cover
Contact Name
Firdaus M Yunus
Contact Email
alqonz90@gmail.com
Phone
+6281360424407
Journal Mail Official
alqonz90@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai 1, Program Studi Aqidan dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry. Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295. eMail: jpi@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Islam (JPI)
ISSN : 27989747     EISSN : 27989534     DOI : 10.22373/jpi
Jurnal Pemikiran Islam (JPI) published by Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. This journal published twice a year, that is July-December and January-June. Jurnal Pemikiran Islam focuses on studies of Islamic thought, theology, philosophy, and Sufism. Jurnal Pemikiran Islam (JPI) diterbitkan oleh Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari-Juni dan Juli-Desember Setiap tahunnya. Jurnal Pemikiran Islam berfokus pada kajian Pemikiran Islam, Teologi, Filsafat, dan Tasawuf.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni" : 7 Documents clear
Reconstruction of Gender Thinking between Men and Women as Different Identity in Islam Ibnu Azka
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.16854

Abstract

People often interpret gender as the distinction between the sexes of men and women. In English, gender means sex, whereas Webster's New World Dictionary defines gender as the visible differences in values and behavior between men and women. The current understanding of gender often leads to a misunderstanding of its true meaning, resulting in frequent discrimination against women. This article aims to reexamine the established understanding of gender. The study adopts a qualitative descriptive approach to describe, explain, and address the existing issues. The findings of this study demonstrate that men and women, as distinct identities, can attain equality in Islam. Biological differences do not justify a higher or lower position between the two genders. In the Islamic context, there are no specific restrictions preventing women from participating in the public sphere, especially considering the evolving times. The Indonesian context itself exemplifies an increasing presence of women in politics and other domains without violating religious morals.
Analisis Pandangan Abdul Moqsith Ghazali dan Hamid Fahmy Zarkasyi terhadap Pluralisme Agama dalam Penafsiran Ayat-Ayat Al-Quran Fauzan Hidayatullah
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.16858

Abstract

The issue of religious pluralism continues to resonate in the millennial era. In this context, Abdul Moqsith Ghazali and Hamid Fahmy Zarkasyi are two contemporary figures whose perspectives and interpretations of Quranic verses related to religious pluralism are relevant for further examination. The aim of this research is to analyze the views of both figures on religious pluralism and their interpretations of verses regarding the salvation of religious communities found in Surah Al-Baqarah [2]:62 and Surah Al-Maidah [5]:69. This study employs a library research method, utilizing primary data from Abdul Moqsith Ghazali's work, "Argumen Pluralisme Agama" (Arguments for Religious Pluralism), and Hamid Fahmi Zarkasyi's works, "Misykat" and "Pluralisme Agama" (Religious Pluralism). Secondary data includes Tafsir literature and other relevant sources.. The findings of this research indicate that, in terms of interpretation, Hamid's perspective is more comprehensive and objective. However, within the context of interreligious harmony, Abdul Moqsith's viewpoint is more contextual and better aligned with the realities of society.bergaung hingga era millennial saat ini. Dalam konteks ini, Abdul Moqsith Ghazali dan Hamid Fahmy Zarkasyi merupakan dua tokoh kontemporer yang relevan untuk dikaji pandangan dan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan pluralisme agama. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pandangan kedua tokoh tersebut terhadap pluralisme agama dan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat tentang keselamatan umat beragama yang terdapat pada QS. Al-Baqarah [2]:62 dan QS. Al-Maidah [5]:69. Metode penelitian menggunakan studi kepustakaan dengan data primer berupa karya Abdul Moqsith Ghazali: "Argumen Pluralisme Agama" dan karya Hamid Fahmi Zarkasyi: "Misykat" dan "Pluralisme Agama". Data sekunder yang digunakan meliputi kitab tafsir dan sumber-sumber relevan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi penafsiran, pandangan Hamid lebih komprehensif dan objektif. Namun, dalam konteks kerukunan umat beragama, pendapat Abdul Moqsith lebih kontekstual dan lebih dapat diterima oleh realitas masyarakat.
Surat Edaran Menag Nomor 05 Tahun 2022 dalam Perspektif Islam Wasathiyah: Analisis Fungsi Toa, dan Pendapat Ulama Alam An Shori
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.16933

Abstract

The Minister of Religious Affairs Circular Letter No. 05/2022 regarding guidelines for the use of loudspeakers in mosques and prayer rooms has attracted attention from various groups, including representatives of the people. This study aims to: (1) Understand the definition of "syiar" (Islamic propagation) and the function of loudspeakers as a means of syiar; (2) Understand the opinions of scholars in assessing the circular letter regarding the volume guidelines for loudspeakers; (3) Understand the perspective of "Wasathiyah" (moderation) in evaluating the circular letter regarding the volume guidelines for loudspeakers. The regulation of loudspeaker volume aims to create a sense of comfort for all segments of society. "Islam Wasathiyah" is considered an appropriate solution to address the challenges faced by Muslims, particularly regarding tolerance among different religious communities and within the same religious community. The research method used is descriptive qualitative with the technique of reading and note-taking as the data collection method. The main data sources include the Minister of Religious Affairs Circular Letter No. 05/2022, relevant journals, and related news articles. Data processing involves several stages, including data reduction, data presentation, and verification. The findings include: (1) "Siyar" is the activity of manifesting symbols of Islam, and loudspeakers are currently considered as instruments of syiar used for the call to prayer, "iqamah," and other religious activities. (2) Scholars from the Indonesian Council of Ulema (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), and Muhammadiyah agree that regulating the volume of loudspeakers is crucial to create mutual comfort. (3) The Minister of Religious Affairs Circular Letter No. 05/2022 reflects the values of "Wasathiyah" in the effort to achieve consensus and diversity in the use of loudspeakers.AbstrakSurat Edaran Menag Nomor 05 Tahun 2022 tentang pedoman penggunaan pengeras suara masjid dan musala telah menuai sorotan dari berbagai kalangan, termasuk para wakil rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui definisi tentang syiar dan fungsi TOA sebagai alat syiar; (2) Mengetahui pendapat para ulama dalam menilai surat edaran tentang pedoman volume pengeras suara; (3) Mengetahui perspektif wasathiyah dalam menilai surat edaran tentang pedoman volume pengeras suara. Pengaturan volume pengeras suara bertujuan untuk menciptakan rasa nyaman bagi semua kalangan. Islam Wasathiyah dipandang sebagai solusi yang tepat dalam menyelesaikan permasalahan umat Islam terkait toleransi antar umat beragama dan seagama. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik baca dan catat sebagai teknik pengumpulan data. Sumber data utama adalah Surat Edaran Menag Nomor 05 Tahun 2022, jurnal-jurnal sebagai kajian terdahulu, dan berita-berita terkait. Pengolahan data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Adapun hasil antara lain (1) Syiar merupakan kegiatan menampakkan simbol-simbol agama Islam, sedangkan TOA saat ini dianggap sebagai alat syiar yang digunakan untuk azan, iqamah, dan kegiatan keagamaan lainnya. (2) Para ulama dari MUI, NU, dan Muhammadiyah sepakat bahwa pengaturan volume pengeras suara sangat penting untuk menciptakan kenyamanan bersama. (3) Surat Edaran Menag Nomor 05 Tahun 2022 mencerminkan nilai-nilai wasathiyah dalam upaya mencapai kesepakatan dan keberagaman penggunaan pengeras suara.
Pembaharuan Diskursus Teologi Islam: Studi atas Pemikiran Asghar Ali Engineer Muhammad Adress Prawira Negara
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.17624

Abstract

Islam has undergone significant changes and has disregarded these values. The liberation theology formulated by Asghar Ali Engineer is a necessity to awaken Muslims from stagnation and to realize the inherited values of justice from Prophet Muhammad (PBUH). Furthermore, liberation theology serves as a critique of traditional scholars who prioritize metaphysical issues and neglect human concerns. Therefore, this study aims to provide a comprehensive analysis of the theology of liberation constructed by Asghar Ali Engineer. The qualitative method, specifically a literature review, is employed in this research. The qualitative approach allows researchers to deeply comprehend and elucidate the concepts within liberation theology through the analysis of relevant texts. The primary data sources for this study consist of the writings of Asghar Ali Engineer and other related works on liberation theology. The findings of this study reveal three key points in the construction of Asghar Ali Engineer's liberation theology. Firstly, the concept of tawhid is interpreted as the unity of humanity, emphasizing that all individuals are fellow believers and share equal rights and dignity. Secondly, the liberation movement should be grounded in strong faith to advocate for justice and confront oppressive rulers. Lastly, Asghar Ali Engineer's liberation theology emphasizes the importance of economic justice in liberating the exploited lower class from an unjust capitalist system.AbstrakIslam saat ini telah mengalami perubahan secara total dan mengabaikan nilai-nilai tersebut. Teologi pembebasan yang dirumuskan oleh Asghar Ali Engineer merupakan suatu keniscayaan untuk menyadarkan umat Islam dari kejumudan dan merealisasikan nilai-nilai keadilan yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw. Selain itu, teologi pembebasan menjadi kritik bagi kalangan ulama tradisional yang hanya mengutamakan persoalan metafisika dan mengabaikan persoalan kemanusiaan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat secara mendalam mengenai konstruksi teologi pembebasan yang dikembangkan oleh Asghar Ali Engineer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk memahami dan menjelaskan konsep-konsep dalam teologi pembebasan secara mendalam melalui analisis terhadap teks-teks yang relevan. Studi kepustakaan menjadi sumber data utama dalam penelitian ini, yang melibatkan kajian terhadap tulisan-tulisan Asghar Ali Engineer dan karya-karya lain yang berkaitan dengan teologi pembebasan. Hasil penelitian ini mengungkapkan tiga poin utama dalam konstruksi teologi pembebasan Asghar Ali Engineer. Pertama, tauhid dimaknai sebagai kesatuan manusia, yang mengajarkan bahwa semua manusia adalah saudara seiman dan memiliki kesamaan hak dan martabat. Kedua, gerakan pembebasan harus dilandasi dengan keimanan yang kuat, agar mampu memperjuangkan keadilan dan melawan penguasa yang zalim. Ketiga, teologi pembebasan Asghar Ali Engineer menekankan pentingnya keadilan dalam bidang ekonomi, guna membebaskan rakyat kecil yang dieksploitasi oleh sistem kapitalisme yang tidak adil.
Tasawuf Urban dan Tasawuf Perenial dalam Kehidupan Masyarakat Perkotaan Diah Arvionita; Efendi Efendi; Eka Putra Wirman; Zainal Zainal
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.16368

Abstract

Sufism is a concept within Islam that aims to lead individuals towards God. The practice of Sufism involves purifying the inner self through righteous deeds. In the journey of Sufism, there are three stages to be traversed: knowledge as the beginning, action as the middle, and God's grace as the culmination. By practicing Sufism, individuals can attain a deeper relationship with God and find inner peace. Through the process of purifying the inner self and engaging in righteous deeds, Sufism helps individuals enhance their spiritual quality and gain a profound understanding of their religion. In the contemporary era, Sufism has experienced development, marked by the emergence of new terms such as Urban Sufism and Perennial Sufism. Urban Sufism refers to the practice of Sufism in urban contexts, where individuals apply Sufi principles in their daily lives amidst the modern and complex urban environment. This demonstrates the adaptation of Sufism to the challenges and needs of the present time. On the other hand, Perennial Sufism refers to an approach that connects the essence of mystical and spiritual teachings from various religions. In Perennial Sufism, the common principles of spirituality and religious experiences are found across different religious traditions, serving as a bridge to understand and achieve unity with God.AbstrakTasawuf sebuah konsep dalam Islam yang memiliki tujuan untuk membawa manusia menuju Tuhan. Praktik tasawuf melibatkan pensucian batin dengan amal shaleh. Dalam perjalanan tasawuf, terdapat tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu ilmu sebagai yang awal, amal sebagai yang tengah, dan karunia Allah sebagai yang akhir. Dengan mengamalkan tasawuf, individu dapat mencapai hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan dan memperoleh kedamaian dalam jiwa. Melalui proses pensucian batin dan pelaksanaan amal shaleh, tasawuf membantu manusia untuk meningkatkan kualitas spiritualitasnya dan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang agama. Perkembangan tasawuf di era kontemporer saat ini, yang ditandai dengan munculnya beberapa istilah baru seperti Tasawuf Urban atau Tasawuf Perkotaan dan Tasawuf Perenial. Tasawuf Urban mengacu pada praktik tasawuf yang dilakukan dalam konteks perkotaan, di mana individu mengaplikasikan prinsip-prinsip tasawuf dalam kehidupan sehari-hari di tengah kehidupan perkotaan yang modern dan kompleks. Hal ini menunjukkan adaptasi tasawuf dengan tantangan dan kebutuhan zaman. Sementara itu, Tasawuf Perenial merujuk pada pendekatan tasawuf yang menghubungkan inti dari ajaran-ajaran mistis dan spiritual dari berbagai agama. Dalam Tasawuf Perenial, kesamaan prinsip-prinsip spiritual dan pengalaman keagamaan ditemukan di seluruh tradisi agama, dan hal ini digunakan sebagai jembatan untuk memahami dan mencapai kesatuan dengan Tuhan
Muhammadiyah; Diantara Gerakan Modernis, Tajdid dan Purifikasi Wahyu Hidayat
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.18128

Abstract

Muhammadiyah, as one of the largest organizations in Indonesia, attracts the attention of researchers from various fields, including historiography, sociology, and anthropology. Different leadership eras within Muhammadiyah have resulted in changes in the organization's orientation. This paper aims to examine the paradigm shifts within Muhammadiyah, ranging from the modernist movement to tajdid and the purification movement. With a more structured and systematic approach, this research will illustrate the evolution of paradigms within Muhammadiyah.AbstrakMuhammadiyah, sebagai salah satu organisasi terbesar di Indonesia, menarik perhatian para peneliti dari berbagai bidang, baik historiografi, sosiologi, maupun antropologi. Masa kepemimpinan yang berbeda-beda dalam Muhammadiyah telah menghasilkan perubahan orientasi organisasi ini. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji perubahan paradigma dalam organisasi Muhammadiyah, mulai dari gerakan modernis hingga tajdid dan gerakan purifikasi. Dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan sistematis, penelitian ini akan menggambarkan evolusi paradigma dalam Muhammadiyah.
Moralitas Imanuel Kant dalam Kasus Body Shaming di Media Sosial Mawarnis Mawarnis
Jurnal Pemikiran Islam Vol 3, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i1.17434

Abstract

Advanced technological developments have brought significant changes to the systems of thinking and life of society. This creates an unhealthy perception of comparison in social media and real life, resulting in body shaming against those who do not meet those criteria, especially among UIN Ar-Raniry students. Body shaming is generally experienced by women, as they are often the object of judgment based on physical appearance. This criterion of beauty is considered knowledge acquired through experience, which forces women to meet such criteria. This is clearly contrary to the human rights principle that every individual has the same value, regardless of physical appearance. This study uses qualitative and descriptive methods. The results show that body shaming is a crime that is invisible but has a real impact on the lives of the victims, such as the emergence of introverted feelings, self-insecurity, overthinking, and high levels of stress. Therefore, body shaming is an unjustifiable act from a social, shariah, and moral point of view.Perkembangan teknologi yang maju telah membawa perubahan signifikan dalam sistem berpikir dan kehidupan masyarakat. Hal ini menciptakan persepsi perbandingan yang tidak sehat dalam media sosial dan kehidupan nyata, yang mengakibatkan perlakuan Body shaming terhadap mereka yang tidak memenuhi kriteria tersebut, terutama di kalangan mahasiswi UIN Ar-Raniry. Body shaming umumnya dialami oleh perempuan, karena mereka sering kali dijadikan objek penilaian berdasarkan penampilan fisik. Kriteria kecantikan ini dianggap sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman, yang memaksa perempuan untuk memenuhi kriteria tersebut. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip HAM bahwa setiap individu memiliki nilai yang sama, terlepas dari penampilan fisik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Body shaming adalah kejahatan yang tidak terlihat namun memiliki dampak nyata dalam kehidupan korban, seperti timbulnya perasaan introvert, ketidakamanan diri, berlebihan berpikir, dan tingkat stres yang tinggi.  Oleh karena itu Body shaming adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dari segi sosial, syariah, dan moral.

Page 1 of 1 | Total Record : 7