cover
Contact Name
Khoiruddin
Contact Email
khoiruddin@che.itb.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jtki@cheitb.id
Editorial Address
https://www.aptekim.id/jtki/index.php/JTKI/about/contact
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Teknik Kimia Indonesia
ISSN : 16939433     EISSN : 26864991     DOI : http://dx.doi.org/10.5614/jtki
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Kimia Indonesia (JTKI) merupakan majalah ilmiah yang diterbitkan oleh Asosiasi Pendidikan Tinggi Teknik Kimia Indonesia (APTEKIM). Versi cetak JTKI telah diterbitkan secara berkala sejak tahun 2001 (p-ISSN 1693-9433). Mulai Volume 18 No. 2 Agustus 2019, terbitan berkala versi daring telah memiliki no. ISSN 2686-4991 (SK ISSN: 0005.26864991/JI.3.1/SK.ISSN/2019.11, 4 November 2019). Seluruh artikel yang diterbitkan telah melalui proses penilaian. Proses ini dilakukan oleh para akademisi dan peneliti pada bidang terkait untuk menjaga dan meningkatkan kualitas penulisan artikel yang dimuat, pada skala nasional khususnya dan internasional umumnya.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2019)" : 7 Documents clear
Mitra Bestari, Panduan Penulisan, Sampul C.B. Rasrendra
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh pH dan Jenis Pelarut terhadap Ekstraksi Batch Asam 6-Aminopenisilinat Lienda Aliwarga; Reynard Reynard; Iga Putri Yasmani; Mia Puspasari
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.5

Abstract

Abstrak. Asam 6-aminopenisilinat (6-APA) merupakan bahan dasar pembuatan penisilin semi-sintetis. Dalam skala komersial, 6-APA dapat diproduksi dengan cara enzimatis atau kimiawi. Pada umumnya, produksi 6-APA dilakukan secara enzimatis, yaitu dengan mengkonversi penisilin G menjadi 6-APA dengan bantuan penisilin asilase. Karena konversi merupakan reaksi kesetimbangan, maka produk yang didapat adalah campuran penisilin G, 6-APA, dan asam fenil asetat (PAA) sehingga untuk memperoleh 6-APA murni dilakukan proses ekstraksi, pemekatan, dan kristalisasi. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa variabel operasi, yaitu temperatur, pH, dan jenis pelarut. Dalam penelitian ini akan dipelajari pengaruh pH dan jenis pelarut terhadap proses pemisahan 6-APA. Temperatur operasi adalah kondisi ruang dan perbandingan volume pelarut dengan volume larutan yang akan diekstraksi adalah 1:1. Variasi pH ekstraksi dilakukan antara rentang 2,0-5,0, sedangkan jenis pelarut yang digunakan adalah n-butil asetat, iso butil asetat, metil isobutil keton, dan iso amil asetat. Rentang pH terbaik untuk pemisahan 6-APA adalah 2,0-3,0 dengan pelarut metil isobutil keton. Pada kondisi ini, perolehan penisilin G adalah 98%, 6-APA 5%, dan PAA 99%. Sebagian besar 6-APA pada fase aquatik dapat diproses untuk pemurnian selanjutnya. Kata kunci: Penisilin G, 6-APA, PAA, ekstraksi, pelarut, pH. Abstract. Influence of pH and Solvent Types on 6-Aminopenicillinic Acid Batch Extraction. 6-aminopenicillinic acid (6-APA) is the raw material for producing semi-synthetic penicillin. In commercial scale, penicillin G is converted into 6-APA enzymatically by penicillin acylase. Due to the nature of equilibrium reaction, the products are in mixture solution of penicillin G, 6-APA, and phenyl acetic acid (PAA). In order to purify the targeted 6-APA, steps of extraction, concentration, and crystallisation are thereby compulsory. Extraction process is influenced by operation variables, among other things, temperature, pH, and solvent types. In this experiment, we observed the aspects of pH and solvent type, while temperature was set in room condition. Volume ratio of solvent to extracted solution was 1:1 and pH was varied between 2.0 and 5.0. There were four solvents tested: n-butyl acetate, isobutyl acetate, methyl isobutyl ketone, and isoamyl acetate. The results suggested that optimum process was attained from pH 2.0 to 3.0, using methyl isobutyl ketone as solvent. In this regard, the yield of penicillin G (98%), 6-APA 95%) and PAA (99%); hence, most of the 6-APA was concentrated within the aquatic phase, representing the ease of further process. Keywords: Penicillin G, 6-APA, PAA, extraction, solvent, pH. Graphical Abstract
Peningkatan Kuat Tarik Bioplastik dengan Filler Microfibrillated Cellulose dari Batang Sorgum Yuli Darni; Lia Lismeri; Muhammad Hanif; Sarkowi Sarkowi; Dita Synthauli Evaniya
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.1

Abstract

Abstrak. Penelitian ini membahas tentang pengaruh rasio pati terhadap kitosan (dalam basis berat) dan konsentrasi microfibrillated cellulose sebagai filler dalam pembuatan bioplastik menggunakan pati sorgum, kitosan dan gliserol. Dalam penelitian ini, rasio pati terhadap kitosan yang divariasikan adalah 10:0, 9,5:0,5, 8,5:1,5, 7,5:2,5, 6,5:3,5, 5,5:4,5 (gr/gr). Microfibrillated cellulose sebagai filler disintesis dari batang sorgum dengan metode semimekanis. Perlakuan kimia diawali dengan delignifikasi batang sorgum dengan KOH 4% pada temperatur 80oC selama 1 jam untuk menghilangkan lignin. Setelah itu dicuci dan dipucatkan (bleaching) sebanyak dua kali menggunakan H2O2 6% pada suhu 70oC. Serbuk batang sorgum yang sudah kering dilanjutkan dengan perlakuan mekanis yaitu dimasukkan ke dalam disk mill  selama 90 menit dan dilanjutkan dengan high energy milling (HEM) untuk mengecilkan ukurannya sampai dengan rata-rata 4-8 µm. Filler ditambahkan, dan konsentrasinya (dalam basis berat) divariasikan dari 0, 1, 2, dan 3 %. Pati dan kitosan berukuran 63 mikron (lolos ayakan), waktu  pengadukan selama 35 menit pada kecepatan 375 rpm, dan penambahan 10% berat gliserol sebagai plasticizer dijaga konstan. Hasil terbaik pada penelitian ini diperoleh pada formulasi 8,5:1,5 (gr/gr). dan konsentrasi filler 3%. Produk bioplastik ini memiliki kuat tarik 11,64 MPa, persen perpanjangan 10,98%, modulus Young 105,96 MPa, densitas 0,915 gr/ml, dan penyerapan air  38,3%. Kata kunci: bioplastik, gliserol, kitosan, microfibrillated cellulose, sorgum. Abstract. The Improving of Bioplastic Tensile Strength with Microfibrillated Cellulose Filler from Sorghum Stem. This study discusses the effect of starch on chitosan ratio (in weight basis) and also the concentration of microfibrillated cellulose as a filler in the preparation of bioplastics using sorghum starch, chitosan, and glycerol. In this study, the ratio of starch to chitosan varied was 10:0, 9.5:0.5, 8.5:1.5, 7.5:2.5, 6.5:3.5, 5.5:4,5 (gr/gr). Microfibrillated cellulose as filler was encouraged from the sorghum stem by the semi-mechanical method. The delignification of sorghum stem initiated chemical treatment with a 4% KOH solution on 80oC for 1 hour to remove lignin. Bleaching is done after delignification using 6% H2O2 at 70oC. The dried sorghum powder is further followed by mechanical treatment that is put into disk mill for 90 minutes and continued with high energy milling (HEM) to reduce its size to an average of 4-8 µm. The filler is added, and the concentration (on a weight basis) varies from 0, 1, 2, and 3%. Starch and chitosan measuring 63 microns (sieve pass), stirring time for 35 minutes at a speed of 375 rpm, and the addition of 10% by weight of glycerol as a plasticizer is kept constant. The best results in this study were obtained in formulations 8.5:1.5 (gr/gr) and 3% filler concentration. This bioplastic product has 11.64 MPa tensile strength, 10.98% elongation, 105.96 MPa Young moduli, 0.915 gr/ml density, and 38.3% water uptake. Keywords: bioplastic, chitosan, glycerol, microfibrillated cellulose, sorghum.Graphical Abstract 
Penggunaan Kembali Limbah Cair dari Sintesis Zeolit Y sebagai Sumber Silika untuk Sintesis Zeolit Y secara Hidrotermal Endang Sri Rahayu; Desi Bentang; Ghina Fauziyyah
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.4

Abstract

Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari kemungkinan limbah cair atau mother liquor dari sintesis zeolit Y yang masih mengandung silika dapat digunakan kembali sebagai sumber silika untuk sintesis zeolit Y, dengan menambahkan bibit kristal dan alumina ke dalam limbah cair. Sintesis zeolite Y dilakukan secara hidrotermal pada temperatur 93oC dan pH sekitar 13. Rasio molar silika /alumina sekitar 10 mol/mol di dalam starting material diperlukan untuk mendukung terbentuknya zeolit Y. Seberapa banyak turunan atau penggunaan kembali limbah cair sintesis zeolit Y untuk sintesis zeolit Y, dikaji dalam penelitian ini. Hasil sintesis zeolit Y diuji nilai rasio molar SiO2/Al2O3 dengan alat X-Ray Diffractometer (XRD), dan morfologinya dengan alat Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil sintesis zeolite Y menunjukkan hanya mother liquor turunan ke-1 saja yang layak digunakan kembali untuk sintesis zeolite Y karena zeolite P terbentuk secara signifikan ketika digunakan mother liquor turunan ke-2. Penelitian ini juga mengamati bahwa pembentukan zeolite P terjadi ketika konsentrasi SiO2  dalam starting material adalah rendah. Konsentrasi SiO2 yang rendah pada mother liquor turunan ke-1 juga diduga berkontribusi terhadap penurunan rasio SiO2/Al2O3 pada zeolit Y hasil sintesis, yaitu 2.63 mol/mol, dari 3.74 mol/mol ketika menggunakan parent starting material. Peningkatan rasio SiO2/Al2O3 zeolit Y hasil sintesis dapat diupayakan, yang tampak lebih baik dilakukan melalui penaikan jumlah bibit kristal dari pada melalui penaikan waktu  reaksi, untuk memperkecil terbentuknya zeolite P. Kata kunci: limbah cair, sumber silika, sintesis, hidrotermal, zeolit Y. Abstract. Reuse of Liquid Waste from Zeolite Y Synthesis as a Silica Source for Hydrothermal Synthesis of Y Zeolite. The objective of this study was to study the possibility of mother liquor of synthesis of zeolite Y which still contains high silica, can be reused as a source of silica for synthesis of zeolite Y, by adding seeds and alumina. The synthesis of zeolite Y was done hydrothermally at temperature of 93oC and at a pH of about 13. The mole ratio of silica / alumina in the starting material at about of 10 mol / mol were needed to  achieve an adequate process. How many derivatives or repetitions of the mother liquor can be reused for synthesis of zeolite Y, it will be examined in this study. The result of the synthesized zeolite Y was then characterized of the SiO2 / Al2O3 molar ratio by X-Ray Diffraction (XRD) and the morphology by Scanning Electron Microscopy (SEM). The Results of the synthesis of zeolite Y shows that the only 1st mother liquor appropriate to be reused for synthesis of zeolite Y. The reduction of the SiO2 /Al2O3 molar ratio of synthesized Y zeolite from the 3.74 mol / mol when using parent starting material become 2.63 mol / mol when using mother liquor was observed The formation of zeolite P was also obtained when synthesis zeolite Y using mother liquor with a low concentration of  SiO2. The SiO2Al2O3 molar ratio of the synthesized zeolite Y can be raised by inceasing  the quantity of seeds in the starting material rather than by increasing reaction time, to minimize the formation of  zeolite P. Keywords: mother liquor, silica source, synthesis, hydrothermal, zeolite Y. Graphical Abstract
Sintesis Merkaptoetil Karboksilat sebagai Bahan Baku Stabiliser Termal Polivinil Klorida: Variasi Sumber Asam Lemak I Dewa Gede Arsa Putrawan; Adli Azharuddin; Dendy Adityawarman; Dicka Ar Rahim
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.3

Abstract

Abstrak. Merkaptoetil karboksilat merupakan bahan baku stabiliser termal polivinil klorida atau polyvinyl chloride (PVC) berbasis timah organik. Stabiliser termal perlu ditambahkan ke dalam resin PVC sebelum diekstrusi untuk mencegah kerusakan karena pengerjaan panas. Stabiliser termal PVC dari timah organik dikenal sangat efektif, khususnya untuk aplikasi PVC kaku seperti pipa dan bingkai jendela. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sintesis merkaptoetil karboksilat dari asam lemak dan merkapto etanol dengan variasi sumber asam lemak yang meliputi asam lemak sawit, dedak padi dan biji kapuk. Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor partaian (batch) dengan asam kuat sebagai katalis. Percobaan dilakukan pada temperatur 60-80°C dan ekses merkapto etanol 10%. Kinerja sintesis dievaluasi melalui pengukuran kadar gugus merkaptan dan angka asam dalam produk serta perolehan produk. Pada rentang temperatur 60-80°C, ketiga asam lemak memberikan produk dengan kadar merkaptan pada rentang 6,4-7,8%.  Temperatur 70°C merupakan temperatur terbaik karena menghasilkan produk dengan kadar merkaptan tertinggi tanpa memadat selama penyimpanan. Pada temperatur ini, produk memiliki angka asam pada rentang 11-41 mg KOH/g dan perolehan pada rentang 70-81%. Ketiga sumber asam lemak memberikan produk dengan kadar merkaptan yang mencukupi untuk dapat digunakan sebagai bahan baku stabiliser PVC. Mempertimbangkan kualitas produk dan ketersediaan di pasaran, distilat asam lemak sawit dipandang sebagai bahan baku yang paling baik. Kata kunci: asam lemak, merkaptoetil karboksilat, polivinil klorida, stabiliser termal. Abstract. Synthesis of Mercaptoethyl Carboxylate as Raw Materials for Polyvinyl Chloride Thermal Stabilizer: Variation in Fatty Acid Source. Mercaptoethyl carboxylate is a raw material for organotin-based polyvinyl chloride (PVC) thermal stabilizer. Thermal stabilizers need to be added to the PVC resin before extruded to prevent degradation due to heat treatment. Organotin PVC stabilizers are known to be very effective, especially for rigid PVC applications such as pipes and frames. This study was aimed to evaluate the synthesis of mercaptoethyl carboxylate from fatty acids and mercaptoethanol with various sources of fatty acids including palm, rice bran and kapok seed fatty acids. The experiment was carried out in a batch reactor with a strong acid as a catalyst. The experiments were conducted at 60-80°C and 10% mercapto ethanol excess. The performance of synthesis was evaluated by measuring mercaptan and acid contents and yield. In the range of 60-80°C, all three fatty acids provided products with mercaptan levels in the range of 6.4-7.8%. A temperature of 70°C is the best temperature as it gave a product with the highest mercaptan content without solidification during storage. At this temperature, the product had acid values in the range 11-41 mg KOH/g and yields in the range of 70-81%. Considering product quality and availability in the market, palm fatty acid distillate was seen as the best raw material. Keywords: fatty acid, mercaptoethyl carboxylate, polyvinyl chloride, thermal stabilizer. Graphical Abstract
Pengaruh Penambahan H2O2 dan Na2S2O5 pada Proses Detoksifikasi Tailing Hasil Pelindian Emas Tiara Triana; Mhd. Yasin Siregar
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtki.2019.18.2.2

Abstract

Abstrak. Proses ekstraksi emas dan perak melalui metode pelarutan selektif menggunakan reagen sianida merupakan proses pengolahan yang umum digunakan saat ini. Salah satu tantangan yang hadir dengan pemanfaatan proses pelindian adalah kontrol kandungan weak acid dissociable cyanide (WAD CN) pada tailing hasil proses pelindian guna menghindari terjadinya pencemaran lingkungan. Berdasarkan standar yang ditetapkan oleh International Cyanide Management Institute (ICMI), kandungan sianida yang diperbolehkan untuk dibuang bersama tailing ke lingkungan sebesar <50 ppm. Rangkaian proses yang harus dilakukan untuk menekan kandungan WAD CN pada tailing adalah melalui proses cyanide detoxification. Proses detoksifikasi yang dilakuan adalah dengan menambahkan oksidator berupa H2O2 dan kombinasi dengan Na2S2O5 (sodium metabisulphide/SMBS) dengan rasio H2O2:CN sebesar 2:1, 5:1, 10:1, dan 20:1, serta penambahan SMBS  dengan rasio antara SO2:CN sebesar 4:1 dalam sebuah bottle roll. Penambahan SMBS bertujuan untuk menurunkan jumlah penggunaan oksidator H2O2 yang digunakan. Berdasarkan analisis yang dilakukan diketahui bahwa semakin besar perbandingan antara H2O2:CN maka semakin rendah WAD CN yang dihasilkan, dari 84 ppm sebelum adanya penambahan oksidator menjadi 0,18 ppm pada rasio penambahan 20:1. Selain itu penambahan Na2S2O5 juga menyebabkan penurunan  kandungan WAD CN yang lebih signifikan menjadi 0,31 ppm pada rasio H2O2:CN sebesar 5:1. Adapun variasi pH tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kadar WAD CN pada saat proses detoksifikasi. Kata kunci: sianidasi, detoksifikasi sianida, wastewater treatment, pelindian emas. Abstract. The Effect of H2O2 and Na2S2O5 Addition in Cyanide Detoxification from Leached-Gold Tailing. Cyanide leaching is the predominant process of gold and silver extraction in large scale mining. The most challenging part related to leaching process of cyanide is controlling the content of weak acid dissociable cyanide (WAD CN) in tailing to prevent environmental pollution. The International Cyanide Management Institute (ICMI) has determinded the cyanide content allowed to be disposed of with tailings into the environment should not more than 50 ppm. Content of WAD CN in tailing can be suppressed by cyanide detoxification process. Detoxification process was conducted by adding H2O2 as an oxidizing agent into the tailings with varying H2O2:CN ratio (2:1, 5:1, 10:1, and 20:1) and combining with the addition of Na2S2O5 (sodium metabisulphide/SMBS) with SO2:CN ratio of 4:1 in a bottle roll. The study showed that the greater the ratio of H2O2:CN, the lower the WAD CN remained in tailing, from 84 ppm before any addition of oxiding agent to 0.18 ppm at ratio of 20:1. Moreover, Na2S2O5 addition was also significantly reduced WAD CN content down to 0.31 ppm at H2O2:CN ratio of 5:1. It also has been identified that pH variation has no significant impact to WAD CN content during detoxification process. Keywords: cyanidation, cyanide detoxification, wastewater treatment, gold leaching. Graphical Abstract
Sampul, Dewan Editor, Daftar Isi Rasrendra, C.B.
Jurnal Teknik Kimia Indonesia Vol 18, No 2 (2019)
Publisher : ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI TEKNIK KIMIA INDONESIA (APTEKIM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7