Peningkatan Produktivitas Lahan Sawah Tadah Hujan dengan Pemupukan Hara N, P, K dan Penggunaan Padi Varietas Unggul Antonius Kasno; Tia Rostaman; Diah Setyorini
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.147-157

Abstract

Abstrak. Potensi lahan sawah tadah hujan cukup luas dan produktivitasnya dapat ditingkatkan, antara lain dengan pemupukan yang rasional sesuai status hara tanah dan kebutuhan tanaman akan hara, serta penggunaan varietas unggul. Penelitian bertujuan mempelajari peningkatan produktivitas lahan sawah dengan pemupukan hara N, P, dan K serta penggunaan varietas unggul. Penelitian dilakukan di tiga lokasi, yaitu di Andong, Boyolali; Jakenan, Pati dan Cibeber, Cianjur. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan pola perlakuan faktorial tidak lengkap, 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan merupakan kombinasi pemupukan hara N, P, dan K, ditambah perlakuan kontrol, dan perlakuan varietas yang umum digunakan petani setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pembatas pertumbuhan tanaman padi lahan sawah tadah hujan di Jakenan, Pati antara lain kadar C-organik, hara N, P, dan K, Andong, Boyolali adalah C-organik, hara N dan P, dan Cibeber, Cianjur adalah hara N dan K. Dosis pemupukan N, P, dan K yang rasional untuk lahan sawah tadah hujan di Andong, Boyolali 300 kg urea, 75 kg KCl dan 50 kg SP-36/ha, Jakenan, Pati 200 kg urea, 200 kg KCl, dan 50 kg SP-36, Cibeber, Cianjur 250 kg urea, 50 kg SP-36 dan 50 kg KCl/ha. Penggunaan varietas unggul belum mampu meningkatkan hasil padi secara nyata untuk lahan sawah tadah hujan dibandingkan dengan varietas padi yang umum digunakan petani. Kata kunci: sawah tadah hujan; pemupukan; varietas unggul; produktivitas; Abstract. The potential of rainfed areas are quite large and productivity can be improved, among other things with a rational fertilization corresponding nutrient status of soil and crop needs for nutrients, and the use of high yielding varieties. The research aims to study the increase in the productivity of paddy fields with fertilization of N, P, K, and the use of high yielding varieties. The study was conducted in three locations, namely in Andong, Boyolali; Jakenan, Pati and Cibeber, Cianjur. Research using randomized complete block design with factorial pattern of incomplete treatment, 12 treatments and 3 replications. The treatment is a combination of fertilizer N, P, and K, plus a control treatment, and the treatments that are commonly used varieties of local farmers. The results showed that the limiting factors the growth of the rice plant rainfed areas in Jakenan, Pati, were organic-C, N, P, and K, Andong, Boyolali is organic-C, N and P, and Cibeber, Cianjur is N and K. The fertilization rational of N, P, and K for rainfed areas in Andong, Boyolali 300 kg urea, 75 kg and 50 kg KCl SP-36/ha, Jakenan, Pati 200 kg urea, 200 kg KCl and 50 kg of SP-36, Cibeber, Cianjur 250 kg urea, 50 kg of SP-36 and 50 kg KCl/ha. The use of high yielding varieties of rice have not been able to significantly increase the yield for rainfed areas compared with rice varieties that are commonly used by farmers. Key word: rainfed; fertilizer; improved varieties; productivity
Cover JTI Vol.40(2) Desember 2016 Wahid Noegroho
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.%p

Abstract

Berisi 8 Paper
Eksplorasi Bakteri Pendegradasi Insektisida Klorpirifos di Lahan Sayuran Kubis Jawa Barat Eman Sulaeman; Asep Nugraha Ardiwinata; Mohamad Yani
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 40, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v40n2.2016.103-112

Abstract

Abstrak: Insektisida klorpirifos merupakan salah satu jenis insektisida yang paling banyak digunakan oleh petani untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman, akan tetapi penggunaan  insektisida yang terus menerus dan tidak sesuai dengan aturan dapat berakibat terhadap kerusakan lingkungan, penurunan kualitas lahan dan kesehatan manusia. Perbaikan kerusakan lahan yang tercemar insektisida dapat dilakukan secara bioremediasi  dengan memanfaatkan aktifitas mikroorganisme. Penelitian dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah di lahan tanaman kobis di daerah Cisarua, Pacet dan Lembang, contoh tanah kemudian preparasi dan ditumbuhkan di media Nutrient Brouth (NB) yang telah dicemari insektisida klorpirifos, isolate yang tumbuh kemudian dimurnikan dalam media Nutrient Agar (NA). Isolat murni yang diperoleh diuji kemampuannya dalam mendegradasi insektisida klorpirifos lalu di identifikasi secara molekuler.  Hasil penelitian menunjukkan, tanah Cisarua, Pacet dan lembang diperoleh sebanyak 30 isolat yang mampu tumbuh di media tercemar dan mampu mendegradasi  insektisida klorpirifos dengan kisaran sebesar  8,66- 50,63%. Isolate yang paling tinggi dalam mendegradasi insektisida klorpirifos adalah C3NP1 sebesar 39,67%, P5NP  50,63% dan L9NP sebesar 44,98%. Hasil penetapan secara molekuler dari isolate C3NP1 memiliki kemiripan 99,80% dengan Pseudomonas montiilii, P5NP memiliki kemiripan 95,60% dengan Bacillus cereus dan T9NP memiliki kemiripan 92,7% dengan Pseodomonas sp.Abstract. Chlorpyrifos insecticide is one of insecticide that mostly used by farmer to control many kind of pests, but the use of this insecticide continuously have effect to environmental damage, decrease of land quality, and human health. Improving quality of land contaminated with insecticide can be done with bioremediation by using microorganism activities. This research was started by taking soil samples in cabbage crop land at Cisarua, Pacet, and Lembang districts, spread in Nutrient broth (NB) medium that contained chlorpyrifos, and grown isolates were purified on Nutrient agar medium.  The purified isolates were tested their ability to degrade chlorpyrifos insecticide, and then identified by 16S rRNA molecular identification. The result shows that 6 isolates were obtained from soil samples from Cisarua, Pacet, and Lembang districts. They grow on contaminated medium and have ability to degrade chlorpyrifos insecticide about 8,66 to 50,63%. The best of 3 isolates that had the highest ability to degrade chlorpyrifos insecticide were C3NP1 (39,67%), P5NP (50,63%), and L9NP (44,98%). The resulted of molecular identification shown that isolate C3NP1 has 99,80% similarity to Pseudomonas  monteilii, isolate P5NP has 95,60% similarity to Bacillus cereus, and isolate L9NP has 92,70% similarity to Pseudomonas sp.

Page 1 of 1 | Total Record : 9