cover
Contact Name
Farisa Luthfiana
Contact Email
lppmuta45@uta45jakarta.ac.id
Phone
+6282218999015
Journal Mail Official
lppmuta45@uta45jakarta.ac.id
Editorial Address
Fakultas Farmasi, Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Jl. Sunter Permai Raya, Sunter Podomoro, Jakarta 14350
Location
Kota adm. jakarta utara,
Dki jakarta
INDONESIA
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL
ISSN : -     EISSN : 25028413     DOI : https://doi.org/10.52447/scpij.v7i1
Core Subject : Health, Social,
Social Clinical Pharmacy Indonesia Journal (SCPIJ) is a scientific journal managed by the Faculty of Pharmacy Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, which is published twice a year (April and October). SCPIJ is a scientific research journal in the field of community service with articles that have never been published online or in print before. SCPIJ aims to disseminate conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the fields of pharmacy and health, Regulatory Affairs and Pharmaceutical Marketing Research, Pharmaceutical Care,Pharmacotheraphy, Pharmacoepydemology, Pharmacogenetic, Rational Therapeutics, Evidence-Based Practice, Health Services Research, Medication Management, Drug Interactions, Drug Utilization, Drug Prescribing, Drug Information. The results of the service published in this journal are in the form of experimental and non-experimental service.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2023)" : 5 Documents clear
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENGOBATAN INFEKSI PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK) Kurniawan, Langlang
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v8i2.6408

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu kelompok penyakit tidak menular yang menjadi masalah di bidang kesehatan baik di Indonesia maupun di dunia. PPOK adalah penyakit inflamasi kronik pada saluran napas dan paru yang ditandai oleh adanya hambatan aliran udara yang bersifat persisten dan progresif sebagai respon terhadap partikel atau gas berbahaya. Karakteristik hambatan aliran udara PPOK biasanya disebabkan oleh obstruksi saluran nafas kecil (bronkiolitis) dan kerusakan saluran parenkim (emfisema) yang bervariasi antara setiap individu. Pada umumnya penyakit ini dapat dicegah dan diobati.
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT MALARIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD HASANUDDIN DAMRAH MANNA – BENGKULU SELATAN PERIODE TAHUN 2020 Utami, Aprilia Putri
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v8i2.6063

Abstract

Malaria merupakan penyakit menular, yang menyerang segala usia, termasuk anak-anak, remaja, dan orang tua.  Tujuan dapat memberikan gambaran dan informasi mengenai evaluasi penggunaan obat malaria pada pasien rawat inap di RSUD Hasanuddin Damrah Manna, dan digunakan sebagai landasan teoritis untuk penelitian. Metode penelitian  betujuan untuk mengetahui pola pengobatan Malaria, menggunakan survey analitik retospektif untuk menganalisis karakteristis Malaria yang diderita pasien di RS dengan studi retrospektif yaitu menelusuri berkas Rekam Medik pasien malaria, Hasilnya menunjukkan Berdasarkan nama obat, terapi tambahan, dosis obat, frekuensi, dan lama penggunaan. Prevalensi pasien malaria Vivaks paling tinggi terjadi pada kelompok usia 36 – 45 tahun, sebanyak 10 orang (33,3%), jenis kelamin paling tinggi terjadi pada perempuan sebanyak 20 orang (66,7%), berat badan paling tinggi terjadi pada pasien BB > 60 kg sebanyak 19 orang (63,3%). Evaluasi kerasionalan penggunaan obat untuk jenis obat malaria, terapi tambahan, frekuensi pemberian obat  56,67%, dosis dan lama penggunaan obat telah 100% rasional. Berdasarkan uji Mann Whitney diketahui bahwa terdapat perbedaan penggunaan jenis obat malaria dan frekuensi penggunaan obat antara pasien telah memenuhi rasionalitas pengobatan yang belum memenuhi rasionalitas penggunaan obat ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sedangkan terapi tambahan tidak memiliki perbedaan, Nilai signifikansi 0,805 > 0,05 menunjukkan hal tersebut.
EVALUASI PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN APENDISITIS AKUT DAN PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT “X” FAJRIANI, NUZUL
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v8i2.6796

Abstract

Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab akut abdomen paling sering. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium di sekitar umbilikus. Kadang tidak ada nyeri epigastrium tetapi terdapat konstipasi. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan analisa profil pengobatan pasien dengan metode Subject, Object, Assesment, and Plan (SOAP). Pasien Tn. Y Umur 78 tahun di diagnosa mengalami Apendisitis dengan keluhan nyeri pada bagian perut serta susah BAB, mengalami mual muntah, sesak saat bernafas. Pasien memiliki riwayat perokok aktif. Dari hasil analisa yang dilakukan terhadap Pemantauan Terapi Obat Pada Tn. Y, yang didiagnosa apendisitis akut maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa terapi pengobatan yang didapatkan Tn. Y masih terdapat beberapa obat yang tidak rasional.
TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK DI PUSKESMAS KASONGAN M.U.Sihombing, M. Akbar Amin
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v8i2.6270

Abstract

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2406/MENKES/PER/XII/2011 tentang pedoman umum penggunaan antibiotik dinyatakan bahwa intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan acaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Selain memberi dampak terhadap morbiditas maupun mortalitas, juga memberi dampak negatif terhadap ekonomi sosial yang sangat tinggi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien tentang penggunaan antibiotik di Puskesmas Kasongan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey menggunakan metode deskriftif dengan pendekatan kuantitatif. Sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh peneliti maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata tingkat pengetahuan pasien terhadap penggunaan antibiotika di Puskesmas kasongan adalah sebesar 42.84% dimana termasuk dalam kategori tingkat pengetahuan "rendah" yang artinya bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami cara penggunaan dan fungsi serta macam-macam obat antibiotik. Hal ini dikarenakan kurangnya penyuluhan/pemberian informasi obat antibiotik dari tenaga kesehatan setempat.
POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI APOTEK "X" KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD SULAWESI UTARA Ningtyas, Maria Sheila Setya
SOCIAL CLINICAL PHARMACY INDONESIA JOURNAL Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52447/scpij.v8i2.5671

Abstract

Antibiotika merupakan pengobatan utama dalam penatalaksanaan penyakit infeksi. Pemahaman masyarakat tentang penggunaan antibiotik masih lemah, sehingga antibiotik sering digunakan secara tidak sesuai atau tidak rasional. Hal tersebut menyebabkan kejadian resistensi antimikroba semakin meningkat secara signifikan. Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik dengan menggunakan resep dan tanpa resep di salah satu apotek “X” yang berada di Kabupaten Kepulauan Talaud Provisinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bersifat retrospektif deskriptif, dilakukan pada bulan Januari 2022 dengan mengambil data periode 01 Oktober sampai 31 Desember 2021.  Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase penggunaan antibiotik dengan resep dokter sebesar 66% sedangkan tanpa resep dokter sebesar 34%, hal tersebut tidak sesuai dengan regulasi yang ada dimana  penggunaan antibiotik harus berdasarkan dengan resep dokter. Persentase penggunaan tiga antibiotik terbanyak adalah Cefixime (41%), Amoxicillin (23%) dan Azitromicin (15%). Persentase antibiotik yang sering dibeli dengan menggunakan resep dokter yaitu Cefixime (55%) dan Azitromisin (21%) yang termasuk kategori watch serta antibiotik yang sering dibeli tanpa resep dokter yaitu Amoxicillin (57%) termasuk kategori access dilanjutkan dengan Cefixime (15%). Dapat disimpulkan bahwa masih terdapat penggunaan antibiotika tanpa menggunakan resep dokter, maka dari itu pentingnya edukasi dan informasi seorang apoteker sebagai upaya pencegahan terjadinya resistensi antibiotik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5