Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 47 No 9 (2020): Infeksi"
:
15 Documents
clear
Terapi Sifilis Terkini
Ummi Rinandari;
Endra Yustin Ellista Sari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.559
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penularan sifilis biasanya melalui kontak seksual dengan pasangan terinfeksi, kontak langsung dengan lesi terinfeksi, transfusi, dan jarum suntik. Sifilis dapat disembuhkan pada tahap awal infeksi, tetapi apabila tidak mendapat pengobatan adekuat dapat menjadi infeksi sistemik dan berlanjut ke fase laten. Pengobatan sifilis yang efisien sangat penting untuk mengontrol sifilis secara efektif. Syphilis is a sexually transmitted disease caused by a bacterial infection, Treponema pallidum. Transmission of syphilis is usually through sexual contact with an infected partner, direct contact with infected lesions, transfusions, and injection needles. Syphilis can be cured in the early stages of infection, but if it is not given adequate treatment it can become a systemic infection and progress to the latent phase. Efficient syphilis treatment is essential to control syphilis effectively
Manifestasi Klinis COVID-19 pada Kulit
Irma Amalia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.560
Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) tidak hanya menimbulkan gejala pada sistem respirasi; tetapi juga dapat bermanifestasi pada kulit seperti ruam makulopapular, urtikaria, vesikuler, covid toes, livedo racemosa, dan alopesia androgenetik. Manifestasi kulit tersebut diharapkan dapat membantu klinisi untuk mendiagnosis dini COVID-19. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) does not only affect respiratory system; it can also have cutaneous manifestation such as maculopapular rash, urticaria, vesicles, covid toes, livedo racemosa, and androgenetic alopecia. These cutaneous manifestations can help clinicians to make early diagnosis of COVID-19.
Transmisi Vertikal COVID 19 selama Kehamilan
Fenyta Christyani;
Astrid Fransisca Padang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.561
Penyakit Coronavirus (COVID-19) yang terjadi sejak Desember 2019 saat ini sudah menjadi pandemi global. Virus ini menimbulkan infeksi saluran pernapasan dari ringan hingga berat. Kondisi ini perlu menjadi perhatian lebih jika terjadi saat kehamilan karena perubahan fisiologi dalam kehamilan memengaruhi perjalanan virus COVID-19. Selain itu, risiko transmisi ke janin secara vertikal dan transversal juga perlu diperhatikan karena akan menimbulkan morbiditas seperti persalinan prematur, trombosis, dan pertumbuhan janin terhambat. The Coronavirus disease (COVID-19) outbreak that occurred in December 2019 now becomes a global pandemic. The virus causes mild to severe respiratory tract infection. Infections during pregnancy may cause physiological changes that affect the course of the COVID-19 virus itself. The risk of vertical and transversal transmission to the fetus also needs to be considered as it may result in several conditions such as preterm labor, thrombosis, and fetal growth restriction.
Kejang Demam sebagai Faktor Predisposisi Epilepsi pada Anak
Dede Khairina Hasibuan;
Yazid Dimyati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.562
Kejang demam adalah bangkitan kejang pada anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu tubuh (di atas 38°C dengan metode pengukuran suhu apapun) yang tidak disebabkan oleh proses intrakranial. Faktor-faktor risiko kejang demam berkembang menjadi epilepsi adalah kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama, kejang demam kompleks (KDK), riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung, dan kejang demam sederhana (KDS) berulang 4 episode atau lebih dalam satu tahun. Kombinasi faktor risiko tersebut akan lebih meningkatkan risiko epilepsi. Pemberian obat rumatan kejang demam belum terbukti dapat mencegah epilepsi di kemudian hari. Febrile seizure is a seizure episode in children aged 6 months to 5 years preceded with an increase in body temperature (above 38° C with any measurement method) not caused by intracranial process. Risk factors to epilepsy are neurological or developmental abnormalities before the first febrile seizure, complex febrile seizures, history of epilepsy in parents or siblings, and simple febrile seizures 4 episodes or more in one year. Combination of these risk factors will increase the likelihood of epilepsy. Febrile seizure prophylaxis medication has not been proven to prevent epilepsy.
Gambaran Klinis dan Patologi Melanoma Maligna Kutaneus
Rudi Chandra
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.563
Melanoma maligna (MM) merupakan keganasan sel-sel melanosit terutama di kulit. Paling sering didiagnosis pada pada wanita <40 tahun, dan pada pria >40 tahun. Predileksi MM tersering pada kulit punggung (pria) dan pada ekstremitas bawah (wanita). Secara klinis dan patologis, melanoma maligna diklasifikasikan sebagai superficial spreading melanoma, nodular melanoma, lentigo maligna melanoma, acral lentiginous melanoma, dan varian lain yang jarang. Malignant melanoma (MM) is melanocyte cells malignancy located mainly in the skin; most often diagnosed in women <40 years, and in men >40 years. MM predilection is in the back (men) and in lower extremities (women). Clinically and pathologically, malignant melanoma is classified as superficial spreading melanoma, nodular melanoma, lentigo maligna melanoma, acral lentiginous melanoma, and other rare variants
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pigmentasi Manusia
Adelia Suryani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.564
Warna kulit manusia ditentukan oleh pigmen kulit, yakni melanin. Melanin juga memiliki beberapa fungsi penting, yakni berperan pada proses pigmentasi, melindungi kulit dari sinar UV, dan perlindungan dari panas. Human skin color is determined by the skin pigment melanin. Melanin has several important roles, which are: in pigmentation process, UV, and heat protection
Hubungan Kategori Level Xpert MTB/RIF dengan Waktu Konversi Kultur Sputum Pasien TB Resisten Obat (TB RO)
Samuel;
Jatu Apridasari;
Reviono;
Yusup Subagio Sutanto;
Harsini
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.565
Penanganan TB yang tidak tepat dan tidak sesuai standar dapat menimbulkan masalah TB resisten obat (TB RO). Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kategori level hasil Xpert MTB/RIF dan waktu konversi kultur sputum pasien TB RO. Data berasal dari rekam medik mulai bulan September 2012 sampai dengan bulan Oktober 2015; didapatkan 198 pasien TB RO, 112 laki-laki (56,6%) dan 86 perempuan (43,4%). Usia rerata 38,87 ± 12,41 tahun. Seluruh pasien TB RO merupakan pasien TB paru dengan memiliki riwayat pengobatan OAT kategori 1. Hasil pemeriksaan Xpert MTB/RIF menunjukkan sebagian besar pasien TB RO berada pada kategori low (43,9%). Konversi kultur terbanyak pada minggu ke-4 sampai ke-8 pengobatan sebesar 59,1%. Tidak ada perbedaan bermakna antara kategori Xpert MTB/RIF dan waktu konversi kultur sputum pasien TB RO (CI 95%, p = 0,572). Tidak ada korelasi bermakna antara kategori level gene X-pert dan waktu konversi kultur sputum pasien TB RO (CI 95%, r = 0,061; p = 0,392). nadequate TB management can cause the emergence of drug resistant tuberculosis. This study is to determine the correlation between Xpert MTB/RIF levels category with sputum culture conversion time in drug resistant tuberculosis patients. This retrospective cohort study was conducted in PMDT clinic at Dr. Moewardi General Public Hospital, Surakarta from September 2012 until October 2015. The respondents were 198 drug resistant tuberculosis patients; 112 males (56.6%) and 86 females (43.4%), mean age 38.87 ± 12.41 years old. All were pulmonary TB patients with category 1 anti-TB treatment. The Xpert MTB/RIF levels were mostly low category (43.9%). Culture conversion showed that 59.1% had conversion between the fourth and eighth week of drug resistant tuberculosis treatment. No statistically significant difference between Xpert MTB/FIR level category and sputum culture conversion time (CI 95%, p = 0.572). No statistically significant correlation between Xpert MTB/RIF level category and sputum culture conversion time (CI 95%, r = 0.061; p = 0.392)
Keracunan Tanaman Kecubung
Daniel Mahendrakrisna;
Khadijah Nur Al Firdausi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.566
Keracunan tanaman Datura stramonium atau yang dikenal sebagai tanaman Kecubung di Indonesia, merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai pengobatan; tanaman ini dapat disalahgunakan sebagai zat psikotropika. Gejala klinis kasus ini adalah gejala peningkatan saraf parasimpatis berupa midriasis, kulit kering, dan takikardia. Tatalaksana keracunan tanaman Kecubung bersifat suportif, umumnya akanmembaik sendiri; jika berat dapat diberi reversible cholinesterase inhibitor seperti physostigmine. Datura stramonium, known as Kecubung flower in Indonesia, is a plant often used as a medicine; this plant is also often abused as psychotropics. The clinical symptoms in this case are increased parasympathetic activities such as mydriasis, dry skin, and tachycardia. Datura intoxication treatment is supportive, generally will get better on its own. In severe cases, reversible cholinesterase inhibitor such as physostigmine should be used.
Uremic Frost - Kelainan Kulit pada Gagal Ginjal Kronik
Nathasia;
Linda Julianti Wijayadi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.567
Uremic frost merupakan kelainan kulit yang jarang, karena ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik yang belum menjalani hemodialisis. Kelainan ini ditandai dengan lapisan putih kekuningan akibat kristal urea yang mengendap di permukaan kulit. Seorang wanita 44 tahun datang dengan keluhan utama kulit kering, bersisik, dan gatal seluruh tubuh sejak 1 bulan. Pasien baru didiagnosis gagal ginjal kronik. Pada pemeriksaan dermatologi didapatkan makula hiperpigmentasi, berbatas tegas, multipel, ukuran lentikular-plakat, dan krusta putih kekuningan. Tatalaksana dermatologi uremic frost adalah dengan pelembap dan antihistamin oral, pengobatan lebih lanjut untuk penyakit ginjal yang mendasari. Uremic frost is a rare skin disorder, found in chronic kidney failure patients who have not undergone hemodialysis. This disorder is characterized by yellowish white layer on the skin surface due to urea crystals. A 44-year-old female patient presented with dry, scaly, and itchy skin on the whole body in the last 1 month. The patient has just been diagnosed with chronic kidney failure. Dermatological examination revealed hyperpigmented macules, well-defined, multiple, lenticular-placard size and also a yellowish-white crust. Management in dermatology is with moisturizers and oral antihistamines, further treatment should be given to underlying kidney disease.
Manajemen Laktasi di Masa Pandemi COVID-19
Fabiola Vania Felicia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 9 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v47i9.568
Pandemi infeksi severe acute respiratory syndrome-coronavirus-2 (SARS-CoV-2) sudah terbukti dapat menyerang seluruh kelompok masyarakattermasuk ibu hamil dan neonatus. Angka kejadian anak di bawah usia 10 tahun <1% kasus. Neonatus dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19) kebanyakan asimtomatik atau klinis ringan. Hingga saat ini, risiko transmisi infeksi SARS-CoV-2 melalui air susu ibu (ASI) masih belum jelas dan belum dapat disingkirkan. Hal ini menyebabkan munculnya keraguan terhadap praktik pemberian ASI. WHO merekomendasikan ibu suspek atau terkonfirmasi COVID-19 untuk tetap menyusui. Manfaat ASI dibandingkan dengan potensi risiko infeksi COVID-19 pada neonatus perlu diketahui, sehingga dapat mendukung berlangsungnya praktik menyusui di masa pandemi ini. Severe acute respiratory syndrome-coronavirus-2 (SARS-CoV-2) infection pandemic has affected all populations including pregnant women and neonates. Clinical features of neonates with coronavirus disease (COVID-19) are generally mild or asymptomatic. Cases of COVID-19 in children younger than 10 years old were <1 %. To date, the possibility of COVID-19 virus transmission from mothers to their newborns through breastmilk still cannot be ruled out. WHO recommends every mother with confirmed or suspected SARS-CoV-2 infection should be supported to continue or initiate breastfeeding. Mothers should know the advantages of breastfeeding compared to potential risks of COVID-19 transmission, so that continuation of breastfeeding practice could be maintained during pandemic.