cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jmars@untan.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Arsitektur Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Jalan Prof Dr. H. Hadari Nawawi, 78124
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur
ISSN : -     EISSN : 27465896     DOI : -
Core Subject : Engineering,
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur (sebelumnya Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN) adalah jurnal nasional yang berisi kumpulan naskah/ artikel hasil perancangan arsitektur yang fokus pada kegiatan "analisis dan sintesis" yang mendukung proses-proses perancangan arsitektur dan menghasilkan karya arsitektural. Substansi naskah dapat berupa kajian mengenai metode perancangan, proses analisis dalam perancangan, pengambilan keputusan dalam proses desain, proses penciptaan karya arsitektural, dan teori yang mendukung proses perancangan. Selain itu, JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur juga menerima (terbatas) naskah dengan pendekatan "penelitian" kajian arsitektural lainnya, seperti sejarah, teori, dan kritik arsitektur, teknologi bangunan, serta kota dan permukiman. JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur mempunyai ISSN 2746-5896 (media online)
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2015): Maret" : 13 Documents clear
Gelanggang Olahraga Renang Di Pontianak Tatang Berli Panji Asmoro
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3589.056 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.10012

Abstract

Gelanggang Olahraga Renang merupakan sebuah ruang atau fasilitas yang diciptakan untuk mewadahi kegiatan renang yaitu suatu kegiatan yang melakukan gerakan (mengapung, menyelam) di air menggunakan kaki dan tangan dan seringkali tidak memerlukan perlengkapan buatan. Gelanggang Olahraga Renang ini bertujuan untuk mengatasi minimnya fasilitas olahraga renang berstandar nasional maupun internasional sebagai wadah pengembangan olahraga renang secara maksimal sehingga para atlet dapat mengembangkan kemampuan fisik dan mentalnya serta sebagai sebuah wadah yang dapat menampung pertandingan olahraga renang bertaraf internasional. Perancangan fasilitas ini dapat menjadi magnet dan pusat pengembangan olahraga renang, selain itu juga mempengaruhi percepatan pembangunan daerah dengan diwujudkannya sebuah fasilitas yang dapat memberikan nilai tambah bagi kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Gelanggang olahraga renang ini dirancang untuk dapat menampung ketiga fungsi utama tersebut yaitu fungsi pendidikan dan pelatihan, fungsi kompetisi dan fungsi hiburan dan rekreasi, karena saat ini sebuah fasilitas olahraga tidak hanya dirancang sebagai sarana untuk menyalurkan hobi dan bakat tetapi juga dapat digunakan untuk fasilitas hiburan dan rekreasi bagi masyarakat umum sehingga dapat menyehatkan pikiran. Jenis renang yang difasilitasi adalah semua jenis kegiatan renang yang bersifat indoor seperti renang, renang indah, loncat indah, polo air dan renang hiburan dan rekreasi.   Kata kunci: Gelanggang, Olahraga Renang, Pontianak
HOTEL BINTANG EMPAT DI KOTA PONTIANAK Roni, Gunawan
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1783.806 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.10635

Abstract

Kota Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan yang menjadi titik persinggahan awal untuk melakukan perdagangan barang dan jasa menuju ke berbagai kabupaten atau kota di Kalimantan Barat. Selain sebagai tujuan perdagangan, juga untuk melakukan kunjungan wisata ke berbagai daerah. Oleh karena itu perlu adanya  sarana akomodasi  berupa hotel, sehingga kebutuhan wisatawan dan masyarakat Pontianak dapat terpenuhi. Adapun tujuan dari Proyek Tugas Akhir ini menghasilkan rancangan hotel bintang empat yang sesuai dengan kebutuhan, kriteria dan prinsip di Kota Pontianak. Metode pengkajian yang digunakan terdiri dari pengumpulan data-data. Kemudian penulis melakukan tahapan analisis dari data yang telah diperoleh dengan teori yang berhubungan dengan perancangan hotel. Konsep perancangan adalah mengakomodasi fungsi bisnis dan memanfaatkan view Sungai Kapuas yang baik bagi hotel bintang empat di Kota Pontianak. Fungsi bisnis dengan menyediakan ruang-ruang untuk mengakomodasi kegiatan bisnis, yaitu ruang meeting room, ballroom, function room, ATM center, mini bank dan fasilitas bisnis lainnya. Pemanfaatan view Sungai Kapuas dengan meletakkan zoning-zoning ruang menghadap view sungai. Zoning ruang tersebut berupa view kamar tidur, kolam renang, restoran dan area santai lainnya.   Kata Kunci: Hotel Bintang Empat, Kota Pontianak
Redesain Aloe Vera Center sebagai bagian Kawasan Taman Agrowisata Wiedya, Wiedya
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1948.681 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.9729

Abstract

Aloe Vera Center (AVC) Pontianak merupakan pusat pengkajian dan pengembangan tanaman lidah buaya yang didirikan pada tahun 2002. AVC berlokasi di kompleks UPTD Agribisnis. Pada tahun 2013, AVC  beralih manjadi Taman Agrowisata. Kebijakan pengembangan AVC sebagai Taman Agrowisata saat ini kurang didukung sarana dan prasarana yang optimal. Sarana dan prasarana yang ada terbatas pada fungsi penelitian saja. Pada kegiatan agribisnis dan agrowisata masih terdapat banyak kekurangan, sehingga memerlukan evaluasi kembali. Metode evaluasi yang digunakan adalah evaluasi pasca huni (EPH). EPH digunakan untuk mengetahui secara sistematis masalah dan potensi yang ada sebagai bahan pengambilan keputusan. Analisis yang dilakukan meliputi aspek fungsional dan teknis. Berdasarkan analisis tersebut maka perlu dilakukan perancangan ulang (redesain) kawasan AVC yang mempertimbangkan penyatuan fungsi agribisnis dan agrowisata dalam kawasan pertanian aloe vera. Proses redesain AVC dimaksudkan untuk menata fungsi-fungsi dalam kawasan UPTD Agribisnis agar dapat menampung kegiatan pertanian dan pariwisata. Penataan ini dilakukan dengan mensinergikan sistem agrowisata yang menarik dan nyaman bagi pengunjung.   Kata Kunci : Redesain, Aloe vera center, Agrowisata
Pabrik Karet di Kecamatan Mandor Resshye, Gloeria
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.613 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.10177

Abstract

Perkembangan pabrik karet di Kalimantan Barat sangat lambat dan kegunaannya yang sebatas pengolahan setengah jadi menjadikan pabrik tersebut minim dari nilai estetika, sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa. Banyaknya potensi menunjang penambahan kegunaan dari pabrik seperti pabrik bahan jadi sarung tangan dan ban motor, untuk pemasokan difokuskan di kota Pontianak maupun di daerah-daerah yang ada di Kalimantan Barat. Konsep perancangan pabrik karet dihasilkan dari sistem kerja pabrik yang dimana kunci utamanya adalah kemudahan dalam bekerja dan akses yang mudah dicapai, maka dari itu kawasan pabrik mengambil konsep pengelompokkan massa dilihat dari fungsi bangunan. Konsep gubahan bentuk merupakan analisis pola transformasi terhadap bentuk dan mempertimbangkan gubahan dari analisis internal maupun eksternal gubahan. Pabrik karet yang merupakan proses pengolahan bahan mentah hingga hasil jadi mengharuskan massa dengan beberapa bangunan tunggal sehingga menggunakan bentuk cluster. Perancangan pabrik karet merupakan satu langkah perkembangan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah setempat dan Kalimantan Barat untuk masa sekarang dan masa mendatang.   Kata kunci: Pabrik Karet, Kecamatan Mandor
Panti Sosial Tresna Werdha Kota Pontianak Safitri, Andrea
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.892 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.10751

Abstract

Lanjut usia (lansia) diartikan sebagai seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dan telah mengalami penurunan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, serta mengalami penurunan dalam masalah psikis dan sosial. Kebutuhan dasar lansia seperti kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal) Lanjut usia (lansia) merupakan salah satu kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih dalam perlakuannya. Sebagian lanjut usia (lansia) bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri dan sangat membutuhkan perhatian dari keluarga. Faktanya masih terdapat keluarga yang tidak peduli sehingga mengakibatkan lansia menjadi terlantar. Permasalahan yang ada kini yaitu lansia semakin bertambah setiap tahunnya bahkan lansia yang hidup sendiri dan terlantar, khususnya yang berada di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Permasalahan tersebut memunculkan sebuah gagasan bahwa lansia membutuhkan sebuah wadah atau institusi yang dikenal dengan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW). Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) yaitu suatu institusi yang memberikan pelayanan dan perawatan berupa perawatan jasmani, perawatan rohani, perawatan sosial serta perlindungan untuk lansia agar dapat menikmati taraf hidup secara wajar. Perancangan Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Kota Pontianak disesuaikan dengan standar dari segi fungsi bangunan, kebutuhan ruang yang diperlukan, persyaratan ruang, utilitas, struktur bangunan, tata massa dan gubahan bentuk bangunan.   Kata kunci: Lanjut Usia, Panti Sosial Tresna Werdha
Terminal Petikemas pada Pelabuhan Internasional Pantai Kijing di Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Pontianak Wahono, Djoko
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2998.278 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.9798

Abstract

Terminal Petikemas pada Pelabuhan Dwikora Pontianak merupakan Terminal yang memiliki peranan dalam pendistribusian barangkeluar dan masuk dari dan menujuKota Pontianak, namun dikarenakan beberapa permasalahan diantaranya sempitnya lahan penumpukan, kurang tersedianya fasilitas umum bagi pekerja dan sering terjadinya cross circulation akanmenghambat kegiatan bongkar muat. Pantai Kijing di Kecamatan Sungai Kunyit merupakan salah satu alternatif lokasi pembangunan Pelabuhan Internasional sebagai pengembangan dari Pelabuhan Dwikora Pontianak yang dianggap paling layak berdasarkan studi kelayakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan tahun 2010. Metodologi perancangan ditempuh dengan mengumpulkan data melalui observasi dan dokumenter, proses analisis  data dari berbagai aspek yaitu kondisi eksisting tapak, program ruang berdasarkan pelaku dan prosedur kegiatan, zonasi ruang secara makro dan mikro, bentuk kawasan dan bentuk bangunan yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai ciri khas kawasan.Konsep rancangan yang dihasilkan adalah pemisahan fasilitas utama dan penunjang berdasarkan pelayanan kapal domestik dan internasional dengan bentuk kawasan dari kombinasi type dermaga pier dan arah kedatangan kapal serta pemisahan sirkulasi kendaraan melalui konsep double circulation namun tetap memperhatikan jarak pencapaian ruang di dalam kawasan,dan menyediakanrest area bagi pekerja. Bentuk bangunan utama merupakanperpaduan fungsi kawasan dan penerapan nilai-nilai kearifan lokal yang dituang dalam desain bentuk atap dengan tujuan sebagaiciri khas.   Kata kunci : Terminal Petikemas, Pelabuhan Internasional Pantai Kijing
REDESAIN MUSEUM PROVINSI KALIMANTAN BARAT ARIANDA, MUHAMAD TAUFIK
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.078 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.10447

Abstract

Museum Provinsi Kalimantan Barat merupakan wadah dari kebudayaan dan sejarah serta merupakan pusat dari penyimpanan dan perawatan barang-barang koleksi terbesar di provinsi Kalimantan Barat. Museum yang dibangun tahun 1974 ini mulai memudar eksistensinya. Pada perkembangannya Museum tidak memberikan apa yang dibutuhkan oleh pengunjung sehingga Museum dirasa membosankan dan tidak menarik. Selain itu jumlah koleksi yang tiap tahun terus bertambah sementara tempat untuk menyimpan dan memamerkan sudah tidak mencukupi menyebabkan beberapa bangunan sudah beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan. Oleh karena itu Museum ini membutuhkan bangunan baru yang dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada sekarang.  Arsitektur kontekstual merupakan pendekatan perancangan yang dijadikan acuan dalam redesain Museum ini. Pendekatan perancangan yang menyelaraskan antara bangunan yang tetap dipertahankan (bangunan lama) dengan bangunan pendukung (bangunan baru). Rancangan bangunan baru mampu memperkuat dan mengembangkan karakteristik dari penataan lingkungan, atau setidaknya mempertahankan pola yang sudah ada dengan pendekatan perancangan ini bangunan Museum yang baru akan mengikuti langgam dari lingkungannya agar dapat menyesuaikan diri dengan konteksnya atau lingkungannya   Kata kunci: Museum, Kalimantan Barat, Arsitektur Kontekstual
REDESAIN TAMAN ALUN KAPUAS DENGAN PENDEKATAN LAYAK ANAK RACHMAWATI, ANGGUN
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2423.839 KB) | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.9606

Abstract

Pada tahun 2013 pemerintah Kota Pontianak melakukan visi untuk mewujudkan Kota Pontianak Layak Anak tahun 2015. Salah satu indikator kota layak anak adalah menyediakan taman kota untuk kegiatan kreatif dan rekreatif yang ramah anak. Taman kota di Kota Pontianak yang sudah dimanfaatkan sebagai area rekreasi dan tempat bermain anak adalah Taman Alun Kapuas. Namun, kondisi eksisting taman seperti elemen lansekap, fasilitas dan pengaturan zona  masih belum mempertimbangkan hak dan kebutuhan anak pada ruang terbuka. Sehingga akan ada upaya perbaikan berupa redesain untuk memenuhi kriteria taman layak anak. Proses yang digunakan dalam perancangan adalah menggunakan metode 5 langkah karya Asimov yang  dimulai dari tahap permulaan, persiapan, pengajuan usul, tahap evaluasi dan tahap tindakan. Dalam redesain taman aspek yang harus diperhatikan adalah kebutuhan publik dan kebutuhan anak pada ruang terbuka. Kebutuhan publik pada ruang terbuka dapat dipenuhi dengan mempertimbangkan fungsi, fasilitas dan prinsip desain dalam perancangan taman kota. Sedangkan untuk memenuhi hak dan kebutuhan anak maka perlu mempertimbangkan perkembangan, kebutuhan ruang anak dan kegiatan bermain anak. Hal ini akan menjadikan Taman Alun Kapuas terbagi menjadi tiga fungsi utama yaitu fungsi rekreasi, fungsi layak anak dan fungsi playscape.   Kata kunci: Kota Layak Anak, Taman Kota, Hak dan Kebutuhan Anak
PERANCANGAN KAWASAN WISATA PENDIDIKAN DI HABITAT ORANGUTAN KABUPATEN KAPUAS HULU SUSANTO, SUSANTO
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.9964

Abstract

Kerusakan hutan dan habitat orangutan di Pulau Kalimantan menyebabkan distribusi orangutan menjadi terfragmentasi di kantong - kantong habitat. Kondisi yang sangat mengkhawatirkan ini telah menempatkan orangutan Kalimantan ke dalam kategori terancam punah di dalam daftar merah IUCN. Salah satu cara penanganan masalah tersebut adalah melalui pembangunan sebuah Kawasan Wisata Pendidikan di Habitat Orangutan yang memiliki sarana dan prasarana untuk kegiatan wisata, pusat informasi pendidikan, pelatihan serta pusat riset bagi peneliti. Kawasan Wisata Pendidikan ini dirancang dengan konsep bangunan bermassa banyak. Bangunan yang direncanakan meliputi bangunan kantor dan pelayanan, bangunan wisatawan, bangunan peneliti, bangunan penginapan, bangunan persiapan, bangunan serbaguna, serta shelter dan dermaga.Pola penataan massa disusun mengikuti pola pemukiman masyarakat adat sekitar yang pola pemukimannya terpusat. Sistem penghawaan pada bangunan memanfaatkan potensi kawasan sekitar dengan memperbanyak bukaan sirkulasi udara pada bangunan, sedangkan untuk struktur bangunan mengadopsi struktur danbahan material lokalsehingga struktur yang digunakan aman dan mudah untuk dibangunagar bersinergi antara lingkungan lokal, dengan lingkungan sekitar tanpa mengganggu habitat dan ekosistem orangutan tetap terjaga dan terlindungi.   Kata kunci : Orangutan, Kepunahan,Habitat, Kawasan Wisata Pendidikan
PANTI ASUHAN BHAKTI LUHUR UNTUK ANAK PENYANDANG CACAT DI PONTIANAK Prihastanty, Viorensia Yuri
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jmars.v3i1.9434

Abstract

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1988 Tentang Usaha Kesejahteraan Bagi Anak, dinyatakan bahwa anak merupakan generasi penerus dalam pembangunan bangsa dan Negara, sehingga diperlukan usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anak. Dalam beberapa keadaan tertentu, orang tua yang bertanggung jawab dalam memenuhi kesejahteraan anak tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga menimbulkan keterlantaran. Maka, Pemerintah memiliki peran dalam membuat Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang mempunyai tanggung jawab kepada anak yang tidak mempunyai orang tua dan terlantar, anak terlantar dan anak yang mengalami masalah kelakuan, untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial dengan cara memenuhi segala kebutuhan, baik berupa material maupun spiritual, meliputi sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan. Salah satunya adalah Yayasan Bhakti Luhur yang juga memiliki panti asuhan bagi para penyandang cacat. Hal utama yang menjadi pertimbangan dalam perancangan panti asuhan ini adalah aksesibilitas anak penyandang cacat di dalam bangunan sebagai pengguna utama bangunan. Konsep rancangan ini adalah memaksimalkan ruang – ruang yang terbentuk pada bangunan dan menerapkan konsep yang aman bagi penyandang cacat, terutama anak – anak, sehingga diharapkan dapat menyediakan suatu wadah berupa panti asuhan yang memberikan kenyamanan bagi pengguna di masa mendatang.   Kata kunci: panti asuhan, anak, anak penyandang cacat

Page 1 of 2 | Total Record : 13