cover
Contact Name
FX. Eko Armada Riyanto
Contact Email
fxarmadacm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
stftws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2 Malang 65746 Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Studia Philosophica et Theologica
ISSN : 14120674     EISSN : 25500589     DOI : 1035312
STUDIA focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturationof theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 17 No 1 (2017)" : 5 Documents clear
BERFILSAFAT “BEING AND TIME” MARTIN HEIDEGGER: CATATAN SKETSA Armada Riyanto
Studia Philosophica et Theologica Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v17i1.35

Abstract

The article focuses on Heidegger’s Being and Time especially its preliminary parts. I put forward sketchy notes of its translation, the meaning of Being, and the notion of Dasein. I also argue that Being and Time is not only a breakthrough in the world of history of philosophy but also exposes critiques to discipline of humanities, such as history, politics, and sociology. Heidegger’s philosophical influence covers almost the majority of philosophers in the contemporary time from his time till the second decades of the third millenium. Methodology applied in doing philosophy of Being and Time is to read and make notes on margins of the book. With this methodology I got still freedom to philosophizing some central topics in Being and Time. As exposition of notes on the margins, I will end the article by positioning the notes in philosophy of phenomenology. By so doing, I intend that this study will be developed in further methods. Artikel ini berfokus pada buku Being And Time karya Martin Heidegger, secara khusus pada bagian pendahuluannya. Saya mengajukan catatan-catatan ringkas tentang terjemahan dari buku tersebut, makna Being dan gagasan tentang Dasein. Saya juga berpendapat bahwa buku Being and Time sebenarnya bukan hanya sebuah terobosan baru dalam sejarah panjang Filsafat tetapi juga mengungkapkan kritiknya terhadap ilmu-ilmu humaniora, seperti Sejarah, Politik dan Sosiologi. Gagasan filosofis Heidegger mempengaruhi hampir seluruh filosof kontemporer mulai dari masa hidupnynya hingga dua dekade dari milenium ke tiga. Metodologi yang digunakan untuk mengulas secara filosofis buku Being and Time adalah dengan membaca dan membuat catatan-catatan pada setiap akhir tema-tema yang terdapat di dalam buku. Dengan metodologi ini, saya masih memiliki kebebasan untuk menguraikansecara filosofis beberapa tema sentral dalam buku Being and Time. Sebagai penjelasan atas setiap tema yang saya bahas, saya akan menutup artikel ini dengan menempatkan penjelasan-penjelasan tersebut dalam hubungannya dengan Fenomenologi. Saya berharap bahwa studi ini akan dikembangkan dengan metode-metode yang lainnya lagi
HANNAH ARENDT ON FREEDOM AND POLITICAL Mans Werang
Studia Philosophica et Theologica Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v17i1.36

Abstract

Hannah Arendt is well known as a political thinker who explicates a profound meaning of political action as a public space. Politic is a space where every political concepts meet each other. For Arendt, in the modern age, people lost appreciation of political praxis and of the plurality of human affairs and the breakdown distinction between public and private.As a result, modern man does not find his freedom in politics. This paper will explore the issue of human freedom in the political public space based on the concept of Vita Activita initiated by Hannah Arrendt. Hannah Arrendt adalah salah seorang pemikir politik yang menempatkan ruang publik sebagai basis pemikirannya. Politik baginya merupakan ruang di mana segala macam gagasan politis dari masing-masing manusia maupun kelompoknya bertemu. Dalam pengamatan Hannah Arendt, ruang publik politik saat ini tidak ramah terhadap perbedaan pendapat ataupun keberagamanan. Manusia modern kesulitan untuk membedakan antara ruang publik dan ruang pribadi (private) dalam berpolitik. Akibatnya, manusia modern tidak menemukan kebebasannya dalam berpolitik. Tulisan ini akan mengupas persoalan kebebasan manusia dalam ruang publik politik berdasarkan konsep Vita Activita yang digagas oleh Hannah Arrendt
ESTETIKA FRIEDRICH WILHELM NIETZSCHE: Romantisme Estetis dalam Prinsip Apollonian dan Dionysian Trio Kurniawan
Studia Philosophica et Theologica Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v17i1.37

Abstract

The classical philosophers present a picture of beauty refers to the Absolute Reality. Beauty has always been associated with concepts of metaphysical and transcendental ethics that far from human daily experiences. Nietzsche ripped that picture off and settled the beauty parallel to the everyday life of human. The art in Nietzsche’s point of view is the work of human where they try to love their life, not just chasing an abstract value where there is no end. Para filosof klasik menghadirkan gambaran tentang keindahan mengacu pada Realitas Absolut. Akibatnya, keindahan selalu diasosiasikan dengan konsepkonsep metafisika dan etika transendental yang sejatinya “jauh” dari keseharian manusia. Nietzsche merobek cara berpikir seperti itu dan meletakkan keindahan dalam hubungannya dengan keseharian manusia. Seni, dalam perspektif Nietzsche, adalah karya manusia di mana mereka mencoba untuk mencintai kehidupan mereka lewat karya tersebut, tidak hanya mengejar nilai-nilai abstrak yang tak berujung.
KRISTOLOGI DALAM KONTEKS KEBUDAYAAN SUKU MIGANI DI PAPUA Kleopas Sondegau
Studia Philosophica et Theologica Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v17i1.38

Abstract

Before Catholic Church entered in the land of Intan Jaya, Migani people already have positive values in their culture. These values are used as the basis and guidance of ethical, moral, spiritual, social and religious life. In such a situation of life, Christianity comes to proclaim Christ and His teachings to the people of Migani. Based on the proclamation of the local community began to re-dig the positive values in their culture. One of the values of culture raised is the life story and the work of a Peagabega figure whose life is similar to that of Jesus Christ. After making an effort to find a “meeting point” between Peagabega and the events of Jesus Christ, so they found a number of similar elements. With this effort the Migani people began to accept and recognize Peagabega as Jesus according to their own cultural pattern. Such an understanding does not intend to live a dualistic faith because Peagabega is only a means for Catholic Migani people to deepen the understanding of Jesus Christ more deeply. Sebelum Gereja Katolik masuk ke tanah Intan Jaya, masyarakat Migani sudah memiliki kearifan lokal (nilai) dalam kebudayaan mereka. Kearifan-kearifan ini digunakan sebagai dasar dan penuntun bagi kehidupan etis, moral, spiritual, sosial dan religius. Dalam perkembangan selanjutnya, Kristianitas hadir dengan menyerukan Yesus Kristus dan ajaran-Nya kepada masyarakat Migani. Berdasarkan kesadaran bersama, masyarakat setempat mulai menggali lagi kearifan-kearifan lokal dalam budaya mereka. Salah satu kearifan yang ditemukan adalah kisah hidup dan karya Peagabega yang sepertinya mirip dengan kisah hidup Yesus Kristus. Dengan usaha ini, masyarakat Migani mulai menerima dan mengakui Peagabega sebagai Yesus Kristus berdasarkan pola kebudayaan mereka. Pemahaman seperti ini pada dasarnya tidak bermaksud untuk menjalankan iman yang dualistik karena Peagabega hanyalah sarana bagi umat Katolik Migani untuk memperdalam pemahaman tentang Yesus Kristus
ESTETIKA DALAM PEMIKIRAN IMMANUEL KANT Robertus Moses
Studia Philosophica et Theologica Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v17i1.39

Abstract

Speaking of aesthetics means we are talking about beauty and art. Often aesthetics is understood as a science that studies art as art. This understanding may also be the cause of aesthetic science is not so much interest to learn. As one branch of metaphysics, aesthetics actually offer an extraordinarily rich paradigm of the pilot process of human rationality and human experience. Kant is a very serious figure working on the theme of aesthetics. In the hands of Kant aesthetics side as an independent science. In addition, aesthetics is not only aimed at learning art as an art, but also associated with the ethics and morals of everyday human life. Berbicara tentang estetika berarti bahwa kita sedang berbicara tentang keindahan dan seni. Seringkali estetika dipandang sebagai ilmu yang mempelajari seni sebagai seni. Hal ini mungkin saja disebabkan karena estetika merupakan ilmu yang tidak terlalu menarik untuk dipelajari. Sebagai salah satu cabang dari metafisika, estetika sebenarnya menawarkan sebuah paradigma berpikir yang sangat kaya tentang rasionalitas dan pengalaman manusia. Immanuel Kant termasuk salah satu filosof yang secara mendalam mengelaborasi tema-tema tentang estetika. Kant meletakkan estetika sebagai salah satu ilmu yang independent. Sebagai tambahan, estetika tidak hanya bertujuan untuk mempelajari seni sebagai seni, tetapi juga berhubungan dengan etika dan moralitas keseharian manusia. Kata-kata

Page 1 of 1 | Total Record : 5