cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA" : 5 Documents clear
SIAPA YANG BENAR? “TAFSIR MISIONAL ATAS IMAMAT 19:15 UNTUK MENCARI TITIK TEMU MASALAH BURUH MIGRAN INDONESIA YANG DICAP ILEGAL DI MALAYSIA” Alvian Apriano
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.149

Abstract

The pattern of illegal migration that is chosen by some immigrants in Malaysia brings new issues in Indonesia. Such immigrants are considered illegal immigrants or PATI (foreigners without permission) by the Malaysian authority, so their existential rights as a human are being defended. Christian faith recognizes the logic of love in mission, and the measure of the logic of love is the centrifugal act of love. In this case, the PATI who becomes depressed is the center of the act of love. However, the Christian faith also recognizes the text of Leviticus 19:15, which emphasizes justice by acting accordingly. If it is connected with the text, the proper action is that the PATI’s existential rights do not need to be defended because they are “irregular immigrants.” Therefore, by rereading the text of Leviticus 19:15 and tracing it with the perspective of the logic of love in mission and Christian ethics, we can see this issue as indispensable. Pola migrasi ilegal yang dipilih oleh beberapa imigran di Malaysia menjadi persoalan rumit yang berkembang di Indonesia. Bahkan, para imigran yang demikian dianggap pendatang haram atau PATI (Pendatang Asing Tanpa Izin) oleh pihak Malaysia, sehingga dalam dasar itu, hak eksistensial mereka mulai dibela. Iman Kristen mengenal logika kasih dalam bermisi dan tolok ukur logika kasih tersebut ialah tindakan kasih yang sentrifugal, sehingga dalam hal ini para PATI yang menjadi tertekan itu merupakan pusat tindakan kasih. Akan tetapi, iman Kristen juga mengenal teks Imamat 19:15 yang menekankan keadilan dengan tindakan yang sewajarnya. Jika dihubungkan dengan teks tersebut, maka tindakan yang sewajarnya ialah hak eksistensial para PATI tidak perlu dibela, karena mereka imigran yang tidak wajar (tanpa izin). Oleh karena itu, membaca ulang teks Imamat 19:15 dan menelusurinya dengan perspektif logika kasih dalam bermisi dan etika Kristiani memandang persoalan itu sangat diperlukan.
ESKATOLOGI ERA REFORMASI INDONESIA: PEMBACAAN POSKOLONIAL TERHADAP WAHYU 21-22:5 DALAM MEMIKIRKAN ESKATOLOGI DARI INDONESIA Christo Antusias Davarto Siahaan
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.166

Abstract

Eschatology is an essential concept in New Testament studies with great complexity, debate, and significance. However, the studies are dominated by western context and traditions. Applying the Postcolonial Criticism method of scripture on the text of Revelation 21-22 and Indonesian reformation context, this article shows that it is possible to construct an Indonesian Eschatology that stresses the people’s hope. In conclusion, this article highlights that God will resolve any oppressions and corruptions in Indonesia, making the country prosper. Eskatologi adalah sebuah konsep yang sangat penting dalam studi Perjanjian Baru dengan kompleksitas, perdebatan dan signifikansi yang besar.  Namun demikian, studi eskatologi lebih banyak didominasi oleh konteks dan tradisi Barat. Dengan menerapkan metode Kritik Poskolonial terhadap Wahyu 21-22:5 dalam konteks reformasi di Indonesia, artikel ini menunjukkan bahwa mungkin untuk membentuk eskatologi khas Indonesia yang menekankan pengharapan umat Indonesia. Di bagian kesimpulan, artikel ini menggarisbawahi bahwa Allah akan membebaskan Indonesia dari penindasan dan korupsi, serta membuat bangsa ini hidup dalam kesejahteraan.
MENIMBANG REGULASI SKB 2 MENTERI DALAM TERANG SEJARAH GEREJA Deky Nofa Aliyanto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.114

Abstract

SKB 2 Menteri concerning the Establishment of House of Worship is stipulated on March 21, 2006, by the Minister of Religion and Minister of Home Affairs. Since its establishment, there are some churches affected by the regulations. This study attempts to construct the church's current attitude towards this reality based on church history in 30-500 AD. This study uses a qualitative approach with interactive analysis, namely data collection, data presentation, and data reduction, to draw a conclusion. The results of the study include: based on history, the church today must view the Joint Ministerial Decree on the Establishment of Houses of Worship as regulations aimed at maintaining tolerance among religious communities in Indonesia. However, it was found that this regulation was used by people or persons who were not responsible for suppressing the existence of some churches in Indonesia. Reflecting on history, today's church should make the challenge a stepping stone to experience the quality of faith growth in the congregation. The church also has the right to struggle through legal channels as stipulated in the law. Whatever the outcome, the church must guard against being involved in anarchic actions. SKB 2 Menteri Tentang Pendirian Rumah Ibadah ditetapkan pada tanggal 21 Maret 2006 oleh Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri. Sejak ditetapkan, terdapat sebagian gereja yang terdampak regulasi peraturan itu. Penelitian ini berupaya membangun sikap gereja masa kini terhadap realitas ini berdasarkan sejarah gereja tahun 30-500 M. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisa interaktif yaitu penggumpulan data, penyajian data, reduksi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mencakup: berdasarkan sejarah, gereja masa kini harus memandang SKB 2 Menteri Tentang Pendirian Rumah Ibadah sebagai peraturan yang bertujuan menjaga toleransi antar umat beragama di Indonesia. Kendatipun demikian, ditemukan bahwa peraturan ini dimanfaatkan oleh orang-orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menekan eksistensi sebagian gereja di Indonesia. Berkaca dari sejarah, hendaknya gereja masa kini menjadikan tantangan tersebut sebagai batu loncatan untuk mengalami kualitas pertumbuhan iman jemaat. Meskipun demikian, gereja juga memiliki hak untuk berjuang melalui jalur hukum sebagaimana telah diatur dalam undang-undang. Apapun hasilnya gereja harus menjaga diri supaya tidak terlibat aksi anarkis.
AKTUALISASI PEMAKNAAN NARASI ALLAH SEBAGAI GEMBALA BAGI ORANG PERCAYA MASA KINI DARI TITIK TOLAK TEOLOGI PENTAKOSTA Kosma Manurung
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.137

Abstract

According to Psalm 23, to King David, God was the shepherd. In the New Testament, the Lord Jesus Himself stated that He was the good shepherd. Another story that the Bible writes about is how God shepherded the Israelites out of Egypt to the Promised Land for forty years. This research article aims to elaborate on the Pentecostal theological view of the meaning of God as a shepherd. The methodology used in this research is text analysis and literature review. Based on the research results of this article, God as a shepherd is interpreted as God’s leadership in the life of the believer, where God leads the believer to enter into His perfect plan. God as shepherd also means that there is God’s real protection and care for believers. God shepherds believers because it is motivated by His love for believers who will not bear to let believers walk alone. Menurut Mazmur 23, bagi raja Daud, Tuhan itu adalah gembalanya. Di Perjanjian Baru Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia adalah gembala yang baik. Cerita lainnya yang Alkitab tulis adalah bagaimana selama empat puluh tahun Allah menggembalakan bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah Perjanjian. Penelitian artikel ini bertujuan menjabarkan pandangan teologi Pentakosta memaknai Allah sebagai gembala. Adapun metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis teks dan kajian literatur. Berdasarkan hasil penelitian artikel ini Allah sebagai gembala dimaknai berupa pimpinan Allah dalam kehidupan orang percaya dimana Allah memimpin orang percaya untuk masuk dalam rencana-Nya yang sempurna. Allah sebagai gembala juga berarti ada perlindungan dan pemeliharaan Allah yang nyata bagi orang percaya. Allah menggembalakan orang percaya karena didorong oleh cinta kasih-Nya pada orang percaya yang tidak akan tega membiarkan orang percaya berjalan sendiri. 
STUDI EKSPLANATORI DAN KONFIRMATORI TENTANG PENYEMBAH YANG BENAR BERDASARKAN YOHANES 4:1-26 DI KALANGAN JEMAAT ARAS GEREJA NASIONAL SE-KOTA JEMBER Yudi Handoko; Ana Lestari Uriptiningsih
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 2, No 1 (2021): SOLA GRATIA
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v2i1.147

Abstract

By and large, human beings are worshiping creatures (homo adorance). Hence, there is a need for human beings to worship an entity greater and more prominent than themselves. The need is more apparent in religious communities. Religious persons identify such an entity as GOD/ALLAH. However, in its development, practices of worship are no longer centered on GOD/ALLAH. For example, the essence of worship does not conform to the will of God as written in John 4:1-26. This study will analyze the implementation of true worship according to John 4:1-26 in mainstream churches in Jember. It will use explanatory and confirmatory survey methods, which combine the literature survey and interpretation of 150 samples. The result highly suggests that the mainstream churches in Jember have been implementing the worship in spirit and truth. Out of two dimensions implied by John 4:1-26, the most effective one is worship in spirit. In addition, the most significant category influencing true worship is service. Secara umum, manusia adalah makhluk penyembah (homo adorance).  Dalam diri manusia secara universal terdapat kebutuhan untuk menyembah sesuatu yang diyakini lebih besar dan tinggi dari dirinya.  Kebutuhan ini semakin nyata dalam diri umat beragama.  Manusia beragama menyebut sosok atau oknum yang lebih besar dan tinggi dari dirinya sebagai TUHAN/ALLAH. Dalam perkembanganya, penyembahan melenceng dan tidak lagi berpusat pada TUHAN/ALLAH. Hakikat ibadah pun tidak lagi sesuai dengan yang dikehendaki Allah dalam Yohanes 4:1-26. Studi ini akan meneliti implementasi penyembahan yang benar berdasarkan Yoh. 4:1-26 di Aras Gereja Nasional se-kota Jember. Penelitian ini akan menggunakan metode survei eksplanatori dan konfirmatori melalui studi kepustakaan sebagai landasan teori dan angket pernyataan terhadap 150 sampel dari kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-Kota Jember. Hasilnya, ditemukan bahwa Gereja Nasional se-kota Jember telah melakukan penyembahan dalam roh dan kebenaran dengan perolehan angka yang tinggi. Dari dua dimensi yang termaktub dalam Yohanes 4:1-26 diperoleh bahwa dimensi yang paling memengaruhi tingkat implementasi penyembah yang benar di kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-kota Jember adalah “Penyembah Dalam Roh” dan kategori yang paling berpengaruh terhadap tingkat implementasi penyembah yang benar berdasarkan Yohanes 4:1-26 di kalangan jemaat Aras Gereja Nasional se-kota Jember adalah kategori latar belakang “Jenis Pelayanan”.

Page 1 of 1 | Total Record : 5