cover
Contact Name
Hamid Mukhlis
Contact Email
me@hamidmukhlis.id
Phone
+6281325790254
Journal Mail Official
makein@ukinstitute.org
Editorial Address
Lucky Arya Residence No 18 RT/RW 003/001 Fajar Agung Barat Kecamatan Pringsewu
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Kesehatan Indonesia
Published by Utan Kayu Institute
ISSN : 27456498     EISSN : 27458008     DOI : https://doi.org/10.47679/makein
Core Subject : Humanities, Health,
Majalah Kesehatan Indonesia (MAKEIN) with registered ISSN 2745-6498 (Print) and ISSN 2745-8008 (online), is an interdisciplinary journal that publishes material on all aspects of public health science. This MAKEIN provides the ideal platform for the discussion of more sophisticated public health research and practice for authors and readers worldwide. The priorities are originality and excellence. The journal welcomes high-impact articles on emerging public health science that covers (but not limited) to nursing and midwifery, epidemiology, biostatistics, nutrition, family health, infectious diseases, health services research, gerontology, child health, adolescent health, behavioral medicine, rural health, chronic diseases, health promotion, evaluation and intervention, public health policy and management, health economics, occupational health and environmental health.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1: April 2021" : 6 Documents clear
Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point Pada Penyelenggaraan Masakan Rendang (Faktor Fisik dan Kimia) Dasyu Irmayanti
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1: April 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.202114

Abstract

The process of cooking beef rendang takes a long time. Food safety of rendang quality can be guaranteed by the effectiveness of the Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) system to the prevention of food contamination from hazard potential by identifying critical control points at all cooking step processes. The purpose of the research is to know HACCP Implementations of Rendang dish at Padang X restaurant in Bandar Lampung 2020. This is qualitative research with an observational descriptive approach. The informant of research is supervisor, chef, assistant of chef, and waitress. Selection of informants by purposive sampling technic. The analysis of research is using the HACCP principal and Miles and Huberman Theory. The physical factors of critical control points: unclean kitchen sanitation and bad personal hygiene of food handler. The chemical of critical control points is using plastic packaging and equipment washing fluids. Based on research to the owner of Padang X restaurant recommended increasing food safety quality to make HACCP team and good practicing of personal hygienes.  ABSTRAK: Rendang dari daging sapi diolah dengan proses memasak yang cukup lama. Keamanan pangan masakan rendang dapat terjamin kualitasnya dengan adanya penerapan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang efektif untuk melakukan pencegahan kontaminasi makanan dari bahaya potensial dengan mengidentifikasi titik kendali kritis di setiap tahapan proses pengolahan masakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan HACCP dari pengolahan masakan rendang yang diproduksi Rumah Makan Padang X di Bandar Lampung Tahun 2020. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif observasional. Informan penelitian ini: Supervisor, Ketua Juru Masak (chef), Asisten Juru Masak, dan Pramusaji. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis penelitian menggunakan prinsip HACCP dan teori dari Miles dan Huberman. Titik kendali kritis faktor fisik berupa sanitasi dapur yang tidak bersih dan personal hygiene penjamah makanan yang belum baik. Faktor kimia memiliki titik kendali kritis pada penggunaan kemasan plastik dan cairan pencuci peralatan. Berdasarkan hasil penelitian, pemilik rumah makan padang disarankan untuk meningkatkan kualitas keamanan pangan dengan membentuk tim HACCP dan penjamah makanan dapat membiasakan personal hygiene yang baik dan benar.
Fenomena Acquired Hemofilia A (AHA) Setelah Infeksi Covid-19: Sebuah Tinjauan Literatur Niluh Ayu Sri Saraswati
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1: April 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.202118

Abstract

Acquired hemophilia A (AHA) is a rare autoimmune disease caused by circulating autoantibodies directed against the clotting factor VIII (FVIII) that leads to bleeding. It is often associated with pregnancy, autoimmune, malignancy, drugs, or infection – including COVID-19. Recently, there are 2 reported cases of AHA following COVID-19 infections. This study aims to examine the results of various studies from several journals about the association between COVID-19 infection and AHA. Those studies were collected and reviewed then written as a literature review study. As AHA is included into coagulation disorders, which also known as coagulopathy, is associated with thrombotic complications, and is well described as one of the COVID-19 complications. So, it is possible that COVID-19 infection leading to AHA due to its thrombotic complications. Moreover, COVID-19 infection is causing immune dysregulation, rising the FVIII autoantibodies which also contributes to caused AHA. So, it is important for the clinician to know that COVID-19 infections could trigger the emerging of AHA, as it is one of the thrombotic complications in COVID-19 infection. Further study about this phenomenon is needed. ABSTRAK: Acquired hemofilia A (AHA) merupakan sebuah penyakit autoimun langka yang disebabkan oleh antibodi di dalam tubuh yang menyerang faktor VIII (FVIII. AHA seringkali berkaitan dengan kehamilan, autoimun, keganasan, penggunaan obat-obatan, serta infeksi – termasuk COVID-19. Belakangan ini terdapat 2 buah kasus AHA yang dilaporkan terjadi setelah pasien  mengalami infeksi COVID-19. Studi ini bertujuan untuk mengamati hasil studi dari berbagai jurnal mengenai hubungan antara infeksi COVID-19 dengan AHA. Studi tersebut dikumpulkan dan ditelaah, kemudian dituangkan kembali dalam bentuk studi review literatur. AHA merupakan kelainan koagulasi yang disebut juga sebagai koagulopati, yang berhubungan dengan komplikasi thrombosis, salah satu manifestasi komplikasi dari infeksi COVID-19. Oleh karena itu, infeksi COVID-19 dapat menginduksi terjadinya AHA sebagai salah satu komplikasi thrombosis yang ditimbulkan. Infeksi COVID-19 juga menimbulkan disregulasi imun yang meningkatkan pembentukan autoantibodi terhadap FVIII sehingga menjadi kontributor terjadinya AHA. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa infeksi COVID-19 dapat mencetuskan terjadinya AHA sebagai salah satu komplikasi thrombosis yang ditimbulkan. Studi lebih lanjut mengenai fenomena tersebut masih diperlukan untuk mengetahui lebih dalam mengenai kaitan antara AHA dengan infeksi COVID-19.
Ivermectin dan Covid-19: Sebuah Tinjauan Literatur Henry Wijaya; Niluh Ayu Sri Saraswati; Devinqa Adhimah Amanda
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1: April 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.202119

Abstract

Coronavirus disease (COVID-19) is an infectious disease that has been declared a pandemic by WHO and has become a case of a health emergency in the world. This disease is caused by the novel coronavirus (SARS-CoV-2) which was first identified in China. Until now, various studies have been conducted to find the most effective drug in eradicating this pandemic. Ivermectin, an anti-parasitic drug, is known to have antiviral properties by inhibiting the entry of viruses into the cells. On this basis, Ivermectin is believed to be capable of being one of the COVID-19 therapies. This literature review is a review of emerging cases, namely COVID-19 and its relation to Ivermectin, using the published data obtained through Google Scholar, PubMed, and WHO dataIvermectin, a parasitic agent that has been approved by the FDA, was able to prevent viral proteins from entering the host cell nucleus. Ivermectin was also shown to be able to accelerate viral clearance in the body compared to the placebo group and show a significant reduction in CRP and LDH levels. Patients receiving ivermectin also showed a lower incidence of respiratory distress and a shorter duration of hospitalization. The administration of ivermectin as a COVID-19 drug can have a positive impact on patients both clinically and in the laboratory. ABSTRAK: Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah suatu penyakit infeksi yang telah diumumkan sebagai suatu pandemi oleh WHO dan menjadi kasus gawat darurat kesehatan di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh novel coronavirus (SARS-CoV-2) yang pertama kali di China. Hingga saat ini berbagai penelitian telah dijalankan untuk menemukan obat yang paling efektif dalam membasmi pandemi ini. Ivermectin, obat anti parasit, diketahui memiliki sifat anti virus dengan cara menghambat proses masuknya virus ke dalam sel tubuh. Dengan dasar ini, Ivermectin dipercayai mampu menjadi salah satu terapi COVID-19. Tinjauan literatur ini merupakan sebuah tinjauan kasus emerging yakni COVID-19 dan kaitannya dengan Ivermectin, dimana sumber tulisan didapatkan melalui data google cendekia, PubMed, dan WHO. Ivermectin, suatu agen parasit yang telah disetujui oleh FDA, mampu mencegah protein virus masuk ke dalam nukleus sel host. Ivermectin juga dibuktikan mampu mempercepat klirens virus di dalam tubuh dibandingkan dengan kelompok placebo dan menunjukkan penurunan yang signifikan pada kadar CRP dan LDH. Pasien-pasien yang mendapatkan ivermectin juga menunjukkan angka kejadian distres nafas yang lebih rendah dan durasi rawat inap yang lebih singkat. Pemberian ivermectin sebagai obat COVID-19 mampu memberikan dampak yang positif kepada pasien baik secara klinis maupun laboratorium.
Tripod Fracture in Adolescent: A Case Report I Gusti Ayu Agung Bella Jayaningrum
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1: April 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.202122

Abstract

Fractures that accompany the zygomatic complex can cause complications such as dystopia, enophthalmos and aesthetic changes if not treated in a timely manner. Current treatments rely on material and diagnostic resources, such as CT scans, to provide excellent aesthetic and functional results. The objective of this work is to present a case of orbital floor fracture and lateral wall of left orbit, showing aesthetic and functional results. We present a case from a 17 years old, male patient who fell from the roof with his face hitting the floor for the first time. Based on clinical and supportive examination, diagnosis of tripod fracture was made. Open reduction with internal fixation with miniplates and screws was performed to this patient.
Tingkat Pengetahuan Stunting pada Wanita Usia Reproduksi Valensa Yosephi; J Jumrahwati
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1: April 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.202124

Abstract

Stunting is one of the unsolved nutritional problems in Indonesia. Stunting does not only impact individuals but also affect the wheels of the economy and nation. Children with stunting have lower intelligence levels, psychomotor delay, chronic disease progression, and degradation in performance compared to normal children. The mother's knowledge influences toddler feeding behavior. Maternal knowledge is proven to be one of the factors that significantly affect the incidence of stunting. The research design was descriptive quantitative with cross-sectional approach. The research was conducted during December 2019 in Binanga Public Health Center, Mamuju Regency, with a sample of 103 women of reproductive age. The knowledge of reproductive age women regarding stunting at the Binanga Health Center, Mamuju, is mostly categorized as sufficient from 60 respondents (58.3%). Twenty-three respondents (22,3%) were well-knowledged, while twenty respondents (19,4%) were lack of knowledge. Reproductive age womenare expected to improve their knowledge of stunting by attending counseling from health workers and seeking additional information through mass and digital media. The public health center also needs to improve health services quality, especially on equitable information distribution regarding stunting.    ABSTRAK: Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi yang tidak kunjung selesai di Indonesia. Dampak stunting tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya, tetapi juga berdampak terhadap roda perekonomian dan pembangunan bangsa. Anak stunting memiliki tingkat intelegensi yang lebih rendah, keterlambatan psikomotor, terjadinya penyakit kronik, dan penurunan performa di sekolah jika dibandingkan dengan anak normal. Perilaku pemberian makanan balita dipengaruhi oleh pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu terbukti adalah salah satu faktor yang mempunyai pengaruh signifikan pada kejadian stunting.Desain penelitian yang digunakan adalah deksriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2019 di Wilayah Kerja Puskesmas Binanga Kabupaten Mamuju, dengan sampel 103 wanita usia reproduksi. Tingkat pengetahuan wanita usia reproduktif mengenai stunting di Puskesmas Binanga adalah tingkat pengetahuan cukup sebanyak 60 responden (58,3%), tingkat pengetahuan baik sebanyak 23 responden (22,3%), dan tingkat pengetahuan rendah sebanyak 20 responden (19,4%). Wanita usia reproduktif diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang stuntinganak dengan mengikuti penyuluhan dari tenaga kesehatan, mencari informasi melalui media massa dan digital. Puskesmas?juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, terutama pemerataan dalam pemberian penyuluhan mengenai stunting.
Incidence and Characteristic of Psoriasis Patients at Sanjiwani Gianyar Regional Hospital 2018-2019 Annisa Alviariza; Sayu Widiawati
Majalah Kesehatan Indonesia Vol. 2 No. 1: April 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/makein.202126

Abstract

Psoriasis is a chronic inflammatory skin disease that is characterized by firmly demarcated red plaque covered by a thick squama as a result of impaired proliferation and differentiation of the epidermis. Diagnosis of psoriasis is based on history taking and clinical features. Treatment is determined based on the patient's clinical characteristics and the severity of the disease. this retrospective study aims to determine the incidence, characteristics and treatment options of psoriasis patients in the dermatovenereology polyclinic of Sanjiwani Gianyar Regional Hospital in 2018-2019. Retrospective study of psoriasis patients at Sanjiwani Gianyar Regional Hospital in 2018-2019. Data collected from medical records includes sociodemographic data, clinical data and patient treatment history. Within two years, there were 53 new cases of psoriasis. The dominance of psoriasis cases was found in men with a ratio of women and men 1:2,31. From total 53 patients, 37 were male (69,81%)and 16 female patients (30,19%). The most common type was psoriasis Vulgaris (73,58%). The most age group was 31-45 years. The most commonly given regimen of therapy was topical corticosteroids plus oral antihistamines (45,28%). The most widely given systemic therapy was methotrexate. Accompanying skin infections were found in 6 cases of psoriasis (11,32%). Based on the results of the study, there were 53 new cases of psoriasis in 2018-2019, psoriasis Vulgaris was the most common, the most age group was 31-45 years old, topical corticosteroids plus antihistamines were still the main treatment options for psoriasis patients in Sanjiwani Gianyar Regional Hospital.  Abstrak: Psoriasis adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang ditandai dengan plak merah berbatas tegas tertutup skuama tebal sebagai akibat dari gangguan proliferasi dan diferensiasi epidermis. Diagnosis psoriasis dilakukan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis. Terapi ditentukan berdasarkan karakteristik klinis pasien dan derajat keparahan penyakit. Penelitian retrospektif ini bertujuan untuk mengetahui insiden, karakteristik dan pilihan terapi pasien psoriasis pada Poliklinik Kulit dan Kulit Kelamin RSUD Sanjiwani Gianyar pada tahun 2018-2019. Studi retrospektif selama 2 tahun pada pasien psoriasis di Poliklinik RSUD Sanjiwani Gianyar pada tahun 2018-2019. Data dikumpulkan dari rekam medis mencakup data sosiodemografik, data klinis, serta riwayat pengobatan pasien. Dalam dua tahun terdapat 53 kasus baru psoriasis. Dominasi kasus psoriasis ditemukan pada laki-laki dengan rasio perempuan dan laki-laki 1:2,31. Dari total 53 pasien didapatkan 37 pasien laki-laki (69,81%) dan 16 pasien perempuan (30,19%). Jenis yang paling banyak adalah psoriasis vulgaris (73,58%). Kelompok usia yang paling banyak adalah 31-45 tahun. Regimen terapi yang paling sering diberikan adalah kortikosteroid topikal ditambah antihistamin oral (45,28%). Terapi sistemik yang paling banyak diberikan adalah metotrexate (43,40%). Infeksi kulit penyerta terdapat pada 6 kasus psoriasis (11,32%). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan insiden kasus psoriasis tahun 2018-2019 sebanyak 53 kasus, dengan kasus terbanyak psoriasis vulgaris, kelompok usia terbanyak adalah usia 31-45 tahun, kortikosteroid topikal ditambah antihistamin masih merupakan pilihan terapi utama untuk psoriasis di RSUD Sanjiwani Gianyar.

Page 1 of 1 | Total Record : 6