cover
Contact Name
Mikha Agus Widiyanto
Contact Email
jurnalteologipraktika@gmail.com
Phone
+628115422254
Journal Mail Official
jurnalteologipraktika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Stadion RT. 12 Kel. Loa Ipuh, Kec. Tenggarong, Kab. Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Location
Kab. kutai kartanegara,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Teologi Praktika
ISSN : 27228908     EISSN : 27228916     DOI : 10.51465
Jurnal Teologi Praktika adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh STT Tenggarong. Jurnal Teologi Praktika mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang praktika baik hasil penelitian lapangan maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan teologi praktika. Jurnal ini terbuka untuk penulis dari akademisi, praktisi, mahasiswa yang relevan dengan lingkup jurnal ini dengan rasio minimum 60% eksternal dan maksimum 40% internal STT Tenggarong. Jurnal ini terbit dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Juni dan Desember. Lingkup jurnal ini adalah: 1. Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) 2. Pastoral (Pastoral umum, pastoral pemuda, pastoral konseling) 3. Kepemimpinan Kristen 4. Manajemen Gereja 5. Misi dan Penginjilan
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2022): Juni" : 6 Documents clear
Eklesiologi Lumen Gentium Dan Implementasinya Dalam Misi Umat Montfortan Indonesia Di Kalimantan Barat Hubertus Herianto
Jurnal Teologi Praktika Vol 3, No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v3i1.51

Abstract

Pemahaman mengenai makna keberadaan Gereja di dunia senantiasa mengalami perubahan. Pembaharuan dan perubahan mendasar mengenai pemaknaan Gereja tampak jelas dalam Lumen Gentium. Menurut Lumen Gentium Gereja adalah sakramen atau tanda kehadiran nyata Kristus di dunia, sarana yang membawa orang pada keselamatan dan persatuan dengan Kristus, dan persekutuan umat Allah. Eklesiologi Lumen Gentium ini kemudian banyak direfleksikan dan diwujudnyatakan dalam pertumbuhan dan perkembangan Gereja pasca Konsili Vatikan II, termasuk oleh para Montfortan Indonesia. Salah satu model misi yang memiliki hubungan dengan gagasan eklesiologis Lumen Gentium ialah misi umat Montfortan di Kalimantan Barat. Relasi kedua hal inilah yang akan dikaji dalam tulisan ini. Fokus penulis ialah menguraikan bentuk-bentuk pengimplementasian eklesiologi Lumen Gentium dalam misi umat Montfortan Indonesia di Kalimantan Barat. Metode yang digunakan ialah pembacaan kritis atas misi umat yang dilaksanakan para Montfortan Indonesia di Kalimantan Barat sebagai upaya untuk menemukan bentuk-bentuk pengimplementasian eklesiologi Lumen Gentium. Berdasarkan kajian yang dilakukan, ditemukan bahwa misi umat Montfortan Indonesia di Kalimantan Barat mengimplementasikan gagasan eklesiologis Lumen Gentium secara penuh. Halnya mewujud dalam tiga hal berikut. Pertama, misi umat Montfortan Indonesia di Kalimantan Barat merupakan tanda nyata kehadiran Kristus dan Gereja-Nya di tengah umat. Kedua, misi umat misi umat Montfortan Indonesia merupakan sarana yang membawa umat pada persatuan mendalam dengan Kristus. Persatuan ini membuat mereka mampu mengalami Keselamatan. Ketiga, misi umat Montfortan Indonesia menjadi sarana yang mewujudkan persekutuan Umat Allah dalam Gereja. Keempat, pengimplementasian eklesiologi Lumen Gentium dalam misi umat Montfortan di Kalimantan Barat relevan untuk diterapkan manusia Indonesia dalam mewujudkan hidup bersama yang harmonis.
Hubungan Antara Tingkat Kesejahteraan Dengan Kinerja Gembala Sidang Di Gereja Kemah Injil Indonesia Daerah Sintang Kalimantan Barat. Yuliono Evendi
Jurnal Teologi Praktika Vol 3, No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v3i1.56

Abstract

Setiap gembala sidang memiliki tugas yang sangat berat yaitu membuat gereja bertumbuh baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Seorang gembala sidang harus dapat menunjukkan kinerja pelayanannya.  Ia harus memastikan seluruh anggota jemaat yang dilayani sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.  Seluruh orang percaya tersebut harus diajarkan dengan Firman Allah agar dapat mencapai kedewasaan secara rohani.  Selain daripada itu, seorang gembala sidang hendaknya selalu melakukan penginjilan kepada orang-orang yang belum percaya kepada Yesus.  Tujuannya adalah agar dapat memenangkan sebanyak mungkin orang.  Inilah kinerja pelayanan setiap gembala sidang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh seluruh anggota jemaat adalah memberikan dan meningkatkan kesejahteraan hidup gembala sidang tersebut.  Anggota jemaat harus bisa memenuhi kesejahteraan hidup keluarga gembala sidang.  Karena itu, seluruh jemaat diwajibkan untuk memberikan persembahan-persembahan yang terbaik untuk gereja.  Kinerja seorang gembala sidang tidak bisa terlepas dari tingkat kesejahteraan hidupnya.  Karena itu, gereja hendaknya berusaha untuk mencukupi segala keperluan dari gembala sidang tersebut.  Memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup seorang gembala sidang bukanlah suatu yang duniawi, tetapi Allah telah menetapkannya, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
Analisis Rendahnya Minat Jemaat dalam Ibadah Hari Minggu di Gereja Toraja Jemaat To’tallang Alferdi Alferdi; Leoni Patrisia
Jurnal Teologi Praktika Vol 3, No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v3i1.54

Abstract

Abstract:Worship should be interpreted as a place to surrender all aspects of life to Christ. By doing true worship, humans will have an encounter with God through His Word. Worship should also not be used as a formality, but it must be realized that when performing worship at that time there is also respect for Him who deserves it. However, this is different from what happened in the Toraja Church, the To'tallang congregation. Worship is no longer a necessity because most of them no longer participate in Sunday services. By using a descriptive qualitative method through a literature review and also a survey method with interviews, this is what the author will analyze, so that the cause of the low interest of the congregation in Sunday worship can be found. The factors causing the congregation's low interest in Sunday worship analyzed will be a benchmark for the church council to take every approach. Based on the research conducted, the authors found several factors that caused the congregation's low interest in Sunday worship, namely: some of them were no longer involved in Sunday worship because they had problems with other congregations, and even disagreed with the assembly, also that some of them so busy with worldly affairs that he forgets fellowship. Abstrak:Ibadah sudah seharusnya dimaknai sebagai wadah untuk menyerahkan seluruh aspek kehidupan kepada Kristus. Dengan melakukan ibadah yang benar manusia akan memiliki pengalaman perjumpaan dengan Allah melalui Firman-Nya. Ibadah juga hendaknya tidak dijadikan sebagai formalitas saja tetapi harus benar-benar dihayati bahwa ketika melakukan ibadah pada saat itu pula ada penghormatan yang dinaikkan kepada Dia yang layak menerimanya. Namun berbeda dengan kenyataan yang terjadi di Gereja Toraja jemaat To’tallang. Ibadah tidak lagi menjadi kebutuhan karena sebagian besar dari mereka tidak lagi ikut dalam ibadah-ibadah hari Minggu. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka dan juga metode survey dengan wawancara hal itulah yang akan dianalisis oleh penulis, sehingga masalah rendahnya minat jemaat dalam ibadah hari Minggu bisa ditemukan penyebabnya. Faktor penyebab rendahnya minat jemaat dalam ibadah hari Minggu yang dianalisis akan menjadi patokan untuk bagi majelis gereja untuk melakukan setiap pendekatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penulis menemukan beberapa faktor penyebab rendahnya minat jemaat dalam ibadah hari Minggu, yaitu: beberapa dari mereka yang tidak lagi terlibat dalam ibadah hari Minggu karena memiliki masalah dengan jemaat lain, dan bahkan tidak sependapat dengan majelis, juga bahwa sebagian dari mereka hanya sibuk dengan urusan duniawi sehingga melupakan persekutuan.
Spiritualitas Keugaharian: Sebagai Respons Terhadap Pola Hidup Hedonisme Di Era Digital Endang Sri Budi Astuti
Jurnal Teologi Praktika Vol 3, No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v3i1.41

Abstract

Abstract Religious Spirituality: as a response to the hedonistic lifestyle in the digital era. Life in this digital era has so many changes that occur because of the changing times caused by the very significant development of digital technology. Along with the rapid changes due to the development of digital technology, the life or lifestyle of Christian students has so also undergone many changes. The lifestyle adopted by most Christian students is no longer a life of simplicity but a lifestyle in a hedonistic culture. The lifestyle that a Christian student needs to implement is a modest lifestyle. Ugahari life is a life ini simplicity and according to need, not to splurge to reap praise. Jesus Christ has set an example for us to live in modesty. This journal was written with the aim of providing an understanding of the simple life as a Christian student and as God’s people by imitating Jesus Christ. The result that can be achieved from this writing is the lifestyle of Christian students. AbstrakSpiritualitas Keugaharian:   Sebagai Respons Terhadap Pola Hidup Hedonisme Di Era Digital. Pada kehidupan di era digital ini begitu banyak perubahan yang terjadi karena perubahan zaman yang disebabkan perkembangan teknologi digital yang sangat signifikan. Seiring pesatnya perubahan akibat perkembangan teknologi digital makan kehidupan atau gaya hidup mahasiswa Kristen juga mengalami banyak perubahan. Gaya hidup yang diterapkan oleh kebanyakan mahasiswa Kristen bukan lagi hidup dalam kesederhanaan melainkan gaya hidup dalam budaya hedonisme. Gaya hidup yang perlu diterapkan oleh seorang mahasiswa Kristen adalah gaya hidup ugahari. Hidup ugahari merupakan hidup dalam kesederhanaan serta rasa cukup. Memenuhi kehidupan sesuai kebutuhan bukan untuk berfoya-foya untuk menuai pujian. Yesus Kristus telah memberikan teladan bagi kita hidup dalam keugaharian. Jurnal ini ditulis dengan tujuan memberi pengertian tentang hidup ugahari sebagai seorang mahasiswa Kristen dan sebagai umat Allah dengan meneladani Yesus Kristus. Hasil yang dapat dicapai dari penulisan ini adalah pola hidup keugaharian mahasiswa Kristen. 
Providensia Allah Menurut Calvin dan Implementasinya Bagi Warga Gereja Toraja di Tengah Pandemi Covid-19 Agung Jaya Jaya
Jurnal Teologi Praktika Vol 3, No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v3i1.47

Abstract

Pada tulisan ini penulis menguraikan tentang pandemi covid-19 dan Providensia atau pemeliharaan Allah merupakan hal yang mutlak terjadi dalam kehidupan manusia dari dahulu, sekarang dan yang akan datang. Berdasarkan pengamatan penulis di masa Pandemi covid-19 ini sebagian warga gereja Toraja yang berada di daerah kota mulai mempertanyakan kehadiran Tuhan sebagai Sang Pemelihara Kehidupan. Peristiwa ini diperparah dengan banyaknya korban meninggal, ekonomi terpuruk, pengangguran bertambah dan sebagainya. Berbagai spekulasi-spekulasi muncul, ada yang mengatakan Tuhan sedang menguji kita, Tuhan menghukum kita, Tuhan hanya berdiam diri melihat kita menderita dan sebagainya. Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan melakukan studi pustaka terhadap berbagai sumber-sumber yang terpercaya seperti jurnal, buku-buku dan sebagainya. Sumber-sumber tersebut berkaitan dengan pandemi covid-19 serta pemahaman Calvin tentang providensia Allah. Dalam mengimplementasikan pemahaman provindensia Allah Warga Gereja Toraja harus memandang Allah sebagai sang Maha Kuasa yang akan menolong kehidupan pergumulan mereka dalam suasana pandemi covid-19. Warga Gereja Toraja harus melihat Allah Sang Pemilik kehidupan yang akan mengatur, merawat dan menjaga kehidupan umatNya. Warga Gereja Toraja harus membuang pemikiran yang mengaitkan segala sesuatu dengan nasib dan sebuah kebetulan hidup ini. Kurangnya pemahaman tentang pemeliharaan Allah membawa mereka mulai mengalami kekhawatiran luar biasa padahal Allah sang pemilik kehidupan ini senantiasa memelihara hidup mereka sekalipun berada dalam suasana mencekam akibat pandemi covid-19.
Pengaruh Mgr. Agustinus Agus Di Keuskupan Agung Pontianak Dalam Mengaktualisasi Spiritualitas Imam Diosesan Aman Aman; Antonius Denny Firmanto; Nanik Wijiyati Aluwesia
Jurnal Teologi Praktika Vol 3, No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51465/jtp.v3i1.50

Abstract

Tulisan ini mengenai Mgr. Agustinus Agus yang awalnya sebagai Uskup Sintang, sekarang menjadi Uskup Agung Pontianak. Dia ditunjukkan oleh Bapa Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung Pontianak menggantikan Mgr. Hieronymus Bumbun, OFM Cap. Selama beberapa tahun berlalu, baru kali ini imam diosesan (imam praja) dipilih menjadi Uskup Agung Pontianak. Mgr. Agustinus Agus mempunyai pengaruh yang besar dan karena sifat ramah dan merakyat dan memiliki hobi musik sekaligus bernyanyi sehingga menjadi inspirasi juga motivasi bagi bagi imam-imam dan calon imam terkhusus imam diosesan. Mgr. Agustinus Agus sungguh-sungguh menghayati spiritualitas Yesus Kristus, yaitu tentang mengasihi sesama. Mgr. Agustinus Agus menghayati hidup imamat yang bersumber dari spiritualitas alkitabiah. Maka Alkitab dan hidup Gereja yang nyata adalah motivasi dan inspirasi penghayatan imam diosesan, yakni keuskupan. Ada dua tantangan yang penulis paparkan dalam pembahasan ini pertama masalah CU dan masalah penggalangan dana untuk dampak Pandemi. Metode penulisan ini, yaitu: pertama mengambil tokoh Uskup Agung Pontianak sekaligus latar belakang sejarah keuskupan Agung Pontianak. Kedua, mencari referensi yang berhubungan dengan bahasan tulisan ini. Penulis merangkai rumusan secara sistematis tema tentang Mgr. Agustinus Agus sebagai Uskup Agung Pontianak. Temuan yang dapat diberikan dalam tulisan ini adalah menambah pengetahuan tentang materi siapa imam diosesan dan spiritualitas imam diosesan juga sekaligus refleksi Gereja untuk menghadapi situasi zaman.Kata Kunci: Spiritualitas, Imam Diosesan, Uskup, Tantangan, Gereja. 

Page 1 of 1 | Total Record : 6