cover
Contact Name
Salman Abdul Muthalib
Contact Email
tafse@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
tafse@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin, UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies
ISSN : 26204185     EISSN : 27755339     DOI : 10.22373
TAFSE: Journal of Qur’anic Studies is an open access, peer-reviewed journal that is committed to the publications of any original research article in the fields of Alquran and Tafsir sciences, including the understanding of text, literature studies, living Qur’an and interdisciplinary studies in Alquran and Tafsir. Papers published in this journal were obtained from original research papers,which have not been submitted for other publications. The journal aims to disseminate an academic rigor to Qur’anic studies through new and original scholarly contributions and perspectives to the field. Tafse: Journal of Qur’anic Studies DOES NOT CHARGE fees for any submission, article processing (APCs), and publication of the selected reviewed manuscripts. Journal subscription is also open to any individual without any subscription charges.All published manuscripts will be available for viewing and download from the journal portal for free.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2018)" : 7 Documents clear
Riwayat Qalun dan Warsy pada Qiraat Nafi’ dalam Surah Al-Shaff Suarni Suarni; Ahmad Sufian bin Saiful Bahari
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13272

Abstract

The riwayah of Qalun and Warsy is a way of reading the Qur’an that is widely circulated in Indonesian society with various differences. Unfortunately, people are not very familiar with the various ways of reading the Qur'an, even if they hear the reading of the Qur'an that is different from their habit, they will judge it as something foreign. From this phenomenon, it is necessary to explain to the public the procedures for reading the Qur'an from the riwayah of Qalun and Warsy, so that there will be no suspicion when they hear a different way of reading the Qur'an. The results show that there are many differences in the Qalun and Warsy qirãat contained in the ash-Shaff surah, there are 12 differences in terms of the manhaj qiraat. 4 differences in the (Ũshul) Qalun qiraat section and 10 differences in the Warsy qirat (Ushul) section. There are also 2 differences in the (Farsy al-huruf) section of the Qalun qiraat and there is 1 difference in the (Farsy al-huruf) section of the Warsy qiraat. The author also found 40 places in the whole of Surah al-Shaff which have different readings, for Qalun there are 24 different places and Warsy has 28 different places, so that the Qur'an cannot be read with only one version of qiraat. Riwayat Qalun dan Warsy merupakan cara baca al-Qur’an yang banyak beredar dalam masyarakat Indonesia dengan berbagai perbedaan yang ada. Sayangnya masyarakat tidak begitu familiar dengan beragam cara baca al-Qur’an, bahkan jika mereka mendengar bacaan al-Qur’an yang berbeda dari kebiasaan, akan menilai hal itu sebagai sesuatu yang asing. Dari fenomena ini perlu dijelaskan kepada masyarakat tata cara bacaan al-Qur’an riwayat Qalun dan Warsy, sehingga tidak akan muncul rasa curiga ketika mendengar car abaca al-Qur’an yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perbedaan qiraat Qalun dan Warsy yang terdapat dalam surah ash-Shaff, terdapat 12 perbedaan dari segi manhaj qiraat. 4 perbedaan pada bagian (Ushul) qirãat Qalun dan 10 perbedaan pada bagian (Ushul) qirãat Warsy. Terdapat juga 2 perbedaan pada bagian (Farsy al-huruf) qirãat Qalun dan ada 1 perbedaan pada bagian (Farsy al-huruf) qiraat Warsy. Penulis juga enemukan 40 tempat pada keseluruhan surah ash-Shaff yang berlaku perbedaan bacaan, bagi Qalun mempunyai 24 tempat perbedaan dan Warsy mempunyai 28 tempat perbedaan, sehingga al-Qur’an tidak dapat dibaca dengan satu versi qirãat saja.
Lafaz Sa’ala dalam Al-Qur’an Nurullah Nurullah; Siti Husna
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13277

Abstract

The Qur'an uses a lot of vocabularies that appear to be synonymous at birth, but when examined carefully it turns out that each vocabulary has its own connotation that does not exist in other pronunciations that are considered synonymous with it. As stated by Abi Isba' quoted by Nasiruddin Baidan that the beauty of the language of the Koran is classified into two major groups, namely the beauty of speech and the beauty of meaning. One of them is lafaz sa'ala, the lafaz is one of the lafaz that is repeated a lot in the Qur'an, 129 times, both in the same form and in different forms. This study is based on library research, besides that, the author examines these verses using the maudhu'i interpretation framework. Lafaz sa'ala is found in the Qur'an 129 times in 118 verses in 47 surah with 55 different forms of lafaz sa'ala. The whole lafaz sa'ala which means a question is repeated 73 times, whether there are two pronunciations in one verse or not. As for the meaning of asking to be called 49 times, while the meaning of asking is called 5 times and the meaning of rebuttal, speaking is only mentioned once. Alquran banyak memakai kosa kata yang pada lahirnya tampak bersinonim, namun bila diteliti secara cermat ternyata masing-masing kosa kata itu mempunyai konotasi sendiri-sendiri yang tidak ada pada lafal lain yang dianggap bersinonim dengannya. Sebagaimana pernyataan Abi Isba’ yang dikutip oleh Nasiruddin Baidan bahwa keindahan bahasa Alquran itu diklasifkasikan menjadi dua kelompok besar yaitu keindahan lafaz dan keindahan makna. Salah satunya adalah lafaz sa’ala, lafaz tersebut merupakan salah satu lafaz yang banyak diulang dalam Alquran, sebanyak 129 kali, baik dalam bentuk yang sama maupun dalam bentuk yang berbeda. Kajian ini berbasis kajian kepustakaan (library research), selain itu penulis mengkaji ayat-ayat tersebut dengan menggunakan kerangka kerja tafsir maudhu’i. Lafaz sa’ala ditemukan di dalam Alquran sebanyak 129  kali dalam 118 ayat di dalam 47 surah dengan 55 bentuk lafaz sa’ala yang berbeda-beda. Keseluruhan lafaz sa’ala yang bermakna tanya di ulang sebanyak 73 kali baik yang terdapat dua lafaz dalam satu ayat maupun tidak. Adapun yang makna nya minta di sebut sebanyak 49 kali, sedangkan yang bermakna memohon disebut sebanyak 5 kali dan yang bermakna bantahan, bercakap hanya disebut sekali saja.
Konsep Mahabbah dalam Al-Qur’an Zuherni Zuherni; Raudhatul Jannah Ilyas
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13273

Abstract

Human love is nature from God. Mahabbah or love for fellow human beings in the form of love for parents, children, husband and wife and relatives is something that is natural, because of closeness and other emotional relationships. Moreover, love for them is based on love for Allah swt. However, all of this is forbidden if love for those closest to him turns him away from Allah, making him close his eyes in distinguishing between right and wrong. On the basis of this thought, it is necessary to study how to place the love of fellow human beings in accordance with the instructions of the Qur'an. The results of this paper indicate that love for fellow human beings both for parents, children, husband and wife and relatives in Islam is highly recommended, but if this love makes someone associate partners with Allah, commit immorality and disobey the Messenger of Allah, then love for fellow humans is not justified. Rasa cinta yang dimiliki manusia merupakan suatu fitrah dari Allah. Maḥabbah atau cinta sesama manusia berupa cinta kepada orang tua, anak, suami istri dan sanak saudara sesuatu yang alami, karena kedekatan dan hubungan emosional lainnya. Apalagi cinta kepada mereka didasari pada cinta kepada Allah swt. Akan tetapi, semua itu dilarang jika dengan cinta kepada orang-orang terdekat membuatnya berpaling dari Allah, membuat mata dia tertutup dalam membedakan antara yang benar dan yang salah. Atas dasar pemikiran inilah perlu dikaji bagaimana menempatkan cinta sesama manusia yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa cinta sesama manusia baik kepada orang tua, anak, suami istri maupun sanak saudara di dalam Islam sangat dianjurkan, namun apabila cinta ini membuat seseorang menyekutukan Alah, berbuat maksiat serta ingkar kepada Rasulullah, maka rasa cinta kepada sesama manusia tidak dibenarkan.
Tamimah dalam Perspektif Hadis Zulihafnani Zulihafnani; Salwati Salwati
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13278

Abstract

Tamimah is a rope that is worn by Arabs around the neck of children with the assumption that it can protect them from other diseases or eye diseases. Islam came and forbade all things related to shamanism in the form of amulets or spells and anything related to them is an evil that must be fought, except those that come from the Qur'an or spells that are ma'tsur. Based on this problem, the author wants to examine how the quality of the hadiths, both those that allow and forbid and how to resolve them. Based on the results of the research, the authors found that the hadiths that seemed contradictory regarding the permissibility of using amulets could be compromised in order to avoid conflict and could be practiced together, considering that these hadiths met the criteria for the validity of the hadith. Thus, these traditions are maqbul hadiths with the status of valid traditions. So even though there are more hadiths that prohibit tamimah, all forms of amulets, whether from the Qur'an or not, are permissible under certain circumstances. The hadith about amulets is prohibited because some friends think that amulets are shirked because they deny belief in Allah swt. In fact, every form of the disease has a cure and the disease is cured with the permission of Allah swt. Tamimah adalah tali yang dikalungkan orang arab di leher anak-anak dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjaga mereka dari penyakit ain atau mata. Islam datang dan melarang segala hal yang berkaitan dengan perdukunan baik berupa jimat maupun mantra dan apapun yang berkaitan dengannya adalah kemungkaran yang harus diperangi, kecuali yang berasal dari al-Qur’an atau mantra yang ma’tsur. Berdasarkan permasalahan ini, penulis ingin mengakaji bagaimana kualitas hadis-hadis  baik yang membolehkan maupun yang melarang dan bagaimana penyelesaiannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan hadis-hadis yang tampak saling bertentangan terkait kebolehan penggunaan jimat dapat dikompromikan agar terhindar dari pertentangan dan dapat diamalkan secara bersama-sama, mengingat hadis-hadis tersebut memenuhi kreteria kesahihan hadis. Dengan demikian hadis-hadis tersebut merupakan hadis maqbul dengan berstatus hadis sahih. Jadi walaupun lebih banyak hadis yang melarang tamimah, namun segala bentuk jimat baik dari al-Qur`an ataupun bukan, itu dibolehkan dalam keadaan tententu. Dilarangnya hadis tentang jimat itu karena beberapa sahabat beranggapan bahwasanya jimat itu syirik karena menafikan kepercayaan kepada Allah swt. Padahal sesungguhnya segala bentuk penyakit ada obatnya dan penyakit tersebut sembuh dengan izin Allah swt.
Perilaku Negatif Manusia dalam Al-Qur’an Muslim Djuned; Miss Yameelah Hayeesamae
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13274

Abstract

Humans are creatures who have the highest perfection because they are prepared to accept burdens and responsibilities, become humans who have a positive attitude, strong personality, physical and spiritual potential as well as intellectually develop optimally. But in reality, not all humans behave well, many become arrogant and arrogant, he forgets the teachings of Allah, and only remember Allah when experiencing unpleasant conditions such as being hit by a disaster. From the above reality, to know human behavior, it is necessary to study the negative human traits mentioned in the Qur'an. The results show that humans are indeed close to Allah with a sincere heart at times when calamity befalls them, but after Allah saves them from the calamities they face, they return to doing injustice and mistakes, not being grateful to Allah, but committing deception by opposing and denying Allah SWT. Manusia merupakan makhluk yang memiliki kesempurnaan tertinggi karena dipersiapkan untuk menerima beban dan tanggung jawab, menjadi manusia yang memiliki sikap positif, berkepribadian kuat, potensi jasmani dan rohani serta intelektual yang berkembang secara optimal. Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua manusia berperilaku baik, banyak yang menjadi sombong dan angkuh, dia lupa akan ajaran Allah, dan  hanya mengingat Allah ketika mengalami kondisi yang tidak menyenangkan seperti tertimpa musibah. Dari realitas di atas, untuk mengetahui perilaku manusia, perlu dikaji tentang sifat-sifat negatif manusia yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia memang bertabiat dekat kepada Allah dengan hati yang ikhlas pada waku yang ditimpa musibah, tetapi setelah Allah menyelamatkan mereka dari musibah yang dihadapi, mereka kembali melakukan kezaliman dan kesalahan, tidak bersyukur kepada Allah, tetapi melakukan tipu daya dengan menentang dan mendustakan Allah swt. 
Kompromisasi Kontradiksi Makna Tiupan Sangkakala dalam Al-Qur’an Ihsan Nur; Isra Fadhillah Arham
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13275

Abstract

The beginning of the apocalypse is when the first and second trumpets are blown. QS. al-Mu'minun verse 101 explains that after the trumpet blast, the two humans will be resurrected separately, kinship relations are no longer valid and there are no more questions. However, QS. Thaha verses 102-104 state that when he is resurrected, there are people who ask each other questions. This paper wants to discuss the interpretation of the scholars of the interpretation of the contradictions of the text of the verses about the blowing of the trumpet. The results showed that the trumpet blast in QS. al-Mu'minun verse 101 and Thaha verse 102-104 are both the second trumpet blast but in a different human context. QS. al-Mu'minun verse 101 talks about humans as a whole where when they are resurrected they are in their own state without any family relationship. While QS. Thaha verses 102-104 talk about the disbelievers and when they are resurrected they will have a blue face. The commentators interpret the textual contradiction of the verse by saying that humans do not speak when they are on their way to Padang Mahsyar and the condition of wondering occurs when humans are already in the Mahsyar field. Permulaan terjadi kiamat adalah ketika sangkakala pertama dan kedua ditiupkan. QS. al-Mu’minun ayat 101 menjelaskan bahwa setelah tiupan sangkakala kedua manusia akan dibangkitkan dalam keadaan sendiri-sendiri, tidak berlaku lagi hubungan kekerabatan dan tidak ada lagi yang bertanya-tanya. Namun, QS. Thaha ayat 102-104 menyatakan bahwa ketika dibangkitkan ada di antara manusia yang saling bertanya-tanya. Tulisan ini ingin mendiskusikan penafsiran ulama tafsir terhadap kontradiksi teks ayat-ayat tentang tiupan sangkakala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang dimaksud tiupan sangkakala pada QS. al-Mu’minun ayat 101 dan Thaha ayat 102-104 adalah sama-sama tiupan sangkakala yang kedua,  namun dalam konteks manusia yang berbeda. QS. al-Mu’minun ayat 101 berbicara tentang manusia secara keseluruhan dimana ketika dibangkitkan mereka dalam keadaan sendiri-sendiri tidak ada hubungan keluarga. Sedangkan QS. Thaha ayat 102-104 membicarakan tentang orang kafir dan ketika dibangkitkan mereka dalam keadaan wajah berwarna biru. Ulama tafsir memaknai kontradiksi tekstual ayat tersebut dengan mengatakan bahwa manusia tidak berkata-kata ketika berada dalam perjalanan menuju ke Padang mahsyar dan kondisi bertanya-tanya terjadi ketika manusia sudah berada di padang mahsyar. 
Penafsiran Lafaz al-Rih dan al-Riyah dalam Al-Qur’an Furqan Furqan; Nabilla Ummami
TAFSE: Journal of Qur'anic Studies Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/tafse.v3i2.13276

Abstract

One form of the beauty of the language and the richness of the meaning of the Qur'an is the use of the words rih and riyah, which are the same word with different forms of derivation but have a different philosophies of meaning. Even in Surah Yunus verse 22 and three other verses, the Qur'an mentions the word rih for both positive and negative connotations. The use of such words seems to give the reader the impression that the Qur'an is inconsistent in choosing the words it uses. Departing from this problem, the author formulates two objectives of this research, namely to explain the classification and scope of meaning of the words rih and riyah in the Qur'an and to describe the interpretation of the mufassir related to these lafaz. From the results of the study, lafaz rih has several expressions of meaning according to the context of the intended verse, namely punishment, strength or glory, help and fragrant smell. Broadly speaking, the word riyah is interpreted to be more about things that are fun and welfare information, because of the magnitude and many benefits the Qur'an mentions in the plural. As for the scientific interpretation of the word rih, the Qur'an describes something that is harmful and destructive. This is because at a certain speed the wind can exceed the benefit as well as the description of the commentators about the hot wind that brings fire and burns to destroy anything in its path. Salah satu bentuk keindahan bahasa dan kekayaan makna Alquran yaitu penggunaan kata rih dan riyah yang merupakan satu kata yang sama dengan bentuk derivasi yang berbeda, namun mempunyai filosofi makna yang berbeda. Bahkan dalam surah Yunus ayat 22 dan tiga ayat lainnya, Alquran menyebutkan kata rih untuk konotasi yang positif maupun negatif. Pemakaian kata serupa itu seakan-akan memberi kesan kepada pembaca bahwa Alquran inkonsisten dalam memilih kata-kata yang digunakannya. Berangkat dari permasalahan ini, penulis merumuskan dua tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan klasifikasi dan cakupan makna dari kata rih dan riyah dalam Alquran dan mendeskripsikan penafsiran mufassir terkait dengan lafaz tersebut. Dari hasil penelitian tersebut, lafaz rih memiliki beberapa ungkapan makna sesuai dengan konteks ayat yang dituju yaitu azab, kekuatan ataupun kejayaaan, petolongan dan bau harum. Secara garis besar, kata riyah ditafsirkan lebih kepada hal-hal yang sifatnya informasi-informasi menyenangkan dan kesejehteraan, karena besar dan banyak manfaatnya Alquran menyebutkannya dalam bentuk jamak. Adapun pada penafsiran ‘ilmi kata rih, Alquran mendeskripsikan sesuatu  yang merugikan dan merusak. Hal ini karena pada kecepatan tertentu angin dapat melampaui kemaslahatan seperti halnya uraian para mufassir mengenai angin panas yang membawa api dan membakar hingga membinasakan apapun yang dilaluinya. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7