cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 115 Documents
TALAQQI: METODE MEMBACA AL QURAN DI PESANTREN NURUL HIKMAH Rian Nuryana; Nanang Naisabur; Hasan Bisri
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Today, there are many different types of methods developed in learning the Koran. Everything has advantages and disadvantages. One method that is often done in learning the Koran, namely the method of talaqqi or which is often referred to as the sorogan method. This study aims to determine the effect of the talaqqi method, the ability to read the Koran and the influence of the implementation of the talaqqi method on the ability to recite the Koran in Nurul Hikmah Islamic Boarding School. This research uses inferential descriptive methods. With statistical analysis, the authors process numerical data obtained from 40 respondents, so that it can be known whether or not the influence of the implementation of the talaqqi method on the ability to read the Koran in Nurul Hikmah Islamic Boarding School. The results of this study are as follows: for the X variable (the effect of the talaqqi method) with an average value of this variable equal to 157 with good criteria. Then for variable Y (ability to recite the Koran), the average value of this variable is 155.4 with good criteria. Based on the results of data analysis, it can be concluded that there is an effect of the implementation of the talaqqi method on the ability to read the Koran in the Nurul Hikmah Islamic Boarding School because t_count is greater than t_ (table) (4.1792> 2.0244) with an effect of 31.49%, where the value r = 0.5611 , which gets the "medium" category. While the remaining 68.51% is influenced by other variables not examined by the author and is thought to affect the ability to read the Koran.Keywords: Talaqqi, Al Quran Method, Nurul Hikmah Islamic Boarding School                                             AbstrakDewasa ini, banyak sekali berkembang berbagai macam metode dalam pembelajaran Alquran. Semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan. Salah satu metode yang sering dilakukan dalam pembelajaran Alquran, yaitu metode talaqqi atau yang sering disebut dengan metode sorogan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode talaqqi, kemampuan membaca Alquran dan pengaruh pelaksanaan metode talaqqi terhadap kemampuan membaca Alquran di Pondok Pesantren Nurul Hikmah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif inferensial. Dengan analisis statistik, penulis mengolah data-data angka yang didapat dari 40 responden, sehingga dapat diketahui besar atau tidaknya pengaruh pelaksanaan metode talaqqi terhadap kemampuan membaca Alquran santri di Pondok Pesantren Nurul Hikmah. Adapun hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: untuk variabel X (pengaruh metode talaqqi) dengan nilai rata-rata dari variabel ini sebesar 157 dengan kriteria baik. Kemudian untuk variabel Y (kemampuan membaca Alquran), nilai rata-rata dari variabel ini sebesar 155,4 dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pelaksanaan metode talaqqi terhadap kemampuan membaca Alquran santri di Pondok Pesantren Nurul Hikmah karena  lebih besar dari  (4.1792 > 2.0244) dengan pengaruh sebesar 31.49%, di mana nilai r = 0.5611, yang mendapatkan kategori “sedang”. Sedangkan sisanya sebesar 68.51 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti oleh penulis dan diduga akan berpengaruh terhadap kemampuan membaca Alquran.Kata kunci: Talaqqi, Metode al Quran, Pesantren Nurul Hikmah
Kajian Konteks Eksternal Penafsiran Alquran: Studi Kritis Terhadap Pandangan Fazlur Rahman Rinda Fauzian
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to elaborate on the interpretation of the Quran in the view of Fazlur Rahman through study about external context interpretation of the Quran. The research method in this study is library research, which examines the interpretation of the Quran through library research. The result of his research is Fazlur Rahman's view of the Quran as a Divine response to the Arab socio-moral setting, through the memory and thoughts of the Prophet. Such assumptions illustrate that the Quran descended in a concrete historical context. In space and time filled with nuances and dialogue, even cultural and religious tensions. To understand it through the double movement method, emphasizes two contextual movements. The first movement, departing from the contemporary situation into the Quran era. In his understanding, that the need to understand the meaning and meaning of a statement by examining historical situations or problems, where the Quranic statement is present as the answer. The second movement, from the time of the Quran was revealed (after finding general principles) returned to the present. In his understanding, that these general teachings must be established in a concrete socio-historical context in the present.Keywords: External context, Interpretation, Alquran AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi tafsir Alquran berdasarkan pandangan Fazlur Rahman melalui kajian konteks ekternal penafsiran Alquran. Metode penelitian dalam kajian ini adalah studi literature, yang menguji penafsiran Quran melalui penelitian pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah pandangan Fazlur Rahman tentang Alquran sebagai respon ketuhanan kepada keadaan sosial-moral Arab melalui memori dan pemikiran Nabi. Asumsi seperti itu menunjukkan bahwa Alquran diturunkan dalam konteks historis konkrit. Dalam ruang dan waktu yang diisi dengan nuansa dan dialog, bahkan tensi-tensi kultural dan relijius. Untuk memahami ini melalui metode pergerakan ganda, memberi penekanan dua pergerakan kontekstual. Pergerakan pertama, berangkat dari situasi kontemporer ke dalam era Alquran. Dalam pemahamannya, harus memahami makna demi makna sebuah pernyataan dengan menguji situasi-situasi dan permasalahan historis, di mana pernyataan Qurani hadir sebagai jawabannya. Pergerakan kedua, dari saat Alquran diturunkan (setelah menemukan prinsip-prinsip umum) hingga sekarang. Dalam pemahamannya, ajaran-ajaran umum ini harus ditetapkan dalam konteks sosio-historis konkrit saat ini.Kata kunci: Konteks Eksternal, Penafsiran, Alquran
Halaqah: Media Komunikasi, Publikasi Eksistensi Hizbut Tahrir Indonesia sebelum dan Pasca Pembubaran Siti Aisyah
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keputusan pemerintah membubarkan ormas keagamaan Islam HTI sempat diikuti debat dan tarik-menarik antara tuntutan masyarakat dan pertimbangan politik yang menimbulkan pro kontra di antara elemen masyarakat. Eksistensi gerakan kelompok Islam Pasca pembubaran HTI menjadi taruhan bagi keberlangsungan organisasi. Pembubarab HTI tidak menyurutkan organisasi keagamaan Islam ini surut mempublikasikan gagasan-gagasannya, terutama terkait konsep khilafah atau sistem pemerintahan Islam. Halaqah merupakan model cara paling intensif dan efektif memelihara dan menyebarkan gagasan HTI. Metode halaqah karenanya, menjadi sentral dalam proses distribusi dan pola komunikasi gagasan-gagasan HTI yang dilakukan secara intensif dan kontinu. Dalam praktinya, halaqah berisi penyampaian pesan keislaman, indoktrinasi dan bimbingan oleh syarif dan syarifah. Pembimbing tersebut merupakan penyambung lidah imam HT sekaligus guru ideology HT, yaitu an-Nabhani.Kata Kunci: HTI, halaqah, distribusi komunikasi dan indoktrinasi
Keihlasan dan Arti Pentingnya Dalam Mengelola Pendidikan Ni'mawati Ni'mawati; Andewi Suhartini; Nurwadjah Ahmad E Q
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 2, No 1 (2020): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is motivated by the concept of sincerity associated with the management of educational institutions to form professional educators and education personnel. Sincerity as the teachings of the Islamic religion are contained in the Qur'an and hadith, what is the definition and nature of sincerity, what are the characteristics of sincere people and how is the implementation of sincerity in managing educational institutions. By using a qualitative research approach and descriptive analysis method with data sources in the form of verses of the Qur’an, the hadith of the prophet and the results of research by experts, it was found that the following were: 1) the nature of sincere is pure in intention, clean in mind in doing good, upright in heart act and do only hoping to please Allah. 2) the characteristic of sincere people is that they always do good deeds and are sincere in doing good deeds; awake from everything that Allah forbids; in working, doing activities, teaching, educating and managing educational institutions; someone who does it sincerely will feel happy if goodness is realized by anyone, and 3) the management of educational institutions sincerely has an impact on the formation of professional educators and educational staff.Keyword: sincerity, managing and educational institutionsAbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh konsep ikhlas dihubungkan dengan pengelolaan lembaga pendidikan untuk membentuk pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional. Ikhlas sebagai ajaran agama islam terdapat dalam Al Qur’an dan hadis, bagaimana definisi dan hakikat ikhlas, bagaimana karakteristik orang-orang yang ikhlas dan bagaimana implementasi ikhlas dalam mengelola lembaga pendidikan. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan metode deskriptif analisis dengan sumber data berupa ayat-ayat alquran, hadis nabi dan hasil penelitian para ahli, ditemukan hal-hal sebagai berikut: 1) hakikat ikhlas adalah suci dalam niat, bersih batin dalam beramal, lurus hati dalam bertindak dan berbuat hanya mengharapkan ridha Allah. 2) karakteristik orang ikhlas adalah senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal; terjaga dari segala yang diharamkan Allah; dalam bekerja, beraktivitas, mengajar, mendidik, dan mengealola lembaga pendidikan; seseorang yang meakukannya dengan ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi oleh siapapun, dan 3) pengelolaan lembaga pendidikan dengan ikhlas berdampak pada terbentuknya pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional.Kata kunci: Ikhlas, mengelola dan lembaga pendidikan
Dialektika Islam dan Budaya: Dakwah Kultural Nahdlatul Ulama Eka Octalia Indah Librianti
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The intersection between culture and religion in Indonesia is one of the interesting discourses to be examined more deeply. This paper aims to explore how the contiguity of Islam and the local culture of Indonesia raises the concept of the preaching of the Nahdlatul Ulama Culture. The spread of Islam in the archipelago has shown accommodation that is so strong against the local traditions of the local community. This shows that the character of Indonesian Islam is capable of dialogue with tradition and culture. Nahdlatul Ulama as one of the largest Islamic organizations in Indonesia in carrying out its mission to try to adopt da'wah that harmonizes Islam and local culture. This paper tries to examine the cultural preaching of the Nahdlatul Ulama and the relations between Islam and local culture. Cultural da'wah is da'wah that considers all forms of culture that are developing in society. Cultural propaganda carried out by Nahdlatul Ulama is a da'wah approach in dealing with heterogeneous societies of culture. Islam has an important role in facing cultural transformation. The process of Islamic dialogue with the traditions of the community can be realized with cultural systems and mechanisms in the face of local negotiations. From the display illustrates that in reality, Islam came into contact with local teachings (traditions) so as to form new formulations about Islam and the local culture of Islam.Keywords: cultural preaching, Nahdlatul Ulama, dialectics. AbstrakPersinggungan antara budaya dan agama di Indonesia menjadi salah satu diskursus yang menarik untuk ditelisik lebih mendalam. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana persentuhan agama Islam dengan kebudayaan lokal Indonesia yang memunculkan konsep dakwah Kultural Nahdlatul Ulama. Penyebaran Islam di Nusantara telah menunjukan akomodasi yang begitu kuat terhadap tradisi lokal masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa karakter Islam Indonesia mampu berdialog dengan tradisi dan budaya. Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dalam menjalankan misi dakwahnya mencoba mengadopsi dakwah yang menyelaraskan antara Islam dan budaya lokal. Tulisan ini mencoba mengkaji dakwah kultural Nahdlatul Ulama serta relasi antara Islam dan budaya lokal. Dakwah kultural merupakan dakwah yang mempertimbangkan segala bentuk budaya yang tengah berkembang di masyarakat. Dakwah kultural yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama merupakan pendekatan dakwah dalam menghadapi masyarakat yang heterogen kebudayaan. Islam memiliki peran penting dalam menghadapi transformasi budaya. Proses dialog Islam dengan tradisi masyarakat dapat diwujudkan dengan sistem dan mekanisme kultural dalam menghadapi negosiasi lokal. Dari tampilan tersebut menggambarkan bahwa pada realitasnya, Islam bersentuhan dengan ajaran (tradisi) lokal sehingga membentuk formulasi baru tentang Islam dan budaya lokal Islam.Kata Kunci : dakwah kultural, Nahdlatul Ulama, dialektika
Gerakan Sosial Keagamaan FPI (Front Pembela Islam) - Muslim
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emerging of Front Pembela Islam (FPI) is very interesting for public in Indonesia, even controversial. Besides its activities that are often exposed in mass media, sometimes there is issue that the organization is radical. Although meaning of “radical” is still debatebale, but piercing of the FPI’s great leader when expressing opinions and criticals make oppositions feel enough challenged. This research discusses history of FPI, lineage, and leadership style of its great leader. This research uses phenomenology method illustrates FPI movement that is viewed “radical”. FPI movement is very systematical, active, shrill and controversial, till growing refusal from some Indonesian Muslim group, even there are people who propose so that government disperse it. Involvement of FPI in politics world is very clear when movement 212 occurred in December 2, 2016. Packaging of together prayers that was accessoried by “‘flag’ solidarity of Muslim for the country” made many people impressed and called to attend, though some people must be on foot. They believed that it is a “jihad” (holy war). Influence of Habieb Rizieq is very strong, even there are people state that he can combine some theories, i.e. greath man theory, contingency leadership theory, situational leadership theory, partisipative theory and relationship/transformation leadership theory. Today, FPI is known as a religious movement that is like participcate to support Indonesian politics world actively.Keywords: radical organization, FPI controversy, Habieb Rizieq AbstrakKemunculan Front Pembela Islam (FPI) sangat menarik perhatian publik di Indonesia, bahkan kontroversial. Selain aktitvitasnya yang cukup sering terekspos media massa, tidak jarang muncul isu bahwa organisasi tersebut disebut radikal. Walaupun makna “radikal” masih dalam perdebatan, tapi kelantangan imam besar FPI ketika mengemukakan pendapat dan kritik cukup membuat lawan bicaranya terasa “tertantang. Penelitian ini mengungkapkan sejarah FPI, nasab dan gaya kepemimpinan imam besarnya. Penelitian dengan metode fenomenologi ini menggambarkan pergerakan FPI yang dianggap “radikal”. Gerakan FPI sangat sistematis, aktif, lantang dan kontroversial, sehingga memicu penolakan di sebagian kalangan umat Islam Indonesia bahkan ada yang mengusulkan agar pemerintah membubarkannya. Keterlibatan FPI dalam kancah politik sangat terlihat jelas pada saat terjadi gerakan 212 yang terjadi pada tanggal 2 Desember 2016. Balutan doa bersama yang dipenuhi “’bendera’ solidaritas umat Islam untuk negeri” sangat membuat banyak orang terpesona dan terpanggil untuk menghadirinya walaupun ada yang dengan berjalan kaki. Mereka yakin ini adalah jihad. Pengaruh Habieb Rizieq tampak sangat kuat, bahkan ada yang menyatakan bahwa beliau mampu menggabungkan beberapa teori, yakni greath man theory, teori kepemimpinan kontingensi, teori kepemimpinan situasional, teori kepemimpinan partisipatif dan teori kepemimpinan relationship/transformasi. Saat ini, FPI dikenal sebagai gerakan agama yang suka berpartisipasi mendukung dunia politik secara aktif.Kata kunci: organisasi radikal, kontroversi FPI, Habieb Rizieq
Membangun Masyarakat ‘Gemeinschaft’ Islami Sebuah Wacana Yaya Yaya
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

’The model of gemeinschaft relationship, particulariy its main principle that is unity and solidarity, is a sort of emanation from inner belief of a Muslim. Islam itself commands any Muslim to avoid any kind of pragmatism and opportunism. From the very beginning Islam appeals Muslims to put aside all bad character such as egoísm, selfishness, and nepotism, and otherwise promote altruism, emphaty, and solidarity. This is because human beings cannot live in alienation from other people as they are social beings. They ought to complement each other in satisfying their needs for living. Islam therefore teaches Muslims some moral codes for social interrelationship: (1) brotherhood, (2) equity, (3) tolerance, (4) amr ma’ruf and   nahy munkar, (5) democracy,(6) justice, and (7) equilbrium. These Islamic principies is thought of to insure the so called baldatun thayyibatun wa rabbun ghafúr.Kata kunci: Da'wah of Hizbiyah, Islamic Gemeinschaft, Discourse AbstrakModel hubungan gemeinschaft, khususnya prinsip utamanya yaitu persatuan dan solidaritas, adalah semacam emanasi dari keyakinan batin seorang Muslim. Islam sendiri memerintahkan setiap Muslim untuk menghindari segala bentuk pragmatisme dan oportunisme. Sejak awal, Islam meminta umat Muslim untuk mengesampingkan semua karakter buruk seperti egoisme, selfishness , dan nepotisme, dan sebaliknya mempromosikan altruisme, empati, dan solidaritas. Ini karena manusia tidak dapat hidup dalam keterasingan dari orang lain karena mereka adalah makhluk sosial. Mereka harus saling melengkapi dalam memuaskan kebutuhan hidup mereka. Karena itu, Islam mengajarkan kepada umat Islam beberapa kode moral untuk hubungan timbal balik sosial: (1) persaudaraan, (2) kesetaraan, (3) toleransi, (4) amr ma'ruf dan nahi munkar, (5) demokrasi, (6) keadilan, dan (7) ) keseimbangan. Prinsip-prinsip Islam ini dianggap untuk memastikan apa yang disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafúr.Kata kunci: Dakwah Hizbiyah, Gemeinschaft Islami, Wacana
Implementasi “Maqashid Syari’ah” Pada Kebijakan Strukturisasi Keuangan di Instansi Keuangan Syariah Adang Sonjaya; Irfan Goffary
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 2, No 1 (2020): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In general, economic studies are divided into macroeconomics and microeconomics. Macroeconomics discusses more about policies made by the government in order to regulate monetary and fiscal matters, while microeconomics discusses more about corporate economic actors. Company management itself consists of operational management, marketing management, human resource management and financial management. Financial management is in charge of how companies seek and manage sources of funds, both own capital and foreign capital (loans) to meet the company's needs in producing products and services to be effective and efficient. Islam exists as a value and order in business with the term Maqashid syari'ah which was first coined by Al-Syatibi. It turns out that these values can be implemented in company financial policies so that they can improve financial performance. And it can be concluded that an Islamic company is a company that implements or tries to apply the values that exist in the Maqashid syari'ah. By implementing a murabahah financing scheme in Islamic banking, the rate of return is more profitable for both companies that receive financing and for banks that distribute financing. This is due to differences in financial structuring patterns between Islamic banking and conventional banking.Keyoword: Maqashid Syari'ah, financial structuring, Islamic financial institutionsAbstrak Pada umumnya kajian ekonomi itu terbagi dalam ekonomi makro dan ekonomi mikro. Ekonomi makro lebih banyak membahas tentang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka mengatur moneter dan fiskal, sedangkan ekonomi mikro lebih banyak membahas tentang pelaku ekonomi perusahaan. Manajemen perusahaan sendiri terdiri dari manajemen operasional, manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen keuangan. Manajemen keuangan bertugas bagaimana perusahaan mencari dan mengelola sumber dana baik modal sendiri maupun modal asing (pinjaman) untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam menghasilkan produk dan jasa agar efektif dan efisien. Islam hadir sebagai sebuah nilai dan tatanan dalam bisnis dengan istilah maqashid syari’ah yang pertama kali dicetuskan oleh Al-Syatibi. Ternyata nilai-nilai tersebut bisa diimplementasikan dalam kebijakan keuangan perusahaan sehingga bisa meningkatkan kinerja keuangan. Dan bisa disimpulkan bahwa perusahaan Islam itu adalah perusahaan yang menerapkan atau berusaha mengaplikasikan nilai-nilai yang ada pada maqashid syari’ah. Dengan menerapkan skem pembiayaan murabahah di perbankan Islam, maka tingkat pengembalian hasil lebih menguntungkan, baik bagi perusahaan yang menerima pembiayaan maupun pihak bank yang menyalurkan pembiayaan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pola strukturisasi keuangan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional. Kata Kuci: Maqashid Syari’ah, strukturisasi keuangan, instansi keuangan syariah
Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam Era Reformasi di Indonesia Aam Saepul Alam
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Two thinkers and modernists who are different in education and organization genealogy, i.e. Nurcholis Madjid (Cak Nur) dan Hasyim Muzadi. Cak Nur was born in Western education and Hasyim was born in “pesantren” education (boarding school) with its locality. Two of these figures give a change that is significant in modernity context in Indonesia. Theoretical framework that was built by Nurcholish Madjid starts from a fundamental question, i.e. how universal Islam can be placed in local modernity and culture framework. Islam is universal and implication of its universality is Islam must be understood and performed in every place and time. Cak Nur practiced critical to single truth and paid attention on humanistic value in universal religious life. Different to Hasyim Muzadi who built thoughts framework Rahmatan lil alamin through freedom and harmony. Starting from nation problems, how to perform religious function (Islam) in a country without cause national disintegration. Theory framework built by Hasyim starting from a NU’s jargon, i.e.  Tasamuh, Tawazun, dan Tawasut. Bringing Islam with full good manners and bland, not make Islam image isolated and grow phobia toward terms what are born from Islam womb. In practice, Hasyim paid attention on preventing of radicalism and terrorism undersrtanding that grow in Indonesia, that threaten NKRI totality.Keywords: modernity, Islam universal, Islam and country Abstrak Dua pemikir dan pembaharu yang berbeda geneologi pendidikan dan organisasi, yaitu Nurcholis Madjid dan Hasyim Muzadi. Nurcholis Madjid (Cak Nu)r lahir dari pendidikan Barat dan Hasyim Muzadi lahir dari pendidikan pesantren yang lokalitas. Kedua tokoh ini, dalam kehadirannya memberikan perubahan yang signifikan dalam konteks  pembaharuan di Indonesia.  Kerangka Teoritis yang dibangun  Nurcholish Madjid berawal dari dari sebuah pertanyaan yang fundamental yaitu bagaimana Islam yang universal bisa ditempatkan dalam kerangka kemodernan dan budaya lokal? Islam adalah universal dan implikasi dari keuniversalannya adalah bahwa Islam harus dapat dipahami dan dilaksanakan pada setiap ruang dan waktu. Cak Nur mempraktekan  kritik terhadap kebenaran tunggal dan memperhatikan nilai kemanusian dalam kehidupan beragama yang universal.  Berbeda dengan Hasyim Muzadi membangun kerangka pemikiran Rahmatan lil alamin  melalui kerangka  perdamainan dan kerukunan. Berawal dari permasalahan bangsa, bagaimana menjalankan   fungsi profetik  agama  (Islam) dalam sebuah  negara,  tanpa menimbulkan  disintegrasi bangsa. Kerangka teori yang dibangun Hasyim Muzadi berawal dari jargon NU, yaitu: Tasamuh , Tawazun , dan Tawasut. Membawa Islam  yang penuh kesantunan dan kelemahlembutan, bukan  menjadikan  citra Islam  terpinggirkan  dan menumbuh-kembangkan  phobia  terhadap istilah-istilah  yang lahir dari  rahim Islam. Melaui prakteknya Hasyim  memberikan perhatian dalam pencegahan paham radikalisme dan terorime   yang berkembang di bumi Indonesia, yang mengancam keutuhan NKRI.Kata kunci: pembaharuan, Islam universal, Islam dan negara
Darul Islam Fillah: Tipologi Gerakan “Utofia” Islam di Jawa Barat Adang Sonjaya
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 1, No 2 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of important phenomenons in Indonesia history is growing of Negara Islam Indonesia (NII) founded by SM. Kartosoewiryo in early independence. NII is stated as an insurgent movement that disturbed country stability. The government finished this movement by military operation (operasi pagar betis), then its leader was executed to death in September 5, 1962. But NII buffetings was not ended because after SM. Kartosoewiryo, NII was divided become some groups, among others NII Fillah in Garut by Sensen Komara’s leadership who could defend it till now. This research uses qualitative approach. This research concludes that NII Fillah Sensen Komara constitutes continuance of NII Kartosoewiryo after some leadership changes, from Jaja Sudjadi, Bakar Misbah, and Sensen Komara as the third leadership till now. While NII Fillah understanding about Islam country concept, they have opinion that Islam country constitutes politics power having function to apply and put Islam laws into effect and only one tariqah in applying a system and its laws overall in national and state life.Keyword: religious social movement, NII Fillah AbstrakSalah satu peristiwa penting yang meninggalkan bekas dalam catatan sejarah Indonesia adalah berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) di bawah pimpinan SM. Kartosoewiryo di awal masa kemerdekaan. NII dinyatakan sebagai gerakan pemberontak yang mengganggu stabilitas negara. Pemerintah menghabisi gerakan ini dengan operasi militer (operasi pagar betis), kemudian pimpinannya di eksekusi mati pada 5 September 1962. Namun perjalanan perjuangan NII tidak berakhir begitu saja, karena pasca SM. Kartosoewiryo, NII terpecah menjadi beberapa faksi, diantaranya adalah NII Fillah di Garut dengan pimpinan Sensen Komara yang berhasil mempertahankan eksistensinya hingga sekarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NII Fillah pimpinan Sensen Komara merupakan kelanjutan dari NII Kartosoewiryo setelah mengalami beberapa pergantian kepemimpinan, dari Jaja Sudjadi sebagai pimpinan NII Fillah pertama, Bakar Misbah sebagai pimpinan NII Fillah kedua, kemudian tonggak kepemimpinan jatuh kepada Sensen Komara sebagai pimpinan NII Fillah ketiga hingga sekarang. Sedangkan pemahaman NII Fillah mengenai konsep negara Islam, mereka berpendapat bahwa negara Islam merupakan kekuatan politik yang berfungsi untuk menerapkan dan memberlakukan hukum-hukum Islam serta satu-satunya tariqah dalam menerapkan sistem dan hukum-hukumnya secara menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.Kata kunci : Gerakan sosial keagamaan, NII Fillah

Page 1 of 12 | Total Record : 115