cover
Contact Name
Zulkifli Abdullah
Contact Email
zulkifliabdullah@fisip.unmul.ac.id
Phone
+6285222935761
Journal Mail Official
psd@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
Jl. Muara Muntai, Kampus Gunung Kelua, Samarinda 75119, Kalimantan Timur, Indonesia
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Progress in Social Development
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : -     EISSN : 27222861     DOI : https://doi.org/10.30872/psd
Core Subject : Humanities, Social,
Progress in Social Development published by the Department of Social Development, Faculty of Social Science and Political Science Universitas Mulawarman, which is published twice a year in January and July. Articles are written in Bahasa Indonesia.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020" : 5 Documents clear
Strategy and Struggle Of Street Vendors In Pasar Pagi Distric Of Samarinda: Strategi dan Perjuangan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kelurahan Pasar Pagi Kota Samarinda Capriati, Rossy; Purwaningsih, Purwaningsih
Progress In Social Development Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i1.13

Abstract

ABSTRACT: Strategies and Struggles of Street Vendors in Pasar Pagi Village, Samarinda City. This thesis stems from my curiosity about the reasons these actors choose street vendors as their realm of work. As well as regarding field practices and competition between fellow business actors from relatively small to relatively large capital. Practices in the field of actors in the realm of business do not only rely on material capital but also on social capital, cultural capital, and symbolic capital as a form of strategy for the actors to maintain their business. Street vendors, as businessmen with relatively small capital, are not only competing with fellow street vendors, but also with large capital owners. The strategy used by street vendors is to collect capital and convert their capital even though their capital is relatively small. There are various forms of capital and habitus that are owned by street vendors. This is all as a support for the actors to be able to continue to survive in this realm. The street vendor is a practice from the flow of life that is not on their side. The minimal material capital and the exclusion of these actors with large investors make them more struggling and have a strategy to be able to maintain their business. ABSTRAK: Strategi dan Perjuangan Pedagang Kaki Lima di Kelurahan Pasar Pagi Kota Samarinda. Skripsi ini bermula dari rasa ingin tahu saya tentang alasan para aktor ini memilih pedagang kaki lima sebagai ranah pekerjaan yang mereka jalani. Serta tentang praktik lapangan dan persaingan antara sesama pelaku bisnis dari yang bermodalkan relatif kecil sampai yang bermodalkan relatif besar. Praktik di lapangan para pelaku di ranah bisnis nyatanya bukan hanya mengandalkan modal material saja melainkan juga modal social, modal budaya dan modal simbolik sebagai bentuk strategi para actor dalam mempertahankan usahanya. Pedagang kaki lima sebagai pelaku bisnis yang bermodalkan relative kecil nyatanya bukan hanya bersaing dengan sesame pedagang kaki lima akan tetapi juga dengan para pemilik modal-modal besar. Strategi yang digunakan para pedagang kaki lima dari mengumpulkan modal dan mengkonversikan modal mereka lakoni walupun modal mereka relatf kecil. Bentuk variasai-variasi modal dan habitus yang dimiliki oleh pedagang kaki lima beraneka ragam. Ini semua sebagai penunjang para aktor untuk dapat terus bertahan dalam ranah ini. Pedagang kaki lima merupakan praktik dari arus kehidupan yang tidak memihak kepada mereka. Modal material yang minim serta tersisihkannya para aktor ini dengan para pemodal besar membuat mereka lebih berjuang dan memiliki strategi untuk dapat mempertahankan usaha mereka.
Analysis of The Utilization of the Social Center for Orangutan Protection (COP) In Kalimantan in Orangutan Saving Efforts: Analisis Pemanfaatan Jaringan Sosial Centre for Orangutan Protection (COP) di Kalimantan Dalam Upaya Penyelamatan Orangutan Hardiyanti, Octalina; Nurmanina, Agustin
Progress In Social Development Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i1.14

Abstract

ABSTRACT: Utilization of the Center for Orangutan Protection (COP) 2 social network in Kalimantan. With the limited number of human resources compared to the wide scope of work in all of Kalimantan, COP makes use of its social networks to meet the needs and the functioning of the organization. In investigative activities, COP has effectively used weak ties to obtain information on the whereabouts of orangutans and the destruction of their habitat. The policies in this activity are also dominated by central actors through their power networks which result in network stability. In contrast to the use of social networks for educational activities, local actors are more dominant in making program policies and work patterns. In the alternation between actors from time to time, there are differences in assumptions and work patterns of the actors in charge, resulting in differences in utilization results and potential network damage. COP can utilize its social network in fulfilling its function as an NGO campaigning for the protection and rescue of orangutans, but on the other hand, COP's bonding social network only connects this NGO with similar organizations, limited to handling cases of orangutans and their habitat. Supporting nature conservation, such as economic, social, and cultural, as part of the needs of the community around the ring habitat is not fulfilled. ABSTRAK: Pemanfaatan jaringan sosial Centre for Orangutan Protection (COP)2 di Kalimantan. Dengan keterbatasan jumlah SDM dibanding luasnya cakupan kerja di seluruh Kalimantan, COP memanfaatkan jaringan sosialnya untuk memenuhi kebutuhan dan berjalannya fungsi organisasi. Dalam kegiatan investigasi COP efektif menggunakan ikatan lemah untuk memperoleh informasi keberadaan orangutan dan perusakan habitatnya. Kebijakan dalam aktivitas ini pun didominasi aktor pusat melalui jaringan powernya yang menghasilkan stabilitas jaringan. Berbeda dengan pemanfaatan jaringan sosial untuk kegiatan edukasi, aktor lokal lebih dominan mengambil kebijakan program dan pola kerja. Dalam pergantian antar aktor pada masa ke masa terdapat perbedaan asumsi dan pola kerja aktor-aktor yang bertugas sehingga menimbulkan perbedaan hasil pemanfaatan hingga potensi terjadinya kerusakan jaringan. COP mampu memanfaatkan jaringan sosialnya dalam memenuhi fungsinya sebagai LSM yang mengkampanyekan perlindungan dan penyelamatan orangutan, namun sisi lainnya jaringan sosial COP yang bersifat bonding (tertutup) hanya menghubungkan LSM ini dengan organisasi sejenis terbatas pada penanganan kasus orangutan dan habitatnya. Pendukung konservasi alam seperti ekonomi, sosial dan budaya sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat di sekitar ring habitat tak terpenuhi.
Billiards Gambling in Tengin Baru Village, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara District: Permainan Judi Biliar di Desa Tengin Baru Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara Saputra, Muhammad Ricky; Situmorang, Lisbet
Progress In Social Development Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i1.15

Abstract

ABSTRACT: This article interprets the game of Billiards Gambling in Tengin Baru Village, Sepaku District, Penajam Paser Utara Regency which is done openly. The social context of the billiard gambling text can be said to be like being in a social space that is starting to open up by the influence of global economic culture, bound by the Anti-Gambling Law, average primary school education levels, the majority of followers of Islam and local tribal values ​​that also prohibit gambling. The Billiards Gambling Game is a combination of three elements, namely: (billiard sports, playing card gambling, buying and selling games). The sport of billiards gambling is used as a mode of outer settlement, art games are used as the core of the game, and both are packaged as entertainment businesses that are subject to buying and selling games. In the players' understanding, Billiards Gambling is transformed into various meanings according to subjectivity such as: hobbies, games, challenging games, professions, entertainment, fun, official games. In the text, the readers of the Biliary Gambling game get an articulation of new meanings that are not always in line with what the original author meant. ABSTRAK: Artikel ini menafsir permainan Judi Biliar di Desa Tengin Baru Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara yang di lakukan secara terang-terangan. Konteks sosial dari teks judi biliar ini bisa dikatakan seperti berada di ruang sosial yang mulai terbuka oleh pengaruh budaya ekonomi global, terikat oleh UU Anti Perjudian, tingkat pendidikan rata- rata sekolah dasar, mayoritas penganut islam dan nilai-nilai lokal suku yang juga melarang perjudian. Permainan Judi Biliar adalah perpaduan tiga elemen yaitu: (olahraga biliar, judi kartu remi, permainan jual beli). Olahraga judi biliar digunakan sebagai modus penapakan luar, permainan kartu remi digunakan sebagai inti permainan, dan keduanya dikemas sebagai bisnis hiburan yang tunduk pada permainan jual beli. Dalam pemahaman para pemain, Judi Biliar ini menjelma menjadi beragam makna menurut subyektifitas seperti: hobbi, game, permainan penuh tantangan, profesi, hiburan, iseng-isengan, permainan yang resmi. Di teks para pembaca permainan Judi Biliar mendapatkan artikulasi pemaknaan baru yang tidak selalu sejalan dengan apa maksud awal pengarangnya.
Women's Social Network in The Worker Union of PT. Tirta Mahakam Resources Tbk: Jaringan Sosial Buruh Perempuan di Dalam Serikat Buruh Pada Perusahaan PT. Tirta Mahakam Resources Tbk Novitasari, Novitasari; Hakim, Aji Qamara
Progress In Social Development Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i1.16

Abstract

ABSTRACT: This study aims to analyze the social networks of women workers in the KASBI Labor Union. The union was founded in 2005 to fight for women workers who work in the PT. Tirta Mahakam Resources Tbk. In a factory that is predominantly women, the need for a union is a must as a means of protection. For this reason, the existence of the Union is very dependent on the struggle of women in it. From the observations, it can be identified that six actors are the centers of information for women labor union members. Divided into categories of stars (Star) and opinion leaders (Opinion Leader) and recruitment. From the observations, six actors have the most extensive social networks among other individuals. The six actors also have different interaction models, this is a potential asset for both the actor and the Union. There are three networks in it, namely interest networking (interests), sentiment networking (emotional network), and power networking (power network). The typology of social capital of the Union is also to bridge the bridging of social capital, which is that it leads to the search for joint answers to solve problems faced by the group and is open to other unions. ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan menganalisis jaringan sosial buruh perempuan di dalam Serikat Buruh KASBI. Serikat yang berdiri pada tahun 2005 dalam upaya perjuangan buruh perempuan yang bekerja di dalam pabrik PT. Tirta Mahakam Resources Tbk. didalam pabrik yang mayoritas perempuan, Kebutuhan akan adanya Serikat merupakan keharusan sebagai sebuah wadah perlindungan. Untuk itu eksistensi Serikat sangat tergantung pada perjuangan perempuan di dalamnya. Dari hasil pengamatan dapat diidentifikasi terdapat enam aktor yang menjadi pusat informasi bagi anggota Serikat Buruh perempuan. Terbagi menjadi kategori bintang (Star) dan pemimpin opini (Opinion Leader) dan rekrutmen. Dari hasil pengamatan, terdapat enam aktor memiliki jaringan sosial yang paling luas diantara indivisu-individu lainya. Keenam aktor juga memiliki model interaksi yang berbeda-beda, hal tersebut merupkan modal yang potensial bagi aktor maupun Serikat. Terdapat tiga jaringan di dalamnya yaitu jaringan interest networking (kepentingan), sentiment networking (jaringan emosi), dan power networking (jaringan kekuasaan). Tipologi modal sosial Serikatpun bersifat menjembatani bridging social capital yaitu yang mengarah kepada pencarian jawaban bersama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh kelompok serta terbuka kepada Serikat lain.
Changes in Production Modes and Intellectual Relations in Managing the Behavior of Oil and Gas Labors in Muara Badak District: Perubahan Mode Produksi dan Relasi Intelektual Dalam Pengaturan Prilaku Buruh Migas di Kecamatan Muara Badak Priambodo, Nalendro; Murlianti, Sri; Nanang, Martinus
Progress In Social Development Vol. 1 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psd.v1i1.17

Abstract

ABSTRACT: This study aims to identify the pattern of changes in the mode of production of people who work as farmers and fishermen in Kutai Kartanegara Regency, especially Muara Badak District after the entry of the oil and gas industry in the region, and analyze how intellectual relations are in regulating the behavior of oil and gas workers along with the social, economic and political impacts. raised. This type of qualitative research uses the Grounded Theory approach. The results of this study indicate that changes in the way people produce from agriculture, plantations, and traditional fisheries in Muara Badak District have been accompanied by a mechanism for releasing social ties to land and sea through intermediary policies that are pro to the formation of industrial commodities for market interests and result in a decline in the domestic industry due to dependence. in the oil and gas industry. This dependence also gave birth to an intellectual layer and a working class that served the interests of the plantation, aquaculture and oil and gas-based industries. The process of its journey was accompanied by the emergence of various kinds of class conflicts, which gave rise to types of organic intellectuals who tried to fight back against the exploitation that occurred. ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasikan pola perubahan mode produksi masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan di Kabupaten Kutai Kartanegara, khususnya Kecamatan Muara Badak setelah masuknya industri migas di wilayah tersebut dan menganalisis bagaimana relasi intelektual dalam pengaturan prilaku buruh migas beserta dampak sosial, ekonomi dan politik yang ditimbulkan. Jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Grounded Theory. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perubahan cara masyarakat berproduksi dari pertanian, perkebunan dan perikanan tradisional di Kecamatan Muara Badak ikut dibarengi dengan mekanisme pelepasan ikatan sosial dengan tanah dan laut melalui perantara kebijakan yang pro terhadap pembentukan komoditas industri untuk kepentingan pasar serta mengakibatkan kemunduran industri domestik akibat ketergantungan pada industri migas. Ketergantungan ini juga melahirkan lapisan intelektual dan kelas buruh yang mengabdi pada kepentingan industri berbasis perkebunan, pertambakan dan migas. Dalam proses perjalalanannya juga dibarengi dengan kemunculan berbagai macam konflik kelas sehingga memunculkan jenis intelektual organik yang berusaha melakukan perlawanan balik terhadap eksploitasi yang terjadi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5