cover
Contact Name
FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo
Contact Email
fxiwancm@gmail.com
Phone
+62341552120
Journal Mail Official
serifilsafatws@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Rajabasa 2
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Seri FilsafatTeologi Widya Sasana
ISSN : 14119005     EISSN : 27463664     DOI : https://doi.org/10.35312/
Seri Filsafat Teologi Widya Sasana focuses on philosophical and theological studies based on both literary and field researches. The emphasis of study is on systematic attempt of exploring seeds of Indonesian philosophy as well as contextualization and inculturation of theology in socio-political-historical atmosphere of Indonesia. Scope of Seri Filsafat Teologi Widya Sasana covers various perspectives of philosophical and theological studies from interdisciplinary methodology and cultural-religious point of view of traditions.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol. 29 No. 28 (2019)" : 20 Documents clear
Antara Eureka Dan Erica: Konsep Manusia Di Era 4.0 Valentinus Saeng
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia kontemporer sedang memulai sebuah era baru yang disebut Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 tiada lain adalah sebuah tahapan yang lebih tinggi atau langkah maju dari Revolusi Industri terdahulu, yang ditandai oleh kehadiran Internet of and for Things (IOT), artificial in- telligence (AI), genetic engineering (GE), Inplantable Technologis, Storage for All, The Connected Home, Big Data, Driverless Cars, Robot Doctor, Neurotechnologies, Bitcoin and Blockchain, 3D Print- ing.1 Kehadiran beraneka ragam perangkat teknis super-canggih itu mengubah mulai dari pola kerja, gaya hidup, cara berkomunikasi dan bertransportasi, cara menjaga maupun merawat kesehatan, pola pengambilan kebijakan hingga eksistensi dan desain dari sebuah kota (Smart City) maupun hakikat atau jati diri manusia (life extension, memory extraction, Designer Being atau Designer Babies)2 karena kemampuan alat-alat itu merobotkan kemanusiaan.3 Maka satu persoalan besar yang hendaklah diperhatikan, jika ditinjau dari sudut manusia, ialah apakah kehadiran alat-alat teknologi yang super-pintar itu hanya untuk meringankan beban kerja, meningkatkan produksi, meringkas jarak dan mempersingkat waktu, dan di bidang biologi misalnya, berhenti pada menyembuhkan penyakit, memulihkan luka-luka atau memperpanjang nafas dan menyentosakan hidup manusia, dapat dimanfaatkan untuk membuat hidup manusia “menjadi lebih baik”?
“Percikan” Revolusi 4.0 Refleksi Filosofis Tentang Siapa Manusia Dan allah FX. EKO ARMADA RIYANTO
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jika revolusi industri 4.0 dimetaforakan sebuah “big bang” peradaban baru manusia zaman ini, baiklah refleksi kecil ini menyimak “percikan- percikannya”. Sebab, meski dentumannya tidak terdengar, “percikan- percikan” itu diantaranya secara nyata berdampak pada diri dan keluarga kita, suasana dan tuntutan institusi tempat kita bekerja, sekolah dan sistem pendidikan dengan mentalitas baru dari peserta didik di mana kita mengajar, komunitas rumah kita menghayati panggilan dan perutusan, societas dan bangsa yang kita abdi, dan terutama persekutuan umat Allah yang kita cintai.
Revolusi Industri 4.0: Kapitalisme Neo-Liberal, Homo Deus Dan Wacanasolusi (Suatu Tinjauan Filsafat Sosial) Sermada Kelen Donatus
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filsafat sosial bergumul dengan fenomen revolusi industri 4.0, yang menghadirkan suatu realitas masyarakat yang disebut masyarakat digital dalam era revolusi industri 3.0 dan 4.0. Peneropongannya berawal dari usaha penulis untuk melukiskan basis filsafat yang melatar-belakangi kelahiran revolusi industri dan disusul dengan pencermatan terhadap masyarakat digital dalam sistem kapitalisme neo-liberal yang sedang meraja di dunia. Jawaban terhadap pertanyaan, siapa manusia dan di mana tempat agama atau Allah dalam masyarakat digital akan dikemukakan dalam bagian tiga dan pada bagian akhir dilontarkan sebuah wacana tentang pentingnya satu mata uang yang berlaku di seluruh dunia.
Revolusi Industri Keempat, Perubahan Sosial, Dan Strategi Kebudayaan Robertus Wijanarko
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbincangan tentang datangnya era baru yang disebut Revolusi Industri keempat mulai marak dilakukan di banyak lingkup komunitas yang berbeda. Fenomena ini diperbincangkan dari perbagai sudut dan bidang kehidupan. Mulai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, industri dan perdagangan, hukum, sosial dan politik, agama, filsafat, pendidikan, sampai bidang kebudayaan. Perubahan yang terjadi ditengarai tidak hanya menyangkut cara bagaimana teknologi membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan dan menjalani hidupnya, tetapi juga bagaimana perubahan tersebut menyebabkan adanya proses-proses disurpsi dalam berbagai bidang kehidupan, dan bahkan, sebagaimana Klaus Schwab sendiri tengarai, akan mengubah cara kita memahami diri kita sendiri sebagai manusia.1 Dengan kata lain Revolusi Industri keempat, sebagaimana yang terjadi menyusul revolusi industri sebelumnya, tidak hanya memicu perubahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mengakibatkan proses- proses perubahan sosial, dan juga mengubah pandangan tentang unsur-unsur hakiki tentang manusia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajukan kemungkinan desain strategi kebudayaan yang bisa dilakukan untuk menjawab perubahan- perubahan sosial yang terjadi, sebagai akibat berkembangnya revolusi industri keempat. Karena itu panulis akan berangkat dari pemetaan korelasi antara revolusi industri dan perubahan sosial, mulai dari revolusi industri pertama, kedua, ketiga, dan akhirnya keempat. Tentu saja korelasi revolusi industri tahap-tahap sebelumnya beserta perubahan sosial yang terjadi, disajikan di sini sejauh membantu pembaca untuk memberi gambaran tentang apa yang terjadi. Sementara korelasi antara Revolusi Industri keempat beserta konsekuensinya akan diurai sedikit lebih luas. Selanjutnya penulis akan menyajikan beberapa pemikiran untuk menyusun strategi kebudayaan sebagai jawaban adanya transformasi sosial yang terjadi.
Di Manakah allahmu? Teologi Mzm 42-43 Bagi Orang Di Zaman 4.0 Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kita hidup di zaman teknologi. Perkembangannya begitu men- cengangkan sampai orang kehilangan kesadaran tentang dirinya. Dapatkah perkembangan ini tidak ada titik berhenti? Apakah yang dicari dan dirindukan manusia? Suatu dunia yang makin baik? Manusia yang makin beradab? Amerika Serikat misalnya sebagai negara yang paling canggih dalam kemampuan teknologinya tidak memperlihatkan bahwa kemajuan tek- nologinya membawa manusia makin baik. Di samping hal-hal yang menggembirakan untuk kebaikan umat manusia, kita melihat bahwa teknologi canggih untuk membunuh dan menghancurkan makin dikembangkan. Kita dapat mengatakan bahwa dia menjadi persoalan dan membawa banyak persoalan dalam dunia ini. Dunia kita tidak menjadi lebih beradab dan damai. Persoalan manusia di zaman revolusi industri 4.0 ini tidak berkurang malahan mungkin makin bertambah. Mengapa? Apakah karena orang mulai menyingkirkan Allah dalam pemikiran dan hidupnya seperti yang tampak dalam pandangan penganut Homo- deus? Saya tidak tahu. Akan tetapi, dalam konteks semacam ini para teolog (dan filsuf) tidak dapat berdiam diri. Mereka harus memberi pencerahan. Para teolog harus mempertanggung-jawabkan imannya akan Tuhan untuk membimbing umat menghayati imannya dengan lebih baik. Bagaimana kita harus menafsirkan situasi ini, mengapa orang sampai menyingkirkan Allah? Menurut Albert Schweitzer, seorang pemusik,filsuf, teolog dan dokter- misionaris (1875-1965), manusia itu bertindak etis kalau kehidupan itu suci baginya. Kalau Allah tidak ada lagi, maka manusia menjadi binatang buas. Kemajuan teknologi bisa membawa kebiadaban bila kehidupan itu tidak suci baginya.1 Tokoh besar ini menggandengkan tindakan etis dengan pengakuan akan Allah. Saya kira situasi orang yang kehilangan Allah ini patut ditanggapi dengan baik karena dampaknya bagi kehidupan juga besar sekali. Situasi orang kehilangan Allah ini mengingatkan saya akan Mzm 42- 43 di mana pertanyaan “di manakah Allahmu” muncul secara kuat dan membawa derita bagi pemazmur. Mungkin jawaban dan penderitaannya masih punya arti bagi kita. Dari sebab itu, saya mau merenungkan mazmur ini dan mencoba menanyakan maknanya bagi kita. Pertanyaan “di manakah Allahmu” adalah suatu pertanyaan yang tajam dan dapat mempunyai arti bagi siapa saja baik orang beriman maupun tak beriman.
Di Manakah allah Mereka? Suatu Renungan Berilhamkan Mzm 115 Untuk Zaman Berhala Teknologi Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu tantangan terbesar bagi Gereja dan orang beriman dalam zaman modern ini ialah derasnya arus berhala baru yang melanda umat manusia. Berhala memang selalu menyertai perjalanan sejarah umat manusia sudah sejak zaman purbakala, tetapi berhala zaman sekarang dapat dikatakan baru meskipun tidak terlepas dari berhala-berhala sebelumnya. Berhala baru ini adalah dampak dari kemajuan teknologi yang luar biasa. Kemajuan ini sampai ke tingkatan orang memberhalakan ciptaannya dan memberhalakan diri sendiri. Inilah yang baru.
Tidak ada seperti Engkau, Di Antara Para Ilah Ya tuhan (Mzm 86:8a) Siapakah allah Dan Siapakah Manusia itu? Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zaman kita adalah zaman berhala- berhala baru. Hal ini terasa sangat kuat di dunia Barat, tetapi kiranya akan mudah pula masuk Indo- nesia. Salah satu berhala baru itu ialah pandangan Homo-deus. Manusia mampu menciptakan manusia yang unggul sampai digunakan istilah homo- deus. Benar-benar suatu hujatan terhadap Tuhan yang kita imani. Tuhan Yesus sendiri sudah mengatakan: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbakti kepada Allah” (Yoh 16:2). Kamu akan dikucilkan. Akan datang saatnya bahwa orang yang menyangka bahwa dia dapat menciptakan manusia unggul merasa diri menjadi dewa. Pandangan homo-deus menantang kita untuk memperdalam iman kita kepada Tuhan Yesus dan mengingat bahwa Dia sudah mengatakan semuanya itu (Yoh 16:4a). Tulisan ini mau menjawab pandangan sesat tersebut dan merenungkan keajaiban-keajaiban yang dikerjakan Allah bagi kita manusia. Tidak ada seperti Tuhan Allah kita. Di tengah dunia yang semakin canggih dan hebat ini kita tidak boleh menjadi,”orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini”, sehingga kita tidak dapat lagi “melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah” (lih. 2 Kor 4:4). Kemuliaan Kristus adalah kemuliaan kita karena kemuliaan-Nya telah dianugerahkan kepada kita yang percaya kepada- Nya. Beginilah penegasan St.Paulus: “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Kor 3:18).
Uang, Kenikmatan Dan Godaan Berthold Anton Pareira
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi yang makin canggih membawa kemudahan dan kecepatan yang luar biasa dalam hidup bersama. Tentu saja kita harus bersyukur karena semuanya itu. Akan tetapi, di tengah kemudahan dan kecepatan itu kita perlu sadar diri. Kita adalah manusia dan sebagai manusia kita adalah insan yang lemah dan berdosa. Dewasa ini kita dibesarkan dalam kemudahan dan kecepatan. Apakah tidak ada dampaknya? Apa yang baik bisa membawa dampak yang sama sekali tidak diinginkan dan dipikirkan sebelumnya. Di sinilah kita harus waspada. Tulisan ini hanya berupa catatan- catatan tentang sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam setiap tawaran kemudahan dan kecepatan menghayati hidup.
Manusia menikmati Keterasingan Untuk Melewati Krisis Identitas Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan banyak fakta dan gejala yang menuntut manusia melakukan penyesuaian diri. Misalnya, karena teknologi digital, Kitab Suci bisa diakses lewat sebuah telpon pintar. Kesulitan dalam memahami pesan teks atau makna sebuah kata dalam Kitab Suci dapat dengan mudah ditemukan solusinya lewat grup, atau ditelusuri di google. Fakta ini tidak gampang diterima oleh yang menjunjung kesakralan kitab. Akan tetapi teknologi tetap maju terus. Yang tidak menyesuaikan diri terhadap kemajuannya akan masuk dalam pengalaman krisis identitas. Krisis identitas itu dialami karena apa yang selama ini dijadikan pegangan mendadak menjadi hilang maknanya. Krisis identitas itu terjadi karena penolakan terhadap apa yang terasa asing. Krisis identitas itu disebabkan oleh ketidakmampuan menikmati keterasingan. Kitab Suci mengajari kita bagaimana keluar dari krisis identitas itu dengan cara menikmati keterasingan. Kitab Daniel Bab 1 adalah salah satu teks yang memberi inspirasi bagaimana manusia dapat menikmati keterasingan. Dikisahkan, Nebukadnezar, raja Babel, mendeportasi orang-orang penting dari bangsa Yahudi ke Babel. Lalu ia memilih beberapa pemuda yang dideportasi itu untuk dilatih selama tiga tahun untuk menjadi pelayan raja. Mereka tentu saja mengalami keterasingan dan krisis identitas berat akibat deportasi ini. Mereka hidup di tanah asing, dalam budaya asing, dengan raja asing, makanan asing, semuanya asing. Akan tetapi mereka bisa bertahan di dalam keterasingan itu. Bahkan hidup mereka memberi kontribusi bagi orang-orang asing. Di tanah asing itu mereka mendapat makna baru atau semacam identitas baru bagi hidup selanjutnya.
Manusia Tinggal Dalam Persekutuan Allah Tritunggal Supriyono Venantius
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap panitia yang meminta pembicaraan mengenai tema Hari Studi ke-44 STFT Widya Sasana Malang dari perspektif Kitab Suci. Tema Hari Studi ke-44 STFT Widya Sasana Malang adalah “Siapakah Manusia; Siapakah Allah di Era Industri 4.0?” Ada tiga hal yang mau dibahas oleh tema ini, yakni manusia, Allah, dan Era Industri 4.0. Tema ini menempatkan “manusia” di posisi pertama, urutan awal, lalu menyusul Allah, di posisi berikutnya. Sebaliknya, Kitab Suci, menempatkan Allah di posisi awal mula dan posisi manusia menyusul pada urutan sesudah Allah. Oleh karena itu, mengikuti alur Kitab Suci, tulisan ini akan berbicara pertama-tama mengenai Allah, lalu menyusul mengenai manusia. Sedangkan istilah “Era Industri 4.0” tidak pernah muncul dalam Kitab Suci. Istilah ini menjadi sesuatu yang asing dalam Kitab Suci. Oleh karena itu tulisan ini tidak membicarakannya secara khusus, namun tetap ada relevansinya untuk dicerna di era Industri 4.0 ini.

Page 1 of 2 | Total Record : 20