cover
Contact Name
Suryanto Arifin
Contact Email
suryanto@unhas.ac.id
Phone
+6285299941328
Journal Mail Official
suryanto@unhas.ac.id
Editorial Address
Kampus Unhas Tamalanrea Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Hasanuddin Journal of Sociology (HJS).
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 26855348     EISSN : 26854333     DOI : 10.31947
Core Subject : Social,
1. Community Development 2. Conflict and Resolutions 3. Community Disaster 4. Gender and Family 5. Political and Sociology 6. Social Welfare 7. Society and Media 8. Society and Environmental 9. Rural Sociology 10. Urban Sociology 11. Sociology and Marine Society 12. Industrial Sociology
Articles 61 Documents
PEMIMPIN PERUBAHAN: REFLEKSI MUNCULNYA DAN PENGEMBANGAN STUDI SOSIOLOGIS Arsyad Genda; Suryanto Arifin; Muhammad Sabiq
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME, 2 ISSUE 1, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i1.10558

Abstract

Tulisan ini, menjelaskan tiga poin penting. Pertama, pengetahuan manusia dan konteksnya, kedua, kaitan pengetahuan manusia dan ideologi terhadap perilaku manusia dan ketiga, konteks perilaku manusia (pemimpin perubahan) dan kaitan dengan munculnya pemikiran yang bersifat sosiologis atau studi sosiologi. Berbagai jenis pengetahuan manusia, sebagaimana yang dikemukakan oleh Comte, Durkheim, Turner  dan ahli lainnya berbeda, tetapi pada dasarnya tidak bertentangan. Peran para ahli dan atau pemimpin perubahan tidak hanya berkontribusi secara signifikan terhadap lahir dan berkembangnya ilmu pengetahuan (khususnya studi sosiologi), tetapi yang lebih mendasar adalah membangun nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Pemimpin  perubahan yang dimaksud, antara lain; Mohandas Karamchand Gandhi, Nelson Mandela, Jr.Martin Luther, Bung Karno, Bung Hatta, B.J. Habibie dan M. Jusuf Kalla. Muncul dan berkembangnya studi sosiologi, tidak dapat dilepaskan dengan kontribusi dari berbagai ahli atau tokoh perubahan. Termasuk J.J. Rousseau, Thomas Hobbes, Comte, Spencer, Durkheim, Weber,  Marx dan Simmel). Pertanyaan penting dari Simmel “How society is possible”. Esai Georg Simmel ini,  dibangun di atas gagasan bahwa seorang individu dapat mengembangkan dirinya sendiri sepenuhnya hanya dengan masuk ke dalam masyarakat tetapi tetap ditandai dengan "tambahan" atau "inti individualitas" yang tidak pernah sepenuhnya disosialisasikan. Pertanyaan/esai Simmel ini, mengispirasi banyak ahli dalam mengembangkan studi sosiologi. Akhirnya, tulisan ini menganggap penting memahami secara utuh setiap pemimpin perubahan (lokal/regional, nasional dan dunia) yang berorientasi dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan dan untuk kemaslahatan manusia dan masyarakat.
PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP PERILAKU WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN DI LAPAS KELAS I MAKASSAR Andi Anriyadi
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME, 2 ISSUE 1, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i1.10571

Abstract

Seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa, kebutuhan kepentingan manusia semakin bertambah, hal ini tentunya membawa dampak negatif yang mengakibatkan bertambahnya kemungkinan terjadinya kejahatan, individu yang melakukan tindak pelanggaran hukum akan mendapatkan sanksi. Pidana penjara merupakan fungsi untuk menyadarkan individu dari tindak kejahatan dan tidak mengulangi di masa yang akan datang dan individu dalam menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan. Oleh karena itu maka pihak keluarga perlu memberikan dukungan sosial yang dapat membantu narapidana merasa tenang, diperhatikan, dicintai dan menimbulkan rasa percaya diri. Dukungan sosial keluarga terdiri dari : dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi dan dukungan motivasi yang mempengaruhi penerimaan kembali narapidana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang diberikan kepada Warga Binaan pemasyarakatan yang telah ditentukan. Hasil penelitian diperoleh temuan bahwa dukungan sosial keluarga ditinjau dari dukungan emosional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku warga binaan, dukungan instrumental berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku warga binaan pemasyarakatan, dukungan informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku warga binaan pemasyarakatan, serta dukungan motivasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku warga binaan pemasyarakatan di Lapas Kelas I Makassar.
IDENTITAS BISSU DITENGAH MODERNITAS DI DESA BONTOMATENE KECAMATAN SEGERI KABUPATEN PANGKEP Syaifullah Kasim; Ramli AT; Sawedi Muhammad
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 3, ISSUE 1, 2021
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.vi.10755

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan peran bissu ditengah modernitas, faktor yang menyebabkan perubahan peran bissu, dan strategi yang diadopsi para bissu dalam mempertahankan eksistensi kulturalnya. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bontomatenne Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kulitatif yang bersifat deskritif dengan mewawancarai satu bissu sebagai informan utama. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan analisis studi kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat tentang bissu, dukungan pemerintah, dan tekanan ekonomi menjadi faktor perubahan identitas dan peran bissu. Kondisi bissu saat ini menunjukkan peran sentral ditengah masyarakat dalam upacara adat dan ritual terutama penyambutan memasuki awal musim panen oleh para petani yang disebut dengan ritual mappalili. Namun peran bissu semakin berkurang disebabkan persepsi masyarakat tentang adanya unsur kesyirikan dalam kebudayaan bissu tersebut. Strategi yang dilakukan bissu dalam mempertahankan eksistensinya dalam menjalankan peran sebagai seorang bissu dengan terus menjalankan upacara adat, pemeliharaan benda pusaka, memanfaatkan jaringan sosial dan mempertahankan aset.
DAMPAK PROSES RESETTLEMENT AREA VILAGES TERHADAP PERUBAHAN SISTEM SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT (Studi Pada Masyarakat Kampung Tanah Merah Kabupaten Teluk Bintuni) Yotam Senis
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 3, ISSUE 1, 2021
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.vi.12050

Abstract

BP LNG Tangguh adalah salah satu Multi National Corporation yang saat ini melakukan kegiatan ekplorasi gas alam cair (liquid natural gas) di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat. Kehadiran BP LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni terhitung sejak tahun 2002 hingga saat ini. Kampung Tanah Merah adalah salah satu dari beberapa kampung di Teluk Bintuni yang terkena dampak dari kegiatan operasional BP LNG Tangguh karena areal tersebut dijadikan sebagai lokasi pembangunan kilang gas. Pembangunan kilang gas alam cair di areal Kampung Tanah Merah menjadi salah satu alasan kunci bagi BP Tangguh untuk merelokasi warga Tanah Merah dari kampung mereka ke lokasi baru yang dipilih. Pemilihan lokasi bagi masyarakat Tanah Merah dilakukan berdasarkan persetujuan dari berbagai pihak dengan menentukan lokasi seluas 200 Ha disebelah Kali Saengga yang merupakan wilayah Kampung Saengga. BP Tangguh memfasilitasi semua proses perpindahan penduduk mulai dari pembangunan pemukiman, sarana pra sarana dan memfasilitasi proses perpindahannya. Perpindahan masyarakat Tanah Merah dari kampung lama ke kampung baru tentunya menimbulkan permasalahan dimana lokasi yang dipilih tidak memiliki potensi baik lahan pertanian maupun areal melaut bagi masyarakat. Masyarakat mengalami perubahan pada kondisi sosial ekonomi karena sebelum direlokasi mereka bekerja sebagai nelayan penangkap udang dengan penghasilan yang sangat cukup bagi mereka. Setelah dipindahkan ke kampung baru mereka tidak lagi dapat menangkap udang namun mereka dipaksa bekerja sebagai petani. Kondisi tanah dan luasan lahan yang disediakan untuk lokasi pertanian tidak memadai sehingga tidak memberikan hasil pertanian yang baik bagi masyarakat. Masyarakat tidak dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan sebagai petani dan sebagai akibatnya mereka mengalami penurunan tingkat pendapatan.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM KAMPUNG KB DI MASA PANDEMI (Studi Kasus Desa Sumberkarang Kecamatan Dlanggu Kabupaten Mojokerto) Rizky Sintiah Putri
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 3, ISSUE 1, 2021
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.vi.12328

Abstract

Desa Sumberkarang merupakan Kampung KB Percontohan se Jawa Timur. Pada tahun 2019 Desa Sumberkarang menjadi juara 1 Kampung KB se Jawa Timur kategori lintas sektor. Latar belakang Desa Sumberkarang ditunjuk menjadi Kampung KB karena MKJP rendah, CPR rendah, Unmet Need tinggi, KB pria rendah, sarana dan prasarana tidak memadai. Sejak dicanangkan sebagai Kampung KB, partisipasi masyarakat dalam Program Kampung KB terus meningkat. Pada tahun 2020, kegiatan pada Kampung KB Desa Sumberkarang dibatasi karena pandemi Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi partisipasi masyarakat dalam Program kampung KB Desa Sumberkarang di masa pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan dua jenis teknik pengumpulan data yaitu data primer dan data sekunder. Data diperoleh dari observasi dan wawancara, serta jurnal terkait dengan partisipasi masyarakat dalam Program Kampung KB. Hasil penelitian ini yaitu partisipasi masyarakat dalam Program Kampung KB di masa pandemi mengalami penurunan. Hal ini karena kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran Covid-19. Kegiatan Program Kampung KB di masa pandemi sangat dibatasi sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19. Teknis pelaksanaan kegiatan Kampung KB di masa pandemi dengan menerapkan protokol kesehatan dan pembiasaan PHBS. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergilir atau bergantian untuk menghindari kerumunan warga.
STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK DALAM KELUARGA DI MASA PANDEMI COVID-19 Anggi Yus Susilowati; Andi Susanto
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 2, ISSUE 2, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i2.12859

Abstract

The purpose of this research is to study the appropriate conflict resolution strategies in resolving family conflictsduring the pandemic. The research method used in this research is library research method. The results of the studyshow that conflicts within the family during the pandemic, when viewed from the conflicting parties, include conflictbetween husband and wife, conflict between parents and children, and conflict between siblings. The cause of the familyconflict is due to two factors, namely originating from personality problems and other family problems such as familyfinances or economics, household chores, childcare problems, and interaction problems within the family. Family conflictresolution strategies can be carried out in two methods, namely self-resolving conflict resolution using severalapproaches that can be used such as collaboration or compromise approaches, defeating opponents or competitions,and avoiding. Conflict resolution methods in resolving family conflicts can also be done with third party interventions to helpresolve conflicts that occur. Abstrak Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengkaji strategi penyelesaian konflik yang tepat dalam menyelesaikan konflikkeluarga dimasa pandemi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan.Hasil dari penelitian menunjukan bahwa konflik di dalam keluarga pada masa pandemi jika dilihat dari pihak yangberkonflik meliputi konflik pasangan suami istri, konflik antara orang tua dan anak, serta konflik antarsaudara. Penyebabterjadinya Konflik keluarga tersebut dikarenakan atas dua faktor yakni bersumber dari masalah kepribadian danbersumber dari masalah keluarga lainnya seperti keuangan atau ekonomi keluarga, masalah pekerjaan rumah tangga, masalah pengasuhan anak, serta masalah interaksi di dalam keluarga. Strategi penyelesaian konflik keluarga dapat dilakukan dengandua metode yakni resolusi konflik penyelesaian sendiri dengan menggunakan beberapa pendekatan yang dapat digunakan seperti pendekatan kolaborasi atau kompromi, mengalahkan lawan atau kompetisi, serta menghindar. Metode resolusi konflik dalam penyelesaian konflik keluarga juga dapat dilakukan dengan intervensi pihak ketiga untuk membantu menyelesaikan konflik yang terjadi
STUDI FENOMENOLOGI PADA PERILAKU SEKSUAL MAHASISWA DI KOTA MAKASSAR Dwia Aries Tina Pulubuhu; Mansyur Radjab; Nufida RAF; Arsyad Genda; Suryanto Arifin; Meigi Marulina Patading
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 2, ISSUE 2, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i2.12861

Abstract

The purpose of the study was to reveal the phenomenon of students' sexual experiences, to analyze the process of relationships in sexual behavior and to identify and analyze the forms of sexual activity / behavior of students in the city of Makassar. This study uses a qualitative approach, with a phenomenological strategy / design. The subjects of this study were 5 (five) informants who were students or had just finished their education and were still in sexual activity / behavior. The results of this study show 3 findings namely; (1). All informants considered that they did not violate social norms. Because their sexual activity always refers to the standard "social norms" that they make themselves based on the principle of exchange and their definition; (2) the process of sexual behavior in social exchange includes internal and external factors of each individual which also influences the sexual behavior of the informants. These internal factors include; biological needs, relieving stress or feeling depressed and is also considered a form of seriousness towards a partner; and (3) external factors originating from outside the individual person include; a free and weak social control from parents or family, lack of sexual knowledge, and economic motives or meeting economic needs. Forms of social exchange in sexual behavior among students include cost (sacrifice) and reward (rewards or rewards) as a factor in the continuity of a relationship and their sexual activity. On the one hand, sexual activity is said to be successful and enduring if interpreted equally about satisfaction between the two parties and sexual exchange is defined equally, and on the other hand, social relations or sexual activity will end if what happens is the opposite. The informants revealed their reasons for engaging in sexual activity because they wanted to get attention, love, want to get money, and even to make the script easier. ABSTRAK Tujuan penelitian, mengungkapkan fenomena pengalaman seksual mahasiswa, menganalisis proses hubungan dalam perilaku seksual dan untuk mengidentifikasi serta menganalisis bentuk aktivitas/perilaku seksual mahasiswa di Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan strategi/desain fenomenologi. Subjek penelitian ini ada 5 (lima) orang informan yang berstatus sebagai mahasiwa atau yang baru saja menyelesaikan pendidikannya dan masih aktivitas / perilaku seksual. Hasil penelitian ini menujukkan 3 temuan yaitu; (1). Semua informan menganggap bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran terhadap norma sosial. Karena aktivitas seksual yang mereka lakukan selalu mengacu pada standar “norma sosial” yang mereka buat sendiri berdasarkan prinsip pertukaran dan pendefinisian mereka; (2) proses perilaku seksual dalam pertukaran sosial mencakup faktor internal dan eksternal dari setiap individu yang juga berpengaruh dalam perilaku seksual para informan. Faktor internal tersebut meliputi; kebutuhan biologis, menghilangkan rasa stres atau perasaan tertekan dan juga dianggap sebagai bentuk keseriusan terhadap pasangan; dan ( 3) faktor eksternal yang berasal dari luar diri individu tersebut meliputi; lingkungan sosial yang bebas dan lemahnya kontrol dari orang tua atau pun keluarga, kurangnya pengetahuan seksual, dan motif ekonomi atau pemenuhan kebutuhan ekonomi. Bentuk pertukaran sosial dalam perilaku seksual dikalangan mahasiswa mencakup cost (pengorbanan) dan reward (imbalan atau penghargaan) sebagai faktor keberlangsungan sebuah hubungan dan aktivitas seks mereka. Di satu sisi, aktivitas seksual dikatakan berhasil dan bertahan apabila ditafsirkan secara sama tentang kepuasan diantara kedua belah pihak dan pertukaran seksual didefinisikan secara berimbang, dan disisi lain, hubungan sosial atau aktivitas seksual akan berakhir jika yang terjadi adalah sebaliknya. Para informan mengungkapkan alasan mereka melakukan aktivitas seks karena ingin mendapatkan perhatian, kasih sayang, ingin mendapatkan uang, dan bahkan untuk mempermudah pengerjaan skripsinya.
KONSTRUKSI SOSIAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (KASUS PROGRAM ICD RUMAH ZAKAT DI DESA MEKARWANGI KABUPATEN BANDUNG BARAT) Arini Enar Lestari AR; Munandar Sulaiman; Muhammad Fedryansyah
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 2, ISSUE 2, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i2.12863

Abstract

Social construction is one of the approach in community development. This research aimed to find out the process and results of the social construction of community development through the Integrated Community Development (ICD) Rumah Zakat program in Mekarwangi Village, West Bandung Regency. Mekarwangi Village was one of the target of the ICD program which was considered quite successful in the program implementation by the Rumah Zakat. The social construction of community development in Mekarwangi Village goes through stages of externalization, objectification, and internalization. This stage of social construction was obtained through the results of the dialectical process. This research used qualitative method with a case study approach. Primary data were obtained from informants through observation and in-depth interviews. Secondary data were obtained through relevant literature. These method and approach were used to describe, analyze data and field information that was appropriate with the actual conditions factually and thoroughly about the social construction process of community development through the Integrated Community Development (ICD) Rumah Zakat program in Mekarwangi Village, West Bandung Regency. This was appropriate with the society social construction process proposed by Berger and Luckman (1990). The results of the research shows that dialectics of social construction occurs simultaneously from externalization, objectification until internalization. The externalization process was carried out by preparing a facilitator (RI), making social mapping, formulating an action plan, and reaching the socialization stage. The objectification process was carried out after the community was familiar with the ICD RZ program and starts implementing it. The internalization process was the re-absorption of the program into each community to raise awareness for the importance of the program existence for individuals. ABSTRAK Konstruksi sosial adalah salah satu pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil konstruksi sosial pemberdayaan masyarakat melalui program Integrated Community Development (ICD) Rumah Zakat di Desa Mekarwangi Kabupaten Bandung Barat. Desa Mekarwangi adalah salah satu desa binaan program ICD yang dinilai cukup berhasil dalam pelaksanaan program oleh Rumah Zakat. Konstruksi sosial pemberdayaan masyarakat di Desa Mekarwangi berjalan melalui tahapan eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi. Tahapan konstruksi sosial ini diperoleh melalui hasil proses dialektika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer diperoleh dari informan melalui observasi dan wawancara mendalam. Data sekunder diperoleh melalui literatur yang relevan. Metode dan pendekatan ini digunakan untuk mendeskripsikan, menganalisis data dan informasi lapangan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya secara faktual dan teliti terhadap proses konstruksi sosial pemberdayaan masyarakat melalui program Integrated Community Development (ICD) Rumah Zakat di Desa Mekarwangi Kabupaten Bandung Barat. Hal ini sesuai dengan proses konstruksi sosial masyarakat yang dikemukakan oleh Berger dan Luckman (1990). Hasil penelitian menemukan dialektika konstruksi sosial terjadi secara simultan mulai dari ekternalisasi, objektivikasi sampai internalisasi. Proses eksternalisasi dilakukan dengan mempersiapkan fasilitator (RI), pembuatan social mapping, perumusan action plan, sampai pada tahap sosialisasi. Proses objektifikasi dilakukan setelah masyarakat mengenal program ICD RZ dan mulai melaksanakannya. Proses internalisasi adalah penyerapan kembali program ke dalam diri masing-masing individu masyarakat sehingga menumbuhkan kesadaran terhadap pentinganya keberadaan program bagi diri individu.
ANALISIS TINDAKAN SOSIAL DALAM TRADISI KULIWA PADA MASYARAKAT NELAYAN MANDAR DI PAMBUSUANG KABUPATEN POLEWALI MANDAR PROVINSI SULAWESI BARAT Rahmatullah Rahmatullah; Mahmud Tang; Rahmat Muhammad
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 2, ISSUE 2, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i2.12864

Abstract

This study aims to describe the implementation of kuliwa and describe social actions in the Kuliwa tradition of the Mandar fishing community in the village of Pambusuang. The approach used is qualitative. The results showed that Mandar people usually perform kuliwa rituals to inaugurate the use of new boats and to inaugurate new fishing machines or equipment as well as for the first time to go to sea. The implementation of kuliwa rituals, is a series of activities held on the boat and at the courtier house . Of the four further classification of Weber's actions, only three will be used by the author to analyze the phenomenon of the Kuliwa tradition in the Mandar fishing community in the village of Pambusuang, namely: the rationality of the value of affective actions, and traditional actions, to understand the motives and goals of the perpetrators of the kuliwa tradition up to currently still maintaining and preserving it. The act of rationality based on the findings of existing data, Mandar people in the village of Pambusuang who have done kuliwa said that implementing kuliwa also means not only as a tradition but also a condition for values, such as social values, religion and others. Affective actions based on the findings of existing data One of the emotional actions seen in the kuliwa tradition is where neighbors come to help prepare the event for the kuliwa tradition. At the time the event will start at home, the courtier calls neighbors around to come to eat at the retainer's house. Traditional actions based on the findings of existing data Pambusuang community who decided to carry out the kuliwa because in the family of the community there is a habit to carry out the kuliwa and the habit already exists from the previous offspring which then passed on to the next offspring. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan Untuk mendeskripsikan pelaksanaan kuliwa dan mendeskripsikan tindakan sosial dalam tradisi Kuliwa pada masyarakat nelayan Mandar di Desa Pambusuang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang-orang Mandar biasanya melakukan ritual kuliwa untuk meresmikan penggunaan perahu baru dan untuk memresmikan mesin atau alat-alat tangkap baru serta untuk pertama kalinya untuk melaut. Pelaksanaan ritual kuliwa, merupakan serangakaian kegiatan yang diadakan di perahu dan di rumah punggawa. Dari keempat klasifikasi tindakan Weber selanjutnya hanya tiga yang akan penulis gunakan untuk menganalisis fenomena pada tradisi kuliwa pada masyarakat nelayan Mandar di Desa Pambusuang yaitu: tindakan rasionalitas, nilai tindakan afektif, dan tindakan tradisional, untuk memahami motif dan tujuan dari para pelaku tradisi kuliwa yang sampai dengan saat ini masih tetap menjaga dan melestarikannya. Tindakan rasionalitas nilai berdasarkan temuan data yang ada, masyarakat Mandar di Desa Pambusuang yang telah melakukan kuliwa mengatakan bahwa melaksanakan kuliwa juga memaknainya tidak hanya sebagai suatu tradisi tetapi juga syarat akan nilai, seperti nilai sosial, agama dan lain lain. Tindakan afektif berdasarkan temuan data yang ada salah satu tindakan emosianal yang terlihat pada tradisi kuliwa yaitu dimana para tetangga datang membantu untuk mempersiapakan acara tradisi kuliwa tersebut. Pada saat akan mulai acara dirumah, punggawa memanggil tetangga sekitar untuk ikut makan dirumah punggawa. Tindakan tradisonal berdasarkan temuan data yang ada masyarakat Pambusuang yang memutuskan untuk melaksanakan kuliwa karena di dalam keluarga masyarakat tersebut ada kebiasaan untuk melaksanakan kuliwa dan kebiasaan tersebut sudah ada dari keturunan sebelumnya yang kemudian diteruskan pada keturunan berikutnya.
PELABELAN MASYARAKAT PERDESAAN TERHADAP JANDA MUDA DI DESA SAILONG KECAMATAN DUA BOCCOE KABUPATEN BONE Yusran Suhan; Sakaria Sakaria; Arsyad Genda; Andi Haris; Andi Rusdayani Amin
Hasanuddin Journal of Sociology VOLUME 2, ISSUE 2, 2020
Publisher : Department of Sociology Faculty of Social and Political Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31947/hjs.v2i2.12865

Abstract

The research used qualitative methods with a descriptive type to describe a case study that happened in Sailong Village. Data sampling used a purposive sampling technique, while data collection included in-depth interviews, direct observation, and documentation. Based on the results of this study, labeling the status of young widows that occurs is not necessarily interpreted as having a negative (bad) connotation. A bad “label” does not indicate that the woman cannot prove that the label is wrong and is only a stereotype, stigma, and prejudice that does not apply to every individual. Therefore, the way to overcome it is by maintaining attitudes and behavior to always be good in the broader community. Furthermore, sometimes the community defines the status of widows in general based on what they saw or encountered based on experience. When seeing or meeting a widow who is not good, the definition becomes bad. ABSTRAK Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif untuk menggambarkan studi kasus yang terjadi di Desa Sailong tersebut. Adapun teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi langsung dan dokumentasi. Hasil penelitian ini, pelabelan yang terjadi terhadap status janda muda, sebenarnya belum tentu diartikan sebagai perempuan berkonotasi negatif (buruk). Berkaitan mengenai “Label” yang buruk bukan berarti perempuan tersebut tidak mampu membuktikan bahwa label tersebut adalah salah dan hanya sebuah stereotype, stigma dan Prejudice yang tidak berlaku untuk semua orang. Sehingga untuk mengatasinya dengan menjaga sikap dan perilaku untuk senantiasa bersikap baik di masyarakat luas sedangkan masyarakat kadang dalam mendefinisikan status janda secara umum seperti yang pernah mereka lihat atau temui berdasarkan pengalaman. Ketika melihat atau menemui seorang janda yang bersikap tidak baik, maka pendefisiniannya buruk.