cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid" : 6 Documents clear
Digital Transformation in Increasing the Effectiveness and Efficiency of Zakat Management Muhammadiyah Experience Pamungkas, Puput Puspita Ganjar
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/d40tje39

Abstract

One of the efforts that can be made to reduce the number of poverty and other social inequalities in the community can be through philanthropic institutions that have credible, trusted and professional values in their management so that they can give birth to a prosperous society. However, it is undeniable that in Indonesia there are still people who avoid the obligation to pay zakat or doubt existing philanthropic institutions. This research provides an overview of philanthropic strategies and innovations under the auspices of the Muhammadiyah organization, namely LAZISMU, which is one of the largest philanthropies in Indonesia. The transparent management of Zakat, Infaq and Shodaqoh is continuous and fair, making all muzakki have high loyalty and trust in entrusting their property. The methods used are qualitative and relevant literacy studies. Keywords: Transformation, Effectiveness, Efficiency, Muhammadiyah   Abstrak Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah kemiskinan dan kesenjangan sosial lainnya di masyarakat dapat melalui lembaga filantropi yang memiliki nilai kredibilitas, terpercaya dan profesional dalam pengelolaannya sehingga dapat melahirkan masyarakat yang sejatera. Namun, tak dapat dipungkiri bahwasanya di Indonesia masih terdapat masyarakat yang mengindar dari kewajiban membayar zakat ataupun meragukan lembaga filantropi yang ada. Penelitian ini memberikan gambaran terkait strategi dan inovasi filantropi di bawah naungan organsasi Muhammadiyah yakni LAZISMU yang merupakan salah satu filantropi terbesar di Indonesia. Pengelolaan Zakat, Infaq dan Shodaqoh yang transaparan, bersifat kontinyu dan berkeadilan menjadikan seluruh muzakki memiliki loyalitas tinggi serta kepercayaan menitipkan hartanya. Metode yang digunakan ialah kualitatif dan studi literasi yang relevan. Kata kunci: Transformasi, Efektifitas, Efisiensi, Muhammadiyah
Jihad and Social Transformation at the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic Boarding School Virginisa, Nabila
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/8khndh95

Abstract

Jihad for Muslims is an effort to realize the will of Allah SWT. expressed through his religion. Apart from jihad by fighting on the battlefield, there is jihad which is more important than fighting on the battlefield without having to draw a sword or raise a weapon, as is the case at the Al-Faqih 2 Islamic boarding school in fighting jihad by combining Islamic religious education with social activism, encouraging its students. to get involved in efforts to improve the lives of the people around them. This research aims to explain the concept of jihad in Islam as applied by the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school, identify the positive impact of jihad on social transformation in the community around the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school and identify challenges and efforts in social transformation in the surrounding community. al-faqih Islamic boarding school 2 Cibiru. This research focuses on how the concept of jihad in Islam is applied by the al-faqih 2 Cibiru Islamic boarding school, what the positive impact of jihad is on social transformation in the community around the al-faqih 2 Cibiru Islamic boarding school and what the challenges and efforts are in social transformation in the surrounding community. al-faqih Islamic boarding school 2 Cibiru. Research findings show that the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school in Bandung City has students who are mostly UIN Bandung students who come from various regions. Ustadz Syihabudiin, who is the head of the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school, Bandung City, together with the students collaborate with each other to convey da'wah or teach knowledge about Islam directly to the surrounding community which indirectly has had a positive impact on social transformation in both the social field. as well as religion for the surrounding community, although there are challenges that the Al-Faqih 2 Islamic boarding school must face, this does not dampen the enthusiasm for fighting for the surrounding community in the form of preaching. Keywords: Jihad, Social Impact, Social Transformation.   Abstrak Jihad bagi umat Islam adalah salah satu usaha untuk merealisasikan kehendak Allah swt. yang diekspresikan melalui agamanya. Selain jihad dengan bertempur di medan perang ada jihad yang lebih utama dari berperang di medan tempur tanpa harus menghunus pedang dan mengangkat senjata seperti halnya yang terjadi di pondok pesantren Al-Faqih 2 dalam berjihad dengan cara menggabungkan pendidikan agama Islam dengan aktivisme sosial, mendorong para santrinya untuk terlibat dalam upaya meningkatkan kehidupan masyarakat di sekitar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep jihad dalam Islam yang di aplikasikan oleh pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru, mengidentifikasi dampak positif dari jihad terhadap transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru serta mengidentifikasi tantangan dan upaya dalam transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru. Penelitian ini berfokus pada bagaimana konsep jihad dalam Islam yang di aplikasikan oleh pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru, bagaimana dampak positif dari jihad terhadap transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al- faqih 2 Cibiru serta bagaimana tantangan dan upaya dalam transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pondok pesantren Al-Faqih 2 Cibiru Kota Bandung yang memiliki santri mayoritas mahasiswa UIN Bandung yang berasal dari berbagai daerah. Ustadz Syihabudiin yang merupakan pimpinan pondok pesantren Al- Faqih 2 Cibiru Kota Bandung bersama para santri saling berkolaborasi untuk yang menyampaikan dakwah atau mengajarkan ilmu – ilmu tentang Islam secara langsung kepada masyarakat di sekitarnya yang secara tidak langsung telah memberikan dampak positif bagi trasnformasi sosial baik bidang sosial maupun agama bagi masyarakat di sekitarnya, meskipun ada tantangan yang harus dihadapi oleh pondok pesantren Al-Faqih 2, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk berjihad kepada masyarakat sekitar dalam bentuk dakwahnya. Kata kunci: Jihad, Dampak Sosial, Transformasi sosial.
The Development of Da'wah Through Tabligh and the Development of Da'wah Ideas in Indonesia Gantira, Erlan
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/tj36n208

Abstract

Now, tabligh preaching through oral and written lectures can be combined into one medium, namely digital media, so the preachers' abilities must be even more capable because media can now become a convergent media, namely a combination of written and video/film media. The condition of tabligh preaching in the midst of increasing political behavior brings challenges and notes for preachers to choose neutral ideas or lecture material, because basically Islam is a religion of Rahmatan lil allamin, always providing peace and tranquility for all creatures and their lives. Da'wah ideas and materials do not have to be titles and preaching materials but also other ideas that are easily accepted in society, enter into their social behavior and social strata, so that they become an "injection" of goodness for the people. The results of the research show that the idea of ​​da'wah using the tabligh method in Indonesia is still a popular way of da'wah. However, often when some ulama in Indonesia deliver preaching material in a tabligh forum that deals with government performance or criticism of the authorities, they are considered "left" ulama. So tabligh da'wah often intersects with the democratization of da'wah itself. In the current era of democratization of da'wah, it is often collided with group differences and issues of anti-nationalism and diversity. The dissolution of recitation forums because the preacher is the resource person often occurs. If in the past the prohibition on preaching was carried out by elements in power, now it is carried out by elements of mass organizations which are basically of the same religion, fellow Muslims. If a preacher has preaching content that lacks data and references, he will receive direct criticism and even ridicule from netizens. Keywords: da'wah, democratic, internet, critical, netizen.   Abstrak Sekarang, dakwah tabligh melalui ceramah lisan dan tulisan bisa disatukan menjadi satu media, yaitu media digital, sehingga kemampuan mubaligh harus lebih mumpuni lagi karena media sekarang dapat menjadi media convergen yaitu perpaduan antara media tulisan dan video/film. Kondisi berdakwah tabligh di tengah perilaku politik yang meningkat membawa tantangan dan catatan bagi da’i untuk memilih Ide ataupun materi ceramah yang netral, karena pada dasarnya Islam adalah agama Rahmatan lil allamin, selalu memberikan kedamaian dan ketengan untuk seluruh makhluk dan kehidupannya. Ide dan materi dakwah tidak harus berupa judul dan materi dakwah namun juga ide-ide lainnya yang mudah diterima di Masyarakat, masuk ke dalam perilaku sosial dan strata sosial mereka, sehingga menjadi “suntikan” kebaikan bagi umat. Hasil peneleitian menunjukkan bahwa ide dakwah dengan cara tabligh di Indonesia masih menjadi cara dakwah yang populer. Namun seringkali beberapa ulama di Indonesia ketika menyampaikan materi dakwah dalam sebuah forum tabligh yang bersinggungan dengan kinerja pemerintah atau kritikan-kritikan kepada penguasa akan dianggap sebagai ulama yang beraliran “kiri”. Sehingga dakwah tabligh seringkali bersinggungan dengan demokratisasi dakwah itu sendiri. Di saat ini era demokratisasi dakwah sering dibenturkan dengan perbedaan golongan dan issue anti nasionalisme dan kebhinekaan. Pembubaran forum-forum pengajian karena da’i yang menjadi narasumber sering terjadi. Apabila dahulu larangan dakwah dilakukan oleh unsur penguasa maka sekarang ini dilakukan oleh unsur organisasi masa yang dasarnya se-agama, sesama muslim. Seorang mubaligh bila mempunyai konten dakwah yang minim data dan referensi akan mendapatkan kritikan langsung bahkan cemoohan dengan umat netizen. Kata kunci: dakwah, demokratis, internet, kritis, netizen
Da'wah and Social Change: Da'wah and Political Reform of the Prophet Muhammad SAW in the Implementation of the Study of the Prophet's Political Communication in Medina Yushardiansyah, Rezsa
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/raaj7894

Abstract

The influence of the Prophet Muhammad as the bearer of the Islamic message is known plural. It is also about his prophetic and apostolic. The thing that is rarely discussed is Muhammad's position as a political communicator. In this case Muhammad is certainly an actor in the process of political communication in Medina. History calls the long journey of forming the Medina State under the reign of Muhammad starting from zero to become an area that was calculated at that time. It is not excessive for Muhammad to be called as a political actor in the establishment of Medina as well as political communicator in the government of Medina. In political communication, it is mentioned that political actors can form a public opinion, which then becomes consensus and mutually agreed. Thus, Muhammad has fulfilled that element in his leadership over Medina. In the process of political communication, there are important elements such as political communicators, messages delivered, and targets to the political communication effect that made Muhammad in Medina. The interesting thing for studied is Muhammad's political communication strategy. Where is as a political communicator, Muhammad was able to unite the heterogeneity and pluralism of the community who then agreed and want to be under his leadership in Medina. Keywords: political communication, Medina, Muhammad, country.   Abstrak Pengaruh Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam dikenal jamak. Ini juga tentang kenabian dan apostoliknya. Hal yang jarang dibicarakan adalah posisi Muhammad sebagai komunikator politik. Dalam hal ini Muhammad tentunya merupakan aktor dalam proses komunikasi politik di Madinah. Sejarah menyebut perjalanan panjang terbentuknya Negara Madinah di bawah pemerintahan Muhammad dimulai dari nol hingga menjadi wilayah yang diperhitungkan saat itu. Tidak berlebihan jika Muhammad disebut sebagai aktor politik pendirian Madinah sekaligus komunikator politik dalam pemerintahan Madinah. Dalam komunikasi politik disebutkan bahwa aktor politik dapat membentuk opini publik yang kemudian menjadi konsensus dan disepakati bersama. Dengan demikian, Muhammad telah memenuhi elemen tersebut dalam kepemimpinannya atas Madinah. Dalam proses komunikasi politik terdapat unsur-unsur penting seperti komunikator politik, pesan-pesan yang disampaikan, dan sasaran terhadap efek komunikasi politik yang dilakukan Muhammad di Madinah. Hal yang menarik untuk dikaji adalah strategi komunikasi politik Muhammad. Dimana sebagai komunikator politik, Muhammad mampu menyatukan heterogenitas dan pluralisme masyarakat yang kemudian setuju dan ingin berada di bawah kepemimpinannya di Madinah. Kata kunci: komunikasi politik, Madinah, Muhammad, negara.
Jihad and Social Change Awaludin, Taufik
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/9d47xv15

Abstract

Knowledge or understanding as well as insight into Islam is very necessary as a foundation for being a Muslim, because quite a few among Muslims and the existence of Western propaganda to attack Islam, both of these things make Muslims and non-Muslims currently misunderstand the concept of Jihad. The jihad shown today is identified with people who are bloodthirsty to spread Islam with the sword. This research aims to answer questions about 1) Was Islam spread not through violence? 2) Is Jihad a war of defense? 3) Is Jihad an approach to Da'wah? The linguistic meaning of jihad is general, namely hard work. The Al-Quran has directed the meaning of jihad to a more specific meaning, namely devoting all one's energy, wealth and thoughts to fighting in the way of Allah, either directly or by spending possessions, opinions, increasing logistics, etc. Thus, the more appropriate meaning of jihad taken by Muslims is to fight in the way of Allah against oneself and unbelievers in order to elevate the word of Allah. Keywords: Islam, jihad, war, Western propaganda.   Abstrak Pengetahuan atau pemahaman juga wawasan tentang Islam sangat diperlukan sebagai pondasi sebagai muslim, karena tidak sedikit diantara kaum muslimin dan adanya propaganda-propaganda Barat untuk menyerang Islam, kedua hal tersebut menjadikan kaum muslimin dan orang-orang non muslim saat ini salah memahami konsep Jihad. Jihad yang ditampilkan saat ini diidentikkan dengan orang yang haus darah untuk menyebarkan Islam dengan pedang. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang 1) Apakah Islam Disebarkan Bukan Dengan kekerasan? 2) Apakah Jihad merupakan perang defensi? 3) Apakah Jihad merupakan pendekatan Dakwah? Makna jihad secara bahasa bersifat umum, yaitu kerja keras. Al-Quran telah mengarahkan makna jihad pada arti yang lebih spesifik, yaitu mencurahkan segenap tenaga, harta juga pikiran untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain. Dengan demikian, makna jihad yang lebih tepat diambil oleh kaum Muslim adalah berperang di jalan Allah melawan diri sendiri serta orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Kata kunci: Islam, jihad, perang, propaganda Barat
On Sūrah-Based Thematic Interpretation of the Qur’an: Genealogy and Methodology Alfan Shidqon
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/xbezzm47

Abstract

This article exploress sūrah-based thematic interpretation as a distinct method within Qur’anic exegesis, differing from the general thematic interpretation. While the latter compiles scattered verses under one theme, the former focuses on a single sūrah’s internal unity, structure, and message. Based on the work of Sāmir ʿAbd al-Raḥmān Rashwānī, this study explores its definition, historical development, and methodological principles. The genealogy of this approach traces back to classical scholars such as al-Bāqillānī, al-Rāzī, and al-Biqāʿī, and evolves through modern thinkers like al-Farāhī and Sayyid Quṭb. Methodologically, it involves five steps: analyzing the sūrah’s title, context of revelation (asbāb al-nuzūl), textual coherence (munāsabah), structural pillars (ʿamūd), and overall objectives (maqāṣid). Despite interpretive variation, this method offers a coherent framework for engaging the Qur’an’s message thematically; highlighting its relevance in contemporary discourse.

Page 1 of 1 | Total Record : 6