cover
Contact Name
Reni Suryanti
Contact Email
jpppolbangtanbogor@gmail.com
Phone
+628128822179
Journal Mail Official
renisuryanti@pertanian.go.id
Editorial Address
Bogor Agricultural Develpoment Polytechnic Jln. Aria Surialaga No 1, Pasir Kuda Bogor 16119
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyuluhan Pertanian
ISSN : 19075893     EISSN : 25990403     DOI : https://doi.org/10.51852/jpp.v16i1.460
This journal contains the results of research related to developing issues in the field of agricultural extension based on the needs of the community or farmer groups. published articles include research articles and literature studies.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 2 (2018)" : 7 Documents clear
PERSEPSI PETANI PADI SAWAH PADA CARA TANAM JAJAR LEGOWO DI KABUPATEN MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT Abdul Rojak -; Achdiyat - -; Soesilo Wibowo -
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.243 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.115

Abstract

ABSTRACTThe method of cultivating rice as one of the breakthroughs in increasing the productivity of paddy rice is the legowo row planting method. Sindangwangi Subdistrict, Majalengka District, most of the rice fields in one year farmers can do three times planting, this is because the water source is still stable. Jajar Legowo has been known by members of farmer groups and actively participates in activities. Based on the Agricultural Extension Program and the Annual Extension Work Plan for Sindangwangi District in 2018, the level of application of the legowo planting method has only reached 21% (118 of 559 people). This is inseparable from farmers' perceptions of the technology of planting jajar legowo included in the category of good enough (score 54.74). Respondents were 32 people aged 34 - 54 years and 14 people aged over 55 years, for elementary school education 36 people, junior high school 12 people, and SLA 2 people, while the duration of the study was 72% (36 people) over 10 years. Land area between 0.13 - 1 Ha is owned by 39 people, the level of knowledge of farmers is 27.82 (medium category) in the legowo row planting method. Factors that have a relationship with farmers' perception are the land area correlation coefficient 0.314 * and the level of knowledge of farmers correlation coefficient 0.870 **, indicating a strong and very strong level of relationship. ABSTRAKCara budidaya padi sebagai salah satu terobosan dalam peningkatan produktivitas padi sawah adalah cara tanam jajar legowo. Petani di Kecamatan Sindangwangi di Kabupaten Majalengka sebagian besar lahan sawahnya dalam satu tahun dapat melakukan tiga kali tanam, hal ini karena sumber air masih stabil. Tanam jajar legowo telah dikenal oleh anggota kelompoktani dan aktif mengikuti kegiatan. Berdasarkan Programa Penyuluhan Pertanian dan Rencana Kerja Tahunan Penyuluh Kecamatan Sindangwangi Tahun 2018, tingkat penerapan cara tanam jajar legowo baru mencapai 21% (Sampel petani 118 dari 559 orang). Hal ini tidak terlepas dari persepsi petani terhadap teknologi cara tanam jajar legowo termasuk dalam kategori cukup baik (skor 54,74). Responden sebanyak 32 orang berumur 34 – 54 tahun dan 14 orang berumur di atas 55 tahun, untuk pendidikan tamat SD 36 orang, SLTP 12 orang, dan SLA 2 orang, sedangkan lama berusahatani sebanyak 72% (36 orang) di atas 10 tahun. Luas lahan antara 0,13 – 1 Ha dimiliki oleh 39 orang, tingkat pengetahuan petani skor 27,82 (kategori sedang) dalam cara tanam jajar legowo. Faktor – faktor yang memiliki hubungan dengan persepsi petani adalah luas lahan koefisien korelasi 0,314* dan tingkat pengetahuan petani koefisien korelasi 0,870**, menunjukkan tingkat hubungan yang kuat dan sangat kuat.
MOTIVASI PETANI KENTANG DALAM PENGGUNAAN BENIH BERSERTIFIKAT DI KABUPATEN MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT Desi Apriyani -; Achdiyat - -; Soesilo Wibowo -
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.002 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.116

Abstract

ABSTRACTPotato production and business needs strong support from the aspect of supplying certified seeds of various superior varieties. At present the seed producers have not been able to meet the demand and the price of seeds is relatively expensive, potato farmers tend to use the seeds of their crops which have disadvantages: small tubers, easily contracting the disease, experiencing a period of dormancy causing a decrease in production. The low use of certified seeds is due to: limited business capital, difficulty obtaining certified seeds, because of the lack of information received by farmers, and farmers do not understand the benefits of certified seeds, because of the low mastery of technology. In the Argapura District Program the use of new certified seeds was 43.12 Ha, the remaining 54.88 Ha had not applied certified seeds. The level of motivation of farmers in the use of certified potato seeds as a whole is in the medium category, because it has a mean value of 2.8. The relationship between knowledge and farmers' motivation in using certified seeds is 0.621 ** indicating a strong level of relationship. Factors driving the use of certified seeds include seed candidates, uniform growth and increased production. Inhibiting factors include the behavior of farmers who often mix pure seeds with local seeds in the cultivation system. The intrinsic factor is dominant compared to extrinsic factors. This means that motivation in the use of certified seeds is predominantly influenced by the farmer himself who wishes to get good and pure seeds so that it has an impact on increased production. ABSTRAKUsaha dan produksi kentang yang tinggi memerlukan dukungan yang kuat dari aspek penyediaan benih bersertifikat. Saat ini produsen benih belum dapat memenuhi permintaan dan harga benih masih relatif mahal. Petani kentang cenderung menggunakan benih dari hasil panennya yang memiliki kelemahan: umbi kecil, mudah tertular penyakit, mengalami masa dormansi sehingga menyebabkan penurunan produksi. Rendahnya penggunaan benih bersertifikat disebabkan: keterbatasan modal usaha, sulit memperoleh benih bersertifikat, karena minimnya informasi yang diterima oleh petani, dan petani tidak mengerti akan manfaat benih bersertifikat, karena rendahnya penguasaan teknologi. Dalam Programa Kecamatan Argapura penggunaan benih unggul bersertifikat baru 43,12 Ha, sisanya 54,88 Ha belum menerapkan benih bersertifikat. Tingkat motivasi petani dalam penggunaan benih kentang bersertifikat secara keseluruhan katagori sedang, karena memiliki nilai rerata 2,8. Hubungan antara pengetahuan dengan motivasi petani dalam penggunaan benih bersertifikat yaitu 0,621** menunjukkan tingkat hubungan yang kuat. Faktor pendorong penggunaan benih bersertifikat meliputi calon benih, pertumbuhan seragam dan produksi meningkat. Faktor penghambat meliputi perilaku petani yang sering mencampurkan benih murni dengan benih lokal pada sistem budidaya. Faktor intrinsik dominan dibandingkan dengan faktor ekstrinsik. Hal ini berarti motivasi dalam penggunaan benih bersertifikat dominan dipengaruhi oleh perilaku petani itu sendiri yang berkeinginan untuk mendapatkan benih yang baik dan murni sehingga berdampak pada produksi yang meningkat.
FUNGSI KELOMPOKTANI PADA IMPLEMENTASI JAJAR LEGOWO PADI SAWAH (Oryza Sativa L. ) DI KECAMATAN LELES KABUPATEN GARUT Rio Antariksa Sandes; Dedy Kusnadi -; Moh Nasir Nane
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.908 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.117

Abstract

ABSTRACTPurpose of research farmer group functions towards implementation pair of rows rice that describe farmer group functions, analyze factors that affect farmer group functions, and mind of outgrow problem priority on pair of rows application.Final assignment did from April to June 2018. Populations is 120 farmers as holders and tenants. Sampling use quota sampling with a quota of 40 farmers. Descriptive analysis used normal distribution. Statistical analysis used is multiple regression analysis, and Kendall’s W.Farmer group functions within medium category (mean analyzys 67,00). It’s lame, farmer group isn’t capable to devise learn necessity independently. Function as a unit production the farmer group hasn’t able to arrange a group plan definitive. Farmer group hasn’t judgment about group activity, and hasn’t able to access collaboration with input providers and capital institutions. Factors that affect farmer group functions is education affect on learning class and means of collaboration. Land area affect on learning class and unit production with negative values. Long grouping has a negative effect on learning class and unit production, and means production affect learning class in farmer groups. Pair of rows implementation affected (41,6%) by farmer group functions. Problem priority about technique of tile and distance pair of rows. Recommendation for farmers, agent of change, and others proponent must knowing and make farmer group as agriculture institutions as though formulate on needs farmer. ABSTRAKTujuan dari pengkajian fungsi kelompoktani pada implementasi jajar legowo padi sawah yaitu mendeskripsikan fungsi kelompoktani, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi kelompoktani dan merumuskan strategi mengatasi prioritas masalah dalam penerapan jajar legowo.Penugasan Akhir (PA) dilaksanakan April 2018 sampai dengan Juni 2018. Populasi berjumlah 120 orang petani pemilik dan penggarap. Metode penarikan sampel dengan cara quota sampling dengan jumlah kuota 40 orang petani. Teknik analisis deskriptif dalam kajian ini menggunakan distribusi normal. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan Mean Rank Kendall W dengan aplikasi SPSS.Fungsi kelompoktani masih dalam kategori sedang (mean analisis 67,00). Kelemahannya kelompoktani belum mampu merencanakan kebutuhan belajar secara mandiri. Dalam fungsinya sebagai unit produksi kelompoktani belum mampu sepenuhnya menyusun RDK/RDKK. Kelompoktani tidak melakukan evaluasi terhadap kegiatan, serta belum mampu mengakses kerjasama dengan penyedia saprodi serta lembaga permodalan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap fungsi kelompoktani di antaranya pendidikan berpengaruh terhadap kelas belajar dan wahana kerjasama, luas lahan mempengaruhi kelas belajar dan unit produksi dengan nilai negatif, lama berkelompoktani berpengaruh negatif terhadap kelas belajar dan unit produksi dan sarana produksi mempengaruhi kelas belajar dalam kelompoktani. Implementasi jajar legowo dipengaruhi oleh fungsi kelompoktani. Pengaruh fungsi kelompoktani sebesar 41,6% terhadap implementasi jajar legowo. Masalah prioritas peringkat 1 sampai 4 (Mean Rank Kendall’W) terdiri atas dua indikator yaitu mengenai teknik ubinan dan jarak tanam jajar legowo. Saran yang direkomendasikan yaitu semua pihak baik itu petani, penyuluh serta pihak terkait lainnya harus memahami dan menjadikan kelompoktani sebagai kelembagaan pertanian yang telah dirancang sesuai dengan kebutuhan petani.
PERSEPSI DAN ADOPSI PENGENDALIAN HAMA TERPADU LALAT BUAH PADA TANAMAN MANGGA DI KECAMATAN GREGED KABUPATEN CIREBON PROVINSI JAWA BARAT -, Chandra Saputra; -, Oeng Anwarudin; -, Dwiwanti Sulistyowati
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.293 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.118

Abstract

ABSTRAKPemerintah telah berupaya meningkatkan produksi dan mutu buah mangga di Kabupaten Cirebon dengan inovasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) lalat buah. Penelitian bertujuan menganalisis secara deskriptif persepsi dan adopsi PHT lalat buah serta menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi dan adopsi PHT lalat buah pada tanaman mangga. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon pada April sampai Juni 2018. Sampel penelitian adalah 59 orang petani mangga yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis korelasi Rank Spearman, dan analisis Kendall’s W. Variabel penelitian meliputi karakteristik petani, dukungan pemerintah, persepsi dan adopsi petani terhadap PHT lalat buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap PHT lalat buah tergolong cukup baik (50,8%.) dan tingkat adopsi petani terhadap PHT lalat buah tergolong sedang (83,1%.). Faktor yang berhubungan dengan persepsi petani adalah luas lahan dan dukungan pemerintah. Faktor yang berhubungan dengan tingkat adopsi petani adalah fasilitas bahan dan persepsi petani. Strategi untuk meningkatkan adopsi PHT lalat buah dapat dilakukan dengan meningkatkan fasilitasi bahan PHT dan memperkuat persepsi petani melalui dukungan pemerintah yang semakin intensif. ABSTRACTThe government has sought to increase the production and quality of mangoes in Cirebon Regency with the innovation of Integrated Pest Management (IPM) of fruit flies. The aim of the study was to analyze descriptively the perception and adoption of fruit fly IPM and analyze the factors related to the perception and adoption of fruit fly IPM in mango plants. The study was conducted in Greged District, Cirebon Regency in April to June 2018. The study sample was 59 mango farmers taken by cluster random sampling technique. The analysis technique used was descriptive analysis, Rank Spearman correlation analysis, and Kendall’s W. analysis. Research variables included farmer characteristics, government support, farmers' perceptions and adoption of fruit fly IPM. The results showed that farmers' perceptions of fruit fly IPM were quite good (50.8%) and the level of farmer's adoption of fruit fly IPM was moderate (83.1%). Factors related to farmers' perceptions are land area and government support. Factors related to farmer adoption rates are material facilities and farmers' perceptions. Strategies to increase IPM adoption of fruit flies can be done by increasing facilitation of IPM materials and strengthening farmers' perceptions through increasingly intensive government support.
SIKAP PETANI DALAM PENGAPLIKASIAN RHIZOBAKTERI PADA TANAMAN BAWANG MERAH DI PLEMAHAN KEDIRI JAWA TIMUR Yuli Ika Wati; Umi Wahjuti -; Rika Despita -
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.238 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.119

Abstract

ABSTRACTAttitude is one of the determinants of farmer's behavior towards an innovation. This study aims to: 1) determine the attitude of farmers in the application of Rhizobakteri, 2) knowing the relationship between internal factors and external factors with the attitude of farmers in the application of Rhizobakteri. This research was carried out in February-May 2018 in Puhjarak Village, Plemahan Subdistrict, Kediri Regency, East Java Province. The method used is a quantitative survey method. Research respondents were 59 people who were shallots farmers. The data obtained were analyzed using descriptive statistics and correlation Pearson Product Moment statistics. The results of the study showed that farmers' attitudes were at the rate of 52.5%, while internal factors and external factors have a relationship with the attitude of farmers in the application of Rhizobakteri on shallots. ABSTRAKSikap adalah salah satu faktor penentu prilaku petani terhadap suatu inovasi. Tujuan penelitian untuk: 1) mengetahui sikap petani dalam pengaplikasian Rhizobakteri, 2) mengetahui hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan sikap petani dalam pengaplikasian Rhizobakteri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2018 di Desa Puhjarak, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitaif. Responden penelitian berjumlah 59 orang yang merupakan petani bawang merah. Data yang diperoleh dianalisis secara statitstik deskriptif dan analisis korelasi pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan sikap petani berada pada tingkatan menilai yaitu sebesar 52,5%. Faktor internal dan faktor eksternal memiliki hubungan
MOTIVASI ANGGOTA KELOMPOKTANI DALAM PENERAPAN GP-PTT PADI SAWAH (Oryza Sativa L.) DI DESA PANANJUNG KECAMATAN PANGANDARAN KABUPATEN PANGANDARAN PROVINSI JAWA BARAT Julianto Ramdani -; Azhar - -; Wida Pradiana -
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.099 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.168

Abstract

ABSTRACT Motivation is a process that explains the intensity, direction and perseverance of an individual in achieving his goals. Basically, motivation comes from within, outside factors are only triggers for the emergence of motivation. External motivation is the motivation whose trigger comes from our own initiative. Integrated Crop Management (PTT) is a system / approach in assembling technology packages that is synergistic between technological components, carried out in a participatory manner by farmers and is site-specific. GP-PTT is a national program to increase production, through innovative approaches in bulk to farmers / farmer groups. The purpose of this study was to analyze the motivation of group members in applying GP-PTT lowland rice and analyze indicators in providing extension materials. This activity starts from April 15 to June 15, 2017. Sampling stratification is 58 people who have participated in GP-PTT. The data obtained were analyzed using Kendall's tau-b correlation and Kendall's W. analysis. The results of Kendall's tau-b analysis of motivation of farmer group members in the application of GP-PTT in paddy rice generally included in the low category. Indicators of motivation that need to be improved in the application of GP-PTT Paddy Fields are indicators of the willingness of mean rank values of 1.78 in rank III and GP-PTT variables in pest control indicators in 4 groups of farmers assisted, problems facing rat pests and rice blast disease (oryza sativa L.) as an extension material. implementation in Pananjung village, Serbalaksana farmer group, Sawanan Kidul, Mekarsari and Mitra Tani Jaya. ABSTRAK Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu dalam mencapai tujuannya. Pada dasarnya motivasi itu datang dari dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi yang pemicunya datang dari inisiatif diri kita. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem/pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi. GP-PTT adalah Salah satu teknologi yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah adalah Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu yang selanjutnya disebut GP-PTT adalah program nasional untuk meningkatkan produksi, melalui pendekatan inovatif secara massal kepada Petani/Kelompok Tani .Tujuan Pengkajian ini adalah menganalisis motivasi anggota kelompoktani dalam penerapan GP-PTT padi sawah dan menganalisis indikator dalam pemberian materi penyuluhan. Kegiatan di mulai tanggal 15 April s/d 15 Juni 2017. Stratifikasi sampling sebanyak 58 orang yang telah mengikuti GP-PTT. Data yang diperoleh dilakukan analisis dengan menggunakan korelasi Kendall's tau_b dan analisis Kendall’s W. Hasil analisis Kendall's tau_b motivasi anggota kelompoktani dalam penerapan GP-PTT padi sawah secara umum termasuk dalam kategori rendah. Indikator motivasi yang perlu ditingkatkan dalam penerapan GP-PTT padi sawah adalah indikator kemauan nilai mean rank 1,78 berada pada peringkat III dan variabel GP-PTT pada indikator pengendalian OPT nilai mean rank 3,09 berada pada peringkat III sehingga dalam kegiatan penyuluhan kelompoktani diberikan pengetahuan tentang pengendalian OPT di 4 Kelompoktani binaan, masalah dihadapi hama tikus dan penyakit blast tanaman padi (Oryza sativa L.) sebagai materi penyuluhan. Pelaksanaan di Desa Pananjung poktan Serba Laksana, Sawoan Kidul, Mekarsari dan Mitra Tani Jaya.
USAHA KELOMPOK WANITA TANI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN KELUARGA TANI MELALUI PROGRAM KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI DI KECAMATAN TELAGASARI, KABUPATEN KARAWANG Endang Lumban Tobing; Eti Suminartika -; Lucyana Trimo -
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.871 KB) | DOI: 10.51852/jpp.v13i2.170

Abstract

ABSTRACTCommunity land has potential in realizing food security. Food security can be realized by optimizing the land area by growing sustainable food crops. In addition, the land can play a role to increase farmers' income to reduce consumption expenditure and environmental sustainability. This study was used to describe the role of women farmer groups, describing the constraints faced by farmer women groups and analyzing the differences in yard income before and after the KRPL program in Telagasari District. The research method used is a survey technique using primary and secondary data. The sampling method uses saturated sampling with a total of 45 respondents in the group of women farmers. The results of this study indicate that the increase in income from the yard in the KRPL program. The average respondent before managing the yard is Rp. 23,442.22 per year, After the KRPL program the yard is managed properly into income of Rp. 455,855.56 per yearwith R / C = 19.06. Based on this, the yard is managed by increasing income, reducing consumption expenditure, utilizing the yard and preserving the environment. The obstacle faced by KWT in the KRPL program was the availability of water, the level of education, the attack of pests and diseases and the difficulty in applying technology and capital. Therefore, a technique is needed for the government's role to overcome these obstacles in improving welfare. ABSTRAKKetahanan pangan dapat diwujudkan dengan cara optimalisasi lahan pekarangan, yaitu dengan cara menanam tanaman pangan lestari. Selain itu lahan pekarangandapat berperan untuk meningkatkan pendapatan petani mengurangi pengeluaran konsumsi dan kelestarian lingkungan. Tujuan penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan peran kelompok wanita tani, kendala yang dihadapi kelompok wanita tani serta menganalisis perbedaan pendapatan pekarangan sebelum dan sesudah program KRPL di Kecamatan Telagasari. Metode penelitian yang digunakan yaitu teknik survei dengan menggunakan data primer dan sekunder. Metode pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh dengan jumlah responden sebanyak 45 orang dalam kelompok wanita tani. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan pendapatan dari pekarangan pada program KRPL. Rata-rata responden sebelum dikelolanya lahan pekarangan dengan baik sebesar Rp. 23.442,22 per tahun, Setelah program KRPL lahan pekarangan dikelola dengan baik menjadi pendapatan sebesar Rp. 455.855,56 pertahundengan nilai R/C = 19,06.Berdasarkan hal tersebut bahwa pekarangan dikelola dengan meningkatkan pendapatan, mengurangi pengeluaran konsumsi, memanfaatkan pekarangan dan melestarikan lingkungan. Kendala yang dihadapi oleh KWT dalam program KRPL adalah ketersediaan air, tingkat pendidikan, serangan hama dan penyakit dan kesulitan dalam menerapkan teknologi dan modal. Oleh karena itu, diperlukan teknik untuk peran pemerintah dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam meningkatkan kesejahteraan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7