cover
Contact Name
Dr. Ir., Nurtati Soewarno, M.T
Contact Email
nurtati@itenas.ac.id
Phone
+6222-7272215
Journal Mail Official
terracotta@itenas.ac.id
Editorial Address
Tata Usaha Prodi Arsitektur Institut Teknologi Nasional Bandung - Itenas Gedung 17 Lantai 1 Jl. P.H.H. Mustofa No 23 Bandung - Jawa Barat 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA
ISSN : -     EISSN : 27164667     DOI : https://doi.org/10.26760/terracotta
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA adalah Jurnal Ilmiah yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan pengembangan teknologi dalam bidang-bidang utama : Perancangan Arsitektur (gedung), Stuktur dan Konstruksi, Teknologi Bangunan, Perencanaan Kota dan Asitektur Kota, Perumahan dan Permukiman, serta Teori-Metoda dan Sejarah Arsitektur.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2022)" : 6 Documents clear
Perkembangan Kebijakan Publik dan Program Bidang Perumahan dan Permukiman di Indonesia Juarni Anita
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v3i1.5179

Abstract

ABSTRAK Rumah adalah kebutuhan dasar manusia, sebagai tempat tinggal yang melekat sebagai hak asasi manusia. Semakin bertambah jumlah penduduk di Indonesia, kebutuhan rumah semakin terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menjadi masalah karena penyediaan rumah tidak mudah akibat mahalnya biaya pembangunan rumah dan harga tanah. Pemerintah harus ikut terlibat dalam penyediaan rumah bagi rakyat. Keterlibatan pemerintah dalam pengaturan perumahan memunculkan berbagai kebijakan publik dan program di bidang perumahan dan permukiman. Tujuan penelitian untuk mendata berbagai kebijakan publik dan program pemerintah di bidang perumahan sejak masa kolonial Belanda hingga saat ini. Metode penelitian adalah metode kualitatif dan bersifat deskriptif. Penelitian ini berisi deskripsi tentang definisi kebijakan dan program, berbagai kebijakan publik dan program di bidang perumahan yang dibagi berdasarkan empat periode waktu: a) masa kolonial Belanda, b) masa Orde Lama, c) masa Orde Baru, dan d) masa Reformasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pemerintahan kolonial Belanda lebih fokus pada kebijakan penyediaan rumah bagi orang Belanda dan program perbaikan kampung. Pemerintah Indonesia mulai membentuk lembaga untuk penyediaan perumahan rakyat pada masa Orde Lama. Perubahan signifikan pada masa Orde Baru yaitu pendirian lembaga yang menjadi tonggak penting untuk pembangunan perumahan, yaitu Perum Perumnas, BTN, dan REI dengan program rumah sederhana, rumah susun sederhana, dan mengembangkan perumahan skala besar. Masa Reformasi, kebijakan paling signifikan adalah berbagai skema bantuan keuangan untuk menstimuli percepatan penyediaan satu juta rumah pertahun dan pembangunan rumah layak huni (bantuan stimulan perumahan swadaya). Kata kunci: kebijakan publik, program bidang perumahan, Indonesia ABSTRACT The house is a basic human need, as a place to live that is inherent as a human right. The increasing number of people in Indonesia, the need for housing continues to increase from year to year. This is a problem because the provision of houses is not easy due to the high cost of building houses and land prices. The government must be involved in providing housing for the people. The government's involvement in housing regulation gave rise to various public policies and programs in the housing sector. This study aims to record and collect various government policies and programs in the housing sector, starting from the Dutch colonial period until now. The research method used in this study is a qualitative and descriptive method. This study contains a description of the definition of policies and programs, various public policies and programs in the housing and settlement sector which are divided according to four time periods: a) the Dutch colonial period, b) the Old Order period, c) the New Order period, and d) the Reformation period. The results showed that the Dutch colonial government was more focused on the policy of providing houses for the Dutch and the village improvement program. The Indonesian government began to establish institutions for the provision of public housing during the Old Order. Significant changes during the New Order era were the establishment of institutions that became important milestones for the housing, namely Perum Perumnas, BTN, and REI with programs for simple houses, simple flats, and developing large-scale housing. During the Reformation period, the most significant policies were various financial aid schemes to stimulate the acceleration of the provision of one million houses per year and the construction of livable houses (aid to stimulate self-help housing). Keywords: public policies, housing programs, Indonesia
Kenyamanan Antropometri Ruang-Dalam, pada Bangunan Kantor Balai Kota Cirebon Tecky Hendrarto; M. Taufik Hilman; M. Faisal Anpasha; M Ikhlas
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v3i1.5223

Abstract

AbstrakGedung Balai Kota Cirebon tidak pernah berubah sejak didirikan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda hingga saat ini, tetap sebagai Gedung Pemerintahan Kota. Sebagai sebuah gedung yang diperuntukan bagi Kepala Pemerintahan Kota seharusnya bangunan ini memiliki standard kenyamanan bangunan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standar kenyamanan bangunan Gedung Balai Kota Cirebon khususnya pada kenyamanan antropometri pada ruang dalamnya. Observasi ke lapangan diperlukan untuk melihat langsung objek penelitian untuk mendapatkan data aktivitas dan kondisi ruang dalamya. Dilakukan pula wawancara dengan pihak pengelola maupun pengguna bangunan berkaitan dengan kenyamanan antropometri. Pengukuran dilakukan pada 3 ruang dalam, yaitu: ruang pertemuan, ruang penerima dan Cirebon Command Centre. Ruang pertemuan mewakili ruang utama, ruang penerima mewakili ruang penunjang sedangkan Cirebon Command Centre adalah fungsi baru pada bangunan tersebut. Pengukuran ini mengacu pada standarisasi kebutuhan ruang berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara. Hasil diperoleh bahwa ruang-ruang dalam pada Balai Kota Cirebon sudah sesuai dengan standard kebutuhan ruang tetapi belum tergolong nyaman secara antropometri. Diharapkan konsep antropometri dapat diterapkan pada perancangan bangunan guna mendapatkan kenyamanan. Peningkatan kenyamanan mempengaruhi kualitas kerja yang akan meningkatkan kualitas perusahaan dalam hal ini Pemerintah Kota Cirebon. Kata kunci: Gedung Balai Kota Cirebon, Antropometri ruang-dalam, Standarisasi kebutuhan ruang. AbstraCTThe Cirebon City Hall has never changed since it was built by the Dutch Colonial Government until now, still as the City Government Building. As a building intended for the Head of the City Government, this building should have a good building’s comfort standard. This study aims to determine the standards comfort of Cirebon City Hall Building, especially on anthropometric comfort of interior space. Field observation is needed to see directly the research object to get data’s activities and present interior’s condition. Interviews were also conducted with building managers and users related to anthropometric comfort. Measurements were carried out in 3 interior rooms, namely: meeting room, reception room and Cirebon Command Center. The meeting room represents the main room and the reception room represents the supporting room, while the Cirebon Command Center is a new function in the building. This measurement refers to standardization of space requirements based on the Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia concerning the Development of State Buildings. The results show that the inner spaces at the Cirebon City Hall are in accordance with the standard of space requirements but not yet considered anthropometrically comfortable. It is hoped that the anthropometry concept can be applied to building design in order to achieve comfort. Increasing of comfort affects the quality of work which will improve the quality of the company in this case the Cirebon City Government. Keywords: Cirebon City Hall Building, Indoor anthropometry, Standardization of space requirements.
Representasi Filosofi Islam Pada Rancangan Arsitektur Masjid Nahrul Hayat Cikampek Utami Utami
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v3i1.5074

Abstract

AbstrakFilosofi Islam merupakan cara berfikir yang menjelaskan nilai-nilai Islam, tidak hanya menyangkut bagaimana interaksi sesama manusia tetapi juga dengan lingkungan. Meliputi semua aspek kehidupan. Kekayaan nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi Islam menjadi salah satu pilihan referensi bagi seorang arsitek dalam merancang. Nilai-nilai Islam dapat direpresentasikan dalam perancangan  arsitektur. Masjid sebagai tempat ibadah merupakan bangunan yang memiliki peran penting bagi umat Islam. Penelitian ini bermaksud mengamati bagaimana penerapan nilai Islam pada bangunan masjid sebagai tempat ibadah yang tentunya tidak terlepas dari penerapan ibadah secara praktis dalam kehidupan. Objek studi yang dipilih dalam penelitian ini adalah Masjid Nahrul Hayat, Cikampek. Masjid ini memiliki konsep desain dan bentuk yang tidak biasa dan berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya dijamannya. Penelitian ini akan menjelaskan bagaimana nilai Islam memberikan pengaruh terhadap konsep dan desain pada bangunan masjid. Lingkup pengamatan penelitian meliputi tatanan lansekap, gubahan massa, olahan fasad, dan interior. Penelitian ini menggunakan metode descriptive- content analysis, yaitu mendeskripsikan nilai-nilai filosofi Islam yang terkandung pada objek yang diteliti. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa Masjid Nahrul Hayat Cikampek menerapkan nilai Islam baik dalam konsep maupun desain arsitektur masjid.Kata kunci: filosofi Islam, masjid, perancangan, konsep arsitektur. AbstractIslamic philosophy is a way of thinking that explains Islamic values, not only regarding how humans interact but also with the environment. Covers all aspects of life. The wealth of values contained in Islamic philosophy is one of the reference choices for an architect in designing. Islamic values can be represented in architectural design. The mosque as a place of worship is a building that has an important role for Muslims. This study intends to observe how the application of Islamic values in mosque buildings as places of worship is certainly inseparable from the practical application of worship in life. The object of study chosen in this research is the Nahrul Hayat Mosque, Cikampek. This mosque has a concept design and shape that is unusual and different from other mosques in its era. This study will explain how Islamic values influence the concept and design of mosque buildings. The scope of research observations includes landscape arrangement, mass composition, facade processing, and interior. This study uses descriptive-content analysis method, which describes the values of Islamic philosophy contained in the object under study. The results of this study concluded that the Nahrul Hayat, Cikampek. Mosque applies Islamic values both in the concept and architectural design of the mosque.Keywords: Islamic philosophy, mosque, design, architectural concept
Komparasi Karakteristik Kawasan Permukiman Antara Zona Perairan Dan Zona Peralihan Studi Kasus Permukiman Pesisir Desa Lamanggau Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi Arifin Arifin; Ishak Kadir; La Ode Amrul Hasan; I Made Krisna Adhi
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v3i1.6064

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara majemuk dengan keberagaman mulai dari manusianya,kebudayaanya hingga pada tempat tinggal atau permukimannya. Di Sulawesi Tenggara yakni di Kabupaten Wakatobi, Kecamatn Tomia, di sebuah pulau kecil yakni pulau tolandono terdapat sebuah permukiman pesisir yang dihuni oleh masyarakat etnis Wakatobi dan masyarakat etnis bajo. Potensi tersebut diyakini memiliki hubungan dengan dunia arsitektural. Dengan mengungkap karakterisitk permukiman permikiman pesisir tersebut di dua zonasi kawasan yang berbeda yaitu di zona perairan dan zona peralihan yang kemudian di komparasi untuk dilihat perbedaan antara karakteristik kedua zona tersebut merupakan salah satu hal yang penting untuk bisa mengungkap model asitektur permukiman di desa Lamanggau. Potensi ini yang menjadi dasar bagi peneliti untuk mengangkat sebuah judul penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengangkat sebuah nilai arsitektur local khususnya arsitektur permukiman di desa Lamanggau. Penelitan ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan rasionalisitk. Penelitian ini menemukan sebuah gagasan bahwa antara zona perairan dan zona peralihan memiliki perbendaan yang dilihat dari segi Spasial Sistem dan Physical Sistemnya. Dari segi spasial sistemnya terdapat perbedaan di pola permukiman, orientasi hunian dan pemanfaatan ruang halaman hunian, sedangkan dari segi physical sistemnya terdapat perbedaan dari segi fisik permukiman, kompoisis model hunian serta struktur huniannya.Kata Kunci: Karakteristik, Permukiman, Pesisir, Komparasi, Wakatobi AbstractIndonesia is a pluralistic country with diversity ranging from people, culture to the place of residence or settlement. In Southeast Sulawesi, namely in Wakatobi Regency, Tomia District, on a small island namely Tolandono Island there is a coastal settlement inhabited by the Wakatobi ethnic community and the Bajo ethnic community. This potential is believed to have a relationship with the architectural world. By revealing the characteristics of the coastal settlements in two different zones, namely in the water zone and the transition zone, which is then compared to see the difference between the characteristics of the two zones, it is one of the important things to be able to reveal the model of settlement architecture in the village of Lamanggau. This potential is the basis for researchers to raise a title for this research. This study aims to raise the value of local architecture, especially residential architecture in the village of Lamanggau. This research uses a descriptive research method with a rationalistic approach. This research finds an idea that between the water zone and the transition zone there are differences in terms of the Spatial System and the Physical System. From the spatial aspect of the system, there are differences in settlement patterns, residential orientation and spatial use of the residential yard, while in terms of the physical system there are differences in terms of the physical settlements, the composition of the residential model and the structure of the dwelling.Keywords: Characteristics, Settlement, Coastal, Comparison, Wakatobi
Perubahan Bentuk dan Tatanan Massa Bangunan Akibat Penambahan Fungsi Bangunan di Paskal Hypersquare Bandung Dewi Parliana
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v3i1.5201

Abstract

AbstrakKawasan Paskal Hypersquare merupakan salah satu kawasan komersial di Kota Bandung yang mengalami ekstensi bangunan yaitu Mal Paskal 23. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan fungsi baru terhadap elemen kawasan yang diadopsi dari teori elemen pembentuk kota menurut Hamid Shirvani, serta teori urban design lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan disimpulkan tata guna lahan kawasan Paskal Hypersquare berada di zona merah dengan fungsi perdagangan dan jasa, telah sesuai dengan RDTR Kota Bandung, namun bangunan Mal Paskal 23 memiliki multi fungsi, yaitu mal (perdagangan), hotel (jasa), dan kampus (pendidikan) sehingga tidak sesuai dengan peraturan. Terdapat 4 kelompok warna pada kawasan Paskal Hypersquare, yaitu primer, skunder, tersier, dan netral. Material yang digunakan di kawasan tersebut adalah material baru. Bangunan memiliki tekstur halus dari finishing cat, kaca, dan ACP. KDB kawasan telah sesuai regulasi yaitu maksimum 80%. Luas bangunan sebesar 38.200 m2 telah sesuai dengan KLB kawasan yaitu 2,8. GSB pada kawasan 25 m telah sesuai regulasi yaitu 25 m untuk jalan arteri kelas C1. Kawasan ini mengkolaborasikan 2 jenis langgam, yaitu modern dan tradisional. Berdasarkan apa yang dialami di lapangan, skala megah lebih mendominasi kawasan Paskal Hypersquare. Mal Paskal 23 kontekstual dengan lingkungan sekitar. Skyline bangunan pada kawasan ini membentuk garis gelombang dinamis.Kata kunci  : Aspek Bangunan, Bentuk dan Massa Bangunan, Paskal Hypersquare, Tata Guna Lahan
Penerapan Akluturasi Budaya pada Masjid Al-Imtizaj Bandung Widji Indahing Tyas
Jurnal Arsitektur TERRACOTTA Vol 3, No 1 (2022)
Publisher : Itenas, Institut Teknologi Nasional Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/terracotta.v3i1.5291

Abstract

Penerapan akulturasi tersebut dapat ditemukan pada perancangan bangunan Masjid Al – Imtizaj, yang merupakan salah satu masjid di kota Bandung, tepatnya terletak pada area gedung Abdurrahman bin Auf Trade Center. Bangunan ini memiliki konsep desain yang berbeda daripada desain bangunan masjid pada umumnya dan masyarakat sekitar sering menjuluki sebagai “Kelenteng Berkubah”. dimana pada perancangannya memiliki bentuk dan fasad yang unik dan berbeda juga memadukan antara konsep arsitektur Islam dan arsitektur Cina yang menjadi ciri khas tersendiri

Page 1 of 1 | Total Record : 6