cover
Contact Name
Irma Yuliani
Contact Email
ijougs@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285854981814
Journal Mail Official
ijougs@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Pramuka, No. 156, Ronowijayan, Siman, Ponorogo
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies
ISSN : 27457397     EISSN : 2745861X     DOI : https://doi.org/10.21154/ijougs
Core Subject : Humanities, Social,
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies is a bilingual journal that published in June and December by The Institute for Research and Community Services of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Ponorogo. The Journal is focus on the result from researches and studies of gender equities or inequities through in civil society, culture, education, lenguange, religions etc.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 1 (2024):" : 10 Documents clear
Dinamika Peran Media Sosial dalam Konstruksi Identitas dan Penyimpangan Gender Permana, Rifky
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8291

Abstract

Media sosial telah menjadi fenomena yang mendalam, mengubah cara individu dan kelompok berinteraksi, berbagi konten, dan membentuk komunitas daring. Dalam ekosistem media sosial, terjadi pertukaran informasi, ide, dan pengalaman, menciptakan ruang virtual yang dinamis dan interaktif. Konsep media sosial melibatkan proses mendalam di mana makna dibangun, norma-norma sosial digagas, dan identitas dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap media sosial dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat menarik perhatian dan memicu refleksi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas gender, Teori Konstruksi Realitas Sosial memberikan wawasan yang relevan, menekankan bahwa identitas gender adalah konstruksi sosial yang terus-menerus diperbarui melalui interaksi manusia. Melalui media sosial, individu secara aktif terlibat dalam proses konstruksi identitas gender, menciptakan narasi kolektif yang memengaruhi pandangan masyarakat terhadap gender. Fenomena penyimpangan gender di media sosial mencerminkan perbedaan antara norma sosial dan identitas individu, dan dapat dijelaskan melalui teori penyimpangan sosial. Permasalahan ini membutuhkan pendekatan lintas sektor. Penguatan pendidikan seks dan gender inklusif, kampanye kesadaran, dukungan psikososial, pelatihan kesetaraan gender, dan advokasi representasi gender positif dalam media sosial diperlukan, dukungan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas juga penting. Upaya ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua identitas gender, mengatasi penyimpangan gender, dan membentuk konstruksi identitas gender yang lebih terarah.
Fatima Mernissi's Criticism of Misogynistic Hadiths Related to Gender Equality in The Modern Era Syafitri, Fauziah
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8427

Abstract

The researcher aims to present a paper related to the criticisms raised by Fatima Mernissi against gender-biased misogyny traditions in accordance with her thoughts. Gender equality is a very hot issue discussed today. Equality of rights between men and women is increasingly being voiced. This also happens within the scope of Islam. The emergence of discussions about misogynistic traditions is also increasingly highlighted, especially by Fatima Mernissi who focuses on issues of gender equality. This research method uses a literature review of various relevant articles. The results of this study show that Fatima Mernissi criticizes gender-biased hadiths to be contextualized according to the conditions and situations of the times. This is to provide space for women to be more free in running their lives without being intervened by patriarchy. The importance of contextualization in understanding traditions is very important, so that all Muslims can live life better and there are no practices that override women's rights.
Peran Strategis Fatwa MUI dan Pengkaderan Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Umat dan Perlindungan Perempuan Muthmainnah, Yulianti -
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8680

Abstract

AbstrackThe Indonesian Ulema Council (MUI) has three strategic roles: khodimul ummah, himayatul ummah, and shodiqul hukumah. Carrying out these three roles, MUI formulates religious fatwas that are also related to women's issues. Such as fatwa on halal ingredients for cosmetics and dress code, sexuality (abortion, female circumcision), and marriage (children and family relations). The two questions of this paper are whether women's life experiences are taken into consideration in the formulation and decision of fatwas? Why does MUI fatwa in fact get rejection from women's groups? To answer them, this paper uses a qualitative study, describing and analyzing MUI fatwas for the period 2010-2020 and several selected fatwas outside those years that are in accordance with the theme. This paper departs from the assumption that Indonesian society (including women's groups) actually needs MUI fatwas. This paper contributes to provide information on the strategic role of MUI for the protection of women through its fatwas and at the same time MUI still needs public input, especially women scholars, so that the fatwas produced are in favor, protecting women. And the importance of MUI making women as the subject of fatwa and not the object of fatwa, getting closer to women's experience; hearing and asking women's opinions or considering fatwas from women scholars, so that the fatwa produced by MUI suits women's needs and does not cause rejection. Key words: MUI fatwas, women ulama, women experiences AbstrakMajelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki tiga peran strategis yakni khodimul ummah, himayatul ummah, dan shodiqul hukumah. Menjalankan ketiga peran tersebut, MUI merumuskan fatwa keagamaan yang juga terkait isu perempuan. Seperti fatwa bahan halal untuk kosmetika dan tata cara berpakaian, seksualitas (aborsi, sunat perempuan), dan perkawinan (anak dan hubungan keluarga). Dua pertanyaan tulisan ini adalah apakah pengalaman hidup perempuan menjadi pertimbangan dalam perumusan dan keputusan fatwa? Mengapa fatwa MUI kenyataannya mendapatkan penolakan dari kelompok perempuan? Untuk menjawabnya, tulisan ini menggunakan kajian kualitatif, mendeskripsikan sekaligus menganalisis fatwa MUI periode tahun 2010-2020 dan beberapa fatwa terpilih di luar tahun tersebut yang sesuai tema. Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa masyarakat Indonesia (termasuk kelompok perempuan) sejatinya membutuhkan fatwa MUI. Tulisan ini berkontribusi memberikan informasi peran strategis MUI untuk perlindungan perempuan melalui fatwa-fatwanya dan pada saat yang sama MUI tetap membutuhkan masukan masyarakat, terutama ulama perempuan, agar fatwa yang dihasilkan berpihak, melindungi perempuan. Dan pentingnya MUI menjadikan perempuan sebagai subyek fatwa dan bukan objek fatwa, mendekatkan diri pada pengalaman perempuan; mendengar dan meminta pendapat perempuan atau mempertimbangkan fatwa-fatwa dari ulama perempuan, agar fatwa yang dihasilkan MUI sesuai kebutuhan perempuan dan tidak menimbulkan penolakan Kata kunci: fatwa MUI, ulama perempuan, pengalaman perempuan
Transgender Survival Strategy Amidst Discrimination to Meet Economic Needs in Jayapura City Amila, Amila; Abidin, Muhammad Zainal
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9110

Abstract

This research aims to uncover the experiences and strategies of transgender individuals (waria) in facing economic challenges and social discrimination. The method employed is descriptive qualitative, utilizing data collection techniques including observation, interviews, and documentation. Analysis involves data reduction, presentation, and drawing conclusions.The findings reveal that waria often face discrimination in exercising their rights as citizens, encountering difficulties in obtaining employment, education, and healthcare. They frequently experience mockery and ridicule from their surroundings, even becoming subjects of online harassment. This arises due to a lack of societal awareness regarding the existence of waria, which is perceived as different from societal norms. Despite these challenges, waria employ various strategies to meet their economic needs. They engage not only in sex work or beauty industry management but, under necessity, seek assistance from their community that understands their circumstances. Notably, previous studies have yet to address the strategies employed by waria in meeting their needs amidst the discrimination they face.
Relevansi Konsep Kesetaraan Gender Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Menurut Husein Muhammad Dan M. Quraish Shihab Mayasari, Lutfiana Dwi; Juwita Eka Prasasti
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9649

Abstract

Kesetaraan gender dalam pendidikan Islam merupakan sesuatu yang urgen guna mengembangkan masyarakat yang inklusif dan adil. Budaya patriarki yang ada di masyarakat menjadikan perempuan dipandang sebagai manusia kelas dua yang tidak memiliki kesamaan hak dengan laki-laki. Dalam konteks mendapatkan hak, seharusnya perempuan memiliki hak yang sama terlebih dalam hak mendapatkan pendidikan. Karena itu, peneliti bertujuan untuk menganalisis bagaimana relevansi konsep kesetaraan gender dengan nilai-nilai pendidikan islam. Metode yang digunakan adalah penelitian ini adalah kepustakaan (library research), dengan mengacu pada karya-karya penting kedua tokoh yaitu "Islam Agama Ramah Perempuan, Perempuan Islam dan Negara" karya Hussein Muhammad dan "Perempuan" karya M. Quraish Shihab. Adapun teknik analis data, peneliti menggunakan teknik kajian isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pemikiran Husein Muhammad dan M. Quraish Shihab, kesetaraan gender merupakan ajaran esensial dalam Islam karena didalamnya terdapat penghormatan terhadap manusia. Hak dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan berlaku di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Mereka meyakini bahwa konsep kesetaraan gender sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam, seperti nilai amaliyah (praktik), khuluqiyah (akhlak), dan i'tiqodiyah (keyakinan). Kata Kunci : Gender, Kesetaraan Gender, Nilai-nilai Pendidikan Islam
Dinamika Peran Media Sosial dalam Konstruksi Identitas dan Penyimpangan Gender Permana, Rifky
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8291

Abstract

Media sosial telah menjadi fenomena yang mendalam, mengubah cara individu dan kelompok berinteraksi, berbagi konten, dan membentuk komunitas daring. Dalam ekosistem media sosial, terjadi pertukaran informasi, ide, dan pengalaman, menciptakan ruang virtual yang dinamis dan interaktif. Konsep media sosial melibatkan proses mendalam di mana makna dibangun, norma-norma sosial digagas, dan identitas dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap media sosial dalam membentuk pandangan dan perilaku masyarakat menarik perhatian dan memicu refleksi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi identitas gender, Teori Konstruksi Realitas Sosial memberikan wawasan yang relevan, menekankan bahwa identitas gender adalah konstruksi sosial yang terus-menerus diperbarui melalui interaksi manusia. Melalui media sosial, individu secara aktif terlibat dalam proses konstruksi identitas gender, menciptakan narasi kolektif yang memengaruhi pandangan masyarakat terhadap gender. Fenomena penyimpangan gender di media sosial mencerminkan perbedaan antara norma sosial dan identitas individu, dan dapat dijelaskan melalui teori penyimpangan sosial. Permasalahan ini membutuhkan pendekatan lintas sektor. Penguatan pendidikan seks dan gender inklusif, kampanye kesadaran, dukungan psikososial, pelatihan kesetaraan gender, dan advokasi representasi gender positif dalam media sosial diperlukan, dukungan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas juga penting. Upaya ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua identitas gender, mengatasi penyimpangan gender, dan membentuk konstruksi identitas gender yang lebih terarah.
Fatima Mernissi's Criticism of Misogynistic Hadiths Related to Gender Equality in The Modern Era Syafitri, Fauziah
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8427

Abstract

The researcher aims to present a paper related to the criticisms raised by Fatima Mernissi against gender-biased misogyny traditions in accordance with her thoughts. Gender equality is a very hot issue discussed today. Equality of rights between men and women is increasingly being voiced. This also happens within the scope of Islam. The emergence of discussions about misogynistic traditions is also increasingly highlighted, especially by Fatima Mernissi who focuses on issues of gender equality. This research method uses a literature review of various relevant articles. The results of this study show that Fatima Mernissi criticizes gender-biased hadiths to be contextualized according to the conditions and situations of the times. This is to provide space for women to be more free in running their lives without being intervened by patriarchy. The importance of contextualization in understanding traditions is very important, so that all Muslims can live life better and there are no practices that override women's rights.
Peran Strategis Fatwa MUI dan Pengkaderan Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Umat dan Perlindungan Perempuan Muthmainnah, Yulianti -
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.8680

Abstract

AbstrackThe Indonesian Ulema Council (MUI) has three strategic roles: khodimul ummah, himayatul ummah, and shodiqul hukumah. Carrying out these three roles, MUI formulates religious fatwas that are also related to women's issues. Such as fatwa on halal ingredients for cosmetics and dress code, sexuality (abortion, female circumcision), and marriage (children and family relations). The two questions of this paper are whether women's life experiences are taken into consideration in the formulation and decision of fatwas? Why does MUI fatwa in fact get rejection from women's groups? To answer them, this paper uses a qualitative study, describing and analyzing MUI fatwas for the period 2010-2020 and several selected fatwas outside those years that are in accordance with the theme. This paper departs from the assumption that Indonesian society (including women's groups) actually needs MUI fatwas. This paper contributes to provide information on the strategic role of MUI for the protection of women through its fatwas and at the same time MUI still needs public input, especially women scholars, so that the fatwas produced are in favor, protecting women. And the importance of MUI making women as the subject of fatwa and not the object of fatwa, getting closer to women's experience; hearing and asking women's opinions or considering fatwas from women scholars, so that the fatwa produced by MUI suits women's needs and does not cause rejection. Key words: MUI fatwas, women ulama, women experiences AbstrakMajelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki tiga peran strategis yakni khodimul ummah, himayatul ummah, dan shodiqul hukumah. Menjalankan ketiga peran tersebut, MUI merumuskan fatwa keagamaan yang juga terkait isu perempuan. Seperti fatwa bahan halal untuk kosmetika dan tata cara berpakaian, seksualitas (aborsi, sunat perempuan), dan perkawinan (anak dan hubungan keluarga). Dua pertanyaan tulisan ini adalah apakah pengalaman hidup perempuan menjadi pertimbangan dalam perumusan dan keputusan fatwa? Mengapa fatwa MUI kenyataannya mendapatkan penolakan dari kelompok perempuan? Untuk menjawabnya, tulisan ini menggunakan kajian kualitatif, mendeskripsikan sekaligus menganalisis fatwa MUI periode tahun 2010-2020 dan beberapa fatwa terpilih di luar tahun tersebut yang sesuai tema. Tulisan ini berangkat dari asumsi bahwa masyarakat Indonesia (termasuk kelompok perempuan) sejatinya membutuhkan fatwa MUI. Tulisan ini berkontribusi memberikan informasi peran strategis MUI untuk perlindungan perempuan melalui fatwa-fatwanya dan pada saat yang sama MUI tetap membutuhkan masukan masyarakat, terutama ulama perempuan, agar fatwa yang dihasilkan berpihak, melindungi perempuan. Dan pentingnya MUI menjadikan perempuan sebagai subyek fatwa dan bukan objek fatwa, mendekatkan diri pada pengalaman perempuan; mendengar dan meminta pendapat perempuan atau mempertimbangkan fatwa-fatwa dari ulama perempuan, agar fatwa yang dihasilkan MUI sesuai kebutuhan perempuan dan tidak menimbulkan penolakan Kata kunci: fatwa MUI, ulama perempuan, pengalaman perempuan
Transgender Survival Strategy Amidst Discrimination to Meet Economic Needs in Jayapura City Amila, Amila; Abidin, Muhammad Zainal
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9110

Abstract

This research aims to uncover the experiences and strategies of transgender individuals (waria) in facing economic challenges and social discrimination. The method employed is descriptive qualitative, utilizing data collection techniques including observation, interviews, and documentation. Analysis involves data reduction, presentation, and drawing conclusions.The findings reveal that waria often face discrimination in exercising their rights as citizens, encountering difficulties in obtaining employment, education, and healthcare. They frequently experience mockery and ridicule from their surroundings, even becoming subjects of online harassment. This arises due to a lack of societal awareness regarding the existence of waria, which is perceived as different from societal norms. Despite these challenges, waria employ various strategies to meet their economic needs. They engage not only in sex work or beauty industry management but, under necessity, seek assistance from their community that understands their circumstances. Notably, previous studies have yet to address the strategies employed by waria in meeting their needs amidst the discrimination they face.
Relevansi Konsep Kesetaraan Gender Dengan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Menurut Husein Muhammad Dan M. Quraish Shihab Mayasari, Lutfiana Dwi; Juwita Eka Prasasti
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 5 No. 1 (2024):
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v5i1.9649

Abstract

Kesetaraan gender dalam pendidikan Islam merupakan sesuatu yang urgen guna mengembangkan masyarakat yang inklusif dan adil. Budaya patriarki yang ada di masyarakat menjadikan perempuan dipandang sebagai manusia kelas dua yang tidak memiliki kesamaan hak dengan laki-laki. Dalam konteks mendapatkan hak, seharusnya perempuan memiliki hak yang sama terlebih dalam hak mendapatkan pendidikan. Karena itu, peneliti bertujuan untuk menganalisis bagaimana relevansi konsep kesetaraan gender dengan nilai-nilai pendidikan islam. Metode yang digunakan adalah penelitian ini adalah kepustakaan (library research), dengan mengacu pada karya-karya penting kedua tokoh yaitu "Islam Agama Ramah Perempuan, Perempuan Islam dan Negara" karya Hussein Muhammad dan "Perempuan" karya M. Quraish Shihab. Adapun teknik analis data, peneliti menggunakan teknik kajian isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pemikiran Husein Muhammad dan M. Quraish Shihab, kesetaraan gender merupakan ajaran esensial dalam Islam karena didalamnya terdapat penghormatan terhadap manusia. Hak dan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan berlaku di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Mereka meyakini bahwa konsep kesetaraan gender sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Islam, seperti nilai amaliyah (praktik), khuluqiyah (akhlak), dan i'tiqodiyah (keyakinan). Kata Kunci : Gender, Kesetaraan Gender, Nilai-nilai Pendidikan Islam

Page 1 of 1 | Total Record : 10