cover
Contact Name
Firdaus M Yunus
Contact Email
alqonz90@gmail.com
Phone
+6281360424407
Journal Mail Official
alqonz90@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai 1, Program Studi Aqidan dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry. Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295. eMail: jpi@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Islam (JPI)
ISSN : 27989747     EISSN : 27989534     DOI : 10.22373/jpi
Jurnal Pemikiran Islam (JPI) published by Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. This journal published twice a year, that is July-December and January-June. Jurnal Pemikiran Islam focuses on studies of Islamic thought, theology, philosophy, and Sufism. Jurnal Pemikiran Islam (JPI) diterbitkan oleh Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari-Juni dan Juli-Desember Setiap tahunnya. Jurnal Pemikiran Islam berfokus pada kajian Pemikiran Islam, Teologi, Filsafat, dan Tasawuf.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember" : 7 Documents clear
Teologi Perdamaian dan Kerukunan Antar Agama dalam Perspektif Asghar Ali Engineer Saumantri, Theguh
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.19790

Abstract

This article explores the concept of Islamic theology of peace and interfaith harmony through the perspective of Asghar Ali Engineer, particularly focusing on the essence of Islam, theology of peace, and interreligious harmony. The article employs a literature study method, analyzing and interpreting Engineer's works. Asghar Ali Engineer, an Indian Muslim scholar and intellectual, advocates for peace and pluralism in Islam, emphasizing the importance of Tauhid (the Oneness of God) as a foundation for social justice and peace. His approach integrates the concept of liberation theology, emphasizing the necessity of liberating humanity from oppression and injustice. Engineer interprets Tauhid not merely as a religious ritual but as a social structure that fosters equality and peace. He argues that true peace in Islam involves respecting religious diversity and eliminating coercion in faith. The study affirms that Engineer's theology of peace is relevant in multicultural and multireligious contexts like Indonesia and can offer an alternative approach to resolving interfaith conflicts. Engineer's emphasis on dialogue and understanding among different faiths is crucial for enhancing harmony and reducing societal polarization.AbstrakArtikel ini mengeksplorasi konsep teologi perdamaian Islam dan kerukunan antaragama melalui pemikiran Asghar Ali Engineer, khususnya mengenai esensi Islam, teologi perdamaian, dan kerukunan antar agama. Artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis karya-karya Engineer dan menginterpretasikannya. Asghar Ali Engineer, seorang ulama dan intelektual Muslim India, mengadvokasi perdamaian dan pluralisme dalam Islam, menekankan pentingnya Tauhid (Keesaan Allah) sebagai dasar untuk keadilan sosial dan perdamaian. Pendekatannya menggabungkan konsep teologi pembebasan, menekankan pentingnya membebaskan umat manusia dari penindasan dan ketidakadilan. Engineer menafsirkan Tauhid tidak hanya sebagai ritual agama tetapi sebagai struktur sosial yang mendorong kesetaraan dan perdamaian. Ia berargumen bahwa perdamaian sejati dalam Islam melibatkan penghormatan terhadap keragaman agama dan penghapusan paksaan dalam beragama. Kajian ini menegaskan  bahwa teologi perdamaian Engineer relevan dalam konteks multikultural dan multireligius seperti di Indonesia dan dapat menjadi pendekatan alternatif untuk mengatasi konflik antar agama. Penekanan Engineer pada dialog dan pemahaman antar agama yang berbeda sangat penting untuk meningkatkan kerukunan dan mengurangi polarisasi masyarakat.
Praktik Dakwah Khuruj fi Sabilillah oleh Jamaah Tabligh di Desa Perapat Hilir Husni, Sapuan; Hakim, Lukman; Saputra, Happy
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.21528

Abstract

This article explores the practice of 'Khuruj fi Sabilillah' by Jamaah Tabligh in Desa Perapat Hilir, employing qualitative methods including observations, open-ended interviews with 8 respondents, and documentation. The study identifies two main groups within the Jamaah Tabligh in the village: the Syuro Alami and MS (Maulana Saad) groups, with the former being more dominant. Their activities, deeply rooted in Islamic teachings, encompass various forms of outreach and community development, emphasizing the importance of communal prayer and Islamic observance. The practice of Khuruj fi Sabilillah in Desa Perapat Hilir is characterized by two approaches: first, conducting preaching activities within their localities, utilizing mosques as their base and center for preaching, and second, engaging in external preaching activities, which include jaulah (touring), bayan (sermons), ijtima’ (congregations), ta'lim (religious education), and musyawarah (consultations). The theological values underpinning their activities focus on concepts like faith in Allah, the unity of God, divine predestination, human free will, divine justice, and eschatological beliefs. These values reflect how faith and religious principles influence daily life choices and practices.AbstrakArtikel ini mengkaji praktik 'Khuruj fi Sabilillah' oleh Jamaah Tabligh di Desa Perapat Hilir. Metode yang digunakan adalah kualitatif, dengan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara terbuka dengan 8 responden, dan dokumentasi. Artikel ini menunjukkan bahwa terdapat dua kelompok jamaah tabligh di Desa yaitu kelompok Syuro Alami dan MS (Maulana Saad), namun kelompok Syuro Alami lebih dominan. Aktivitas mereka berakar pada ajaran Islam, meliputi berbagai bentuk dakwah dan pembangunan komunitas, menyoroti pentingnya shalat berjamaah dan pengamalan Islam. Aktivitas khuruj fi sabilillah jamaah tabligh di Desa Perapat Hilir dengan dua cara, yaitu dengan melakukan dakwah di lokasi tempat jamaah tinggal secara berkelompok dengan menjadikan masjid sebagai tempat tinggal dan pusat berdakwah. Kedua, khuruj fi sabilillah di luar tempat tinggal dengan aktivitas terdiri dari jaulah, bayan/ceramah, ijtima’, ta’lim dan musyawarah. Nilai-nilai teologis yang melandasi aktivitas mereka berfokus pada konsep seperti keimanan kepada Allah, kesatuan Tuhan, takdir ilahi, kehendak bebas manusia, keadilan ilahi, dan keyakinan eskatologis. Nilai-nilai ini mencerminkan bagaimana iman dan prinsip agama mempengaruhi pilihan dan praktik kehidupan sehari-hari. 
Penerapan Konsep Akidah Ahlussunnah Waljamaah di Sekolah Raja Perempuan Ta’ayah, Malaysia Norazli, Nawirah Binti; Syarifuddin, Syarifuddin; Fuadi, Fuadi
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.21530

Abstract

This study explores the integration and impact of Ahlussunnah Waljamaah doctrine in the curriculum of Sekolah Raja Perempuan Ta’ayah, Malaysia. It primarily focuses on the understanding and application of Islamic faith principles among students. The methodology combines qualitative and quantitative approaches, with a sequential exploratory design. Qualitative analysis initially delineates the religious environment, followed by a quantitative survey involving 67 students aged 16-17 years. The curriculum, incorporating religious and Arabic education, emphasizes deep understanding of faith tenets and character development. Daily school activities, including Kuliah Dhuha and small-group usrah sessions, play a crucial role in instilling religious values. The survey results indicate a strong grasp of key Islamic concepts such as the nature of Allah and the Prophets, destiny, effort, and eschatology among students. While most exhibit a comprehensive understanding, a minority requires deeper insights. The study concludes that the school's approach, blending structured education and character formation, effectively fosters religious understanding and moral character aligned with Ahlussunnah Waljamaah teachings.AbstrakKajian ini mendeskripsikan tentang integrasi dan dampak ajaran Ahlussunnah Waljamaah dalam kurikulum Sekolah Raja Perempuan Ta’ayah, Malaysia. Fokus utamanya adalah pada pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip iman Islam di kalangan siswa. Metodologi yang digunakan menggabungkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan desain eksplorasi berurutan. Analisis kualitatif menggambarkan lingkungan keagamaan sekolah, diikuti survei kuantitatif yang melibatkan 67 siswa berusia 16-17 tahun. Kurikulum, yang memadukan pendidikan agama dan Bahasa Arab, menekankan pada pemahaman mendalam tentang ajaran iman dan pengembangan karakter. Kegiatan sehari-hari sekolah, termasuk Kuliah Dhuha dan sesi usrah kelompok kecil, berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai agama. Hasil survei menunjukkan pemahaman yang kuat tentang konsep-konsep Islam inti seperti sifat Allah dan Rasul, takdir, usaha, dan eskatologi di antara siswa. Meskipun sebagian besar menunjukkan pemahaman yang komprehensif, sebagian kecil masih membutuhkan wawasan yang lebih dalam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan sekolah, yang menggabungkan pendidikan terstruktur dan pembentukan karakter, efektif dalam menumbuhkan pemahaman agama dan karakter moral yang selaras dengan ajaran Ahlussunnah Waljamaah.
Interpretasi dan Kontroversi: Studi tentang Hakikat Insan Karya Ahmad Laksamana Ibrahim, Nur Fadlina binti; Juwaini, Juwaini; Furqan, Furqan; HM. Yasin, Taslim
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.21531

Abstract

Haji Ahmad Laksamana, a controversial figure known through his work “Hakikat Insan”, is often considered deviant from traditional Islamic teachings, particularly regarding the use of Sharia and Tariqa as well as interpretations of the Quran. This article aims to describe the thoughts and Quranic interpretation methodology of Haji Ahmad Laksamana. This study employs a qualitative method with a literature analysis approach. The primary source is the text “Hakikat Insan,” supplemented by various secondary sources, including journals and relevant books. The study finds that Haji Ahmad Laksamana's teachings emphasize the recognition of the essence of knowledge to achieve the level of Insan Kamil Mukamil. His thoughts, reflected in discussions about the relationship between humans and Allah, the dignity of the soul, the essence of the testimony of faith, as well as concepts of Islam, faith, monotheism, and gnosis, demonstrate a unique approach. However, his interpretation method, such as translating Quranic verses into symbols, has sparked controversy and is considered deviant from traditional Islamic understanding. Haji Ahmad Laksamana's controversial ideas are viewed as contradictory to Islamic teachings, diminishing the honor of the Quran and Hadith.AbstrakHaji Ahmad Laksamana, seorang figur kontroversial yang dikenal melalui karyanya “Hakikat Insan”  sering kali dianggap menyimpang dari ajaran Islam tradisional, terutama dalam hal penggunaan syariat dan tarekat serta penafsiran Al-Quran. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan tentang pemikiran, dan metodologi penafsiran Al-Quran Haji Ahmad Laksamana.  Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis kepustakaan. Sumber utama adalah teks “Hakikat Insan” serta berbagai sumber sekunder termasuk jurnal dan buku yang relevan. Kajian ini menemukan bahwa ajaran Haji Ahmad Laksamana menitikberatkan pada pengenalan ilmu hakikat untuk mencapai tingkat Insan Kamil Mukamil. Pemikirannya yang tertuang dalam pembahasan mengenai hubungan manusia dengan Allah, martabat nafsu, hakikat syahadat, serta konsep Islam, iman, tauhid, dan makrifat, menunjukkan pendekatan yang unik. Namun, metode interpretasinya, seperti penerjemahan ayat Al-Quran ke dalam simbol, telah menimbulkan kontroversi dan dianggap menyimpang dari pemahaman Islam tradisional. Pemikiran Haji Ahmad Laksamana yang kontroversial dianggap bertentangan dengan ajaran Islam dan mengurangi kehormatan Al-Quran dan hadis.
Kritisasi Anakronisme Arkoun terhadap Keislaman dan Kemodernan Nurkhalis, Nurkhalis; Misbah, T. Lembong
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.22473

Abstract

Arkoun tried to suggest or introduce anachronistic as the beginning of the new Islamic model era. The representative Arab world of Islam does not recognize the world of anachronisms to accept the presence of the activities and creativity of modernity today. The essence of modernity is in fact necessary only in the methodology of open-minded Islamic societies, not converting Muslims to the Islamic worldview. Rethinking, reconstruction and renewal in the modern era are regarded as Islamic opposition due to the application of anachronisms changing the new order of Islam. Anachronism aims to devour Islamic turats (Islamic traditions) but is trapped in Islamic criticism. Islam Kaffah (Islamic perfectionist) will be brought into Islam al-yassar (Islamic Left). An anachronistic deliberation of the approaches used in the past issue of excavation of legal finalization will change according to modernity. Anachronism have been placed modernity as the creation of the advancement of all sides of human life with unlimited activities, creativity and ethos.AbstrakArkoun mencoba mensugestikan atau memperkenalkan anakronistik sebagai dimulainya era model Islam baru. Dunia Arab yang representatif Islam tidak mengenal adanya dunia anakronisme untuk menerima kehadiran aktifitas dan kreatifitas modernitas sekarang. Essensi modernitas sejatinya dibutuhkan hanya dalam metodologi membuka akal masyarakat Islam, bukan mengubah Muslim terhadap worldview Islam. Rethinking, rekonstruction dan renewal di era modern dianggap sebagai oposisi Islam akibat aplikasi anakronisme merubah tatanan baru keIslaman. Anakronisme bertujuan membaguskan turats Islam (tradisi Islam) namun terjebak dalam kritik Islam. Islam kaffah akan digiring ke dalam Islam al-yassar (Islam Kiri). Delibrasi anakronistik terhadap pendekatan-pendekatan yang digunakan pada masalah lalu tersebut tentang penggalian finalisasi hukum akan berubah sesuai modernitas. Anakronisme menempatkan modernitas sebagai penciptaan kemajuan semua sisi kehidupan manusia dengan berbagai aktifitas, kreatifitas dan ethos yang tanpa batas.
Penelusuran Epistemologi Kekadiman Alam dalam Tahafut Al-Falasifah dan Tahafut Al-Tahafut Marzuki, M Fathin Shafly; Wildan, Raina; Rijal, Syamsul
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.22541

Abstract

This study aims to explore the epistemological debate between Al-Ghazali and Ibn Rushd concerning the concept of the eternity of the world within Islamic philosophy, highlighting the relevance and depth of their thoughts in contemporary Islamic intellectual discourse. Al-Ghazali, through his work "Tahafut Al-Falasifah," critiques the philosophical view that deems the universe as eternal (qadim), emphasizing the importance of revelation and spiritual experience as valid sources of knowledge. Conversely, Ibn Rushd, in "Tahafut Al-Tahafut," defends Aristotle's view on the eternity of the world, illustrating the significance of logic and rationality in understanding the relationship between God, the universe, and humanity. Employing philosophical and historical approaches, this study investigates the methodological differences, arguments, and epistemological conclusions drawn by both thinkers. The findings demonstrate that the dialogue between philosophy and theology in Islam not only enriches the Islamic intellectual tradition but also offers new perspectives in understanding contemporary religious and philosophical issues. This study affirms the significant contributions of Al-Ghazali and Ibn Rushd to advancing Islamic thought, highlighting the importance of an interdisciplinary approach in resolving philosophical and theological dilemmas.AbstrakKajian ini bertujuan untuk mendiskusikan tentang perdebatan epistemologis antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd mengenai konsep kekekalan alam dalam filsafat Islam, menyoroti relevansi dan kedalaman pemikiran keduanya dalam diskursus intelektual Islam kontemporer. Al-Ghazali, melalui karyanya "Tahafut Al-Falasifah," mengkritik pandangan filsuf yang menyatakan alam sebagai qadim (kekal), menekankan pentingnya wahyu dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan yang valid. Sebaliknya, Ibnu Rusyd dalam "Tahafut Al-Tahafut" membela pandangan Aristoteles tentang kekekalan alam, menunjukkan pentingnya logika dan rasionalitas dalam memahami hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia. Melalui pendekatan filosofis dan historis, kajian ini mengeksplorasi perbedaan metodologi, argumentasi, dan kesimpulan epistemologis yang dihasilkan oleh kedua pemikir tersebut. Kajian ini menunjukkan bahwa dialog antara filsafat dan teologi dalam Islam bukan hanya memperkaya tradisi intelektual Islam, tetapi juga memberikan perspektif baru dalam memahami isu-isu keagamaan dan filosofis kontemporer. Kajian ini menegaskan kontribusi signifikan Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd dalam memajukan pemikiran Islam, dengan menyoroti pentingnya pendekatan interdisipliner dalam memecahkan dilema-dilema filosofis dan teologis. 
Potret Ajaran Tauhid dalam Hadist M. Jakfar, Tarmizi
Jurnal Pemikiran Islam Vol. 3 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v3i2.22595

Abstract

This article focuses on exploring the depth of the teachings of Tawhid in the Hadiths of Prophet Muhammad SAW and their influence on individual Islamic practices. Through an analytical approach to related hadiths, this study aims to answer three critical questions: (1) What is the position of Tawhid teachings in the Hadiths of Prophet Muhammad SAW?; (2) What criteria for Islam protect an individual's soul and blood from the perspective of the hadiths?; and (3) How do the Hadiths of Prophet Muhammad SAW assess the religious status of a Muslim who commits sins? The findings of this study indicate that Tawhid plays a fundamental role in forming and understanding Islam, where the proclamation of the Shahada is emphasized as the main foundation. This research reveals that faith in Allah SWT is an absolute prerequisite for the acceptance of all other acts of worship. Furthermore, the study observes that while sinful actions do not erase one's Islamic status, the act of shirk (associating partners with Allah) can eliminate that religious status. However, the door of repentance is always open to every Muslim. These findings affirm the importance of the teachings of Tawhid as the core of religious practice.AbstrakArtikel ini berfokus pada eksplorasi kedalaman ajaran tauhid dalam hadis Nabi Muhammad SAW dan pengaruhnya terhadap praktik keislaman individu. Melalui pendekatan analitis terhadap hadis-hadis terkait, studi ini bertujuan menjawab tiga pertanyaan kritis: (1) Apa posisi ajaran tauhid dalam hadis Nabi Muhammad SAW?; (2) Bagaimana kriteria keislaman yang menjaga jiwa dan darah seseorang dalam pandangan hadis?; dan (3) Bagaimana hadis Nabi Muhammad SAW menilai status keberagamaan seorang muslim yang berbuat dosa? Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tauhid berperan fundamental dalam pembentukan dan pemahaman keislaman, di mana pengucapan syahadat ditekankan sebagai fondasi utama. Penelitian ini mengungkap bahwa keimanan kepada Allah SWT adalah prasyarat mutlak untuk penerimaan seluruh amal ibadah lainnya. Lebih lanjut, studi ini melihat bahwa meskipun perbuatan dosa tidak menghapus status keislaman seseorang, perbuatan syirik dapat mengeliminasi status keberagamaan tersebut. Namun, pintu taubat selalu terbuka bagi setiap muslim. Temuan ini menegaskan pentingnya ajaran tauhid sebagai pusat dari praktik keagamaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7