cover
Contact Name
arief yanto
Contact Email
arief.yanto@unimus.ac.id
Phone
+6285876336907
Journal Mail Official
nersmuda@unimus.ac.id
Editorial Address
Jl. Kedungmundu Raya No. 18 Semarang Gedung NRC University of Muhammadiyah Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ners Muda
ISSN : -     EISSN : 27238067     DOI : https://doi.org/10.26714/nm
Core Subject : Health, Education,
Ners Muda is intended to be the university journal for publishing articles reporting the results of research and case study in nursing. Ners Muda invites manuscripts in the areas of medical-surgical nursing, emergency and disaster nursing, critical nursing, pediatric nursing, maternity nursing, mental health nursing, gerontological nursing, community health nursing, management and leadership nursing.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2023)" : 15 Documents clear
Pemberian aromaterapi peppermint (mentha piperita) mampu mengurangi mual dan muntah akibat kemoterapi Adi Nur Tianto; Nikmatul Khayati
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v4i1.12014

Abstract

Mual dan muntah merupakan efek samping kemoterapi yang paling umum. Upaya untuk mengatasinya menggunakan terapi farmakologi dan non farmakologi. Mual dan muntah akibat kemoterapi dapat beribeikan aromaterapi peppermint.  Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi Peppermint terhadap frekuensi mual dan muntah. Studi ini menggunakan  deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan yang melibatkan 3 subjek. Pengambilan data dilakukan secara accidental sampling. Kriteria inklusi meliputi pasien yang menerima kemoterapi regimen FOLFOX dan mendapatkan antiemetik yang sama yaitu Ondansetron 8mg/8jam. Aromaterapi di berikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak aromaterapi peppermint dan dioleskan diantara hidung dan bibir, aromaterapi peppermint diberikan 3x sehari setelah selesainya efek antiemetik.  Studi kasus berlangsung dari tanggal 25 – 28 Desember 2023. Instrumen pengukuran menggunakan  The Index of Nausea, Vomiting, and Retching (INRV) untuk mengobservasi frekuensi mual muntah pasca kemoterapi.  Hasil evaluasi didapatkan adanya penurunan frekuensi mual dan muntah pada ketiga subjek studi kasus setelah pemberian aromaterapi peppermint. Hasil menunjukkan rerata skor INVR subjek 1 sebesar 14, subjek 2 sebesar 10,75 dan subjek 3 sebesar 10. Rata-rata penurunan skor INVR ketiga subjek sebesar 3 skor. Masalah keperawatan nausea berhubungan dengan efek agen farmakologis (tindakan pengobatan kemoterapi) teratasi sebagian ditandai dengan penurunan skor mual dan muntah. Molekul essensial oil dari aromaterapi Peppermint akan memberikan efek relaks dan tenang, efek lain juga dapat menghambat produksi serotonin sehingga dapat mengurangi kontraksi otot perut dan gejala mual muntah akan berkurang. Aromaterapi pappermint mampu mengurangi mual dan muntah paska kemoterapi.
Penerapan Senam Kaki Diabetik Untuk Menurunkan Nyeri Neuropati: Case Study Losa Nia Pradana; Satriya Pranata
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v4i1.12090

Abstract

Pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki permasalahan nyeri kaki yang berhubungan dengan kondisi neuropati diabetikum. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi nyeri yang dirasakan dilakukan senam kaki diabetik. Neuropati di kaji menggunakan alat ukur nyeri neuropati yaitu kuesioner douleur neuropathique en 4 questions (DN4). Salah satu solusi untuk mengurangi nyeri neuropati yang bisa di terapkan dengan melakukan senam kaki diabetik yang berfungsi untuk mengurangi nyeri, meningkatkan rasa nyaman, menjaga kestabilan gula darah dan memperbaiki sirkulasi darah serta menghambat kerusakan saraf pada kaki.  Studi kasus ini bertujuan untuk mengetahui apakah senam kaki diabetik efektif untuk menurunkan nyeri neuropati. Studi kasus ini menggunakan study dekriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan menggunakan teknik senam kaki diabetes pada pasien diabetes melitus tipe 2. Subyek studi kasus penelitian ini menggunakan 2 responden. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa pada kasus pertama didapatkan sebelum diberikan senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien dengan skor 7 setelah diberikan senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien mengalami penurunan dengan skor 5 sedangkan pada kasus kedua didapatkan sebelum senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien dengan skor 6 setelah diberikan senam diabetik tingkat nyeri neuropati pasien menurunan dengan skor 4. Penerapan senam kaki diabetik mampu menurunkan nyeri neuropati bagi pasien yang menderita Diabetes Mellitus Tipe 2.
Penerapan hand massage dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien post operasi mastectomi : studi kasus Hana Rahmadani Putri; Nugroho Lazuardi
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v4i1.12781

Abstract

Permasalahan pada pasien post operasi adalah rasa nyeri yang dirasakan akibat luka operasi. Setelah efek anestesi menurun maka pasien akan merasakan nyeri pada area payudara setelah dilakukan mastectomi. Hal ini akan mengakibatkan kondisi pasien merasa tidak nyaman, tidak tenang, gelisah dan berbagai gangguan perasaan lainnya. Salah satu terapi yang dapat dimanfaatkan untuk menurunkan nyeri yaitu hand massage. Pada karya ilmiah akhir ners ini penulis bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan hand massage dalam penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi mastectomi. Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Studi kasus dilaksanakan Januari 2023, di Ruang Rajawali 4B RSUP Dr. Kariadi Semarang pada 2 subyek studi. Kriteria inklusi yaitu pasien post operasi mastectomi, pasien berusia 18 – 65 tahun dan pasien yang bersedia menjadi responden. Pemberian hand massage dilakukan selama 6 hari dengan durasi keseluruhan 20 menit pukul 10.00 setelah 4 jam diberikan analgesik. Instrumen yang digunakan dalam studi kasus ini adalah Numerical Rating Scale (NRS) untuk pengukuran intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi terapeutik. Penerapan hand massage mampu menurunkan nyeri pada pasien post operasi mastectomi, dimana terdapat perubahan dari hari pertama hingga hari terakhir, subjek I sebelum diberikan hand massage skala nyeri 6 menjadi 2 mengalami penurunan sebanyak 4 sedangkan pada subjek II sebelum diberika terapi hand massage skala nyeri 5 menjadi 1 mengalami penurunan sebanyak 4. Hand massage dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan dalam menurunkan nyeri pada pasien post operasi mastectomi.
Terapi Relaksasi Otot Progresif Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Klien Lansia I Kade Ngurah Arya Wardana; Machmudah Machmudah
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v4i1.9493

Abstract

Lansia adalah suatu masa dimana proses produktifitas berpikir, mengingat, menangkap, dan merespon sesuatu sudah mengalami penurunan secara berkala. Tahun 2020, jumlah lansia diprediksi sudah menyamai jumlah balita. Sebelas persen dari 6,9 milyar penduduk dunia adalah lansia. Keluhan sering terjaga pada malam hari dan sulit untuk tidur sering dikeluhkan oleh lansia. Hal ini bisa diakibatkan karena beberapa faktor seperti stress, depresi, kecemasan akibat kesendirian, pasangan yang meninggal, merasa tidak berguna ataupun merasa diabaikan oleh keluarga. Terapi relaksasi otot progresif dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Hal ini disebabkan karena terjadi respon relaksasi (Trophotopic) yang menstimulasi semua fungsi dimana kerjanya berlawanan dengan sistem saraf simpatis sehingga tercapai keadaan rilaks dan tenang. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap peningkatan kualitas tidur lansia. Sampel berjumlah 2 responden dengan keluhan sering terbangun pada malam hari. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi menggunakan kuesioner PSQI pre-test dan post-test. Pengaplikasian relaksasi otot progresif ini dilakukan 8 kali mplementasi selama 8 hari. Setelah dilakukan terapi relaksasi otot progresif, kualitas tidur lansia mengalami peningkatan, walaupun tidak signifikan. Hal ini dimungkinkan karena teknik relaksasi otot progresif dapat menenangkan dan membuat tubuh menjadi rileks, sehingga lansia dapat tertidur. Hasil studi ini didukung dengan studi lain yang membuktikan bahwa teknik relaksasi otot progresif mampu meningkatkan kualitas tidur pada lansia. Dari hasil studi yang dilakukan dapat disumpulkan teknik relaksasi otot progresif dapat meningkatkan kualitas tidur pada lansia.
Penerapan Diabetes Self Management Education (DSME) Terhadap Peningkatan Manajemen Kesehatan Mandiri Pada Pasien DM Tipe 2 Rahmadani, Dafa Fidia; Al Jihad, Much Nurkharistna
Ners Muda Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/nm.v4i1.12959

Abstract

Penyakit DM tipe 2 perlu adanya manajemen penatalaksanaan mandiri secara baik untuk mengurangi terjadinya komplikasi. Prevalensi Diabetes Indonesia berada di peringkat kelima penderita diabetes terbanyak seluruh dunia dengan jumlah penderita sebanyak 19,47 juta orang diprediksi setiap tahun prevalensi diabetes mellitus di indonesia teruslah meningkat. Diabetes Self Management Education (DSME) yang mengintegrasikan empat pilar penatalaksanaan DM mengarahkan penderita dapat melakukan perawatan mandiri secara berkelanjutan. Tujuan dari penerapan DSME ini diharapkan pasien dan keluarga yang menderita DM mampu mengenali masalah DM, mampu mengontrol dan melakukan penatalaksanaan yang baik pada pasien DM. Metode yang digunakan pada study kasus ini adalah deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan berupa pengkajian, merumuskan masalah, membuat perencanaan, melakukan tindakan keperawatan dan evaluasi. Penatalaksanaan mandiri atau self management pada penderita DM membutuhkan 4 pilar, yaitu pendidikan kesehatan, pola makan, mengelola stres, dan terapi farmakologis.  hasil evaluasi DSME setelah 2x edukasi dan evaluasi selama 7 hari didapatkan hasil pree test Responden 58 (sedang) sedangkan post test 68 (sedang) yang artinya terjadi peningkatan manajemen kesehatan mandiri pada kedua keluarga sejumlah 10 skor. Terdapat peningkatakan manajemen kesehatan mandiri pada pasien DM tipe 2 setelah diberikan implementasi DSME selama 2x edukasi kesehatan.

Page 2 of 2 | Total Record : 15