cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA" : 5 Documents clear
NGOPI: MEMAKNAI AKTIVITAS MINUM KOPI DALAM KONTEKS BUDAYA POPULER Michael Bernhard Djami
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.113

Abstract

Ngopi or drinking coffee is an activity that many people do, from the young to the old, from students to office employees.  But, ngopi or the activity of drinking coffee has experienced the development of meaning in popular culture.  Ngopi is no longer interpreted as a consumptive activity only.  Ngopi can also be interpreted as a productive activity as well as a spiritual activity.  The meaning of ngopi as a consumptive and productive activity in this paper is inspired by the writing of F. X. Rudi Setiawan, entitled "Eating as a Productive Activity: A Philosophical Review of Eating From a Foucaultian Perspective".  But in this paper, the author also includes the meaning of ngopi as a spiritual activity.Ngopi atau minum kopi adalah aktivitas yang banyak dilakukan orang, dari yang muda sampai yang tua, dari pelajar hingga karyawan kantor. Tapi, ngopi atau aktivitas minum kopi telah mengalami perkembangan makna dalam konteks budaya populer. Ngopi tidak lagi diartikan sebagai kegiatan konsumtif saja. Ngopi juga bisa diartikan sebagai aktivitas produktif dan aktivitas spiritual. Pemaknaan ngopi sebagai aktivitas konsumtif dan aktivitas produktif dalam tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan F. X. Rudi Setiawan yang berjudul “Makan Sebagai Aktivitas Produktif: Tinjauan Filosofis Tentang Makan Dari Perspektif Foucaultian”. Namun pada tulisan ini, penulis juga memasukkan pemaknaan ngopi sebagai aktivitas spiritual.  
PERSEPSI DAN PERILAKU MAHASISWA DALAM PENELITIAN ILMIAH ILMU TEOLOGI Amos Winarto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.101

Abstract

How do theological students perceive and behave related to a scientific research in theology? Using a qualitative empirical research methodology, a descriptive study case is conducted in an undergraduate class of a theological school or seminary to answer the question. The research method is a literature and descriptive approach for one semester in a research methodology and proposal writing guidance class. Data collection techniques are unstructured interviews-both open and in-depth, observation and analysis of documents. Data validation uses source triangulation and structured reflection journals. Data analysis uses interactive data analysis techniques. The stages are data collection, data reduction, data presentation, drawing conclusions and verification. The result of the study indicates that the ability to conduct scientific research is an inseparable part of a student of theology. Nevertheless, the understanding and development of students' scientific research skills still need to be improved for two reasons. First, there is still a tendency to conduct research by simply filling out the available proposal format without conducting a deeper preliminary study. Secondly, students seem difficult to distinguish between empirical and non-empirical methodologies, including the use of their respective methods.Bagaimanakah persepsi dan perilaku mahasiswa teologi terkait dengan penelitian ilmiah dalam ilmu teologi? Menggunakan metodologi penelitian empiris kualitatif, sebuah studi kasus deskriptif dilakukan di sebuah kelas program studi S-1 Teologi sebuah sekolah tinggi teologi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Metode penelitiannya adalah pendekatan kepustakaan dan deskriptif dengan strategi studi kasus tunggal terpancang yaitu kelas metodologi penelitian dan bimbingan penulisan proposal selama satu semester. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara terbuka dan mendalam tidak terstruktur,  observasi dan analisis dokumen.   Validasi data dilakukan dengan metode trianggulasi sumber dan jurnal refleksi terstruktur. Data dianalisa menggunakan teknik analisis data interaktif dengan tahapan: pengumpulan, reduksi, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya keyakinan bahwa kemampuan melakukan penelitian ilmiah adalah bagian tak terpisahkan bagi seorang mahasiswa teologi. Walaupun demikian, pemahaman dan pengembangan keterampilan melakukan penelitian ilmiah para mahasiswa masih perlu ditingkatkan karena dua alasan. Pertama, masih terlihat kecenderungan melakukan penelitian hanya sekadar mengisi format proposal yang tersedia tanpa melakukan studi pendahuluan lebih mendalam. Kedua, masih terlihat juga kesulitan membedakan metodologi empiris dan non-empiris termasuk penggunaan metode-metodenya masing-masing.
KEBUNTUAN RELASI ATAU LEGITIMASI KEKERASAN: JARINGAN INTERAKSI ANTARA PERILAKU KORUP AKHAN DAN POTENSI CORPORATE SIN DALAM YOSUA 7 Gumulya Djuharto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.100

Abstract

The presence of elements of violence and vengeance in Joshua 7 has always intrigued scholars. This study first presents a brief survey of Joshua 7 based on the interpretations of scholars in making the text understandable, reliable and therefore applicable to the current contexts. After that, I propose the relation impasses as the key to understand the text that displayed the web interaction between the corrupt attitude of one person (i.e. Achan) and the potential of the corporate sin (i.e. Israel’s community). The analysis of the participant-reference shifts in Joshua 7 proved that potency.  And because of that serious threat, the coming judgment was an inevitable outcome to Achan and his family. Kehadiran elemen kekerasan dan pembalasan dendam dalam Yosua 7 selalu menarik perhatian para ahli. Pertama-tama, studi ini akan menampilkan survei singkat tentang Yosua 7 berdasarkan penafsiran-penafsiran para ahli untuk membuat teks ini dapat dimengerti dan dipercaya sehingga dapat diaplikasikan dalam konteks sekarang. Setelah itu, penulis mengusulkan kebuntuan relasi sebagai kunci untuk memahami teks yang menampilkan jaringan interaksi antara sikap korup seseorang (yaitu Akhan) dan potensi terjadinya dosa komunitas (yaitu komunitas Israel). Analisa perubahan-perubahan partisipan dan referensi di Yosua 7 membuktikan potensi dosa corporate sin tersebut. Oleh karena ancaman yang serius itu, penghakiman yang terjadi adalah akibat yang tidak dapat terelakkan lagi bagi Akhan dan keluarganya.
MENIMBANG ULANG RELASI YESUS DAN MARIA Stefanus Kristianto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.105

Abstract

Most of the Bible readers of course concur that the relationship between Jesus and Mary, his mother, is an example of the harmonious relationships in the Bible. Admittedly, this idea is pervasive and could be found both in academic and popular writings, as well as in various artwork. Unlike that dominant idea, through this work, the writer is trying to show that the Gospel writers perform a different picture. The writer will investigate three key texts, namely John 2:3-4; Mark 3:20-35; and Luke 11:27-38, in order to show that, according to the Gospel writers, there is a relational tension between Jesus and Mary during Jesus’s ministry, which is apparently caused by a gap between Mary’s expectation and Jesus’s way of serving. As to the methodology, the writer will use an eclectic method, by drawing insight from some approaches to understand those texts better.Hampir semua pembaca Alkitab pasti setuju bahwa relasi antara Yesus dan Maria, ibu-Nya, merupakan salah satu contoh relasi harmonis dalam Alkitab. Harus diakui, ide ini sangat pervasive dan bisa ditemukan baik dalam tulisan akademis, populer, maupun beragam karya seni. Berbeda dengan ide dominan tersebut, melalui tulisan ini penulis akan mencoba menunjukkan bahwa penulis Injil justru menampilkan gambaran yang berbeda. Penulis akan meneliti tiga teks kunci, yaitu Yohanes 2:3-4; Markus 3:20-35, dan Lukas 11:27-28, untuk menunjukkan bahwa, menurut penulis Injil, ada ketegangan relasional di antara Yesus dan Maria selama masa pelayanan Yesus, yang tampaknya muncul karena kesenjangan di antara ekspektasi Maria dan cara kerja Yesus. Mengenai metodologi,  penulis akan menggunakan metode eklektik, dengan cara menarik pengertian-pengertian dari beberapa pendekatan untuk memahami teks-teks tersebut dengan lebih baik.
PARTISIPASI DAN KEADILAN: STUDI TEOLOGIS DALAM HUBUNGAN MANUSIA DAN TANAH Radius Aditya Jonar
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 1 (2020): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i1.104

Abstract

The issue of land is an important part in the history of human life. In its development, the land was exploited to meet the growing human needs. This is evident from two cases of land use that existed among Aboriginal communities in Australia and Dayak communities in Ketapang, West Kalimantan. One understanding that can be used in this assistance process is that the process of excessive and arbitrary exploitation of land will have a bad influence on human life itself. Christian theology itself places land as part of nature that is inseparable from human life. The church needs to establish itself as part of this awareness process because if it does not, the church will face its responsibilities before God as the Creator. Persoalan tanah adalah bagian penting dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam perkembangannya tanah diesksploitasi demi memenuhi kebutuhan manusia yang semakin bertambah. Hal ini tampak jelas dari dua kasus pemanfaatan tanah yang ada di tengah masyarakat Aborigin di Australia dan masyarakat Dayak yang ada di Ketapang, Kalimantan Barat. Satu pemahaman yang dapat dipakai dalam proses pendampingan ini adalah proses eksploitasi yang berlebihan dan semena-mena terhadap tanah akan memiliki pengaruh buruk bagi kehidupan manusia itu sendiri. Teologi Kristen sendiri menempatkan tanah sebagai bagian dari alam yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Gereja perlu membangun dirinya sebagai bagian dari proses penyadaran ini sebab jika tidak, maka gereja akan berhadapan dengan tanggung-jawabnya di hadapan Tuhan sebagai Sang Pencipta.

Page 1 of 1 | Total Record : 5