cover
Contact Name
Ristiawan Muji Laksono
Contact Email
anestpain@ub.ac.id
Phone
+6281336172271
Journal Mail Official
anestpain@ub.ac.id
Editorial Address
Anesthesiology and Intensive Therapy Program, Medicine FacultyBrawijaya University, Malang Indonesia Jl. Jaksa Agung Suprapto no.2, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Anaesthesia and Pain
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 27223167     EISSN : 27223205     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jap
Core Subject : Health,
Journal of Anaesthesia and Pain is a peer-reviewed and open-access journal that focuses on anesthesia and pain. Journal of Anaesthesia and Pain, published by Anesthesiology and Intensive Therapy Specialist Program of Medicine Faculty, Brawijaya University. This journal publishes original articles, case reports, and reviews. The Journal s mission is to offer the latest scientific information on anesthesiology and pain management by providing a forum for clinical researchers, scientists, clinicians, and other health professionals. This journal publishes three times a year. Subjects suitable for the Journal of Anaesthesia and Pain are all subjects related to anesthesiology and pain management.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2020): January" : 5 Documents clear
Ketamin Sebagai Inhibitor Kalsium Intraseluler pada Human Umbilical Vein Endothelial Cell (HUVEC) Model Sepsis Rudy Vitraludyono; Aswoco Andyk Asmoro; Edi Widjajanto
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 1 (2020): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.01.02

Abstract

Latar belakang: Sepsis berat dan syok sepsis memiliki angka kematian yang tinggi. Agen anestesi yang sering digunakan untuk pasien sepsis adalah ketamin. Perubahan kadar kalsium dalam sel berkontribusi dalam peningkatan respon imun dan kerusakan jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek ketamin terhadap ekspresi kalsium intraseluler Human Umbilical Vein Endotel Cell  pada jam ke-3 pasca paparan LPS dibandingkan dengan HUVEC model sepsis.Metode: Sebanyak 30 sumuran culture HUVEC diberi perlakuan sesuai kelompok perlakuan. Kelompok P1 (HUVEC + LPS), kelompok P2 / Model sepsis (HUVEC + LPS + Monosit), kelompok P3 (HUVEC + LPS + Ketamin 50 µmol/L) dan kelompok P4/ Model sepsis + Ketamin (HUVEC + LPS + Monosit + Ketamin 50 µmol/L). Ekspresi kalsium intraseluler dianalisis menggunakan metode imunofluoresens 3 jam setelah pemberian Ketamin. Data hasil penelitian diuji statistic menggunakan uji T dua sampel bebas menggunakan software SPSS 18.0.Hasil: Sepsis menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler yang signifikan dibandingkan dengan kontrol (p<0,05). Ketamin 50 µmol/L secara signifikan mampu menurunkan ekspresi kalsium intraseluler pada model sepsis secara signifikan. Selain itu, ketamin juga menujukkan aktivitas penghambatan produksi kalsium intraseluler pada HUVEC yang hanya diinduksi LPS.Kesimpulan: Pemberian Ketamin 50 µmol/L dapat menurunkan ekspresi kalsium intraseluler pada HUVEC yang dipapar LPS dan HUVEC model sepsis. Ketamin dapat digunakan sebagai imunoterapi sepsis dengan memodulasi konsentrasi kalsium intraseluler. 
Pengaruh Penggunaan Alcohol Swab Terhadap Tingkat Kontaminasi Bakteri pada Blade Laringoskop di Kamar Operasi Sentral Rumah Sakit Saiful Anwar Buyung Hartiyo Laksono; Isngadi Isngadi; Muhammad Rizqan Khalidi
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 1 (2020): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.01.03

Abstract

Latar belakang: Infeksi nosokomial masih menjadi masalah di dunia kesehatan dengan angka kejadian infeksi yang cukup tinggi. Salah satu penyebab tingginya infeksi nosokomial adalah penggunaan peralatan yang terkontaminasi bakteri. Laringoskop merupakan salah satu alat yang banyak mengalami kontak langsung dengan pasien pembedahan dan memiliki potensi sebagai agen pembawa kontaminan. Belum ada standard internasional maupun nasional untuk desinfeksi atau dekontaminasi laringoskop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan teknik alcohol swab terhadap tingkat kontaminasi blade laringoskop di kamar operasi rumah sakit umum Dr. Saiful Anwar Malang.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Sampel penelitian adalah 32 buah blade laringoskop yang dibagi menjadi kelompok. Kelompok kontrol/ kelompok I (n=16) tidak diberi perlakuan alcohol swab dan kelompok perlakuan/ kelompok II (n=16) diberi perlakuan alcohol swab. Analisis bakteri dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Analisis data menggunakan uji One-Way ANOVA pada software SPSS 16.0. Hasil: Jumlah kontaminasi bakteri pada kelompok kontrol signifikan lebih tinggi (75%) dibandingkan kelompok perlakuan (35,5%)(p<0,05). Blade laringoskop yang mendapat perlakuan alcohol swab memiliki tingkat kontaminasi bakteri yang lebih rendah daripada blade laringoskop yang tidak mendapat perlakuan alcohol swab.Kesimpulan: Alcohol swab 70% dapat digunakan untuk memaksimalkan proses desinfeksi dengan cara menurunkan tingkat kontaminasi bakteri.
Injeksi Sendi Gleno-Humeral dan Bursa Subacromial disertai Blok Saraf Suprascapularis dengan Pulsed Radiofrequency pada Pasien dengan Nyeri Bahu Akibat Adhesive Capsulitis Erwin Mulyawan; Antonius H Wijono
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 1 (2020): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.01.04

Abstract

Adhesive capsulitis adalah kondisi bahu dimana terdapat pengurangan range-of-motion (ROM) aktif dan pasif secara bertahap dan sakit pada semua bidang pergerakan sendi glenohumeral yang disebabkan oleh adanya fibrosis dan kontraktur. Kondisi ini terjadi sekitar 2% hingga 5% dari populasi umum, sering terjadi pada wanita berusia antara 40 dan 60 tahun. Pengobatan awal nyeri dan disabilitas fungsional adhesive capsulitis bahu antara lain kombinasi obat nonsteroidal anti-inflammatory (NSAIDs) dan terapi fisik. Pasien yang tidak respon terhadap pengobatan tersebut, dapat diberikan teknik intervensi. Manajemen intervensi untuk adhesive capsulitis dapat berupa injeksi kortikosteroid intra-artikular, injeksi bursa subacromial, atau blok saraf suprascapularis dengan pulsed radiofrequency (PRF).Pada laporan kasus ini, akan dibahas pasien wanita berusia 60 tahun dengan adhesive capsulitis yang menjalani prosedur injeksi kortikosteroid sendi gleno-humeral dan bursa subacromial serta PRF saraf suprascapularis.
Manajemen Nyeri pada Kasus Complex Regional Pain Syndrome (CRPS) di Tangan Kiri Disertai Nyeri Bahu dan Leher Taufiq Agus Siswagama; Ristiawan Muji Laksono
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 1 (2020): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.01.05

Abstract

 Latar belakang: Nyeri dan edema lengan pasca operasi mammae cukup sering terjadi dan menimbulkan permasalahan yang pelik bagi pasien dan tenaga kesehatan. Gejala dan tanda berupa nyeri progresif yang tidak sebanding dengan penyebabnya diikuti edema, perubahan warna kulit dan suhu serta gangguan fungsi gerak merupakan tanda dan gejala Complex Regional Pain Syndrome (CRPS). Diperlukan pemahaman tentang penegakan diagnosis dan terapi yang tepat agar pasien CRPS mendapatkan tatalaksana yang baik. Kasus: Pasien dengan nyeri dan edema lengan kiri yang progresif pasca operasi mammae aberant kiri, tidak memberikan hasil memuaskan dengan terapi konservatif selama sepuluh tahun, dilakukan terapi intervensi nyeri dengan stellate ganglion block, facet cervical-3 median branch block dan suprascapullar nerve block dilanjutkan dengan program fisioterapi menunjukkan hasil yang baik. Kesimpulan: Tatalaksana CRPS pada ekstremitas atas dengan terapi konservatif yang tidak menunjukkan hasil yang baik memerlukan terapi intervensi nyeri dikombinasi dengan fisioterapi agar memberikan hasil yang memuaskan.
Hubungan Faktor Sosiodemografi dengan Angka Kejadian Nyeri Kronik pada Pasien Pasca Operasi Bedah Mayor di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang Trianna Mailawati; Ristiawan Muji Laksono; Arie Zainul Fatoni
Journal of Anaesthesia and Pain Vol 1, No 1 (2020): January
Publisher : Faculty of Medicine, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jap.2020.001.01.01

Abstract

Latar belakang: Nyeri kronik pasca bedah mayor merupakan komplikasi bermakna pada sebagian besar pasien.  Faktor sosiodemografi menjadi salah satu perhatian dalam prevalensi kejadian nyeri kronik pasca bedah mayor dan belum ada data mengenai angka kejadian nyeri kronik dan faktor yang mempengaruhinya di Indonesia, khususnya di Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan tingkat pendapatan terhadap angka kejadian nyeri pasca bedah.Metode: Penelitian ini tergolong penelitian epidemiologi analitik dengan metode cross sectional pada 123 pasien yang menjalani operasi elektif bedah mayor di RS Dr. Saiful Anwar Malang periode Juli-Desember 2018. Penelitian dilaksanakan dengan metode wawancara pada responden. Variabel penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan  tingkat pendapatan. Data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan uji korelasi Spearman pada SPSS 25.0.Hasil: Sebanyak 66 subjek tidak mengalami nyeri kronik dan 57 subjek mengalami nyeri kronik pasca bedah mayor. Tingkat pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan dengan angka kejadian nyeri kronik (p=0,038). Akan tetapi hubungan yang terjadi bersifat lemah  (koefisien korelasi Spearman =0,187). Faktor sosiodemografi di antaranya usia, jenis kelamin dan pendapatan tidak berhubungan dengan angka kejadian nyeri kronik pasca bedah mayor (p>0,05).Kesimpulan: Faktor tingkat pendidikan memiliki hubungan yang bersifat lemah dengan angka kejadian nyeri kronik pasca operasi bedah mayor. Akan tetapi, faktor sosiodemografi seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan tidak berhubungan dengan angka kejadian nyeri kronik pasca operasi bedah mayor.

Page 1 of 1 | Total Record : 5