cover
Contact Name
Diah Widasmara
Contact Email
diah2ko@gmail.com
Phone
+6281296736449
Journal Mail Official
diah2ko@gmail.com
Editorial Address
http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/JP/about/editorialTeam
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pari
ISSN : 25020730     EISSN : 25490133     DOI : http://dx.doi.org/10.15578/jp.v6i2
Jurnal PARI adalah jurnal yang diterbitkan oleh Sekertariat Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan - Kementrian Kelautan dan Perikanan (BRSDM KKP), yang memiliki p-ISSN : 2502-0730 dan e-ISSN : 2549-0133 dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi, Kearsipan, Kehumasan serta Ilmu Komputer. Naskah yang dimuat jurnal tersebut berasal dari Pejabat Fungsional Pustakawan Arsiparis,Pranata Humas dan Pranata Komputer.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 133 Documents
PENGELOLAAN KUALITAS PERAIRAN UNTUK PEMBESARAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephellus spp.) PADA KARAMBA JARING APUNG DI DESA WAIHERU KECAMATAN TELUK AMBON BAGUALA KOTA AMBON Hidayat, Mohammad Arief; Sarifah, Fitri
Jurnal Pari Vol 10, No 2 (2024): (Desember) 2024
Publisher : BPPSDMKP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jp.v10i2.14971

Abstract

Ikan kerapu merupakan ikan air laut yang memiliki prospek yang sangat baik untuk dibudidayakan sebagai pemenuhan kebutuhan ikan konsumsi, peningkatan penghasilan, penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat dan nelayan, serta sebagai bentuk pelestarian sumber daya alam. Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, realisasi ekspor ikan kerapu hidup dari Provinsi Maluku ke Hongkong senilai US$1,1 juta pada periode Februari sampai dengan Oktober 2018. Namun, kegiatan budi daya ikan kerapu membutuhkan kualitas air yang baik sehingga ikan kerapu cantang tidak mudah mati dan terinfeksi penyakit. Selain itu, kualitas air juga mempengaruhi pengelolaan, pertumbuhan, perkembangbiakan atau produksi ikan. Penelitian ini dilakukan di Desa Waiheru Kecamatan Teluk Ambon Baguala, Kota Ambon, sebagai salah satu daerah yang berpotensi dijadikan tempat budi daya ikan kerapu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode STORET yaitu pengukuran suhu air, kecerahan, kedalaman, salinitas, DO, pH, Nitrat dan Fosfat dengan nilai akhir status kualitas adalah -5,71 atau kelas B (cemar ringan). Grouper is a seawater fish that has excellent prospects for cultivation to fulfill the needs of fish consumption, increase income, and provide employment for the community and fishermen as well as a form of preserving natural resources. According to data from the Department of Industry and Trade of Maluku Province, the realization of live grouper exports from Maluku Province to Hong Kong was worth US$1.1 million in the period from February to October 2018. However, grouper cultivation activities require good water quality so that grouper fish do not die easily and are infected with diseases. In addition, water quality affects the management, growth, breeding or production of fish. This research was conducted in Waiheru Village, Teluk Ambon Baguala District, Ambon City as one of the areas that has the potential to be used as a grouper cultivation site. The research was carried out using the STORET method, namely the measurement of water temperature, brightness, depth, salinity, DO, pH, Nitrate and Phosphate with the final value of quality status is -5.71 or class B (light pollution).
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PERIKANAN TANGKAP DI KECAMATAN MANTIKULORE, KOTA PALU Aprianto, Yudistira; Ndobe, Samliok; Ya’la, Zakirah Raihani; Rizal, Achmad; Serdiati, Novalina
Jurnal Pari Vol 10, No 2 (2024): (Desember) 2024
Publisher : BPPSDMKP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jp.v10i2.16031

Abstract

Kecamatan Mantikulore mempunyai potensi untuk mengembangkan usaha perikanan tangkap, namun masih terkendala oleh beberapa faktor antara lain kualitas sumber daya manusia, modal usaha, dan kurangnya pengetahuan akan informasi teknologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji potensi dan tantangan serta mengidentifikasi strategi yang sesuai untuk pengembangan usaha perikanan tangkap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan wawancara. Data penelitian yang dikumpulkan adalah data primer meliputi faktor internal (IFAS) dan faktor eksternal (EFAS), sedangkan data sekunder adalah data sarana dan prasarana nelayan serta data produksi perikanan tangkap. Penelitian berlangsung pada bulan September hingga Desember 2023. Analisis data menggunakan SWOT dan AHP untuk menentukan strategi pengembangan usaha perikanan tangkap. Hasil analisis kuadran menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap berada pada strategi stabil dengan nilai -0,25 dan 0,35. Berdasarkan penilaian AHP, terdapat dua alternatif strategi teratas yang sesuai untuk diterapkan dalam rangka pengembangan usaha perikanan di Kecamatan Mantikulore, yaitu peningkatan penggunaan alat bantu penangkapan dan peningkatan kemampuan armada dan alat tangkap. Mantikulore sub-district has the potential to develop both capture fisheries and aquaculture businesses, but is still hampered by several challenges including the lack of qualified human resources, lack of business capital, and insufficient knowledge of technological information. The objective of this research is to assess the potentials and challenges and to identify appropriate strategies for the development of capture fisheries and aquaculture enterprises. The research methods used are survey and interview methods. The primary research data collected include internal factors (IFAS) and external factors EFAS, while secondary data covers facilities and infrastructure available to fishermen and fish farmers as well as production data for  fishing and aquaculture.. The study took place between September and December 2023. Data analysis used SWOT and AHP analysis to determine strategies for developing capture fisheries and aquaculture businesses. The quadrant analysis results show that the capture fisheries business falls under a stable strategy, with values of -0.25 and 0.35, whereas the aquaculture business is situated within a growth strategy, with values of 0.12 and 0.18. According to the AHP's assessment, three top alternative strategies are suitable to be implemented in the context of developing fisheries businesses in Mantikulore District; which include increasing use of fishing tools, improving fleet and fishing equipment capabilities, and exploring  new alternative livelihoods technique
EVALUASI EFEKTIVITAS PELATIHAN MITIGASI BENCANA LAUT PESISIR DALAM PENINGKATAN PEMAHAMAN MASYARAKAT KABUPATAN PANGANDARAN Gemilang, Wisnu Arya; Rahmawan, Guntur Adhi
Jurnal Pari Vol 10, No 2 (2024): (Desember) 2024
Publisher : BPPSDMKP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jp.v10i2.14665

Abstract

Kabupaten Pangandaran merupakan wilayah pesisir dengan potensi wisata bahari yang tinggi, namun juga memiliki tingkat kerentanan yang signifikan terhadap bencana laut pesisir, seperti tsunami, abrasi, dan banjir rob. Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, pelatihan mitigasi bencana laut pesisir diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman serta keterampilan dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelatihan melalui metode kualitatif deskriptif dengan analisis pre-test dan post-test, serta kuesioner Rapid Self-Assessment (RSA). Pelatihan ini melibatkan 28 peserta dari berbagai kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan serta berlangsung selama tiga hari dengan pendekatan interaktif yang mencakup pemaparan materi, simulasi, dan kunjungan lapangan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan dalam pemahaman peserta, terbukti dari rata-rata skor pre-test sebesar 55,3 yang meningkat menjadi 82,7 pada post-test. Selain itu, hasil kuesioner RSA menunjukkan bahwa sebelum pelatihan, 49% peserta berada dalam kategori "mengetahui" dan 28% dalam kategori cukup tahu", sementara setelah pelatihan, 56% peserta masuk dalam kategori "mengetahui" dan 49% dalam kategori "sangat mengetahui". Data ini mendukung temuan bahwa pelatihan berbasis simulasi dan pendekatan lokal lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Meski demikian, masih terdapat beberapa kendala, seperti keterbatasan anggaran dan belum adanya evaluasi jangka panjang. Peningkatan dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mengoptimalkan program pelatihan serta pengembangan sistem monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Dengan strategi yang lebih sistematis dan partisipatif, diharapkan masyarakat Pangandaran lebih tangguh dalam menghadapi bencana pesisir di masa depan.  Pangandaran Regency is a coastal area with significant marine tourism potential but also has a high level of vulnerability to coastal disasters such as tsunamis, coastal erosion, and tidal flooding. To enhance community preparedness, a coastal disaster mitigation training program was conducted to improve understanding and disaster response skills. This study aims to evaluate the effectiveness of the training using a qualitative descriptive method through pre-test and post-test analysis, as well as a Rapid Self-Assessment (RSA) questionnaire. The training involved 100 participants from various community groups and stakeholders and was conducted over three days with an interactive approach, including lectures, simulations, and field visits.The evaluation results showed an increase in participants’ understanding, as evidenced by the average pre-test score of 55.3, which increased to 82.7 in the post-test. Additionally, the RSA questionnaire results indicated that before the training, 49% of participants were in the "knowledgeable" category and 28% in the "moderately knowledgeable" category, while after the training, 56% of participants were in the "knowledgeable" category and 49% in the "highly knowledgeable" category. These data support the finding that simulation-based training and a localized approach are more effective than conventional methods. However, challenges remain, such as budget constraints and the absence of long-term evaluation. The support from the government and stakeholders is needed to optimize the training program and develop a sustainable monitoring and evaluation system. With a more systematic and participatory strategy, the Pangandaran community is expected to become more resilient in facing coastal disasters in the future.