cover
Contact Name
Muhammad Ilham Akbar Alamsyah
Contact Email
231320043.muhammadilham@uinbanten.ac.id
Phone
+6285798995400
Journal Mail Official
hikmatul.luthfi@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani, Kemanisan, Kec. Curug, Kota Serang, Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Al-Fath
ISSN : 19782845     EISSN : 27237257     DOI : https://doi.org/10.32678/alfath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2017): Desember 2017" : 4 Documents clear
Konsep Keluarga dalam Perspektif Alquran Suenawati Suenawati
Al-Fath Vol 11 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v11i2.902

Abstract

Keluarga adalah pijakan pertama dalam pembentukan masyarakat, jika keluarga baik maka masyarakatnya akan baik,begitupun sebaliknya. karena itu, Islam memberikan perhatian yang besar dan serius dalam membentuk keluarga bahagia, penuh dengan cinta dan kasih sayang. Penafsiran Sayyid Quṭb dan Kementerian Agama RI terhadap ayat-ayat alqurān tentang keluarga ialah: a) Pemeliharaan keluarga agar terhindar dari api neraka. Sayyid Quṭb dan Kementerian menafsirkan perintah untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari api neraka. b). Menyuruh anggota keluarga untuk melaksanakan shalat. Sayyid Quṭb dan Kementerian Agama menafsirkan bahwa perintah kepada muslimin untuk memerintahkan keluarganya agar mengerjakan shalat dan bersabar. Perbedaannya Sayyid Quṭb menjelaskan sabar disini ialah sabar mengerjakan shalat, Sedangkan Kementerian Agama menjelaskan sabar dalam shalat dan dalam kesehariannya harus tabah dan sabar. c). Kisah keluarga Imran, QS. Ali-‘Imran: 33. Kedua penafsir menafsirkan bahwa Adam dan Nu>h adalah pribadinya yang diceritakan, sedangkan keluarga Ibrahi>m dan keluarga Imran adalah keluarga yang dipilih oleh Allah. Letak perbedaannya bahwa Sayyid Quṭb menafsirkannya lebih kepada keluarga Ibrahim dan keluarga Imrannya dari pada nabi Adam dan Nabi Nu>h, sedangkan Kementerian Agama menafsirkannya dengan menceritakan tentang kenabian nabi Adam, N>u>h, Ibrahi>m serta keturunannya yaitu keluarga ‘Imran.
Surga dalam Perspektif Alquran Iis Juhaeriah
Al-Fath Vol 11 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v11i2.897

Abstract

Surga adalah ganjaran yang luar biasa yang disediakan Allah Swt. untuk hamba-hamba yang dicintai-Nya dan yang taat kepada-Nya. Surga adalah tempat yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan tanpa ada yang dapat mengurangi dan mengusik kesuciannya. Hamka menerangkan makna-makna yang dimaksud dalam Alquran dengan bahasa indah dan menghubungkan ayat dengan realita sosial dan sistem budaya yang ada. Hamka memiliki pandangan yang menarik tentang surga. Ia mengemukakan bahwa surga merupakan ladang kenikmatan bagi orang-orang yang patuh akan perintah-Nya dengan meneguhkan iman dan diiringi oleh amal yang shaleh yang di dalamnya telah disediakan berbagai macam kenikmatan yang bersifat material maupun immaterial yang tiada batasnya, yang belum pernah dirasakan ketika hidup di dunia. Gambaran mengenai surga bahwasanya menurut Hamka surga merupakan tempat kembali bagi orangorang yang bertakwa, ladang kenikmatan bagi orang-orang yang patuh akan perintah-Nya dengan meneguhkan iman dan diiringi oleh amal yang shaleh. Yaitu kenikmatan yang belum pernah dilihat, dirasakan serta dikhayalkan oleh manusia. Dalam surga terdapat kenikmatan material dan kenikmatan immaterial, yang hanya di dapat oleh orang-orang yang shaleh dengan kemuliaan, ketakwaan, dan mendapatkan rahmat serta keridhaan dari Allah Swt.
Akhlak dalam Perspektif Alquran Siti Lailatul Qodariyah
Al-Fath Vol 11 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v11i2.900

Abstract

Akhlak dalam Alquran ialah akhlak yang didasari dengan nash-nash qurāni dengan memperhatikan urgensifitas kajian akhlak karimah dalam Alqurān mengenai akhlak dengan sosok figur yang menjadi panutan umat Islam mengenai akhlak ynag terpuji adalah Rasulullah SAW. Karena sifat Rasulullah SAW tercermin didalam Alquran agar manusia mempunyai bentuk sikap dan perbuatan yang terpuji dan terhindar dari sifat-sifat tercela. Akhlak ialah hal ihwal yang melekat pada jiwa (sanubari), dari situ timbul perbutan-perbuatan secara mudah tanpa dipikir panjang dan teliti terlebih dahulu. Apabila hal ihwal atau tingkah laku itu menimbulkan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut pikiran atau syari’ah, maka tingkah laku itu disebut akhlak yang baik. Apabila menimbulkan perbuatan-perbuatan yang buruk, maka tingkah laku itu disebut akhlak yang buruk. Akhlak terpuji dan baik tidak akan terbentuk begitu saja, landasan dalam islam adalah Alqurān dan ḥadiṡ, yakni kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Dapat disimpulkan bahwa: 1) Pandangan Alqurān mengenai akhlak adalah akhlak yang didasari dengan nashnash qurāni dengan memperhatikan urgensifitas kajian akhlak karimah dalam Alquran mengenai akhlak dengan sosok figur yang menjadi panutan umat Islam mengenai akhlak terpuji. 2) Dalam menafsirkan ayat-ayat tentang akhlak, AlMarāgī menafsirkan akhlak secara luas, diantaranya adalah akhlak mahmudah dan akhlak mażmumah. Akhlak mahmudah adalah akhlak tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah, jumlah akhlak mahmudah cukup banyak Dan akhlak mażmumah ialah tingkah laku yang tercermin pada diri manusia yang cenderung melekat dalam bentuk yang tidak menyenangkan orang lain. Jumlah akhlak mażmumh juga cukup banyak.
Pemikiran Hamka Tentang Taubat dalam Alquran Darul Mahmadah
Al-Fath Vol 11 No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v11i2.901

Abstract

Setiap manusia pasti memiliki dosa dan dosa itu seringkali membuat orang gelisah dan cemas. Oleh karena itu, lakukan taubat dengan meninggalkan sesuatu yang dilarang, menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah Swt, yang merupakan landasan penting bagi seorang hamba. Dengan demikian, seorang hamba akan memperoleh ketenangan jiwa dengan cara itu. Pertaubatan dapat diartikan sebagai langkah pertama seorang hamba dalam melintasi jalan Allah. Ia adalah dasar segala maqam (kedudukan di hadapan Allah Swt). Maka Allah menghendaki untuk segera bertaubat memohon ampun dan kasih sayang-Nya. Dalam Alqurān taubat ada kaitannya dengan Istighfar. Taubat adalah kembali kepada Allah Swt, dengan mengerjakan apa-apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa yang dibenci-Nya atau kembali dari sesuatu yang dibenci kepada sesuatu yang dicintai. Sesungguhnya manusia yang melakukan taubat menunjukkan bahwa ia menyadari akan segala kesalahannya. Oleh karena itu, Allah Swt mewajibkan tiap orang yang mengaku muslim atau muslimah untuk bertaubat. Allah Swt sangat mencintai orang yang bertaubat. Dengan senantiasa beretaubat dan beristighfar kepada Allah, artinya selalu melengkapkan diri, tidak mau lepas dari penjagaan tuhan, bahkan meminta untuk tetap dalam perlindungan-Nya, dan Tuhan menjadi Wali (pelindung) bagi sekian makhluk. 2). Menurut Hamka taubat adalah membersihkan hati, kemudian kembali setelah menempuh jalan yang sangat sesat dan tidak tentu ujungnya. Menurutnya, salah satu upaya membersihkan jiwa dari kotoran berupa dosa adalah dengan taubat.

Page 1 of 1 | Total Record : 4