cover
Contact Name
Galih Wilatikta
Contact Email
galihwilatikta@gmail.com
Phone
+6281574155781
Journal Mail Official
jurnalilmubedahindonesia@yahoo.com
Editorial Address
Gedung Wisma Bhakti Mulya lantai 401-C Jalan Kramat Raya 160 Jakarta Pusat 10430
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmu Bedah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 27237494     DOI : https://doi.org/10.46800/ilmbed
Core Subject : Health, Science,
The Indonesian Journal of Surgery (JIBI) is a peer-reviewed and open access journal focuses on publishing journals in the scope of surgery. JIBI accepts any kind of manuscript(s) related to surgery, i.e. original article, meta–analysis, systematic review, comprehensive review, case report, serial cases, and also idea and innovation (selected ideas and innovations) regarding surgical diseases and conditions, surgical procedure, and basic science. JIBI also accept letter to editor and comment / and or response to a published manuscript with an opinion included. JIBI accept subject in the following fields of surgery: Pediatric Vascular Digestive Orthopedic Urology Neurosurgery Plastic Surgery Oncology Cardiothoracic
Arjuna Subject : Kedokteran - Pembedahan
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020" : 6 Documents clear
Hubungan Antara Perubahan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Respon Kemoterapi Neoadjuvan Kombinasi Doksorubisin pada Penderita Kanker Payudara Lanjut Lokal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Kiki Budiani; Maman Abdurahman; Kiki A Rizki
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.61

Abstract

Latar Belakang : Kanker payudara merupakan kanker dengan insidensi tertinggi pada wanita di Indonesia. Kemoterapi saat ini merupakan salah satu modalitas terapi yang digunakan dalam penatalaksanaan kanker payudara. Salah satu regimen yang paling banyak digunakan adalah Doksorubisin. Perubahan berat badan selama kemoterapi dapat berhubungan dengan prognosis yang buruk pada pasien kanker baik itu kenaikan berat badan ataupun penurunan berat badan. Tujuan : Mengetahui hubungan antara perubahan indeks massa tubuh (IMT) dengan respon kemoterapi pada penderita kanker payudara lanjut lokal yang telah menjalani kemoterapi neoadjuvan kombinasi Doksorubisin 6 siklus. Metode : Rancangan penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik cross-sectional prospektif yaitu untuk mengetahui pengaruh perubahan indeks massa tubuh (IMT) terhadap respon kemoterapi neoadjuvan kombinasi Doksorubisin pada penderita kanker payudara lanjut lokal. Penelitian dilakukan di Poliklinik Bedah Onkologi dan ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung periode April 2019 sampai dengan Agustus 2019. Pasien kanker payudara yang akan menjalani kemoterapi dengan regimen Doksorubisin dilakukan pemeriksaan berat badan, tinggi badan, dan ukuran tumor di awal siklus, setelah follow up 6 siklus kemoterapi diukur kembali berat badan, tinggi badan, dan ukuran tumor kemudian dinilai respon kemoterapi. Hasil : Didapatkan hasil untuk kelompok dengan respon kemoterapi sebanyak 49 atau sebesar 81,7% dan kelompok tidak respon sebanyak 11 atau sebesar 18,3%. Rata-rata usia pasien adalah 47,9 ± 8,79 dengan stadium IIIA sebanyak 27 atau sebesar 45,0% dan IIIB sebanyak 33 atau sebesar 55,0%. Untuk IMT awal memiliki rata-rata sebesar 25,9±4,00, dengan kategori berat badan kurang sebanyak 3 atau sebesar 5,0%, kisaran normal sebanyak 13 atau sebesar 21,7%, berisiko sebanyak 14 atau sebesar 23,3%, obesitas tingkat I sebanyak 27 atau sebesar 45,0% dan obesitas tingkat II sebanyak 3 atau sebesar 5,0%. Untuk perubahan IMT memiliki rata-rata sebesar -1,04±1,719 kg/m2. Terdapat perubahan berat badan pada kedua kelompok yaitu pada kelompok respon, BB berkurang sebanyak 35 atau sebesar 71,.4%, BB tetap sebanyak 5 atau sebesar 10,2% dan BB bertambah sebanyak 9 atau sebesar 18,4%.Pada kelompok tidak respon, kategori BB berkurang sebanyak 5 atau sebesar 45,5%, BB tetap sebanyak 3 atau sebesar 27,3% dan BB bertambah sebanyak 3 atau sebesar 27,3%. Kesimpulan : Perubahan Indeks Massa Tubuh (IMT) tidak menunjukkan kemaknaan terhadap respon kemoterapi maka dapat disimpulkan perubahan IMT tidak berpengaruh terhadap respon kemoterapi pada penderita kanker payudara lanjut lokal yang menjalani kemoterapi neoadjuvan kombinasi Doksorubisin
Perbandingan Efektivitas Pemberian Erythromycin dan Metoclopramide sebagai Prokinetik Pasca Operasi Laparotomi Digestif di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Syahmardani Ibnu; Ferry Erdani; Jufriady Ismy
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.62

Abstract

Latar Belakang. Gastroparesis atau ileus pasca operasi (IPO) merupakan kondisi yang normal, bersifat sementara, dan merupakan respon fisiologis pasca prosedur operasi abdominal. Jika berkepanjangan, IPO dapat meningkatkan morbiditas dan beban biaya kesehatan. Beberapa obat yang berperan sebagai prokinetik, seperti diantaranya metoclopramid dan erythromycin. Penggunaan kedua obat tersebut masih sangat minim khususnya di Indonesia dalam konteks mencegah terjadinya IPO. Tujuan. Menilai efektifitas erythromycin dan metocloprtamide sebagai prokinetik pada pasien yang menjalani prosedur pembedahan laparotomi. Metode. Penelitian uji klinis ketersamaran ganda dengan desain paralel. Subjek dibedakan menjadi dua kelompok perlakuan yaitu dengan pemberian erythromycin 250 mg dan metoclopramide 10 mg secara oral 60 menit sebelum operasi. Independent t test digunakan sebagai analisa utama dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil. 38 subjek terlibat dalam penelitian ini yang didominasi oleh jenis kelamin laki-laki dengan rerata usia 45,11 ± 15,38 dan 53,84 ± 10,73 pada kelompok erythromycin dan metoclopramide secara berurutan. Rerata residu volume cairan lambung kelompok erythromycin (33,26 ± 15,33 ml/24 jam) lebih minimal dibandingkan kelompok metoclopramide (49,95 ± 17,71 ml/24 jam) dengan nilai signifikansi p=0,004. Kesimpulan. Pemberian erythromycin lebih efektif dibandingkan metoclopramide sebagai agen prokinetik pasca pembedahan digestif.
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Pasca Trauma Kepala Sedang dan Berat dengan Lesi Intrakranial Menggunakan Parameter EUROQOL Group EQ-5D-5L di Departemen Bedah Saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Eldy Muhammad Noor; M Zafrullah Arifin; Agung Budi Sutiyono
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.63

Abstract

Latar Belakang : Trauma kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada pengguna kendaraan bermotor di negara berkembang. Angka kematian pasien pasca trauma kepala saat perawatan di rumah sakit cukup tinggi. Literatur tentang kualitas hidup pasien pasca trauma kepala atau pasien neurologis di negara berkembang sangat terbatas. Tujuan: Menilai kualitas hidup pasien trauma kepala sedang dan berat dengan lesi intrakranial di bagian Bedah Saraf RS. Hasan Sadikin Bandung menggunakan kuisioner EQ-5D-5L. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional deksriptif prospektif, dengan subjek penelitian pasien bedah saraf yang masuk ke ruang gawat darurat RS. Hasan Sadikin dan memenuhi kriteria inklusi. Dilakukan pemeriksaan awal oleh dokter bedah saraf dan dilakukan pemeriksaan CT-Scan, kemudian dilanjutkan dengan mengisi kuisioner F1, selama perawatan akan mengisi F2, dan sebelum pulang mengisi F3, selanjutnya follow-up selama bulan 1, 2, dan 3 akan mengisi format F4.1, F4.2 dan F4.3. Sampel diambil dengan cara Consecutive Sampling. Hasil : Dari 721 pasien trauma kepala yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) bagian bedah saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) selama periode 1 Agustus 2018 sampai dengan 31 Januari 2019, didapatkan 22 (3,05 %) orang meninggal di IGD, 23 orang (3,2 %) pulang paksa sebelum dilakukan interview, dan diperoleh 36 pasien (4,5 %) yang masuk kriteria inklusi dan ikut dalam penelitian ini. Berdasarkan skala dimensi Euroqol EQ-5D mobilisasi saat pulang tidak ada masalah sebanyak 35%, sedikit masalah 62 %, dan masalah sedang 3 %. Skala perawatan diri didapatkan pasien yang saat pulang tidak ada masalah sebanyak 10%, sedikit masalah 87 %, dan masalah sedang 3 %. Skala aktifitas biasa didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 3%, sedikit masalah 87 %, dan masalah sedang 10 %. Skala nyeri didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 10%, masalah sedikit 83%, dan masalah sedang 7%. Skala kecemasan / depresi didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 52%, sedikit masalah 45%, dan masalah sedang 3%. Skala intelektual didapatkan pada saat pulang tidak ada masalah sebanyak 74%, sedikit masalah 23%, dan masalah sedang 3%. Kesimpulan : Kuesioner Euroqol EQ-5D merupakan instrumen yang mudah dimengerti, tidak membutuhkan biaya banyak serta dapat diterapkan di berbagai bidang ilmu. Terdapat perbaikan pada semua skala dimensi Euroqol EQ-5D pada akhir pemantauan.
Role of Autologous Fibrine Glue to Decrease Seroma Volume On 14th Post Operative Day in Carcinoma Mamae Patients that Underwent Simple Mastectomy Ahmad Iffa Maududy; Kiki Ahmad Rizki; Raden Yohana; Nadjwa Jamalek
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.64

Abstract

Background: Seroma is the most significant complication that occurred after mastectomy, happen in 25% until 60% cases. Seroma are not life threatening complications, but can lead to serious morbidity, prolonged hospital stay and delay adjuvant therapy. Autologous Fibrin Glue is a hemostatic agent that can accelerate fibrin thread formation, stop vascular oozing and decrease dead space. This research was performed to evaluate Autologous Fibrin Glue function in lowering seroma volume at 14th days after simple mastectomy. Methods: This research is a clinical trial to compare average seroma volume between advance stage locally breast carcinoma patients group which are given Autologous Fibrin Glue on the surface of surgical wound, 14 days after simple mastectomy (trial group) and control group (without special treatment) with ultrasonography. Result: From 42 patients who met the inclusion criteria, divided into 2 groups, 21 patients were given Autologous Fibrin Glue on the surgical wound surface in a simple mastectomy procedure, 21 patients as a control group. The number of seromas in the treatment group was measured using ultrasound on the 14th day, fewer meaningfully than the control group, the median seroma volume in the treatment group was 9,30 mL and median seroma volume in the control group was 20.90 mL. The P value in the variable number of seroma is smaller than 0.05 (P. < 0.05) which means significant, the number of seromas measured using ultrasonography (USG) on the 14th day, fewer meaningfully in the treatment group. Conclusion: Subjects that was given Autologous Fibrin Glue on the surface of surgical wound after simple mastectomy has a lower volume of seroma compared to control group.
Wabah COVID-19 Tahun 2021 Patrianef Darwis
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.65

Abstract

Evaluasi Spektrum Gelombang USG Doppler dan Kaitannya dengan Ankle Brachial Index (ABI) dan Faktor-Faktor Risiko pada pasien Peripheral Arterial Disease (PAD) Patrianef Darwis; Faisal Ali Ahmad Kler; Karina Karina; Rizky Saputra Telaumbanua
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v48i2.66

Abstract

Latar Belakang. Salah satu komplikasi dari Peripheral Arterial Disease (PAD) adalah kerusakan tungkai bawah hingga tidak dapat digunakan untuk beraktifitas. Skrining dan penegakan diagnosis lebih awal diharapkan memberikan outcome yang lebih baik. Metode. Penelitian studi potong lintang pada pasien PAD di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dari Juli 2013-Desember 2014. Terdapat 119 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi. Analisis univariat dilakukan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi masing-masing variabel bebas dan analisis bivariat untuk menilai hubungan antara variabel terikat. Uji Mann Whitney dilakukan untuk menganalisa hubungan antara spektrum gelombang DUS dan ABI pada pasien PAD. Hasil. Didapatkan pasien PAD dengan nilai ABI rata-rata 0,7 dengan gambaran gelombang DUS yang berubah dari trifasik menjadi non-trifasik dominan pada arteri infrapopliteal. ABI di bawah 0.9 menunjukkan perubahan pada gelombang DUS dari arteri femoralis hingga a.dorsalis pedis dengan nilai p <0.05. Faktor risiko yang signifikan pada PAD adalah usia di atas 45 tahun. Terdapat hubungan signifikan dengan p<0,05 pada hubungan antara gelombang DUS, ABI dan beberapa faktor risiko PAD. Kesimpulan. Derajat keparahan PAD dapat ditentukan melalui nilai ABI dan DUS. Letak oklusi pada segmen arteri dapat diketahui dengan gelombang DUS. Penilaian ABI dan DUS memiliki hubungan positif terhadap faktor risiko PAD.

Page 1 of 1 | Total Record : 6