cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI" : 9 Documents clear
Film Sebagai Misi Kebudayaan Januarty, Andini
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya merupakan sebuah kata yang seringkali kita dengar dalam keseharian. Seiring dengan globalisasi, beberapa bagian dari budaya asli kita sedikit demi sedikit mulai tersisihkan sehingga kita belum tentu memahami apakah yang dimaksud dengan budaya dan apa saja bagian dari budaya itu, termasuk mengetahui apa saja kebudayaan yang ada di Indonesia. Hal ini bisa saja dikarenakan banyaknya kebudayaan yang ada di negara kita. Ini adalah tempat dimana film dapat memainkan perannya.
Kualitas Perfilman Indonesia Dalam Kaitannya Dengan Kualitas Penonton Indonesia Bayu Permana, I Gusti Gde Agung
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film adalah sebuah karya seni cerita yang dituturkan kepada penonton dengan bentuk gambar-gambar bergerak. Sebuah film, seperti layaknya karya seni lain, semestinya dapat di apresiasi sebagai sebuah karya seni. Walaupun film juga bisa dijadikan sebuah produk yang dapat menghasilkan uang, sebaiknya yang menjadi dasar utama sebuah film tidak dihilangkan demi keuntungan yang lebih besar. Karena kembali lagi, film sejatinya adalah karya seni. Saat ini di Indonesia, eksistensi film-film yang kurang bermutu dan sama sekali tidak dapat disebut sebagai suatu karya seni bukanlah sepenuhnya kesalahan para produsen film. Sebelum mutu film Indonesia dapat ditingkatkan, sebaiknya tingkatkan dulu mutu penonton Indonesia. Karena apabila tidak ada permintaan akan film yang berbobot, maka Industrialis film akan terus membuat film yang tidak berbobot. Dan industri perfilman Indonesia akan seperti itu selamanya, bagaikan jalan ditempat
Sekolah Film, Sekolah Kasta Kedua Sofiyanti, Devina
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meskipun film adalah sebuah media yang baru, dalam abad terakhir, film sudah menjadi bentuk seni yang kuat dan energik. Dan sekarang, industri film adalah salah satu industri terbesar di dunia. Sayangnya, di negara kita, kesuksesan industri film tidak diikuti dengan kepopuleran pendidikan film. Kebanyakan orang kita berfikir bahwa sekolah film tidak 'sekeren' sekolah teknik, kedokteran, ekonomi atau hukum , terutama orang-orang yang berasal dari generasi tua. Dan beberapa orang dari genarasi muda yang ingin masuk ke sekolah film, harus mengubur mimpinya karena paragidma tersebut.
Budaya Film Horor Dalam Wajah Perfilman Indonesia Astonia, Orizon
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Melalui film, manusia dapat mengetahui sesuatu yang jarang dijumpai oleh mata di kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa beberapa seniman dengan senang hati membuat sebuah film. Tapi film seharusnya membawa sesuatu yang baru dan mudah dikenal kepada penontonnya, mengingat bahwa penonton selalu mengharapkan sesuatu yang lebih saat menonton sebuah film. Khusus di Indonesia, kita bisa melihat banyak alternatif film yang memperlihatkan bagaimana dunia gaib dapat menembus dunia nyata, kita menyebutnya dengan film horor. Pertemuan antara dunia gaib dengan dunia nyata tersebut adalah sesuatu yang kita tahu adalah budaya di Indonesia. Tidak ada yang tidak percaya pada hal-hal gaib saat kita ada di Indonesia. Jadi, itulah mengapa seniman-seniman membawa 'pertemuan' itu ke dalam film sebagai alur cerita. Karena kita harus membawa budaya tersebut kepada penonton.
Pornografi Dalam "Lingkaran Setan" Perfilman Indonesia Siddik, Ridwan
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film adalah bahasa visual yang mengandung pengetahuan tak terbatas. Dan dengan film , kita bisa berkomunikasi dengan berbagai negara dibelahan dunia manapun. Kita bisa belajar serta memahami peradaban dan sejarah mereka. Maka dari itu, kita harus menggunakan film sebagai cara untuk menunjukkan bahwa negara kita bukanlah negara yang tak beradab. Melainkan negara yang bangga akan sejarah dan budayanya. Dan itu bisa terbukti jika ada kerjasama antara Masyarakat, Pembuat Film dan Pemerintah.
Naratif dan Realisme Sinetron Gita A.P, Rara
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tak bisa dipungkiri, sinetron sangat melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sepertinya, hampir semua stasiun televisi berlomba-Iomba menghadirkan sinetron dengan episode yang panjang karena mungkin semakin panjang sinetronnya, semakin seru ceritanya dan semakin tinggi ratingnya. Putri yang Ditukar, Anugerah, Tersanjung, Cinta Fitri, sudah tidak asing bagi kita, karena judul-judul ini selalu menemani kita, baik secara sengaja (kita memang mengikuti tiap episodenya) ataupun tidak sengaja (kebetulan melihat saat mengganti channel televisi, mendengar obrolan ibu-ibu) selama bertahun-tahun. Secara sadar kita penasaran, terlarut, bahkan seolah-olah harus mengikuti perkembangan cerita yang dituturkannya. Awalnya cerita mengalir lancar dan bagus dengan karakter yang tidak biasa, berbeda dengan cerita sinetron kejar tayang yang biasanya silih berganti di televisi, yakni karakter abu-abu yang sangat jarang disentuh penulis sinetron. Konfliknya juga menarik, tidak bertele-tele dengan akting beberapa pemainnya yang lumayan bagus. Tapi pada akhirnya rating dan perolehan iklan berbicara banyak dan mengambil peran yang sangat vital. Vital yang dimaksudkan disini adalah sukses membuat pengikutnya jenuh. Belakangan ini cerita mulai bertele-tele, semakin ajaib, tidak masuk akal dan cenderung bodoh. Sinetron Indonesia jauh dari realisme' yang ada (tokoh utama yang selalu menderita dan tokoh antagonis yang kaya raya dan tak terkalahkan). Sinema elektronik atau lebih populer dalam akronim sinetron adalah istilah untuk serial drama sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasi un televisi. Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut soap opera (opera sabun), sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela. Menurut hasil wawancara Teguh Karya sutradara terkenal asal Indonesia, istilah yang digunakan secara luas di Indonesia ini peltama kali dicetuskan oleh Soemardjono.
Fungsi Lembaga Kesenian Dalam Mendorong Perkembangan Dan Penciptaan Seni Sunarno
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya seni merupakan hasil kreatifitas manusia. Karya seni dapat berbentuk lukisan, musik, dan film. Film adalah hasil kerja yang dilakukan secara kolektif dan kolaboratif. Film bisa berbentuk audio visual atau visual saja. Karena film dikerjakan secara tim, tentunya membutuhkan beberapa orang dengan berbagai macam keahlian. Keahlian seseorang dalam pembuatan film dapat diperoleh secara otodidak maupun belajar di sekolah perfilman. Salah satu sekolah film yang ada di Indonesia adalah Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IK]). FFTV IKJ berdiri 1974, dengan berbagai macam Program Studi (Prodi), salah satunya adalah Prodi Film dan Televisi. Oleh karena itu, FFTV tentunya mempunyai tanggung jawab.
Film Pendek dan Komunitasnya Artini, Rini Dwi
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunitas film bergerak aktif dan dinamis di tengah-tengah masyarakat dengan mengantarkan wacana film yang dikemas melalui program pemutaran , pendidikan, apresiasi, serta kritik dalam pengembangan perfilman di Indonesia itu sendiri. Forum Film Pendek (FFP) muncul pertama kali di tahun 1980-an sebagai komunitas yang memformulasikan film pendek sebagai film alternatif dan independen. Selain itu komunitas film juga dapat membantu dalam pembentukan masyarakat/penonton dalam menyikapi film. Dan Komunitas film yang selalu memiliki hubungan erat dengan film pendek, saling memberikan timbal balik yang menguntungkan. Film Pendek sendiri merupakan kreasi para seniman dan pecinta film, juga sebagai bukti bahwa generasi muda Indonesia masih berkarya untuk memajukan dunia perfilman nasional. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya beberapa film pendek yang berhasil meraih penghargaan bergengsi di ranah festival internasional.
Bahasa Film Menggunakan Bau Bhanuteja, Raphael Wregas
IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kini film dapat menyentuh indra penglihatan dan indra pendengaran manusia . Padahal masnusia memiliki 3 indra lain. Salah satunya adalah indra penciuman, yang dapat mengenali bau. Apakah suatu saat film akan dapat mengeluarkan bau?Ternyata eksperimen tentang film yang mengeluarkan bau sudah dilakukan semenjak tahun 1906. Bau adalah bagian dari kehidupan manusia. Apabila film adalah sebuah cerita yang disampaikan, maka cerita akan semakin terkesan lebih nyata bila ada bau dari cerita tersebut. Sama halnya seperti kehadiran suara dalam film, kehadiran bau juga akan membawa beberapa dampak baru dalam penceritaan dan kehidupan sosial.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue