cover
Contact Name
meddyan heriadi
Contact Email
meddyanheriadi@gmail.com
Phone
+6281279687634
Journal Mail Official
meddyanheriadi@gmail.com
Editorial Address
Pascasarjana IAIN Bengkulu. Jl. Raden Fatah Pagar Dewa Kota Bengkulu » Tel / fax : 081271987140 /
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v5i1
Jurnal ini berfokus pada filsafat dan pemikiran islam. Jurnal ini diterbitkan oleh prodi Filsafat Agama S2 Pascasarjana IAIN Bengkulu. Tujuan dari pendirian jurnal ini adalah untuk menjadi sarana publikasi karya tuis ilmiah khususnya di bidang filsafat dan pemikiran islam.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2022): Mei" : 6 Documents clear
Transformasi Tarekat Syattariyah dan Implikasinya terhadap Masyarakat Di Desa Sanggaran Agung Kecamatan Danau Kerinci Kabupaten Kerinci Mhd. Rusydi
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7965

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan pola-pola transformasi Tarekat Syattariyah di Desa Sanggaran Agung dan bagaimana Implikasinya terhadap Masyarakat di Desa Sanggaran Agung. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan teknik analisis data menggunakan metode analisis deskriptif-analisis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa : 1) Tarekat Syattariyah di Desa Sanggaran Agung Kec. Danau Kerinci Kab. Kerinci mengalami transformasi dalam dua bidang, pertama dalam bidang substansi ajaran dan yang kedua dalam metode pengajaran, adapun transformasi dalam bidang substansi ajaran yaitu : a. penyederhanaan prosesi bai’at yang sebelumnya diterapkan syarat yang sangat ketat seperti berpuasa, membaca zikir tertentu, tidur dalam keadaan berwudhu, memperbanyak sholat sunnat tertentu dan lain-lain b. menghilangkan sebagian tradisi keagamaan tarekat syattariyah yang selama ini menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat seperti khutbah jum’at menggunakan bahasa arab, shalat qadha satu tahun sekali, shalat sunnat lailatu qadar akan tetapi masih ada sebagian tradisi keagamaan yang masih tetap dilaksanakan sampai saat ini yaitu shalat 40 hari secara berjamaah c. meninggalkan ajaran wahdatul wujud yang menurut kalangan tarekat butuh pemahaman yang mendalam untuk memahaminya dan dianggap tidak terlalu penting untuk diajarkan, adapun transformasi dalam bidang metode pengajaran ialah :   a. pembagian murid tarekat menjadi dua yaitu tinggat awal dan tingkat atas, hal ini dimaksudkan agar para murid tarekat benar-benar siap secara syari’at untuk masuk lebih jauh ke dalam dunia tarekat b. membudayakan kegiatan zikir dan tahlil berjamaah dalam peringatan hari-hari besar keagamaan c. adanya semangat dan militansi dalam berdakwah d. mempunyai tradisi hafalan yang cukup kuat. 2) implikasi tarekat syattariyah terhadap pengikutnya yaitu : terjadi peningkatan kualitas keimanan dikalangan penganutnya hal ini di tandai dengan meningkatnya amal ibadah, mempunyai adab yang sangat baik dan mempunyai hubungan sosial yang sangat kuat.
Makna Filsafat Simbol Naik Bubung dalam Tradisi Masyarakat Lembak Rabi’in Rabi’in
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7966

Abstract

Filosofi simbol naik bubung dalam tradisi masyarakat lembak, di Kecamatan Talang Empat, Kabupaten Bengkulu Tengah memiliki makna dan fungsi tersendiri bagi kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui filosofi simbol naik bubungan serta historis dalam filosofi simbol pada masyarakat lembak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori Herbert Blummer. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Simbol yang digunakan naik bubung dalam tradisi masyarakat lembak adalah Kundur, kelapa muda, pisang emas, tebu hitam, padi, cocor bebek/sedengen, senyeluang, kayu kapung serta bendera merah putih,benda-benda ini dipasang ketika akan mulai memasang rangka atap atau memasang kuda-kuda, benda-benda ini diletakkan pada bagian atas yang diikat pada perabung rumah atau disebut dengan bubung rumah. Pemasangan benda-benda yang dijadikan simbol ini sudah dijadikan tradisi kebudayaan masyarakat lembak dan memiliki filosofi. Adapun latar belakang pemasangan simbol menurut para tokoh agama telah diadakan turun menurun sampai sekarang ini, Filosofi simbol pada kundur dapat  penetral racun/penyakit yang ada pada bahan bangunan rumah sehingga nyaman ketika berada di dalam rumah, kelapa dapat melepaskan lapar dan dahaga, tebu dapat mempercantik/memperindah dan pemanis bangunan rumah, padi  dapat dijadikan pedoman semakin merunduk semakin berisi, serta dapat memberikan rasa kenyang, cocor bebek/sedengen dapat memberikan rasa sejuk dan adem, senyeluang dan kapung dapat menangkal petir dan badai, pisang mas dapa terhindar dari godaan jin dan syaithan, terhindar dari ilmu ghaib, bendera merah putih menandakan Indonesia sudah merdeka dan menunjukkan yang memiliki rumah itu warga negara Indonesia.
Kepemimpinan Meraje Keluarga Semende di Rejang Lebong Dan Relevansinya dengan Ajaran Islam Fridiyanto Cahyono
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7967

Abstract

Rumusan penelitian ini adalah : 1) Bagaimana konsep kepemimpinan meraje keluarga Semende di Rejang Lebong? 2) Bagaimana aplikasi dan dampak meraje keluarga Semende di Rejang Lebong dan relevansinya dalam Islam? 3) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat  dari sistem kepemimpinan meraje di Rejang Lebong? Jenis penelitian adalah penelitian field research (penelitian lapangan). Pengumpulan data dengan menggunakan teknik interview (wawancara), observasi dan pengamatan, dokumentasi, serta catatan lapangan berupa gagasan penting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: 1) Dalam konsep meraje keluarga Semende merupakan ciri kepemimpinan yang ada dalam adat semende yang semua aturan, perintah harus ditaati setiap jurai atau anak belai. 2) Aplikasi kepemimpinan meraje berdasarkan asas kekeluargaan, pertalian daerah, persekutuan dan relevansinya sesuai dengan  ajaran Islam. Dengan adanya sistem yang disebut sebagai  Adat Semende Meraje Anak Belai yang telah tersusun dari silsilah dan garis keturunan dalam kepemimpinannya. 3) Faktor pendukung dan penghambat juga terdapat dalam meraje. Baik dalam internal jurai, sampai pada tata aturan meraje yang tidak ditaati.  
Konsep Kehendak Bebas Perspektif Muhammad Chesy Veronika Saras Wentil
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7963

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan teori kehendak bebas berdasarkan persfektif filosof Muhammad Iqbal. Problem yang diangkat dalam hal ini adalah manusia kurang memahami diri atau kediriannya sendiri, manusia banyak yang terjebak dalam tindak fatalis yang dianggap menenggelamkan individualistas, serta kurang mengembangkan potensi dalam diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehendak bebas persfektif Muhammad Iqbal dan relasinya terhadap tindakan yang dilakukan manusia, serta bagaimana aplikasi dari teori tersebut agar dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian library research (riset keperpustakaan), dengan menggunakan metode kualitatif-analisis. Kehendak adalah salah satu topik yang masih menjadi perdebatan sejak zaman dahulu hingga saat ini. Kehendak bebas dianggap sebagai konsep yang abstrak, namun pada kenyataannya pada kehidupan sehari-hari banyak orang yang rela berkorban demi mendapatkan kehendak bebas yang ia mau. Permasalahan yang muncul adalah di mana posisi kehendak bebas manusia, apakah manusia benar-benar bebas, bagaimana kuasa Tuhan jika manusia memiliki kehendak bebas sepenuhnya, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar kehendak bebas lainnya yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai konsep kehendak bebas khususnya dalam pandangan Muhammad Iqbal. 
Pemikiran Sufistik Al-ghazali tentang ‘ilm al-yaqin Menuju Ma’rifat Ernia Sapitri
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7968

Abstract

Pemikiran Sufistik Al-Ghazali tentang ‘ilm al-yaqin menuju ma’rifat. Problem akademik penelitian ini adalah sebuah pengetahuan ‘ilm al-yaqin yang digagaskan oleh Al-Ghazali yakni keberadaan daripada ilmu itu tanpa menyisakan adanya keraguan sedikitpun, sehingga seorang salik dapat mencapai derajat ma’rifat. Dalam khazanah kajian tasawuf terdapat beberapa tema yang sering diperbincangkan, salah satu diantaranya adalah teori sufistik mengenai Ma’rifat. Berangkat dari diskursus ini, Al-Ghazali mencari titik tolak keyakinan yang dicarinya dari keraguan menuju keimanan dalam memperoleh kebenaran dan hakikat ilmu pengetahuan. Dengan menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk mengenal Allah SWT, untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Ada tiga fokus kajian dalam penelitian ini, yaitu Bagaimana pemikiran sufistik Al-Ghazali tentang ‘ilm al-yaqin, Bagaimana pemikiran sufistik Al-Ghazali tentang ma’rifat, dan Bagaimana langkah-langkah keyakinan Al-Ghazali menuju ma’rifat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan filsafat dan hermeneutik. Sumber data primer yang digunakan adalah kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Munqidz min Ad-Dhalal, Minhajul Abidin, dan terjemahannya, sumber data sekunder dari beberapa buku, karya ilmiah dan penelitian terkait. Penelitian ini menghasilkan konklusi sebagai berikut:1) Pengetahuan ‘ilm al-yaqin menurut Al-Ghazali adalah sesuatu yang dapat diketahui secara eksplisit tanpa menyisakan adanya keraguan. 2) Ma’rifat menurut Al-Ghazali adalah pengenalan manusia akan Tuhannya. Sehingga menjadi tujuan akhir yang harus dicapai manusia sekaligus sebagai bentuk kesempurnaan tertinggi dalam memperoleh kebahagiaan yang hakiki. 3) Adapun langkah-langkah keyakinan Al-Ghazali menuju ma’rifat adalah pengetahuan yang hakiki didatangkan melalui mujahadah, isyraqiyah atau dzawq dan kasyfiyah. Dengan mengenal Allah Swt. manusia dapat mengetahui hakikat daripada ilmu pengetahuan. Sehingga manusia mampu mencapai derajat ma’rifat. Demikian, pemahaman tentang Allah SWT akan bertambah seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengenalannya terhadap Tuhan-Nya. 
Memahami Teks Keagamaan M. Samsul Ma’arif
Manthiq Vol 7, No 1 (2022): Mei
Publisher : Sekolah Pasca Sarjana IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v7i1.7964

Abstract

Manusia senantiasa berdialog dengan simbol dan tanda. Kehadiran sebuah simbol dan tanda selalu mengasumsikan adanya objek yang ditandai. Ayat atau tanda pasti menyimpan makna yang terkadang jauh lebih kompleks, oleh karena itu menangkap makna sebuah tanda tidak cukup hanya dengan mengetahuinya melainkan harus dengan menyadari dan memahami. Problem memahami menjadi penting, salah memahami berakibat fatal karena akan berakibat salah bersikap, salah menjalani hidup, dan salah bagaimana menampilkan eksistensi diri. Kesadaran memahami ini perlu dibawa untuk menyadari dan memahami berbagai simbol dan tanda, termasuk teks dan simbol yang terkait dengan agama. Pertanyaan mendasar yang perlu diperhatikan terkait hal ini adalah bagaimana generasi yang hidup di zaman dan tempat yang berbeda mampu menangkap gagasan secara benar dan utuh dari generasi terdahulu yang perjumpaannya hanya diwakili oleh simbol dan teks. Jika upaya menemukan gagasan itu hanya dengan membaca teks saja, dikhawatirkan pengungkapan makna tidak akan berhasil utuh karena aspek-aspek ruang dan waktu yang terabaikan. Teks dan simbol agama tidak mungkin berbicara sendiri, maka ia perlu pembacaan, penafsiran dan pemahaman yang benar dan tepat. Umat beragama perlu menjadi pembaca cerdas yang mampu memahami secara komprehensif kontekstualis ajaran-ajaran agama tanpa ada aspek yang terabaikan, tanpa terjebak dalam pemahaman yang parsial, terkotak-terkotak atau bahkan a-historis, ekstrimis, dan kehilangan konteks esensinya. Oleh karena itu interaksi dengan teks keagamaan tidaklah cukup dengan kecakapan membaca dan mengetahui teks saja melainkan harus dengan memahami dan menangkap konteks serta pesannya secara utuh, sehingga penafsiran dan pemahaman agama mampu menampilkan perilaku beragama yang reflektif, utuh, bijak dan indah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6